Minggu Paskah | Perjamuan Kudus Masa Paskah
Stola Putih
Bacaan 1: Keluaran 14 : 10 – 31
Bacaan 2: Roma 6 : 1 – 11
Bacaan 3: Matius 28 : 1 – 10
Tema Liturgis: GKJW Bangkit Bersama Kristus
Tema Khotbah: Sosok Yesus Yang Bangkit Menjadi Dasar Iman
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Keluaran 14 : 10 – 31
Peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir terjadi 480 tahun sebelum tahun ke-4 (1 Raj. 6:1) pemerintahan Salomo (970-931 sM) atau sekitar tahun 1446 SM. Namun, angka 480 mungkin simbolis untuk 12 generasi. Dari bukti sejarah yang ada (Misal: nama Raamses dalam 1:11) tampaknya yang ditunjuk adalah Seti I dan Raamses II sebagai raja-raja Mesir selama perbudakan di Mesir dan keluarnya Israel dari tanah itu. Secara historis, peristiwa keluaran ini terjadi tidak lama sesudah tahun 1300 SM. Bangsa Israel menderita sebagai budak di Mesir, tetapi Allah mendengar jeritan mereka dan memilih Musa untuk memimpin mereka keluar dari perbudakan. Dengan bantuan Harun saudaranya, Musa memperlihatkan kepada raja Mesir kuasa Allah dalam bentuk sepuluh tulah. Akhirnya, raja yang keras kepala itu membiarkan bangsa Israel pergi. Sewaktu mereka bersiap-siap pergi, Musa memberitahukan kepada bangsa Israel untuk menyiapkan makanan khusus yang oleh generasi-generasi mendatang dirayakan sebagai Paskah.
Perikop ini menunjukkan Tuhan yang berdaulat. Ia memperdaya Firaun yang melihat pasukan Israel berbalik arah seakan Allah Israel tidak sanggup menuntun umat-Nya ke tempat tujuan (Ay. 2-4). Dalam kedaulatan-Nya, Tuhan mengeraskan hati Firaun sehingga dengan sombong Firaun memanfaatkan kesempatan itu dan merasa sanggup untuk sekali lagi memaksa Israel kembali ke perbudakan di Mesir. Firaun telah melupakan keperkasaan Allah Israel, yang dengan tulah-tulah-Nya sudah menghancurkan bangsanya. Terhadap umat yang ketakutan karena dikejar oleh Firaun dan pasukannya, sementara mereka sendiri dihadang Laut Teberau, Tuhan menyatakan sekali lagi kuat kuasa-Nya. Seruan Musa mewakili Allah, “Jangan takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari Tuhan yang akan diberikannya kepadamu hari ini.” (Ay. 13). Allah membelah laut Teberau menjadi dua, sehingga bangsa Israel dapat menyeberangi laut Teberau itu dengan selamat (Ay. 21-22). Pada akhirnya Tuhan Allah membinasakan Firaun dan seluruh tentara Mesir dengan cara menenggelamkan mereka di dasar laut (Ay. 28). Kesemua hal yang dilakukan oleh Tuhan Allah itu adalah untuk menyatakan Diri-Nya kepada bangsa Israel agar mereka sungguh-sungguh percaya dan menyembah kepada Tuhan Allah saja. Bangsa Israel tidak lagi mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri, tetapi lebih mengandalkan Tuhan Allah yang berkuasa atas hidup mereka.
Roma 6 : 1 – 11
Rasul Paulus dalam perikop ini menjelaskan arti penting dari kematian dan kebangkitan Kristus. Melalui kematian Yesus Kristus, kita juga dikuburkan bersama-sama dengan Dia, dan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, kita pun memperoleh kehidupan dalam hidup yang baru (Ay. 4). Artinya, kita dipersatukan dengan Kristus melalui peristiwa salib – kematian dan kebangkitan Kristus – sehingga kita juga dapat dibebaskan dari kuasa dosa dan maut.
