Minggu Paskah 5 | Syukur YBPK
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60
Bacaan 2: 1 Petrus 2 : 1 – 10
Bacaan 3: Yohanes 14 : 1 – 14
Tema Liturgis: YBPK Terlibat Menyiapkan Generasi Kerajaan Allah
Tema Khotbah: Menggunakan Ruang Yang Luang Dalam Menemani Generasi Penerus Iman
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 7 : 54 – 60
Tokoh penting dalam bacaan ini adalah Stefanus. Penceritaan kisah Stefanus dapat dikatakan singkat (Kis. 6:5 – 8:2). Stefanus merupakan satu dari tujuh orang yang dipilih oleh para murid Yesus segera setelah kebangkitan Yesus, untuk mengawasi pemberian bantuan kepada perempuan dalam gereja, sehingga para rasul bisa bebas melakukan tugas-tugas kerohanian. Ia paling cakap dalam mengerjakan mujizat dan memberitakan Injil. Stefanus kemudian berselisih dengan tokoh Yahudi hingga dibawa ke Mahkamah Agama dengan tuduhan menghujat nama Allah. Jawaban Stefanus yang gamblang tentang sejarah keselamatan, termasuk pada penceritaan yang dirasa menyerang orang Yahudi yang membunuh Yesus, membuat marah Mahkamah Agama. Stefanus kemudian ditangkap dan dirajam sampai mati. Hidup martir yang dialaminya bisa dilihat dari perspektif kepatuhan kepada ajaran yang diyakininya. Ia merupakan sosok yang cerdas dan pengajaran yang diterima mendarah daging dalam dirinya. Dibalik semua itu, tentu tumbuh pemikiran tentang siapakah pendidik yang pertama kali mengajarkan hal iman percaya kepada Yesus kepada Stefanus hingga kuat sedemikian kokohnya? Bagaimana cara mengajarnya hingga Stefanus punya pengetahuan yang sangat luas dan mendalam. Keyakinan yang diucapkan Stefanus secara lisan dan dipegang hingga akhir hidup juga menyisakan pertanyaan apakah tetap ada generasi penerus yang memiliki militansi iman, berani berkisah tentang Yesus dan bisa menjadi penerus yang cakap dan tahan uji?
Berikutnya, ketika dirunut, ditemukan bahwa pada masa akhir hidup Stefanus, ada sisi pergerakan tempat peristiwa beserta kejadian yang dialaminya. Melalui pelayanannya selaku tenaga diakonia, tentunya dia berkunjung ke rumah warga-warga (Kis. 6:1-7) dan tentunya bisa dibayangkan suasananya berbagi kasih yang menyenangkan dalam interaksi dengan warga jemaat perdana. Tempat Stefanus kemudian beralih ke ruangan Mahkamah Agama (Kis. 6:12), berlanjut dengan tempat di luar kota dalam peristiwa penghukuman (Kis. 7:57) dan berujung pada pelemparan batu (Kis. 7:58). Tempat-tempat yang dialami oleh Stefanus mengalami pergeseran, dari tempat yang bisa dikatakan nyaman menuju ke lokasi penuh ancaman. Dalam keterangan tentang keberadaan tempat “di luar kota” dimaknai sebagai lokasi yang berada diluar benteng pertahanan sebuah kota, tidak aman dan tidak ada jaminan keselamatan. Jika di luar kota, maka harus kuat agar bisa selamat. Paling tidak ini digambarkan melalui teriakan nyaringnya Stefanus. Teriakan, meskipun bernada doa pengampunan atas aniaya, tetap terasa sebagai ungkapan suara kengerian dari sebuah peristiwa ancaman kematian yang terjadi di luar kota. Sedikit catatan, mengenai situasi di luar kota ini, pada Kisah Para Rasul terdapat dua tokoh yang mengalaminya. Pertama, Stefanus saat menjalani hukumannya (Kis. 7:58) yang kemudian menjadi dasar dalam terjadinya penyebaran ajaran Yesus oleh para murid. Kedua, tokoh Saulus (yang kemudian bernama Paulus), saat melihat penghukuman Stefanus itu, ketika menerima ancaman pembunuhan, namun masih bisa selamat (Kis. 14:19) dan peristiwa perpisahan Paulus (Kis. 15:3; 21:5) yang juga bernuansa peristiwa duka dan hidup mati dalam mengabarkan Injil. Baik saat dalam perjalanan di darat dan juga saat dalam pelayaran yang dilakukannya. Nyatalah, secara positif terdapat makna lain dari kata “luar kota”, yaitu peluang dan kesempatan dalam perluasan kabar Injil.
Peristiwa yang terjadi di luar kota, dengan arti Stefanus sedang tidak berada di dalam rumah. Sedang berada di luar kota berarti ancaman terhadap keberlangsungan kehidupan. Tidak memiliki perlindungan dari musuh, ketersediaan makanan dan pertahanan terhadap cuaca dan alam. Stefanus menjalani prosesnya untuk menemukan tempat yang tepat dalam menunjukkan ketaatan kepada Tuhannya. Dan selanjutnya, di luar kota itulah, kisah estafet pekabaran Injil diterima oleh Saulus (Paulus).
