Minggu Paskah 4
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 41 – 47
Bacaan 2: 1 Petrus 2 : 19 – 25
Bacaan 3: Yohanes 10 : 1 – 10
Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema Khotbah: Kebangkitan Kristus Mengubah Hidupku Menjadi Lebih Baik
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 2 : 41 – 47
Kisah Para Rasul 2:41-47 merangkum kehidupan sehari-hari komunitas orang percaya mula-mula yang ada di Yerusalem setelah mereka menerima kuasa Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta (Kis. 2:1-13). Pada saat itu rasul Petrus telah memberikan khotbah penginjilan Kristen yang pertama. Ia menjelaskan bahwa apa yang dialami orang-orang adalah karunia akhir zaman dari Roh Allah yang dijanjikan oleh nabi Yoel, yang sekarang dicurahkan kepada mereka oleh Kristus yang bangkit dan ditinggikan (Kis. 2:14-36). Tanggapan terhadap khotbah itu sangat luar biasa: tiga ribu orang bertobat, dibaptis, dan bergabung dengan komunitas Kristen Yerusalem (Kis. 2:37-41).
Kisah Para Rasul 2:41-47 ini menggambarkan seperti apa kehidupan komunitas Kristen yang dihasilkan. Pada ayat 42 dijelaskan mereka bertekun dalam pengajaran, bersekutu, makan bersama, dan berdoa yang telah menjadi praktik umum kehidupan orang Kristen selama berabad-abad. Bersekutu (koinonia) dan makan bersama kelihatannya hanya aktivitas biasa saja. Namun dalam kehidupan Kristen mula-mula, hal itu merupakan tindakan penting. Oleh karena melalui kegiatan persekutuan, orang-orang dapat menerima pengajaran para rasul dan juga berdoa bersama. Persekutuan itu ternyata memberi dampak yang luar biasa. Hal ini dapat kita lihat pada ayat 43-47 dimana para rasul mampu melakukan banyak mujizat, persatuan komunitas semakin erat, ada semangat untuk saling berbagi (aspek solidaritas), semangat untuk beribadah di bait Allah maupun di rumah masing-masing secara bergantian dalam memuji Allah (aspek spiritualitas). Semua aktivitas itu dilakukan dengan hati yang gembira dan tulus. Dampak itu tidak hanya dirasakan oleh komunitas itu sendiri, tetapi juga berdampak bagi orang-orang disekitarnya “mereka disukai semua orang” (aspek sosial).
1 Petrus 2 : 19 – 25
Surat 1 Petrus ditujukan kepada para pendatang atau perantau yang tersebar di wilayah Asia Kecil. Sebagai seorang pendatang atau perantau, mereka banyak mengalami pergumulan dan penderitaan. Mereka mengalami krisis identitas, yakni sebagai kelompok minoritas, status sosialnya hanya sebagai hamba atau budak (2:18), seringkali difitnah dan dinista (2:12; 3:16) serta mengalami ketidakadilan (2:18-19; 4:14-16). Dalam situasi dan kondisi seperti inilah, surat Petrus dituliskan kepada mereka dengan harapan agar mereka mendapatkan kekuatan dan pengharapan.
Pada bagian surat 1 Petrus 2:19-25 ini, mereka dipanggil untuk terus berusaha melakukan apa yang baik dan benar sebagaimana yang diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus. Motivasinya bukan untuk menyenangkan tuan atau majikannya, melainkan karena sadar itu sebagai kasih karunia Allah (Ay. 19-20). Kasih karunia Allah yang diberikan melalui karya penderitaan Tuhan Yesus Kristus (Ay. 21-24) yang membebaskan manusia dari kuasa dan hukuman dosa. Lebih lanjut pada ayat 24c juga ditegaskan bahwa “bilur-bilur[1] Kristus” juga membawa kesembuhan. Tentu kesembuhan yang dimaksud bukan dalam pengertian kesembuhan secara fisik, melainkan kesembuhan sebagai buah pertobatan rohani. Hal ini sebagaimana ditegaskan pada ayat 25 bahwa orang-orang berdosa, seperti domba yang tersesat tanpa gembala. Mereka rentan terhadap bahaya, baik semak duri, kecelakaan, maupun binatang buas. Terluka adalah akibat yang tak terelakkan. Namun sekarang mereka telah dikembalikan pada sang gembala dan pemelihara jiwa mereka, yaitu Tuhan Yesus Kristus sendiri.