Ada yang menarik di sini, Paulus mengaitkan peristiwa salib ini dengan baptisan orang-orang percaya. Bagi Paulus, baptisan orang-orang percaya berarti mati dan bangkit bersama Kristus, dan peristiwa itu terjadi hanya satu kali (Ay. 9). Ini menunjukkan bahwa baptisan orang-orang percaya merupakan meterai bagi pengampunan dosa, tanda dimulainya kehidupan yang baru di dalam Kristus. Melalui baptisan yang kita terima, kita dipersatukan dengan Kristus, dan jika kita bersatu dengan Kristus, artinya kita pun telah mati bagi dosa bersama dengan Kristus, dan telah dibangkitkan dalam kehidupan bersama dengan Dia. Ini adalah anugerah terbesar, mati dan bangkit bersama Kristus. Kematian yang seharusnya kita terima karena dosa diubahkan oleh Kristus menjadi kehidupan yang dianugerahkan bagi seluruh umat manusia.
Matius 28 : 1 – 10
Sebagai saksi mata pertama kebangkitan Yesus, kesaksian para perempuan itu sangat penting. Apa yang mereka lihat, dengar, dan alami menjadi bukti konkret iman akan kebangkitan Yesus (Ay. 1-3). Meski kehadiran malaikat itu sangat menggentarkan, namun berita yang disampaikan sangat menguatkan hati (Ay. 5-7). Pesan malaikat itu sangat jelas karena ia meminta kedua perempuan itu bukan hanya mewartakan kebangkitan Kristus, tetapi juga menceritakan segala sesuatu yang mereka lihat di kubur Yesus kepada para murid lainnya (Ay. 5-7).
Tanpa keraguan, mereka segera pergi dan melakukan perintah malaikat Tuhan (Ay. 8). Perhatikan bagaimana Matius menekankan ketergesaan mereka dengan memakai kata “segera pergi, dengan takut, sukacita besar, berlari cepat-cepat.” (Ay. 8). Tetapi langkah mereka terhenti saat Yesus hadir secara tiba-tiba di hadapan mereka. Secara spontan kedua wanita itu sujud menyembah-Nya (Ay. 9). Pada momen itu, Yesus meneguhkan iman dan ketaatan mereka untuk memberitakan akan kebangkitan-Nya (Ay. 10). Di sinilah mereka berjumpa dengan Yesus yang bangkit secara pribadi. Perjumpaan pribadi dengan Yesus telah mengubah pola pikir, semangat, iman, dan kehidupan kedua wanita itu. Mereka menjadi pewarta Injil Kristus yang gigih dan setia.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kebangkitan suatu komunitas sangat tergantung dengan sosok yang diandalkan dalam komunitas tersebut dan kekuatan apa dibalik sosok tersebut. Bangsa Israel bangkit (keluar) dari penjajahan Mesir, berkat sosok bernama Musa dan kekuatan Allah yang ada dibalik Musa. Sekalipun Paulus belum sampai ke kota Roma, jemaat di sana sangat dibangkitkan imannya dengan pengajarannya yang ditulis dalam surat tersebut, tentang hubungan kematian dan kebangkitan Kristus. Melalui peristiwa yang dilihatnya sendiri, para perempuan menjadi saksi kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Fakta Yesus yang bangkit dari antara orang mati, menjadi kekuatan di balik para murid mewartakan Injil dengan gigih dan setia.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Beberapa pengamat politik di Indonesia meyakini bahwa suksesi kepemimpinan nasional (untuk jabatan Presiden Indonesia) merupakan penggenapan dari ramalan Jangka Jayabaya, sebuah ramalan dari Raja Kediri, Prabu Jayabaya (1135-1157 M). Dimana dalam Jangka Jayabaya tersebut memberikan petunjuk pemimpin memiliki nama dengan akhiran yang jika diakronimkan menjadi “Notonegoro”. Dalam ramalan Jayabaya atau biasa disebut Jongko Joyoboyo disebutkan pemimpin Indonesia adalah mereka yang mempunyai nama dengan akhiran Notonegoro. Dalam serat Jangka Jayabaya yang ditulis oleh Prabu Jayabaya tersebut, terdapat perhitungan atau ramalan mengenai pemimpin di Indonesia yang terkandung dalam kata ‘Notonegoro’.