1 Petrus 2 : 1 – 10
Ketika dituliskan kata “bayi” sepertinya kita sejak awal telah dibimbing oleh penulis untuk membayangkan suasana di sebuah rumah. Sekilas mungkin kita ingat dengan masa kelahiran Yesus (Matius 2; Lukas 2), dengan kisah tentang tempat dan suasananya. Maksudnya, palungan menegaskan tempat yang tidak semestinya dan munculnya kisah ancaman bayi oleh Herodes. Ini menjadi sedikit identik dengan masa-masa para pembaca pertama dari Kitab Petrus. Mereka sedang dalam situasi berjuang menjaga pertobatan dan penghayatan hidup baru disertai dengan keinginan untuk hidup taat dan tidak menuruti hawa nafsu. Mengikut Yesus membawa konsekuensi ditolak oleh keluarga dan diasingkan. Namun bagaimanapun pada keberadaan inilah justru kelahiran baru seorang “bayi” menciptakan keluarga atau komunitas baru yang kokoh. Masa awal pertumbuhan mereka sebagai orang percaya penuh dengan ancaman dan gangguan, sehingga perlu memunculkan kesadaran kebutuhan untuk mengembangkan dirinya menjadi dewasa iman dan sekaligus kebutuhan suasana dan tempat yang aman bagi kehidupan para orang percaya.
Sebagai sebuah kesempatan dalam membangun kehidupan yang baru tentunya harus didukung dengan tindakan yang teratur dan tertata sekaligus tidak dilakukan dengan serampangan. Diperlukan pondasi dan pijakan yang kuat. Penegasan tentang Yesus sebagai batu penjuru menekankan kepada sosok yang penting dan utama serta tidak bisa ditinggalkan. Jika ada perasaan seperti batu penjuru yang dibuang, yang identik dengan dibuang dari keluarga yang lama maka bukan berarti kesempatan untuk membangun kembali akan menjadi hilang. Sosok yang dibuang tetap akan diambil dan menjadi penentu kehidupan. Yang perlu dibangun adalah kesadaran diri bahwa umat percaya pun adalah batu, yang jika disatukan justru akan bisa membentuk sebuah bangunan yang megah dan kokoh. Para orang percaya diajak untuk mengenali potensi dan kemampuan yang bisa dipergunakan dalam membangun kehidupan kepercayaan.
Berikutnya, sejak ayat kedua, pembaca langsung diarahkan tentang sesuatu yang harus dilakukan. Tentu tidak secara harafiah menjadi bayi, namun tentang kerinduan mendapatkan hal yang benar sesuai dengan kebutuhannya. Sekaligus mengerti tujuan dari hal yang dilakukannya tersebut, yaitu untuk pertumbuhan imannya sendiri. Ibarat kelahiran bayi dalam keluarga, maka salah satu konteks yang melatarbelakangi bacaan ini adalah ajakan untuk lahir baru, memiliki keluarga baru dan dilanjutkan dengan memiliki cara hidup yang baru pula. Melalui kesadaran diri sebagai bayi rohani membimbing kepada proses menemukan diri sebagai sosok batu penjuru. Bahwa pengikut Yesus berharga dan berarti dihadapan Tuhan. Sehingga muncullah pengertian baru bahwa yang ditolak justru menjadi pondasi dalam membentuk komunitas yang baru dan bahkan yang baru sama sekali. Layaknya batu yang dibuang, justru ketika dikumpulkan bisa membangun bangunan dan rumah yang baru. Pembaruan ini sendiri berdasarkan kepada segi rohani (logikon, dari firman), berlanjut kepada sikap yang dewasa. Menyadari diri sebagai “batu” yang bisa berperan aktif dan tidak sekedar menunggu makanan layaknya bayi, namun memiliki inisiatif dalam hal mencari Tuhan.
Dari bacaan ini disimpulkan adanya kebutuhan penerus yang mengerti, tahu dan paham tentang apa yang dicari dan yang dibutuhkan dalam hidup dan imannya. Nasihat penulis Kitab Petrus ini mengajak para pembaca tulisannya agar bisa memilih mana yang terbaik untuk pendewasaan diri dan kemudian melanjutkannya dengan berpijak kepada dasar yang benar, yaitu Kristus Batu Penjuru.
Yohanes 14 : 1 – 14
Setelah sabda Yesus tentang kepergian-Nya (Yoh. 13:33, 36), maka bacaan ini menggambarkan suasana yang penuh kegelisahan mengenai kesiapan meninggalkan dan ditinggalkan, baik dari para murid bahkan sebenarnya Yesus sendiri. Meskipun demikian Yesus tetap menguatkan hati para murid dengan kalimat janganlah gelisah dan percayalah (Ay. 1). Sebagai rangkaian peristiwa Hari-Hari Terakhir Yesus di Yerusalem (Yoh. 13:1–19:42), maka nuansa ketakutan dan menumbuhkan harapan terasa kental pada bagian ini. Janji Yesus yang akan datang kembali dapat diumpamakan seperti bumerang, pergi dan kembali (Ay. 3), diharapkan bisa mengatasi perasaan para murid. Pada situasi ini, hendaknya para murid bisa melawan kesedihan perpisahan dengan membangun iman dan percaya bahwa kepergian-Nya berkaitan dengan menyediakan tempat dan akan kembali mengajak untuk ikut ke Rumah Bapa. Pergumulan masing-masing tokoh, yaitu Yesus, Tomas dan Filipus bisa dilihat dalam perspektif tentang harapan dan mengerti tentang terbentuknya masa depan yang lebih baik. Karenanya ramalan tentang pengkhianatan dan perpisahan dan masa depan yang suram tidak menyurutkan ketaatan kepada Yesus. Bagi murid yang punya harapan, maka pengajaran tentang kembalinya Yesus dengan membawa kemuliaan, keagungan, keberhasilan dan kebersamaan bisa menghapus sisi negatif peringatan pengkhianatan dari murid dan suasana ketakutan ditinggal oleh Yesus.
