Kasih yang Rela Berkoban Khotbah Jumat Agung 7 April 2023

27 March 2023

Jumat Agung | Perjamuan Kudus Masa Paskah
Stola Merah

Bacaan 1: Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Bacaan 2: Ibrani 10 : 16 – 25
Bacaan 3: Yohanes 18 : 1 – 19 : 42

Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Melalui Kerelaan Berkorban
Tema Khotbah: Kasih Yang Rela Berkorban

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Kitab Yesaya terbagi menjadi 3 bagian:

  1. Proto-Yesaya (Yesaya 1 – 39). Latar belakang penulisan berasal dari zaman Yehuda, kerajaan selatan menghadapi bangsa Asyur. Yesaya melihat bahwa yang menjadi ancaman Yehuda bukan negara Asyur, melainkan dosa yang dilakukan oleh bangsa Yehuda, karena ketidaktaatan mereka kepada Allah. Yesaya diutus untuk mengingatkan bahwa bangsa Yehuda akan celaka dan binasa, jika mereka tidak taat kepada Allah. Yesaya menubuatkan kedamaian dalam bangsa Yehuda akan terjadi dan kedatangan seorang keturunan Daud yang akan menjadi raja yaitu Sang Mesias.
  2. Deutero-Yesaya (Yesaya 40 – 55). Dilatarbelakangi oleh bangsa Yehuda yang hidup dalam pembuangan di Babel. Penulis Kitab Yesaya bagian ini, memberitakan bahwa Allah akan membebaskan umat-Nya dan membawa mereka pulang ke Yerusalem. Bagian ini juga menegaskan janji keselamatan dari Allah kepada umat-Nya, pekerjaan penyelamatan Allah yang berwujud pembebasan bangsa Israel dari pembuangan di Babel. Sosok hamba Allah yang menderita menjadi penting sebagai pusat penyelamatan Allah bagi umat-Nya.
  3. Trito-Yesaya (Yesaya 56–66). Dilatarbelakangi oleh kembalinya umat Tuhan ke Yerusalem. Penulis Yesaya bagian ini menegaskan bahwa Tuhan akan memenuhi janji-janji-Nya kepada umat-Nya. Penekanan diberikan kepada mereka yang melakukan ritual, merayakan hari Sabat, mempersembahkan kurban dan doa. Juga digambarkan keadaan yang kurang baik pada masa sesudah pembuangan di Babel, terutama yang terjadi pada kehidupan para pemimpin.

Hamba yang Menderita
Sangat menarik bahwa perikop ini dibuka dengan keterangan bahwa Sang Hamba yang akan ditinggikan dan dimuliakan ini menyatakan bahwa Sang Hamba itu tidak akan gagal. Sang Hamba ini dipastikan sanggup dan akan setia menjalankan tugas yang diberikan kepada-Nya. Tetapi sebelum Dia ditinggikan, dimuliakan, disanjung, Dia harus melewati kesulitan dengan direndahkan, dihina, dan dimaki.

Dalam pandangan umum, orang yang dimuliakan itu dalam keadaan yang sangat baik, bukan dalam kondisi Hamba ini yang menderita. Apakah kita bisa melihat kemuliaan dalam penderitaan hidup seseorang? Melihat kemuliaan hamba ini dalam kondisinya yang sangat buruk? Bisa saja kita gagal melihat betapa mulia-Nya Dia, karena betapa buruk keadaannya. Dalam penderitaan-Nya itu ia memiliki potensi untuk disepelekan dan ditolak. Yang menarik justru adalah pada kerelaan-Nya menderita. Hal inilah yang membuat-Nya menjadi mulia. Dalam kerelaan-Nya menderita, ada kasih-Nya yang sangat besar. Kasih kepada umat yang mendorong-Nya untuk merelakan diri-Nya menderita. Kasih yang besar ini dituliskan oleh penulis Yesaya untuk menarasikan betapa besar kasih Allah kepada umat-Nya yang diwakili oleh penderitaan hamba-Nya. Kemuliaan tanpa kasih besar yang dinampakkan dalam penderitaan itu, hanyalah tong kosong nyaring bunyinya, tapi kemuliaan yang memancar dari kasih yang besar bahkan rela menderita adalah kemuliaan yang sesungguhnya. Maka wajah Allah yang mulia dapat kita sembah dalam ketakjuban kita akan kasih-Nya yang besar.