Yohanes 10 : 1 – 10
Memahami Yohanes 10:1-10 tidak bisa kita lepaskan dari perikop Yohanes 9:1-41 yang berisi tentang kisah Tuhan Yesus yang menyembuhkan seorang buta sejak lahirnya. Peristiwa ini memberikan dampak tidak hanya bagi orang buta menjadi sembuh, tetapi juga bagi orang tua atau keluarganya yang mengalami ketakutan. Hal ini terjadi karena masyarakat Yahudi pada saat itu membuat kesepakatan bahwa setiap orang yang mengakui Tuhan Yesus sebagai Mesias akan dikucilkan (Yoh. 9:22).
Menyikapi situasi dan kondisi masyarakat seperti itu, pada pasal 10 ini Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang disampaikan dalam bentuk perumpamaan (Yoh. 10:6). Pada ayat 1-5, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai gembala sejati. Gembala ini mengutamakan kesejahteraan dombanya bukan kesejahteraannya sendiri. Hal ini terjadi oleh karena gembala ini bukanlah pencuri atau perampok[2] yang akan mencuri domba. Lebih lanjut, Tuhan Yesus juga menekankan perbedaan khusus antara pencuri dan gembala (Ay. 2-4; 8-10). Gembala masuk dengan benar ke dalam kandang domba melalui pintu, penjaga membukakan pintu itu, domba mendengarkan suaranya, Ia memanggil menurut namanya, menuntunnya keluar, Ia berjalan di depan dombanya, domba-domba itu mengikuti-Nya oleh karena mengenal suaranya. Hal ini hendak menunjukkan adanya sebuah kerjasama yang baik antara gembala, penjaga pintu, dan domba. Selain itu, juga ada hubungan saling percaya di antara semua pihak. Kita bisa memperhatikan bahwa domba di sini tidak digambarkan sebagai domba-domba yang bodoh. Artinya mereka mampu mendengar, mengikuti, melarikan diri dari gembala palsu, dan mampu “mengetahui” siapa yang harus dipercaya. Namun para pendengarnya pada saat itu tidak mengerti arti perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus itu. Sehingga pada ayat 7-10, Tuhan Yesus menekankan bahwa Dia sebagai pintu masuk dan keluarnya domba yang memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan hidup dalam kelimpahan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ciri khas atau karakteristik merupakan suatu hal unik yang dimiliki oleh setiap orang, kelompok, komunitas maupun persekutuan orang percaya. Kehidupan komunitas orang percaya perdana di Yerusalem yang identik dengan semangat kebersamaan (aspek solidaritas), semangat membangun iman (aspek spiritualitas) dan semangat membangun relasi yang baik (aspek sosial) seharusnya juga menjadi ciri atau karakteristik orang percaya di luar Yerusalem (lih bacaan 2). Semua ini dilakukan dalam kerangka meneladani Tuhan Yesus Kristus Sang Gembala yang memberikan keselamatan, kesejahteraan, dan hidup yang berkelimpahan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).
Pendahuluan
Setiap orang memiliki keunikan atau ciri khas dalam dirinya. Hal ini bisa kita lihat melalui bentuk fisik, sifat, kepribadian, watak, dan karakternya yang berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Seiring dengan bertambahnya usia, keunikan atau ciri khas tersebut mengalami perubahan dan perkembangan. Contohnya: bentuk fisik. Mulai dari bayi sampai dengan lansia bentuk fisik kita mengalami pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan yang tidak bisa kita ingkari.