Berikutnya berbicara tentang Rumah Bapa, minimal disebut sebanyak dua kali dalam Injil Yohanes, dengan penekanan sebagai Bait Allah (Yoh. 2:16) yang kasat mata di dunia dan sebagai Surga (Yoh. 14:2) dengan penekanan situasi dan pengharapan kehidupan kekal. Pemahaman Yohanes 14 ini bisa dimulai dengan pengetahuan umum dan upaya memenuhinya mengenai syarat tempat tinggal yang baik pada masa kini. Bukan sekedar tempat tinggal secara bentuk fisik, semisal bahan pembuatannya, namun faktor kenyamanan, keamanan, dan kelayakan untuk menjadi tempat tinggal juga dipertimbangkan. Yang mana inipun juga berkaitan dengan persiapan, rencana dan rancangan tentang tempat tinggal secara tepat. Mengutip buku Arsitektur dan Liturgi gereja (Yusak Soleiman dkk (ed), Persetia, Jakarta, 2015), pada artikel “Rumah Ibadat Yang Diruntuhkan dan Dibangun Kembali” (Yoh. 2:13-22 dan Refleksi Sejarah Rumah Ibadat) (hal. 1-10) dinyatakan bahwa sebuah tempat, khususnya bangunan ibadah, tidak hanya memiliki arti fungsional belaka. Namun juga merupakan political statement, pernyataan politis. Untuk pembaca pertama Injil Yohanes, makna Rumah Ibadah adalah simbol kekuasaan dan urusan bisnis kurban dan bisnis upacara agama. Dalam hal ini Yesus mengkritik pembatasan sosok Allah dan memberikan ruang yang membebaskan serta tidak bertransaksi dengan Allah. Tempat Bait Allah, juga bersifat politik tentang penguasaan sebuah daerah. Sekaligus keberadaan Rumah Bapa, yang juga bernada politis, ada tujuannya yaitu keberadaanya harusnya bisa mengupayakan kesejahteraan bersama dan tidak mengurung Allah di tempat yang terbatas. Rumah, mengacu kepada kisah masa Helenis (323 – 146 SM), merupakan penanda masyarakat yang tidak lagi bergerak pindah (nomaden) dan sudah memiliki tempat tinggal yang menetap serta mengelola hal-hal yang ada di sekitarnya. Sehingga rumahpun perlu disiapkan tentang siapa yang boleh tinggal di dalam rumah tersebut, ruangan yang dibuat, dan suasana yang perlu diciptakan.
Pihak yang menyiapkan tempat, dalam hal ini Yesus (Ay.1-4), menjelaskan situasi tempat tinggal tersebut. Melalui dialog dengan Tomas dan Filipus (Ay. 5-7) dan penjelasan tentang suasana kesatuan yang terjadi di antara penghuni Rumah Bapa (Ay. 8-14). Upaya untuk mengenali dan mengenalkan keberadaan Rumah Bapa muncul dari Tomas disusul oleh Filipus yang bertanya tentang jalan menuju ke lokasi Rumah Bapa dan bagaiman situasi yang ada di dalamnya. Hal ini direspon dengan penjelasan oleh Yesus mengenai cara dan jalan ke Rumah Bapa (Ay. 6) serta pihak siapa penghuni yang berada di dalamnya, yaitu Bapa dan bersama Yesus (Ay. 9). Janji mengenai Rumah Bapa merupakan jawaban yang rohaniah atas pertanyaan dua murid yang bertanya dengan perspektif harafiah. Kata “Jalan” dari makna sebagai kata benda, berubah menjadi kata sifat ketika mendapatkan tambahan kata menjadi “jalan yang benar dan hidup.” Perspektif dari Yesus tentang tempat yang mewadahi semangat dan situasi baru penting untuk diperhatikan. Tempat yang baik, yang diisi dengan harapan dan bukan putus asa, akan menjadi lokasi yang ideal mengembangkan iman. Murid bertanya dan sosok Sang Guru memberikan jawaban serta bimbingan. Inilah cara Yesus mengajar, melalui dialog yang membangun. Sebab, diakui atau tidak, nyatanya kebersamaan bersama Yesus sering tidak langsung berbanding lurus dengan pengenalan yang mendalam. Untuk mengenal kesemuanya ini perlu diawali dengan percaya kepada pekerjaan yang dilakukan Yesus. Dan tidak ketinggalan, melalui perintah saling mengasihi di antara para murid, maka karya Yesus pun bisa diperkenalkan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Keterikatan ketiga bacaan di atas berkisar kepada lokasi dan tempat sebuah kejadian peristiwa yang ada dan dikaitkan dengan tokoh pelaku yang terlibat dengan segala watak dan perangainya masing-masing. Secara keseluruhan membawa kepada terciptanya pemahaman sebuah tempat yang nyaman, berkenaan dengan lokasinya, pihak (person) yang ada didalamnya dan disertai dengan aktivitas atau kegiatan yang benar-benar baik. Secara khusus, tentang tempat untuk kehidupan hendaknya aman dan jauh dari ancaman, bisa menjadi tempat belajar untuk pertumbuhan iman yang kuat dan tahan uji serta menciptakan ruang untuk berkarya dalam semangat kasih.