Ibrani 10 : 16 – 25
Dalam PL bangsa Israel dilarang masuk ruang Kudus dan ruang Maha Kudus. Para imam bisa masuk ruang kudus sedangkan Imam besar bisa masuk ruang maha Kudus hanya setahun sekali. Kehadiran Yesus memberikan situasi yang baru. Ia telah membuka jalan masuk kepada Bapa, melalui pengorbanan diri-Nya. Tidak ada lagi pembatas, tidak ada lagi korban dalam relasi antara Allah dan umat-Nya. Dia yang menjadi kurban dan sekaligus menjadi imam besarnya. Ini adalah sebuah pemahaman yang unik yang sulit diterima dalam sudut pandang Yahudi. Bagaimana mungkin dua posisi itu terjadi dalam diri seorang saja?

Yesus adalah kurban dan sekaligus Imam Besar. Yang dikurbankan dan yang mengorbankan dalam diri Yesus sekaligus. Dalam keunikan peran Yesus itulah, justru orang Kristen berjumpa dengan kasih Allah yang besar. Dalam kemuliaann-Nya sebagai imam besar, Dia juga memiliki hati yang merelakan diri-Nya untuk berkorban. Ini adalah perwujudan kasih yang besar dari Allah kepada umat-Nya. Seorang imam besar pada umumnya dalam menjalankan tugas adalah menjadi perantara antara Allah dan umat-Nya, tanpa melibatkan emosi dan ikatan batin antara dirinya dan umat yang menyerahkan korban tersebut. Tetapi dalam diri Yesus yang adalah imam besar dan sekaligus yang dikurbankan ada emosi yang terlibat di dalamnya, yaitu kasih yang besar.

Penulis Ibrani mengajak pembacanya untuk merespon kasih yang besar itu, tentu saja dengan hidup tekun, setia, dan giat dalam kegiatan pelayanan, sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Seperti kasih besar Allah yang dinampakkan dalam kerelaan pengorbannan Yesus, demikian juga umat yang percaya kepada-Nya diberikan panggilan untuk hidup tekun dan giat dalam takut akan Tuhan. Hal ini adalah tanggung jawab bersama untuk saling menjaga, dan saling menopang dalam persekutuan. Supaya sebagai umat percaya, kita bisa membangun komunitas yang saling memulihkan. Ajakan untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah adalah panggilan untuk terikat dalam persekutuan agar komunitas penerima surat ini menjadi kuat imannya dalam menghadapi tantangan ajaran lain. Dengan bersama-sama mereka akan saling menguatkan.

Yohanes 18 : 1 – 19 : 42
Injil Yohanes tidak dibuka dengan kisah kelahiran Yesus, tetapi penjelasan siapakah Yesus sebenarnya. Yohanes 1:1-2 menyebutkan:

“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah.“

Penulis Yohanes mengawalinya bukan dengan kisah kelahiran Yesus, tetapi jauh sebelum itu bahkan Ia sudah ada sejak semulanya. Yesus sudah ada sejak sebelum dunia ada. Penulis Injil Yohanes ingin menjelaskan bahwa Yesus bukan berasal dari dunia ini. Tema Yesus Sang Illahi menonjol, karena Dia ada di dunia sebelum dunia ini dijadikan. Dengan penekanan ini, maka semua kisah hidup-Nya adalah sangat berharga sebagai buah karya penyelamatan. Dalam Yohanes 20:30 disebutkan, ”Supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”