‘Noto’ memiliki arti menata dan ‘Negoro’ memiliki arti Negara. Ramalan Jangka Jayabaya ini hidup dalam kosmologi politik Jawa seiring dengan kepercayaan Mesianistik atau Ratu Adil yang disebut masyarakat Jawa sebagai Satria Piningit.
Akhiran NO merujuk pada Soekarno (Presiden pertama), TO pada Soeharto (Presiden kedua), kemudian NO yang kedua melekat pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY, Presiden keenam). Sementara BJ Habibie (Presiden ketiga), Abdurrahman Wahid (Gus Dur, Presiden keempat), dan Megawati Sukarnoputri (Presiden kelima) tidak masuk dalam hitungan karena mereka tidak sampai lima tahun memimpin. Sosok yang kemudian masuk ramalan kembali kepada NO karena yang menjadi presiden setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah Joko Widodo (Presiden ketujuh) yang punya nama kecil Mulyono. Demikian pula, terkait Pemilu Presiden (Pilpres) tahun 2024 mendatang, banyak yang meyakini ramalan Jayabaya ini akan menunjukkan sosok yang akan memimpin Negara Indonesia dalam 5 tahun ke depan. Biarlah ramalan tetap menjadi ramalan, namun di balik semua itu, ada pengharapan pada salah satu sosok yang mampu membawa kebangkitan bangsa dan negeri Indonesia ini, dan kekuatan apa yang memampukan sosok ini menjalankan tugasnya tersebut.
Isi
Setelah bangsa Israel pergi dan keluar dari Mesir, Firaun kemudian menyesali keputusannya mengizinkan bangsa Israel pergi dari Mesir. Firaun lalu mengejar bangsa Israel dengan pasukan perangnya. Kecepatan kereta perang tidak sebanding dengan kecepatan orang berjalan, maka dalam waktu tidak lama, pasukan Mesir berhasil menyusul orang Israel.
Bangsa Israel berada di tepi laut ketika pasukan Mesir menyusul. Tidak ada jalan keluar bagi bangsa Israel karena di hadapan mereka laut kecuali melalui jalan dari mana datang sebelumnya. Tetapi tentu saja mereka akan bertemu dengan tentara Mesir yang telah menguasai jalan tersebut. Bangsa Israel ketakutan dan berseru kepada Tuhan. Mereka juga protes kepada Musa yang telah mengganggu ketenangan hidup mereka dan membawa mereka ke dalam bahaya. Musa juga mungkin tidak mengerti kenapa Tuhan menempatkan mereka dalam situasi demikian. Tetapi Musa tahu bahwa Tuhan pasti menyelamatkan umat-Nya. Ketakutan bangsa Israel ini membuktikan kurangnya iman mereka kepada Tuhan, tetapi Musa menguatkan mereka untuk jangan takut dan tetap berdiri menantikan keselamatan atau pertolongan dari Tuhan. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Hingga akhirnya mereka berhasil luput dari kejaran pasukan Mesir, berkat sosok Musa yang mengandalkan kekuatan Tuhan, dan mampu bangkit dari penjajahan Mesir.
Pengajaran Rasul Paulus melalui surat kepada Jemaat di Roma, juga menunjukkan bagaimana sosok Paulus yang mengandalkan kekuatan Tuhan, mampu membangkitkan iman jemaat yang terpengaruh oleh berbagai pengajaran yang menyesatkan tentang siapa itu Yesus. Paulus menunjukkan bagaimana karya keselamatan tetap berlaku bagi orang yang percaya, yakni melalui penderitaan, penyaliban, dan kematian yang dialami oleh Yesus Kristus, yang kemudian diikuti dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Semuanya ini – kematian dan kebangkitan Kristus – menjadi bukti pembebasan dari kematian yang seharusnya ditanggung manusia karena dosa, menuju kehidupan yang merupakan anugerah Allah bagi manusia.