Memaknai Tema Liturgis:
(diadaptasi dari penjelasan Tema Bacaan Alkitab Tahun 2023, dalam buku Daftar Bacaan Alkitab GKJW 2023)
YBPK Terlibat Menyiapkan Generasi Kerajaan Allah
Secara umum, melalui ibadah Syukur YBPK, warga jemaat mensyukuri sekolah kehidupan yang bernama YBPK. Sejak didirikan hingga hari ini, YBPK berjuang hadir menjadi salah satu kelas (di samping keluarga) dimana setiap siswa bertumbuh secara utuh (fisik, psikis, dan spiritual) dan siap berbuah dalam roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri). Ibadah Syukur YBPK diharapkan dapat menjadi perayaan keterlibatan warga jemaat untuk mendukung upaya YBPK mengembangkan diri menjadi sekolah dimana generasi Kerajaan Allah dilahirkan.
Adapun tujuan tema diatas adalah: (1) YBPK (pengurus, guru dan murid) mensyukuri diri melalui apresiasi dan evaluasi dalam rangka optimalisasi pelayanan. (2) Jemaat meningkatkan rasa “handarbeni terhadap YBPK. Dan (3) Jemaat ikut ambil bagian menopang kebutuhan YBPK dengan meningkatkan dukungan dan keterlibatan melalui doa dan dana. Adapun makna singkat dari tema diatas adalah:
YBPK, merupakan subyek (baik sebagai organisasi maupun organisme) yang tidak terpisahkan dalam menjadi rekan kerja Allah. Penjelasan mengenai Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) tertera dalam buku Tata dan Pranata GKJW dalam Pranata Majelis Bab IV Pasal 15 tentang Badan-Badan Pembantu Majelis Agung (hal. 121) dan dalam Peraturan Majelis Agung GKJW tentang Badan-Badan Pembantu Majelis Bab II Pasal 3 ayat 4b. (hal. 340).
Terlibat, menunjukkan bahwa YBPK tidak hanya melihat, mengamati, menganalisa lalu memberikan komentar dan tanggapan. Namun justru harus menyelam, hadir, dan berkarya dalam setiap proses seperti Kristus yang hadir dan terlibat dalam karya nyata bersama dunia dan di dunia. Terlibat sendiri bermakna adanya keikutsertaan dan berperannya individu, sikap individu ataupun emosi individu dalam situasi tertentu.
Generasi, memiliki beberapa makna, antara lain sekalian orang yang kira-kira sama waktu hidupnya, masa orang-orang satu angkatan hidup, kelompok (golongan, kaum) muda dan makna penerus generasi yang akan melanjutkan generasi sebelumnya. Dalam hal ini, kita berfokus kepada pengertian kelompok manusia yang akan melanjutkan kelompok sebelumnya.
Kerajaan Allah, dalam Injil Yohanes, kalimat Kerajaan Allah terdapat dalam Yohanes 3:3, 5 dalam kisah percakapan Yesus dengan Nikodemus. Kedua ayat dikaitkan dengan kelahiran kembali dan caranya lahir kembali melalui air dan roh. Merujuk kepada proses dilahirkan dari atas dan hidup kekal dan bernuansa pembaruan hidup. Karenanya Kerajaan Allah sendiri lebih diarahkan kepada makna suasana Allah yang memerintah, dimana akan selalu tersedia situasi penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan damai sejahtera.
Memaknai Tema Khotbah:
Menggunakan Ruang yang Luang dalam Menemani Generasi Penerus Iman
Dinamika kehidupan pada masa kini memungkinkan untuk hanya sibuk dengan diri kita sendiri dan kemudian melupakan kondisi nyata yang ada di sekitar kita, khususnya dunia pelayanan yang menjadi hakikat kehidupan orang percaya. Melalui makna diakonia dan marturia kita diajak untuk meluangkan waktu, perhatian dan dukungan kepada generasi penerus yang sedang berjuang menata masa depannya ditemani lembaga pendidikan milik GKJW yang bernama YBPK. Tanggung jawab ini merupakan rasa kolektif yang perlu terus dipupuk dan kemudian diwujudnyatakan. Bagaimanapun setiap langkah di masa kini akan berpengaruh kepada hidup di masa depan.
Kata menggunakan, bermakna telah ada sarana yang tersedia dan tinggal menunggu upaya secara serius untuk menjadikan sesuatu yang ada menjadi lebih berkembang. Ruang yang luang mengajak adanya kesempatan yang disediakan untuk melakukan sesuatu hal. Sedangkan kata menemani merujuk kepada rekan yang bersinergi dengan pihak-pihak lain dalam melakukan sesuatu karya. Semuanya kemudian bermuara kepada penerus-penerus nilai kehidupan yang sedang dilayani di YBPK. Pendeknya tema ini mengajak kita semua untuk mau merancang, bertindak, dan tidak berpangku tangan dalam kehidupan YBPK, demi masa depan YBPK dan pihak yang berada didalamnya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).
Pendahuluan
Apa respon anda ketika sedang beribadah dan mendengar suara tangis anak kecil yang sedang diajak orang tuanya dalam ibadah? Suara anak yang ramai dan ada yang berlari-larian seringkali bisa menjadikan suasana berubah menjadi mendadak riuh. Reaksi awalnya minimal mencari sumber suara tersebut. Tersenyumkah Anda? Menggerutukah Anda? Merasa tidak nyaman? Sikap kita mungkin beraneka ragam, namun apapun itu, mungkin ada baiknya bila juga terbersit pendapat tentang rasa bangga bahwa masih ada suara anak kecil dalam suasana ibadah. Tumbuhkanlah keyakinan akan harapan tumbuh kembangnya generasi persekutuan orang percaya dari suara-suara itu. Lebih baik lagi kemudian timbul ide dan kerinduan serta tanggung jawab untuk memberikan perhatian dan pelayanan yang lebih kepada anak-anak itu. Jika yang ditumbuhkan keyakinan seperti ini, minimal kita bisa bersahabat dengan situasi yang terjadi. Dan pada gilirannya kita bisa kembali merasa nyaman.