Kisah sengsara Yesus makin menguatkan peran Yesus sebagai Mesias, yang dengan sangat kuat menghadapi penderitaan-Nya demi umat yang dikasihi-Nya. Tidak ada kisah taman Getsemani yang menggambarkan sisi kerapuhan Yesus, Yesus tidak digambarkan demikian oleh penulis Yohanes. Doa Yesus digambarkan dengan doa yang luar biasa di pasal 17. Yesus mendoakan para pengikut-Nya, dalam doa itu Yesus digambarkan sebagai yang Illahi dan bersatu dengan Bapa. Bukan doa mohon kekuatan dalam menghadapi penderitaan, seperti kisah dalam taman Getsemani. Penderitaan Yesus dalam bacaan kita tidak hendak menunjukkan kerapuhan Yesus, tetapi hendak menunjukkkan kasih-Nya yang besar hingga mengorbankan diri-Nya dalam penderitaan yang hebat sampai kepada kematian. Meskipun demikian penulis Injil Yohanes tetap menggambarkan penderitaan Yesus yang begitu berat dan keadaannya yang buruk dalam penyesahan.

Kesengsaraan dan kematian Yesus adalah perwujudan yang paling spektakuler dari kasih Allah kepada manusia. Dalam Yohanes 3:16 disebutkan:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal.”

Kasih yang besar yang dimaksud di sini bukan kasih yang gampangan, tetapi perwujudan kasih itu dijawab di bagian akhir Injil Yohanes bahwa Yesus bersedia menderita dan mengorbankan diri-Nya demi pengampunan dosa manusia. Tidak ada cinta yang bisa menandingi-Nya. Ini menjadi panggilan kuat bagi kita semua yang mengaku percaya kepada-Nya, “Adakah di hati kita cinta kasih yang seindah ini bahkan kepada orang yang kita akui sangat kita cintai sanggupkah kita memberikan cinta seagung itu?“ Kisah kesengsaraan Kristus adalah puncak kasih Allah kepada umat-Nya. Kisah cinta dramatis dalam pengorbanan demi yang dikasihi.

BENANG MERAH TIGA BACAAN :
Dalam kesediaan Yesus mengorbankan diri, kasih Allah dinyatakan kepada umat-Nya. Sebagai gereja, kita juga dipanggil sebagai komunitas yang saling memulihkan dengan semangat rela berkorban dengan kasih yang tulus.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Di negeri Cahaya di ujung Timur lautan Surga tinggalah Dewa Angin, Sabala. Sabala tinggal dengan istrinya yang bernama Sunala dan kedua anaknya Sakila dan Sukira. Mereka adalah anak kembar yang luar biasa. Mereka diberi tugas untuk mengendalikan angin Timur dan angin Barat, agar Surga tetap terjaga keseimbangannya. Suatu hari datanglah hawa panas yang kuat mendekati Surga, Sakila dan Sukira dengan sekuat tenaga mengendalikan amukan hawa panas dengan mengibaskan kedua sayap indah mereka. Hawa panas terlalu kuat. Sakila dan Sukira berjuang sekuat tenaga. Surga mulai berguncang, oleh pergulatan mereka. Subala dan Sunala mengetahuinya dan segera membantu kedua anaknya. Tetapi sayang mereka terlambat. Sakila dan Sukira telah gugur dalam pergulatan itu. Sunala menangis sejadi-jadinya, lengkingannya meredupkan negeri Cahaya. Pramapta, Sang Asal mendengar lengkingan tangisan Sunala. Pramapta mengatakan Sakila dan Sukira bisa hidup dengan syarat Subala dan Sunala harus menyatukan sayap mereka untuk dibakar Cahaya, abu mereka akan menumbuhkan sayap Sakila dan Sukira dan menghidupkan mereka. Sabala dan Sunala lalu melakukan ritual cahaya dan mereka menjadi abu. Abu itu jatuh di jasad Sakila dan Sukira, maka merekapun hidup kembali. Negeri Cahaya kembali bersinar, alam semesta kembali harmoni.

Isi
Demikianlah kisah cinta orang tua yang mengorbankan dirinya supaya anak-anaknya hidup kembali dan agar negeri Cahaya kembali bersinar. Apa yang mendorong orang tua itu melakukan perbuatan tidak masuk akal? Rela mati demi anak-anaknya? Mengapa mereka tidak memilih melahirkan saja lagi anak-anak yang lain? Itulah cinta, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih, seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN. Cinta bisa mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Mari kita menengok masa-masa indah saat kita jatuh cinta. Kita bisa melakukan hal-hal luar biasa untuk orang yang tersayang. Demikian juga ketika Allah menciptakan kita dengan cinta, merawat kita dengan cinta, dan menebus kita dari dosa dengan cinta yang luar biasa.

