Meneladani Kristus Itu Berarti Membiasakan Tindakan Kasih yang Nyata Kepada Siapapun dan Apapun yang Ada di Sekitar Kita Khotbah Minggu 26 Februari 2023

13 February 2023

Minggu Prapaskah 1
Stola Ungu

Bacaan 1: Kejadian 2 : 15 – 17; 3 : 1 – 7
Bacaan 2: Roma 5 : 12 – 19
Bacaan 3: Matius 4 : 1 – 11

Tema Liturgis: GKJW Meneladani Solidaritas Yesus Dalam Keseharian.
Tema Khotbah: Meneladani Kristus Itu Berarti Membiasakan Tindakan Kasih yang Nyata Kepada Siapapun dan Apapun yang Ada di Sekitar Kita.

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 2 : 15 – 17; 3 : 1 – 7
Manusia itu tidak maha kuasa dan terbukti memiliki banyak keterbatasan. Allah sangat memahami keterbatasan kodrati yang seperti itu dari ciptaan-Nya, maka dari itu Allah memperlakukan manusia sebagai berikut: Pertama, Allah memberikan tugas yang tidak terlalu luas kepada manusia. Kedua, Allah memberikan pendamping yang siap menolong. Ketiga, Allah sendiri siap turun tangan untuk membantu manusia setiap kali manusia sudah tidak berdaya.

Allah memberikan tugas yang tidak terlalu luas kepada manusia, hal itu terbukti pada Kejadian 2:15, yaitu ketika Ia menempatkan manusia di Taman Eden. Allah tidak memberi tanggung-jawab kepada manusia melampaui jangkauan kekuatannya. Ia tidak memberikan tugas kepada manusia untuk mengusahakan dan memelihara seluruh bumi atau seluruh ciptaan-Nya, melainkan cukup selingkup taman Eden itu.

Allah juga menyiapkan penolong untuk manusia (laki-laki) untuk mengerjakan tanggung-jawabnya yang terbatas, itu kelihatan dari Kejadian 2:18 dimana Tuhan sendirilah yang berinisiatif untuk menyediakan penolong yang sepadan dengan dirinya, maka kemudian Allah menyiapkan perempuan yang diambil dari ha-tsela (bagian samping) dari manusia laki-laki itu (Kej. 2:21-22).

Allah sendiri siap turun tangan untuk membantu manusia setiap kali manusia tidak berdaya dan itu dibuktikannya pada Kejadian 3:21. Sekalipun dalam kemurkaan-Nya terhadap manusia, Allah tetap merasa tidak tega kepada manusia yang telah melanggar perintah-Nya itu, maka Ia membuatkan pakaian dari kulit binatang, sebagai ganti cawat dari daun pohon ara (Kej. 3:7), untuk dipakai oleh manusia, supaya manusia tidak kelihatan telanjang. Ketelanjangan adalah simbol dari ketidak-berdayaan. Manusia menjadi semakin tidak berdaya, ketika mereka jatuh dalam dosa dengan melanggar perintah dan larangan dari Allah. Mereka menjadi makhluk terkutuk dan kehilangan beberapa kelebihan atau fasilitas yang sudah dianugerahkan oleh Allah di tengah segala keterbatasannya, maka supaya ketidakberdayaan manusia itu tidak berlebihan dan tak tertanggungkan, maka Allah membekali mereka dengan pakaian, dimana Allah sendirilah yang membuatkannya.

Roma 5 : 12 – 19
Kisah tragedi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa pada Kejadian 3, rupanya sangat berkesan pada perkembangan kehidupan iman Rasul Paulus. Ia menyaksikan betapa manusia telah menjebak dirinya sendiri masuk ke dalam dosa dan menjadi tidak berdaya menolong dirinya sendiri untuk keluar dari sana. Faktor kebersalahan yang dilakukan Adam itu sedemikian tragisnya bagi Paulus, sehingga tiada jalan lain untuk kembali pulih mencapai keselamatan, kecuali melalui karya kasih Yesus Kristus. Kesadaran akan pengaruh dosa yang sudah menguasai manusia itu muncul, ketika Hukum Taurat dinyatakan. Dan semakin pemahaman akan Taurat itu bertambah dalam, maka semakin banyak pula dosa yang disingkapkan olehnya. Artinya dengan semakin mendalami Hukum Taurat, manusia semakin mendapati bahwa dirinya memang jauh dari keselamatan yang telah Allah rancangkan. Kesadaran semacam ini adalah kesadaran yang mengecilkan hati dan menciutkan nyali banyak orang.

Akan tetapi beruntunglah umat manusia yang telah terperosok ke dalam kubangan dosa tak terperikan akibat dari perbuatan Adam itu, karena Allah tidak mendiamkan hal itu terjadi begitu saja. Kasih karunia-Nya jauh lebih besar dari kuasa maut. Ia melimpahkan kasih karunia-Nya kepada manusia, yaitu kasih karunia yang mewujud pada diri Yesus Kristus dan berakibat baik kepada manusia, sehingga manusia menjadi mungkin untuk memperoleh pembenaran yang mendatangkan keselamatan baginya. Dalam hal inipun, Allahlah yang terlebih dahulu mempunyai inisiatif mendatangkan keselamatan bagi manusia. Allah memang tidak pernah menegakan manusia dikuasai maut.