Itulah yang diuraikan oleh Paulus dalam Roma 6:1-11 ini yang berisi arti penting dari kematian dan kebangkitan Kristus. Melalui kematian Yesus Kristus, kita dikuburkan bersama-sama dengan Dia, dan melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati, kita pun memperoleh kehidupan dalam hidup yang baru (Ay. 4). Artinya, kita dipersatukan dengan Kristus melalui peristiwa salib – kematian dan kebangkitan Kristus – sehingga kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Pengajaran inilah yang membawa kebangkitan dan penguatan iman orang percaya yang membaca surat Paulus kepada jemaat Roma ini.
Kematian Tuhan Yesus yang terjadi akibat tindakan kekerasan dari orang-orang yang memusuhi-Nya, juga membawa kesedihan dan keputusasaan yang dalam di hati para murid-Nya, khususnya Maria Magdalena dan beberapa wanita yang lain. Walaupun demikian, perempuan-perempuan ini tidak meninggalkan Yesus, mereka tetap mengikuti dan menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus disiksa, disalib, dan mati.
Mengingat pada waktu tubuh Tuhan Yesus diturunkan dari kayu salib telah menjelang malam dan hari Sabat hampir tiba, mengafani dan merempahi tubuh Yesus dikerjakan dengan tergesa-gesa oleh Yusuf dari Arimatea. Setelah Sabat lewat, mereka merencanakan akan datang kembali untuk mengawetkan tubuh Tuhan Yesus dengan rempah-rempah dan minyak Mur (Mrk. 16:1). Maka, “Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur itu.” (Mat. 28:1)
Ungkapan “menjelang menyingsingnya fajar”, menyatakan betapa dalamnya kasih kedua perempuan itu kepada Tuhan Yesus. Pagi-pagi hari ketika orang-orang masih tertidur pulas, kedua wanita ini telah datang ke kuburan Tuhan Yesus. Selanjutnya malaikat Tuhan berkata kepada kedua perempuan itu: “Segeralah pergi dan katakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati.” (Ay. 7). Peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus ini adalah suatu berita yang menggemparkan tetapi sekaligus mendatangkan sukacita yang amat besar. Setelah itu malaikat Tuhan itu berkata lagi, “Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia” Kemudian setelah Yesus menampakkan diri kepada perempuan-perempuan itu, Yesus berkata pula: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea.” Mengapa Tuhan Yesus ingin bertemu dengan murid-murid-Nya di Galilea?
Menurut Matius 4:18-19, Galilea adalah tempat pertama di mana Tuhan Yesus memanggil murid-murid-Nya untuk menjadi penjala manusia. “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia,” kata Yesus. Mendapatkan misi ini, murid-murid-Nya menjadi sangat bersemangat. Tapi ketika Tuhan Yesus mati, pupuslah segala harapan dan semangat mereka. Segala cita-cita yang mereka bangun selama ini hancur berantakan. Mereka seperti prajurit-prajurit yang kalah perang.
Kematian Tuhan Yesus yang membawa kekecewaan besar dalam diri murid-murid-Nya, tidak berlangsung lama. Tiga hari kemudian, Ia bangkit kembali. Setelah bangkit, Ia ingin bertemu dengan murid-murid-Nya di Galilea, karena Ia ingin mengingatkan kembali akan panggilan-Nya yang mula-mula kepada mereka. Tuhan Yesus ingin mengajarkan kepada murid-murid-Nya, di tempat di mana mereka jatuh, di sana juga mereka harus bangkit. Inilah pemulihan yang perlu dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus. Benarlah apa yang dikatakan seseorang: “Keberhasilan seseorang tidak terletak pada kenyataan bahwa ia tidak pernah jatuh sebelumnya, melainkan ia bangkit setelah jatuh.” Faktor penting kebangkitan hati para murid yang kecewa akan kematian Yesus adalah kebangkitan Yesus dari antara orang mati, dan itulah yang menjadi dasar iman para murid mewartakan berita sukacita tersebut, dengan gigih dan setia.