Hal inilah yang membuat Allah begitu mulia. Begitu mengasihi manusia sampai mengorbankan diri. Dalam penderitaan Yesus ada kasih-Nya yang sangat besar. Kasih kepada umat yang mendorong-Nya untuk merelakan diri-Nya menderita. Kasih yang besar ini dituliskan oleh penulis Yesaya untuk menarasikan betapa besar kasih Allah kepada umat-Nya yang diwakili oleh penderitaan hamba-Nya. Kemuliaan tanpa kasih besar yang dinampakkan dalam penderitaan itu hanyalah tong kosong nyaring bunyinya, tetapi kemuliaan yang memancar dari kasih yang besar bahkan rela menderita adalah kemuliaan yang sesungguhnya. Maka wajah Allah yang mulia dapat kita sembah dalam ketakjuban kita akan kasih-Nya yang besar. Allah dalam diri Tuhan Yesus Kristus telah meneladankan kerelaan berkorban yang didorong oleh kasih. Sampai wafat di atas kayu salib. Setiap kesengsaraan dihadapi dengan tangguh tanpa mengasihani diri sendiri. Menjadi siap berkorban demi kasih kepada umat-Nya.

Penulis Ibrani juga mendorong pembacanya untuk saling menjaga satu sama lain, sebagai komunitas yang saling memulihkan. Hal ini juga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk saling menjaga dan saling menopang dalam persekutuan. Supaya sebagai umat percaya, kita bisa membangun komunitas yang saling memulihkan. Ajakan untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah adalah panggilan untuk terikat dalam persekutuan, agar komunitas penerima surat ini menjadi kuat imannya dalam menghadapi tantangan ajaran lain. Dengan bersama-sama, mereka akan saling menguatkan.

Di jemaat-jemaat kita bisa mengembangkan semangat rela berkorban dengan membangun komunitas yang saling memulihkan. Dalam membangun komunitas yang saling memulihkan masing-masing orang dipanggil untuk rela berkorban, antara lain :

  1. Mengorbankan Waktu untuk Memperhatikan Sesama
    Memberikan waktu untuk peduli dan berempati terhadap penderitaan sesama bukanlah hal mudah. Kita harus membaginya dengan waktu untuk keluarga dan diri sendiri. Mendengarkan keluh kesah karena persoalan yang dihadapi, mendengarkan dengan hati membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Kerelaan berkorban yang didorong oleh kasih akan membuat kita menjadi mudah untuk melakukannya. Tanpa paksaan tetapi dengan kerelaan.
  2. Mengorbankan tenaga
    Dalam kepedulian itu kita juga mengorbankan tenaga. Tidak hanya waktu, tetapi tenaga yang seharusnya bisa kita gunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga, juga kita gunakan untuk membantu dan memperhatikan saudara kita yang membutuhkan untuk ditopang, ditolong menyelesaikan masalah, dihibur dan dikuatkan.
  3. Mengorbankan Harta
    Tidak hanya waktu dan tenaga saja, tetapi terkadang kita juga membagi harta, rejeki pemberian Tuhan untuk berbagi berkat, supaya beban orang lain juga diringankan.
  4. Mengorbankan Ego Keakuan
    Untuk menjaga keadaan pelayanann di gereja atau dalam keluarga tetap dalam damai sejahtera, kasih mendorong kita untuk mengorbankan ego ke-aku-an kita di kaki Tuhan Yesus. Mengorbankan ego ke-aku-an, mengembangkan kerendahan hati dan kasih sayang, bukan untuk menjadi kalah, tetapi untuk menang dalam keheningan kasih sayang yang menghangatkan.