Isi
Komunitas orang percaya perdana di Yerusalem juga memiliki keunikan atau ciri khas dalam kehidupan sehari-harinya sebagai orang beriman (Kis. 2:41-47/Bacaan 1). Pada ayat 42 dijelaskan mereka bertekun dalam pengajaran, bersekutu, makan bersama, dan berdoa yang telah menjadi praktik umum kehidupan orang Kristen selama berabad-abad. Bersekutu (koinonia) dan makan bersama kelihatannya hanya aktivitas biasa saja. Namun dalam kehidupan Kristen mula-mula hal itu merupakan tindakan penting. Oleh karena melalui kegiatan persekutuan itu, orang-orang dapat menerima pengajaran para rasul dan juga berdoa bersama. Persekutuan itu ternyata memberi dampak yang luar biasa. Hal ini dapat kita lihat pada ayat 43-47 dimana para rasul mampu melakukan banyak mujizat, persatuan komunitas semakin erat, ada semangat untuk saling berbagi (aspek solidaritas), semangat untuk beribadah di bait Allah maupun di rumah masing-masing secara bergantian dalam memuji Allah (aspek spiritualitas). Semua aktivitas itu dilakukan dengan dasar hati yang gembira dan tulus. Dampak itu tidak hanya dirasakan oleh komunitas itu sendiri, tetapi juga berdampak bagi orang-orang disekitarnya, yaitu “mereka disukai semua orang” (aspek sosial).
Keunikan atau ciri khas kehidupan komunitas Kristen di Yerusalem ini seharusnya juga menjadi ciri kehidupan orang-orang Kristen di luar Yerusalem. Maka dari itu, penulis surat 1 Petrus (1 Ptr. 2:19-25/Bacaan 2) memberikan nasihat kepada para pendatang atau perantau yang tersebar di wilayah Asia Kecil untuk terus berusaha melakukan apa yang baik dan benar sebagaimana yang diteladankan oleh Tuhan Yesus Kristus. Motivasinya bukan untuk menyenangkan tuan atau majikannya, melainkan sadar karena itu sebagai kasih karunia Allah (Ay. 19-20). Kasih karunia Allah yang diberikan melalui karya penderitaan Tuhan Yesus Kristus (Ay. 21-24) yang membebaskan manusia dari kuasa dan hukuman dosa. Lebih lanjut pada ayat 24c ditegaskan bahwa “bilur-bilur Kristus” juga membawa kesembuhan. Tentu kesembuhan yang dimaksud bukan dalam pengertian kesembuhan secara fisik, melainkan kesembuhan sebagai wujud pertobatan rohani. Hal ini sebagaimana ditegaskan pada ayat 25 bahwa orang-orang berdosa seperti domba yang tersesat tanpa gembala. Mereka rentan terhadap bahaya, baik semak duri, kecelakaan, maupun binatang buas. Terluka adalah akibat yang tak terelakkan. Namun sekarang mereka telah dikembalikan pada Sang Gembala dan pemelihara jiwa mereka, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Sebagai Sang Gembala, Tuhan Yesus lebih mengutamakan kesejahteraan dombanya bukan kesejahteraannya sendiri (Yoh. 10:1-10/ Bacaan 3). Hal ini terjadi oleh karena gembala ini bukanlah pencuri atau perampok yang akan mencuri domba. Lebih lanjut, Tuhan Yesus juga menekankan perbedaan khusus antara pencuri dan gembala. Gembala masuk dengan benar ke dalam kandang domba melalui pintu, penjaga membukakan pintu itu, domba mendengarkan suara-Nya, Ia memanggil menurut namanya, menuntunnya keluar, Ia berjalan di depan domba-Nya, domba-domba itu mengikuti-Nya oleh karena mengenal suara-Nya (Ay. 2-4). Hal ini hendak menunjukkan adanya sebuah kerjasama yang baik antara gembala, penjaga pintu, dan domba. Selain itu, juga ada hubungan saling percaya di antara semua pihak. Kita bisa memperhatikan bahwa domba di sini tidak digambarkan sebagai domba-domba yang bodoh. Artinya mereka mampu mendengar, mengikuti, bahkan melarikan diri dari gembala palsu, dan mampu “mengetahui” siapa yang harus dipercaya.
Penutup
Komunitas orang percaya perdana di Yerusalem telah memberikan teladan baik dalam kehidupan sehari-harinya sebagai orang beriman. Begitu pula Tuhan Yesus yang kita imani sebagai Sang Gembala juga telah memberikan teladan bagi umat-Nya. Keteladanan yang diwujudkan secara konkret dengan cara membangun semangat kerjasama, saling percaya, mendengar, mengikuti serta mampu membedakan yang baik dan tidak baik. Melalui hal ini, marilah kita berefleksi: “Apakah keteladanan cara hidup komunitas Kristen awal di Yerusalem dan Tuhan Yesus Sang Gembala itu juga masih ada dalam kehidupan kita bergereja di GKJW saat ini?” (berilah waktu sejenak bagi umat untuk berefleksi, akan lebih baik jika diiringi musik instrumental).