Berbicara tentang tempat yang nyaman kita juga bisa menengok kepada fenomena penjualan perumahan yang marak. Pertumbuhan jumlah penduduk dan pertambahan keluarga muda merupakan beberapa faktor penyebabnya. Harganya bervariasi sesuai dengan ragam tawaran fasilitasnya. Penawaran selain berbicara tentang sarana penunjang juga menyampaikan gambaran suasana lingkungan perumahan, semisal keindahan dan kenyamanan sebuah hunian yang nanti akan diterima oleh pembeli. Walaupun pada gilirannya, suasana ini juga akan kembali bergantung kepada sosok dan sikap para pembeli dan penghuni perumahan tersebut. Disadari bahwa berbicara tentang tempat untuk tinggal, yang dicari bukan sekedar yang tampak secara harafiah, namun juga keadaan kehidupan dan relasi yang dibangun. Semisal antar warganya ada keterlibatan dan keterikatan yang bisa saling mendewasakan. Sesungguhnya, kenyamanan berkaitan dengan banyak hal. Baik tentang tempatnya, situasinya maupun orang-orang beserta pola pikirnya masing-masing.
Isi
Mengacu kepada pengantar di atas, kita sedang diajak mengingat tentang keberadaan keluarga yang sedang mendidik anak-anaknya sebagai penerus iman, tentang keluarga yang rindu suasana tempat tinggal yang nyaman dan juga keluarga yang perlu menciptakan suasana yang sehat di antara warganya. Sekarang, bagaimanakah jika hal ini dikaitkan dengan Ibadah Syukur YBPK? Saat mendengar kata Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK), apa yang terlintas pertama kali? Apakah kita terusik? Apakah kita merasa aman dan nyaman saja? Mampukah kita merasakan gerak langkah dan upaya kinerja yang dilakukan YBPK selama ini? Apakah ada kemungkinan dari diri kita untuk berperan didalamnya?
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, bagaimanakah keadaan YBPK dan keterlibatan kita dalam menjaganya. Bisa jadi karena kita tidak merasa bersentuhan langsung, sehingga menganggap YBPK dalam kondisi yang ideal. Jika kita berjumpa dengan fakta dan realitas beberapa cabang dan unit YBPK, yang sekolahnya perlu mendapatkan perhatian secara khusus. Mereka sedang tidak baik-baik saja. Karenanya perlulah upaya mendukung YBPK dalam berproses menjadi bertumbuh lagi. Yang mana hal ini berkenaan dengan cita-cita dan harapan memaksimalkan tempat, orang, dan suasana yang ada didalamnya. Apakah kita mau menganggap YBPK sebagai bagian dari hidup kita, keluarga kita dan juga menjadikannya sebagai rumah tinggal yang nyaman buat kita?
Gambaran Tempat yang Hendaknya Ada di dalam Lingkup Pelayanan di YBPK
YBPK merupakan sebuah tempat yang bersifat menetap lokasinya. Memang ada jemaat-jemaat yang merawat cabang YBPK secara langsung dan ada juga jemaat yang jauh dari lokasi YBPK. Namun hal ini tidak menjadi penghalang untuk memberikan perhatian karena dengan bantuan teknologi komunikasi yang sudah sangat berkembang maka suasana relasi yang erat bisa dibangun.
Melalui kisah kehidupan Stefanus disadari adanya realita kehidupan di dunia ini ternyata banyak tempat dan kondisi yang berisi tantangan dan ancaman. Sampai dengan semester genap Tahun Ajaran 2021/2022, YBPK tersebar dalam 41 cabang di penjuru Jawa Timur. Tempat beradanya YBPK tersebut juga memiliki tantangan dan pergumulannya masing-masing, misalnya jumlah murid, pendanaan dan persaingan pihak luar antar lembaga pendidikan. Namun bagaimanapun juga, hal ini bisa menjadi peluang untuk sesuatu hal yang lebih baik. Sehingga dalam situasi ini masing-masing cabang dan juga seluruh bagian dari GKJW semakin perlu untuk menyadari tentang peran dan jati diri yang penting dalam membangun sebuah komunitas YBPK di lingkup GKJW. Sikap yang senantiasa rindu untuk menjadi warga yang dewasa dalam iman bisa menjadi landasannya. Ketika tumbuh kesadaran mau berproses dari sosok bayi yang menjadi warga dewasa, maka tentu senantiasa ingat panggilannya dan memikirkan bentuk partisipasi yang tepat selaku warga gereja, yaitu mendukung kegiatan pelayanan dengan sungguh-sungguh. Kesadaran diri sebagai batu penjuru dalam sebuah komunitas persekutuan tentunya akan berdampak kepada kehidupan gereja secara keseluruhan. Jika masing-masing diri merasa sebagai bagian yang penting dan tidak bisa terpisahkan, maka keeratan layaknya batu dengan bangunan rumah akan tidak tergoyahkan. Minimal hal ini dimulai dengan rasa memiliki dan menjadi bagian dari kehidupan YBPK yang terdekat dengan domisili tempat tinggal kita.