Penutup
Perjalanan GKJW sebagai gereja Tuhan dalam melakukan kehendak-Nya di bumi Jawa Timur, sejak sebelum Indonesia merdeka sampai sekarang, tidaklah selalu berjalan baik-baik saja. Ada kala GKJW terpuruk menghadapi tantangan yang begitu berat, misalnya zaman pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Demikian pula saat ditemukan kesalahan dalam pengelolaan aset MA periode yang lalu. Semuanya itu menunjukkan GKJW tidak dapat hanya mengandalkan sosok manusia agar dapat bangkit dari keterpurukan tersebut. GKJW membutuhkan kekuatan Yesus yang bangkit dari antara orang mati, untuk mewartakan kabar sukacita bahwa GKJW telah bangkit dan terus akan bangkit bersama Tuhan Yesus. Amin. [tes].
Pujian: KJ. 396 : 1, 2 Yesus Segala-galanya
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Sakwetawis tiyang nggadhah keyakinan bilih pilihan Presiden Indonesia punika netepi ramalan Jangka Jayabaya, salah satunggaling ramalan Prabu Jayabaya saking Kraton Kadiri (1135-1157 M). Ing salebeting ramalan punika wonten ukara “Notonegoro”, priyantun ingkang kapiji dados Presiden Indonesia punika, saged dipun titeni saking pungkasan asmanipun kalebet No-to-ne-go-ro punapa boten. Ramalan Jangka Jayabaya punika gesang ing kosmologi politik Jawi sesarengan kapitadosan Mesianistik utawi pangajeng-ajeng Ratu Adil, ingkang ugi kasebat Satria Piningit.
Pungkasan NO dipun tetepi asmanipun Presiden ingkang sepisan, Soekarno. Pungkasan TO dipun tetepi asmanipun Presiden Soeharto. NO kaping kalih dipun tetepi dening Presiden kaping enem, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden BJ Habibie, Abdurarahman Wahid (Gus Dur), saha Ibu Megawati, boten kalebet etangan amargi dados Presiden boten ngantos 5 tahun. Presiden Jokowi Widodo, kaetang NO malih, awit asmanipun rikala taksih lare alit, kasebat Mulyono, dening Ibunipun. Mekaten ugi wegdal Pilpres tahun 2024, kathah tiyang ingkang pitados ramalan Jangka Jayabaya punika taksih badhe dipun tetepi dening priyantun ingkang kapiji dados Presiden 5 taun ing ngajeng.
Saenipun dadosa ramalan namung ramalan kemawon, senadyan saking sedaya kalawau, wonten pangajeng-ajeng, satunggaling priyantun ingkang saged ngasta patangen kangge bangsa lan negari Indonesia punika, saha kekiyatan punapa ingkang nyagedaken priyantun punika nglampahi ayahanipun.
Isi
Sesampunipun bangsa Israel medhal saking Mesir, Prabu Firaun getun paring katetepan maringi margi kangge bangsa Israel medhal saking Mesir. Firaun lajeng nututi bangsa Israel kaliyan wadyabalanipun. Lampahing kreta perang langkung rikat tinimbang lampahing tiyang Israel ingkang mlampah. Mila boten ngantos dangu, wadyabala Mesir kasil nyusul tiyang Israel punika. Dumugi pesisir segaten, tiyang Israel badhe kasusul wadyabala Firaun. Boten wonten margi kangge medhal anjawi seganten, utawi wangsul malih margi sekawit. Tamtu boten saged katempuh, awit sampun wonten wadyabala Firaun ing ngriku.