Sebagai umat milik-Nya, “Bersediakah kita meneladani cara hidup komunitas Kristen perdana di Yerusalem dan Tuhan Yesus Sang Gembala itu dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, dan bergereja saat ini?” Biarlah semangat kebangkitan Tuhan Yesus Kristus mengubah hidup kita menjadi lebih baik, yang dibuktikan melalui perkataan, pikiran, sikap, dan perbuatan kita sehari-hari. Amin. [AS].
Pujian: KJ. 363 : 1 – 3 Bagi Yesus Kuserahkan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Saben tiyang kagungan bab ingkang mirunggan utawi “keunikan” ingkang dados ciri khas wonten ing gesangipun. Punika saged kita pirsani lantaran wujud fisik (jasmani), sifat, kapribaden, watak, lan karakter ingkang benten antawis tiyang satungal lan sanesipun. Sesarengan tambahing yuswa, “keunikan” utawi ciri khas ingkang sampun kasebataken punika ngalami ewah-ewahan. Tuladhanipun: wujud fisik (jasmani). Wiwit saking bayi ngantos dumugi adi yuswa wujud fisik kita ngalami pertumbuhan, perkembangan, lan ewah-ewahan ingkang mboten saged kita selaki.
Isi
Para tiyang pitados wiwitan ing Yerusalem ugi kagungan bab ingkang mirunggan utawi “keunikan” ingkang dados ciri khas ing salebeting gesangipun saben dinten (Lelakone Para Rasul 2:41-47/Waosan 1). Wonten ing ayat 42 kasebataken bilih piyambakipun tansah ngantepi piwucalipun para rasul, manunggal, dhahar sesarengan, ndedonga ingkang sampun dados prekawis umum gesangipun tiyang Kristen salami atusan tahun. Manunggal utawi makempal (koinonia) lan dhahar sesarengan ketingalipun namung tumindhak ingkang limrah. Ananging ing salebeting gesangipun tiyang-tiyang Kristen wiwitan, punika tumindhak ingkang penting. Awit kanthi manunggal tiyang-tiyang punika saged nampi piwucalipun para rasul lan ndedonga sesarengan. Patunggilan punika saged paring dampak ingkang ngedab-edabi. Prekawis punika saged kita titi priksa wonten ing ayat 43-47, bilih para rasul saged paring mukjijat saha pratandha, patunggilan sangsaya kekah, wonten krenteg kangge andum berkah (aspek solidaritas), krenteg mbangun pangibadah ing Padaleman Suci lan ugi wonten ing griya-griya kanthi gilir gumanti kagem ngluhuraken Gusti Allah (aspek spiritualitas). Sedaya punika dipun lampahi kanthi manah ingkang bingah lan tulus. Dampak punika mboten namung dipun raosaken piyambak nanging ugi sumrambah dhumateng masyarakat sawetawisipun, inggih punika “padha disenengi ing wong sabangsa kabeh” (aspek sosial).
Kaunikan utawi ciri khas gesangipun para tiyang pitados ing Yerusalem punika kedahipun ugi dados ciri gesangipun tiyang pitados wonten ing sakjawinipun Yerusalem. Pramila, juru tulis serat 1 Petrus (1 Petrus 2:19-25/ Waosan 2) paring pitutur dhateng para tiyang neneka utawi perantau ingkang kesebar wonten ing tlatah Asia Alit supados tansah mbudidaya nindhakaken punapa ingkang sae lan leres kados ingkang dipun tuladhakaken dening Gusti Yesus Kristus. Motivasinipun sanes kagem ngremenaken panguwaos utawi majikanipun, ananging amargi sadar bilih punika sih rahmatipun Allah (Ay. 19-20). Sih rahmat ingkang dipun paringaken lantaran kasangsaranipun Gusti Yesus Kristus (Ay. 21-24) ingkang ngluwari manungsa saking panguwaos lan paukuman dosa. Selajengipun wonten ing ayat 24c ugi kategesaken bilih marga “bilur-bilure Sang Kristus” ugi mbeta kasarasan. Tamtu kasarasan ingkang dipun maksud ing ngriki sanes pangertosan saras secara fisik, ananging kawilujengan utawi karahayon saking pamratobat secara karohanen. Bab punika kategesaken wonten ing ayat 25, bilih tiyang dosa kados wedhus ingkang kesasar tanpa Pangon. Wedhus ingkang celak kaliyan bebaya, eri, kacilakan lan kewan galak. Nanging sakpunika sedaya sampun dipun wangsulaken dhumateng Sang Pangon ingkang tansah ngrimati lan dados pamomonging nyawa inggih punika Gusti Yesus Kristus piyambak.