Selanjutnya ketika kita menganggap YBPK sebagai sebuah rumah bagi kita, maka gambaran rumah Bapa hendaknya bisa menjadi dasar dalam karya. Rumah Bapa berisi gambaran yang ideal tentang sebuah tempat bernaung. YBPK kita pahami sebagai sebuah rumah bersama yang dibangun dan disiapkan oleh Yesus sebagai tempat umat berkarya dan membagikan kasih dalam segala bentuknya. Sebuah rumah yang diyakini dihadiri oleh Allah, maka didalamnya akan tercipta hal-hal yang menggembirakan. Semua pihak dan sarana yang terlibat akan menjadi keadaan yang menyenangkan. Bayangkan jika kita ikut ambil bagian dalam pengembangan YBPK dalam arti yang seluas-luasnya. Kita bisa berkontribusi dan berperan sebagai pelaku yang membangun dan menciptakan pola pikir dan suasana kerajaan Allah di lingkungan YBPK.
Sekarang YBPK sebagai bagian dari rumah kita, mengajak kepada sifat reflektif tentang bagaimana tempat beradanya, apakah dirawat secara fisik dan secara hati? Banyak ruang dan tempat serta peluang untuk mengisi kehidupan YBPK. Diawali dengan mengetahui tentang proses dan rencana-rencananya. Sebuah hal yang secara faktual juga bergantung kepada faktor pelaku, pola pikir dan suasananya. Beberapa hal yang diantaranya bisa kita lakukan antara lain: Mengarahkan YBPK kepada posisi dan situasi yang semakin aman dalam semua aspeknya, semisal tentang dana, tentang lokasi tanahnya yang semakin terperhatikan dan dukungan tentang jumlah murid yang dilayani. Situasi riil yang dihadapi YBPK tidak semakin mudah dalam era persaingan pelayanan bidang pendidikan. Pihak yang terlibat di YBPK, antara lain pengurus, guru dan murid menunggu warga GKJW untuk menemani menemukan jiwa yang rindu untuk mendapatkan kesempurnaan dan kemurnian diri dalam pelayanan di bidang pendidikan. Jika rumah kita dekat dengan lokasi sekolah YBPK apakah kita turut menjaganya sebagaimana kita menjaga rumah kita sendiri? Melalui pengajaran Rumah Bapa kita belajar tentang Yesus telah berkarya menyiapkan tempat, bagaimana kita, apakah ikut berkarya? Yesus mengajarkan kepada kita tentang kediaman yang disiapkannya, bagaimana YBPK yang akan kita tinggali? Oleh karenanya jika saat ini, kita adalah pemilik rumah yang bernama YBPK bagaimana rencana kita untuk menjaga dan merawatnya?
Minimal dirindukan tentang sebuah tempat yang bersifat rohani. Sedangkan sebagai sebuah pengharapan, janji tentang Rumah milik Bapa, dikaitkan dengan sosok Yesus yang berkisah tentang Bait Allah dan sorga hendaknya menjadi penyemangat untuk berkarya. Panggilan untuk membangun komunitas yang bisa menjadi ruang dan tempat yang luang dalam menemani generasi penerus.
Gambaran Tokoh yang Hendaknya Ada di dalam Lingkup Pelayanan di YBPK
Situasi zaman dan kehidupan terus berkembang dan berubah. Khususnya dalam menjaga dan merawat semangat bersaksi. Bersaksi tidak selalu hal yang mudah. Bisa dimungkinkan berjumpa dengan ancaman, namun di sisi lain bisa berjuang dengan menjaga harapan dengan berpegang kepada janji dari Tuhan. Dari banyak tantangan, bisa bertemu dengan situasi hidup mati seperti Stefanus. Kita bisa sangat menaruh harapan layaknya bayi yang pasrah dan mengharapkan asupan makanan (dengan segala konsekuensinya). Namun bagaimanapun, harus terus seperti Tomas dan Filipus yang meletakkan janji kepada Yesus yang sangat dipercaya akan memberikan yang terbaik. Sekarang, bagaimana keadaan dan keberadaan pihak yang berada didalamnya dan yang hidup dan menghidupi YBPK? Kita mau menemaninya ataukah membiarkannya sendirian?
Kisah kehidupan Stefanus menceritakan mengenai sosok yang bisa menjadi generasi penerus yang hebat. Sebagai murid yang memiliki pengetahuan yang banyak dan memiliki kesetiaan yang tidak pergoyahkan. Begitu juga, sosok bayi yang diberikan ruang untuk berjuang dan melakukan pencarian berlandaskan inisiatif dan partisipasi sekaligus tidak menunggu makanan yang diberikan bisa menjadi inspirasi ketokohan yang ada di YBPK. Termasuk saat berkaca dari Tomas dan Filipus, di YBPK perlu ada pribadi yang tahan uji, tahu arah yang hendak dituju dan senantiasa memiliki kepercayaan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Jika saat ini kita adalah bagian dari rumah yang bernama YBPK (sebagai apapun peran kita) bagaimana rencana kita untuk menjaga dan merawatnya? Berperan sebagai apa? Jangan sekedar menjadi tetangga, yang melihat, berkomentar namun sebenarnya tidak berkontibusi apapun juga. Kitalah yang sedang mendapatkan amanat menjaga rumah bapa itu.