Bangsa Israel ajrih lan nguwuh dhumateng Gusti. Para sesepuhing Israel ugi sami unjuk dhateng Nabi Musa awit rumaos dipun ganggu ayeming gesangipun lan ndadosaken kawontenan gesangipun nggegirisi. Nabi Musa mbok menawi ugi boten pirsa kenging punapa Gusti Allah mapanaken bangsa Israel wonten ing kawontenan ingkang mekaten. Ananging Nabi Musa pitados bilih Gusti tamtu paring kawilujengan tumrap umat kagunganipun. Ajrihipun bangsa Israel punika nedahaken kirangipun iman kapitadosan bangsa Israel dhumateng Gusti Allah. Saking ngriku Nabi Musa ngiyataken bangsa Israel supados sampun ngantos ajrih, awit Gusti Allah badhe paring kawilujengan lan pitulungan. Ngantos paripurnanipun bangsa Israel saged uwal saking wadyabalanipun Firaun, awit saking wanuhipun dhateng Nabi Musa ingkang ngandalaken kekiyatanipun Gusti Allah lan saged luwar saking panindesing Mesir.
Piwucaling Rasul Paulus dhateng pasamuwan ing kitha Rum, nedahaken sinten Paulus punika, inggih punika priyantun ingkang ngandelaken kekiyataning Gusti. Paulus saged nangekaken iman kapitadosanipun pasamuwan Rum ingkang kelu ombyaking mawarni-warni piwucal blasar bab sinten Yesus punika. Paulus ugi atur piwucal kados pundi pakaryan kawilujenganipun Gusti Allah punika kelampahan ing gesangipun para tiyang pitados, inggih punika miyos saking kasangsaran, panyalib, lan sedanipun Gusti Yesus Kristus. Selajengipun saking wungunipun Gusti Yesus saking antawisipun tiyang pejah dados bukti nyata pangluwaraning manungsa saking panguawosipun pati awit sakathahing dosa durakanipun, tumuju gesang langgeng. Punika minangka kanugrahaning Gusti Allah kangge manungsa.
Piwucal Rasul Paulus ing Rum 6:1-11, inggih punika bab seda lan wungunipun Kristus. Saking sedanipun Gusti Yesus Kristus, kita ugi kapendem sesarengan Panjenenganipun lan miyos wungunipun saking antawis tiyang pejah, kita ugi pikantuk karahayon gesang enggal (Ay. 4). Tegesipun, kita sampun nyawiji kaliyan Sang Kristus miyos panyalib – seda lan wungunipun Kristus – matemah kita ugi luwar saking panguwosing dosa lan pepeteng. Piwucal punika ingkang ndadosaken patangen lan kiyatipun imanipun para tiyang pitados ingkang maos seratipun Paulus dhateng pasamuwan Rum punika.
Sedanipun Gusti Yesus, awit saking tumindak panganiaya tetiyang ingkang mengsahi Panjenenganipun punika ndadosaken panelangsa lan kuciwaning manah para sakabatipun, utaminipun Maryam Magdalena saha tiyang estri sanesipun. Ewasemanten, para tiyang estri punika boten nilar Gusti Yesus. Piyambakipun tansah ndherek lan pirsa kados pundi Gusti Yesus nandhang sangsara, sinalib, lan seda. Awit wekdal Sariranipun Gusti Yesus dipun rimati Yusuf saking Arimatea, kalebet kesasa, pramila para tiyang estri punika badhe nginguk dhateng pasareanipun Gusti Yesus saperlu kangge ngrimati ngangge rempah-rempah lan mur (Mrk. 16:1). Pramila, nalika dinten Sabat sampun kliwat, ing wanci tangi enjing, ing dinten kapisan ing minggu punika, Maryam Magdalena kaliyan Maryam sanesipun sami tindak nilik pasareanipun Gusti Yesus (Mat. 28:1)
Tembung “ing wanci tangi enjing”, mratelakaken lebeting katresnan para tiyang estri kekalih dhumateng Gusti Yesus. Parak enjing umun-umun, nalika tiyang kathah taksih sami tilem, tiyang estri kekalih punika sami sowan dhateng pasareanipun Gusti Yesus. Malaekatipun Gusti Allah lajeng ngandika dhateng tiyang estri kekalih wau: “Sira lungaa, ndangu marang para sakabaté, yèn Panjenengané wis wungu saka ing antarané wong mati.” (Ay. 7). Kedadosan wungunipun Gusti Yesus punika dados kabar ingkang nggumunaken, nanging ing wekdal ingkang sami ugi ndadosaken kabingahan ingkang ageng. Sesampunipun punika, malaekatipun Allah ngandika malih, “Panjenengané bakal ndhisiki kowe menyang Galilea, ing kana kowé bakal padha ndeleng Panjenengané.” Sasampunipun Gusti Yesus ngatingal dhateng tiyang estri kalih punika, Yesus ngandika manih: “Aja wedi para sedulur, kowe padha lunga menyang Galilea.” Punapa sebabipun Gusti Yesus pingin pinanggihan kaliyan para sakabatipun ing Galilea?