Minangka Sang Pangon, Gusti Yesus langkung ngutamikaken kawilujenganipun para menda sanes kawilujenganipun piyambak (Yok. 10:1-10/ Waosan 3). Awit pangon punika sanes maling utawi rampog ingkang badhe nyenyolong menda. Gusti Yesus ugi mratelakaken bentenipun Pangon kaliyan maling lan rampog. Sang Pangon mlebet kandhang menda kanthi miyos kori ingkang leres, dipun wengani dening kang tunggu kori, menda mirengaken swantenipun, Sang Pangon nimbali miturut naminipun, nuntun medal kanthi cara Sang Pangon mlampah wonten sakngajengipun menda, lan para menda purun ndherek Sang Pangon awit niteni swantenipun (Ay. 2-4). Bab punika nedahaken wontenipun “kerjasama” ingkang sae antawisipun Sang Pangon, ingkang tunggu kori lan menda. Kejawi punika ugi mratelakaken sesambetan sami pitados (saling percaya) ing antawisipun sedaya pihak. Kita ugi saged mangertos menawi menda wonten ing ngriki mboten dipun gambaraken dados menda ingkang bodo. Awit para menda punika kuwawi midhanget, ndherek, temah mlajeng saking pangon palsu lan kuwawi niti priksa sinten ingkang kedah dipun pitados.
Panutup
Para tiyang pitados wiwitan ing Yerusalem sampun paring katuladhan sae ing salebeting gesang padintenan minangka tiyang pitados. Semanten ugi Gusti Yesus ingkang kita pitados minangka Sang Pangon ugi sampun maringi katuladhan kagem umat-Ipun. Katuladhan ingkang dipun wujudaken secara nyata kanthi cara mbangun kerjasama, adhedasar sami pitados, purun mirengaken, ndherek Sang Pangon, sarta kuwawi mbentenaken pundi ingkang sae lan mboten. Sumangga kita sami niti priksa gesang kita piyambak-piyambak kanthi manah ingkang lerem, “Punapa katuladhanipun para tiyang pitados wiwitan ing Yerusalem lan Gusti Yesus Sang Pangon ugi taksih wonten ing salebeting gesang kita minangka patunggilan GKJW ing wekdal punika?” (warga kaparingana wegdal sawetawis kangge “berefleksi”, langkung sae bilih dipuniringi musik instrumental)
Minangka umat utawi “menda-menda” kagunganipun Allah, “Punapa kita ugi sumadya nuladha cara gesangipun para pitados wiwitan ing Yerusalem lan Gusti Yesus minangka Sang Pangon ing salebeting gesang kita saben dinten, sae ing salebeting brayat, masyarakat lan pasamuwan?” Mugi wungunipun Gusti Yesus Kristus paring ewah-ewahan ingkang sae tumrap gesang kita, ingkang kawujudaken lantaran tetembungan, pikiran, sikap, lan tumindhak becik ing sauruting lampahing gesang kita saben dinten. Amin. [AS].
Pamuji: KPJ. 124 : 1, 4 Kula Sestu Ndherek Gusti
[1] Kata “bilur” (Ibrani. chabburah; Yunani mólóps) digunakan untuk menunjukkan bekas luka-luka memar, lebam, bengkak, membiru dan berdarah, khas luka-luka bekas cambukan pada tubuh “hamba Allah yang menderita”. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menuliskannya sebagai jamak “bilur-bilur,” tetapi dalam teks Ibrani (Yesaya 53:5) maupun teks Yunani (LXX. Yes. 53:5; 1 Pet. 2:24) kata “bilur” adalah tunggal.
[2] Pencuri atau perampok merepresentasikan seseorang yang memiliki motivasi tidak baik.