Berikutnya, jika YBPK adalah sebuah rumah milik Bapa tentunya perlu diisi dengan tokoh dan sosok yang diharapkan bisa melanjutkan pekerjaan pelayanan dan yang bisa memiliki sikap mental yang tahan uji dan senantiasa memiliki pengharapan dengan didukung iman yang kuat. Paling tidak keberadaan Stefanus bisa menjadi tolak ukur dalam menghasilkan generasi yang bisa melanjutkan perjuangan iman sebagai sebuah prioritas.
Penutup
Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dalam pelayanan dan kesaksiannya, telah menempuh jalan membangun ruang didik bernama Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK). Ada beberapa jemaat yang berinteraksi langsung dengan cabang dan unit sekolah YBPK, ada juga jemaat yang belum berinteraksi langsung dengan YBPK. Namun, pada ibadah saat ini kita semua diberikan kesempatan untuk mengingat bahwa lembaga ini sangat luar biasa dan perlu terus menjaga diri agar menjadi berkat. Harapannya, YBPK tetap mampu menjadi tempat yang baik untuk menyemaikan generasi masa depan di tengah perubahan dan perkembangan zaman. Hari ini kita sedang mengadakan refleksi tentang segala situasi yang ada di YBPK dengan segala potensi dan pergumulannya. Memahami tentang peran besarnya YBPK untuk dunia, untuk para murid dan untuk Tuhan. Karenanya perlu tumbuh dukungan dan tanggung jawab, sehingga peran YBPK bisa terwujud dengan segera dan baik. Lembaga sekolah ini tampak hidup ketika ada geliat suara anak didik yang sedang belajar dan menerima estafet keilmuan. Rindukah anda untuk ikut menjaganya? Mari kita gunakan Ibadah Syukur YBPK sebagai awal komitmen untuk YBPK. Selamat bersyukur untuk YBPK. Selamat mendukung keberlangsungan YBPK. Amin. [WdK].
Pujian: KJ. 259 Di Dalam Kristus Bertemu
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Kados pundi pamanggih Panjenengan nalika wekdal pangabekti lajeng wonten lare alit ingkang muwun kanthi swara ingkang sora? Wonten ugi swara para lare ingkang sami mlajeng ing saktengahipun pangabekti? Kita paling boten lajeng madosi swara lare punika. Kita saged gumujeng? Punapa kita lajeng murina? Rumaos boten jenjem? Pancen saged tuwuh pamanggih mawarni-warni. Nanging manawi kersa, sageda ugi tumuh pamanggih bilih manawi taksih wonten swaranipun lare alit ing papan pangabekti, sejatosipun taksih wonten wiji tukul kangge gesangipun pasamuwan. Langkung sae malih manawi ing saklajeningipun panjenengan ngreksa budidaya leladi dhateng para lare alit kalawau. Kanthi makaten lajeng tuwuh raos tresna, saged nampi para lare boten minangka sumbering reridu. Satemah manah kita saged rumaos tentrem.
Sesambetan kaliyan raos tentrem, kajawi tuwuh saking manah, ugi saged karaosaken saking papan panggenan ing pundi kita saweg mapan. Kita saged ningali kawontenan iklan perumahan. Sedaya tamtu nyerat papanipun sae, endah lan saged nuwuhaken tentremipun manah. Sinten ingkang manggen mangke badhe rumaos bingah. Nanging sejatosipun, kados pundia endahipun papan panggenan manawi manahipun boten tentrem inggih boten saged ngraosaken papan endah punika. Punika ugi gumantung dhateng sinten ingkang mapan, tanggi tepalihipun, pamanggih lan kahanan gesang sesarenganipun. Pancen nyata bilih raos tentrem kedah tuwuh saking manah, tiyang ing sak kiwa tengen sarta ugi papan ingkang sae lan leres.
Isi
Saking irah-irahan ing inggil punika kita saged manggihaken kawontenan tiyang ingkang nedya nggladhi putranipun minangka paraga ingkang nglajengaken gesang kapitadosan, ugi kawontenan brayat ingkang ngupadi papan ingkang endah sarta brayat ingkang kagungan panjangka tentrem ing antawisipun kulawarganipun.
Sak punika, manawi babagan brayat punika kita bekta dhateng kawontenanipun Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK), pamanggih punapa ingkang lajeng tuwuh? Tentrem utawi manah kita lajeng boten jenjem? Punapa panjenengan pirsa sedaya pambudidaya supados YBPK tansah saged gesang? Prekawis punapa ingkang bok manawi saged kita lampahi kangge YBPK supados tentrem ayem? Minangka lembaga pendidikan, kados pundi ta kahananipun YBPK? Manawi kita boten nate sesambetan sacara langsung kaliyan YBPK, saged ugi kita rumaos sedayanipun lumampah kanthi sae. Nyatanipun, wonten sawetawis cabang ingkang kedah dipun pirsani kanthi langkung tumemen satemah saged gesang kanthi sak mesthinipun. Wonten cabang lan unit YBPK ingkang betahaken pambiyantu kangge nuwuhaken kemajengan ing babagan papan panggenanipun, para paraganipun, lan kawontenan gesang sae ing YBPK. Punapa kita purun sangkul sinangkul supados YBPK saged tentrem, kados dene kita budidaya tuwuhing tentrem ing brayat lan griya kita piyambak?
Panjangka Papan kangge Paladosanipun YBPK
YBPK mapan ing panggenan tartamtu lan sak punika sampun gampil kangge sesambetanipun. Pancen wonten pasamuwan ingkang mengku YBPK lan pasamuwan ingkang tebih. Nanging lumantar kemajengan teknologi prekawis mengku YBPK punika sampun boten dados prekawis ingkang awrat lan ewet.