Penutup
Rela berkorban akan menjadi ringan jika yang mendorongnya adalah kasih sayang. Akan menjadi berat jika yang mendorongnya adalah pamrih. Kristus telah rela mati dan menderita sengsara, supaya kita sekalian diberi pengampunan dosa. Karena kasih-Nya yang besar, Dia mengorbankan diri-Nya, supaya kita diberi kemenagan. Demikian juga Sabala dan Sunala rela mengorbankan dirinya menjadi abu agar anak-anaknya hidup dan menjaga keteraturan negeri Cahaya. Kita juga dipanggil meneladani semangat rela berkorban Yesus Kristus dengan kasih, supaya keselarasan kehidupan terpelihara dengan baik. Mari menjadikan gereja kita sebagai komunitas yang saling memulihkan dengan semangat rela berkorban, maka kasih akan menjadi nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Amin. [AM].

Pujian: KJ. 35 : 1, 4 Tercurah Darah Tuhanku

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Ing negri Cahaya ing sebrang Wetan pesisir Swarga wonten Dewa Angin, kang aran Sabala. Sabala lan semahipun Sunala kagungan yoga kembar Sakila lan Sukira. Sakila lan Sukira pikantuk tugas saking ramanipun supados njagi Angin Wetan lan Angin Kilen saged sae temah swarga saged lestari. Ing sakwijining dinten wonten Hawa panas ingkang kiyat dugi ing swarga. Sakila lan Sukira ngadepi Hawa panas punika kanthi sakiyat tenaganipun, sami ngibasaken swiwinipun ananging emanipun lajeng kawon. Subala lan Sunala mengertosi lan badhe mbiyantu para yoganipun ananging sampun telat anggenipun paring pitulungan. Para yoga punika sampun pejah. Sunala lajeng muwun lan suwantenipun kepireng dening Pramapta, Sang Titah. Pramapta lajeng paring dawuh bilih Sakila dan Sukira saged gesang malih bilih Subala lan Sunala ngobong swiwinipun. Lajeng Subala lan Sunala nunggilaken swiwinipun lan kaobong dening Sunaring Cahya. Awunipun swiwi punika lajeng ngepyuri badanipun Sakila lan Sukira, lajeng sami gesang malih. Selajengipun negri Cahaya saged sumunar malih kanthi sae.

Isi
Kados makaten katresnanipun tiyang sepuh ingkang kersa ngurbanaken diri supados para yoganipun saged gesang malih lan Negri Cahaya saged sumunar malih. Kenging punapa tiyang sepuh saged nindakaken prekawis kados makaten? Kok mboten milih nggadahi anak-anak malih kemawon, kok milih ngurbanaken diri? Sedaya kalawau krana katresnan, tresna dhumateng para putranipun.

“…amargi katresnan punika santosa kadosdene pejah, asmara punika mempengipun kadya jagading pejah, mulad-muladipun kados urubing latu, kados mulad-mulading latunipun Sang Yehuwah! Toya agung boten saged nyirep tresna, lepen-lepen boten saged ngentiraken. Saupami wonten tiyang ingkang ndanakaken sakathahing barang-darbekipun ingkang wonten ing griyanipun kadamel nebus katresnan, temtu namung badhe karemehaken kemawon.”

Kados makaten katresnan ndadosaken kita saged nindakaken prekawis-prekawis ingkang mboten saged dipun tampi dening nalar. Mangga kita sami ngemut-emut nalika sami jatuh cinta, kita ugi saged nindakakaen prekawis-prekawis ingkang mboten saged dipun tampi nalar kangge tiyang ingkang kita tresnani. Makaten ugi Gusti Allah ingkang sampun nitahaken kita kanthi katresnan, ngreksa kanthi katresnan lan ngrembat dosa kita ugi kanthi katresnan ngantos Gusti Yesus seda sinalib.

Makaten punika ingkang ndadosaken kamulyanipun Gusti Allah. Nresnani manungsa ngantos ngurbanaken Diri. Ing kasangsaranipun Gusti Yesus wonten katresnan ingkang ageng. Katresnanipun dhumateng para titah ingkang ndadosaken Gusti Yesus lajeng ngurbanaken Diri, supados kita sedaya uwal saking patraping dosa.