Miturut Matius 4:18-19 , Galilea punika dados panggenan kaping sepisanan anggenipun Gusti Yesus nimbali para sakabatipun dados juru mupu manungsa. “Ayo, mèlua Aku, kowé bakal Dakdadèkaké tukang iwak manungsa,” pangandikanipun Yesus. Karana misi punika, para sakabat dados bingah sanget. Nanging nalika Gusti Yesus seda, sedaya pangajeng-ajeng lan semangatipun para sakabat sami musna. Sedaya cita-cita ingkang dipun bangun ngantos samangke, muspra. Sami kados prajurit ingkang kalah ing perang.
Sedanipun Gusti Yesus ingkang ndadosaken kuciwaning para sakabat, boten dangu. Tigang dinten selajengipun, Panjenenganipun wungu malih. Sesampunipun wungu, Panjenenganipun pinanggih kaliyan para sakabat ing Galilea awit Panjenenganipun pingin ngengetaken para sakabat bab timbalanipun ingkang sepisanan. Gusti Yesus kersa memucal para sakabat, sinten ingkang dawah, ing mriku ugi kedah tangi. Punika minangka pemulihan ingkang kedah dipun alami para sakabatipun Gusti Yesus. Pancen leres ingkang dipun unjukaken tetiyang: “Kasuksesan wong ora dumunung ing kasunyatan sing durung nate tiba, nanging dheweke tangi sawise tiba.” Bab ingkang penting kangge wunguaken manahing para sakabat ingkang kuciwa tumrap sedanipun Gusti Yesus inggih punika wungunipun Gusti Yesus saking antawis tiyang pejah. Punika dados dhasar iman kapitadosanipun para sakabat kangge martosaken kabar kabingahan, tan kendhat lan setya.
Panutup
Lampahing GKJW minangka pirantinipun Gusti kangge nindakaken kersanipun ing tlatah Jawi Wetan, wiwit saderengipun Indonesia mardika ngantos samangke, boten tansah lumampah kanthi sae. Wonten wekdal nalika GKJW ngalami tantangan ingkang nggegirisi, kados nalika zaman penjajahan Jepang ing warsa 1942-1945. Kajawi punika, GKJW ugi ngadepi tantangan nalika kapanggihaken masalah manajemen aset MA ing periode kepengker. Sedaya punika nedahaken bilih GKJW boten saged namung ngandelaken paraga manungsa kemawon kangge tangi saking kasangsaran. GKJW mbetahaken kekiyatanipun Gusti Yesus ingkang sampun wungu saking antawisipun tiyang pejah, kangge martosaken kabar kabingahan menawi GKJW sampun tangi lan bakal terus tangi sinarengan kaliyan Gusti Yesus. Amin. [tes].
Pamuji: KPJ. 267 : 1 – 5 Pamarta Kula Agesang