Lumantar gesangipun Stefanus kita saged manggihaken bilih kawontenan ing alam donya punika boten tansah aman lan tentrem. Kathah papan ingkang malah tuwuh pacoben, panggodha, lan prakawis ingkang awon. Punika ugi karaosaken dening YBPK. Dumugi Semester Genap Tahun Ajaran 2021/2022, YBPK mapan ing 41 cabang lan sedayanipun pepanggihan kaliyan prekawis ingkang maneka warni. Upaminipun cacahipun siswa, biaya lan saya kathahipun sekolah saking lembaga sanesipun. Punika awrat nanging taksih saged minangka perangan kangge nuwuhaken ewah-ewahanipun YBPK. Amargi makaten, sedaya perangan saking YBPK lan GKJW kedah nuwuhaken raos kados dene paraga bayi ingkang ngorong dhateng kasampurnan gesang. Ngupadi dhateng tetedhan dan omben ingkang ngener dhateng kadiwasan lakuning gesang lan mangertosi tanggel jawab sarta timbalan minangka warga pasamuwan dhateng YBPK. Punika kawiwitan kanthi mangertosi timbalan minangka “watu pepilihan” ingkang kedah sesarengan ambangun griya YBPK. Manawi wonten sela ingkang ical satunggal kemawon, bangunan griya YBPK ugi saged boten mawujud. Punika sageda kawiwitan wujud panyengkung dhateng cabang YBPK ingkang papanipun celak kaliyan papan gesang kita piyambak-piyambak. Saklajengipun, manawi kita sampun rumaos bilih YBPK punika minangka griya kita, tamtunipun saged ta dipun reksa kados dene Daleme Sang Rama. Minangka papan ingkang lelandhesan ing katresnan. YBPK punika griya ingkang kacawisaken dening Gusti Yesus kangge para umat kagunganipun saged leladi. YBPK minangka griya ingkang nuwuhaken prekawis ingkang bingahaken lan tansah katunggilaken minangka perangan saking Kratoning Allah.
Sak punika, manawi YBPK punika perangan saking griya kita, punapa ugi dipun reksa kanthi sakestu? Kathah ingkang saged kita lampahi. Pancen punika sejatosipun ugi gumantung dhateng pamanggih sarta paraga ingkang nglampahi. Upaminipun, ngeneraken YBPK dhateng prekawis ingkang tentrem ing babagan biaya, papan panggenan sekolah ingkang aman sarta ngupadi siswa kangge sekolah ing YBPK. Kanyatan YBPK sak punika boten saya gampil. Sedaya ingkang gesang sesambetan kaliyan YBPK betahaken pambiyantu saking warga GKJW. Manawi griya kita celak kaliyan cabang YBPK punapa ugi nate ningali lan lajeng cancut taliwanda leladi? Kados dene Gusti Yesus sampun nyawisaken papan kangge gesang langgeng kanthi tumemen, menggahipun kita ugi kados makaten.
Panjangka Paraga kangge Paladosanipun YBPK
Stefanus nyariosaken kahanan paraga ingkang sae. Kados siswa ingkang tumemen lan setya. Kawontenanipun Stefanus saged dados sarana naliti punapa YBPK sampun lumampah lan nuwuhaken gesangipun siswa dados manungsa ingkang kiyat ing gesang pitadosanipun. Makaten ugi patrap manah bayi ingkang ngupadi namun prekawis ingkang leres, boten namung kendel kemawon saged dados pralambang lampah gesangipun YBPK. YBPK minangka Daleme Sang Rama kedah dipun lampahi dening paraga ingkang saged nglajengaken timbalan paladosan lan minangka juru paseksi.
Kahanan zaman sampun kathah ewah-ewahanipun lan punika gadhah sesambetanipun kaliyan timbalan kita minangka juru paseksi ingkang sangsaya awrat. Amargi makaten kangge tansah tuwuh tekad, sageda gadhah pangajeng-ajeng dhumateng prajanjinipun Gusti Allah. Manah kedah kiyat kados dene Stefanus, tansah pitados dhumateng Gusti Yesus kados dene bayi, ugi Filipus lan Tomas. Sarta ugi budidaya ngupadi prekawis ingkang leres kados dene Gusti Yesus wekdal nyawisaken Daleme Sang Rama. Watak punika manawi saged tuwuh ing sedaya paraga YBPK sarta warga GKJW ingkang nunggil nyengkuyung gesangipun YBPK tamtu iba endahipun.
Panutup
Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) wonten ing paladosanipun ugi leladi lumantar YBPK. Wekdal punika, sedaya pasamuwan dipun timbali kangge ngawontenaken raos sesambetan lan pepanggihan kaliyan YBPK. Sae sacara langsung lan sakwatawis namung sacara tata pangabekti. Ing pangabekti punika wonten timbalan nyengkuyung YBPK minangka papan nggulawentah para anem tumuju dhateng kemajengan gesangipun. Tanggel jawab ingkang dipun sanggi dening YBPK kathah lan awrat. Amargi makaten YBPK tansah nyuwun pandonga lan panyengkuyung sedaya warga GKJW supados sedayanipun lumampah kanthi sae. Mangga kita sami nuwuhaken tekad kangge gesangipun YBPK. Amin. [WdK].
Pamuji: KPJ. 344 Lamun Dudu Yehuwah