Katresnan ingkang ageng punika dipun cariosaken dening Yesaya kangge nggambaraken agenging katresnanipun Gusti ingkang dipun wakili dening kasangsaranipun Sang Abdi ingkang setya. Kamulyan tanpa katresnan punika namung apus-apus kemawon, ananging kamulyan ingkang tuwuhipun rela berkorban punika kamulyan ingkang sejati. Pramila kita kanthi andap asoring manah manembah dhumateng Sang Gusti Allah, awit kasengsem dhumateng katresnanipun ingkang ageng. Gusti Allah lantaran Gusti Yesus Kristus sampun paring tuladha dhateng kita supados rela berkorban, krana katresnan, katingalaken ngantos anggenipun seda ing Salib. Sedaya kasangsaran dipun lampahi tanpa nelangsa, cumadhang ngurbanaken Diri kagem titah ingkang dipun tresnani.

Kitab Ibrani ugi paring timbalan supados pasamuan sami njagi dados komunitas ingkang saling mulihaken. Punika tanggel jawabipun pasamuan kagunganipun Gusti, supados tansah ngiyataken anggenipun ngadepi tantanganipun iman lan gesang padintenan. Pramila kita sami dipun suwun supados mboten nebih saking pangibadah-pangibadah sesarengan, supados kita sami kagilut kanthi raketing katresnan ing pasamuan. Anggenipun mbangun komunitas ingkang saling mulihaken ing pasamuan, saben warga kedahipun nggadahi raos rela berkorban, nuladha Sang Kristus. Sedaya kalawau saged kita tindakaken kanthi cara:

  1. Ngurbanaken Wekdal
    Misungsungaken wekdal kangge maringi kawigatosan lan empati dhateng sesami punika sanes prekawis ingkang gampil, awit kedah mbagi wekdal kangge diri pribadi lan brayat kita. Mirengaken sambatipun tiyang, mirengaken kanthi manah lan paring pitulungan punika mbetahaken wekdal ingkang mboten sekedik. Iklasing manah lan katresnan ndadosaken sedaya kalawau gampil katindakaken.
  2. Ngurbanaken Tenaga
    Anggenipun paring kawigatosan lan pitulungan dhateng tiyang sanes ugi mbetahaken tenaga. Tenaga ingkang kedahipun saged kangge diri pribadi lan brayat ugi dipun kurbanken kangge tiyang sanes ingkang mbetahaken pitulungan, kakiyatan, lan panglipuran saking kita.
  3. Ngurbanaken Bandha
    Mboten namung wekdal lan tenaga kemawon, kala-kala ugi kita ngurbanken sebagian bandha rejeki peparingipun Gusti kangge paring pitulungan dhateng tiyang sanes, supados tiyang sanes pikantuk pangentasan.
  4. Ngurbanaken Ego Ke-akuan
    Kangge njagi supados peladosan ing greja lan kawontenan ing satengahing brayat manggihi katentreman, katresnan punika kala-kala ugi ndadosaken kita kedah ngurbanaken ego ke-aku-an kita ing ngarsanipun Gusti Yesus. Ngurbanaken ego ke-aku-an lan ngembangaken katresnan lan andhap asoring manah mboten supados kawon, ananging menang ing katresnan.

Panutup
Iklas berkurban punika tamtu gampil katindakaken bilih kita nggadhahi katresnan, nanging awrat bilih ingkang tuwuh punika pamrih kemawon. Gusti Yesus kersa sangsara ngantos seda sinalib supados kita sedaya pikantuk pangentasan saking patraping dosa. Krana katresnan ingkang ageng, Gusti Yesus kersa ngurbanaken Sariranipun, makaten ugi cariyos ing ngajeng kalawau, Sunala lan Sabala kersa ngurbanaken diri dados awu, supados yoga-yoganipun saged gesang. Makaten ugi kita sedaya, kita dipun timbali supados nuladha dhumateng Sang Yesus Kristus ingkang kersa seda sinalib krana tresna, gadhahi semangat rela berkorban krana tresna. Mangga kita sami ndadosaken greja kita dados komunitas ingkang saling mulihaken, supados katresnan punika tansah nyata ing gesang padintenan kita. Amin. [AM].

Pamuji: KPJ. 256 Gusti Sinalib Ing Golgota

Renungan Harian

Renungan Harian Anak