Matius 4 : 1 – 11
Pada perikop kita kali ini tampak sekali keangkuhan Iblis. Ia merasa sebagai penguasa atas segala sesuatu dan merasa diri bisa menjadi juru selamat. Tetapi kenyataannya tidak demikian, ia hanya ahli menasihati dan memberi petunjuk saja, tetapi tidak melakukan apapun yang ia nasihatkan sendiri itu. Ia hanya menyuruh-nyuruh saja, ia menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti. Ia menyuruh Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Ia berlagak seakan-akan menjadi penguasa tertinggi di atas segala kekuasaan yang ada di muka bumi. Tapi nyatanya omong kosong saja. Ia bukan pemilik kekuasaan tertinggi, ia hanya berkoar saja kerjanya. Ia hanya bisa berusaha mencobai Yesus dan itupun gagal total.

Sementara Yesus tidak mudah tergiur mengatasi kelaparan-Nya dengan cara instan, misalnya dengan cara ajaib mengubah batu menjadi roti, walaupun hal itu bisa saja dilakukan oleh-Nya. Yesus jelas tidak tertarik pamer mukjizat hanya demi memenuhi kepentingan-Nya sendiri. Yesus tidak mau terhasut untuk ikut-ikutan menguji kekuasaan Bapa-Nya dengan melakukan hal yang sebenarnya tidak penting, yaitu menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah. Yesus bahkan membuktikan diri-Nya tidak gila kekuasaan, sehingga dengan tegas menolak untuk menyembah Iblis demi memperoleh semua kerajaan di dunia. Yesus tidak larut dalam bujuk rayu Iblis yang bertujuan mencelakai setiap orang yang percaya kepada-Nya, supaya terseret ke bawah cengkeraman maut.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Sejak awal, rancangan Iblis adalah rancangan kecelakaan. Rancangan yang menyeret orang ke dalam perangkap maut. Sejalan dengan itu, rancangan Allah sejak semula adalah rancangan keselamatan yang membawa kepada kebaikan. Allah melakukan itu, karena Ia sungguh mengasihi ciptaan-Nya. Ia tidak menghendaki para kekasih-Nya itu terperangkap oleh bujuk rayu Iblis yang membawa kepada tragedi kehidupan. Allah memberikan kasih karunia melalui keteladanan yang dijalani oleh sosok Yesus Kristus, Putra Tunggal-Nya, bagaimana seharusnya kehidupan itu dirawat dan dijalani dengan benar. Bahkan melalui Sang Putra itu, Ia menunjukkan empati yang besar melalui tindakan solidaritas yang nyata terhadap kemalangan manusia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada begitu banyak macam kemalangan yang dialami manusia di bawah kolong langit ini. Gejala yang paling mudah dilihat oleh mata kepala kita adalah kondisi ekonomi yang buruk. Rumah terbuat dari kardus atau papan kayu bekas, lantai dari tanah tanpa tegel atau semen cor, lingkungan yang kotor, sampah bertebaran di mana-mana, rumah yang sempit, tetapi dihuni oleh banyak orang. Anak-anak yang tidak terurus. Pakaian yang lusuh dan jarang diganti. Bau badan yang kecut menyengat. Kita menyebutnya dengan istilah “melarat” atau “miskin”. Kadang lebih diperhalus dengan kata “kurang beruntung”.

Di setiap sudut koloni manusia, baik itu kota maupun desa di Indonesia ini, selalu saja bisa kita jumpai orang dengan kondisi ekonomi seperti itu. Respon kita menghadapi kondisi buruk seperti itu juga bermacam-macam, sebagian besar suka mengira hal itu terjadi karena orang-orang malang begini ini pemalas dan bodoh. Jadi kemalangan itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri. Baik, walaupun bisa saja kesalahan semacam itu ada pada diri mereka, tetapi kita tidak bisa menyamaratakan bahwa semua orang yang menunjukkan gejala seperti itu pasti pemalas dan bodoh. Apalagi kemudian kita timpali dengan predikat bahwa itu terjadi, karena mereka ini adalah kaum pendosa yang sedang menanggung akibat dari dosa-dosa mereka. Tidak sesederhana itu tentunya.

Isi
Awal tahun 1989, kota Yogyakarta dengan agak tiba-tiba dibanjiri pengemis. Mahasiswa Asrama Duta Wacana di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo waktu itu langsung melakukan gerak cepat. Mereka sengaja membatasi porsi makan malam yang menjadi jatah mereka, dikumpulkan lalu dibungkus. Setiap bungkus berisi nasi dan lauk sesuai dengan menu malam itu. Kemudian dengan bersepeda mereka keluar asrama untuk membagikan nasi bungkus ini kepada para pengemis yang berkeliaran di jalanan.

Usut punya usut, terungkaplah dari penjelasan para pengemis itu, bahwa mereka ini sebenarnya berasal dari sekitar waduk Kedung Ombo – Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mereka ini adalah rakyat yang terusir dari tanah tumpah darahnya, akibat dari pembangunan waduk yang sudah dimulai sejak tahun 1985. Mereka menerima ganti rugi dari pemerintah, tetapi jumlahnya sangat kecil, bahkan ada yang mengatakan per meter persegi hanya dihargai setara dengan harga satu pak rokok kretek isi 12 batang.

Sebagian dari mereka sempat diiming-imingi sepetak tanah di daerah Sumatera, tetapi sesampainya di sana mereka tidak diberi modal untuk pengadaan benih dan alat-alat pertanian. Juga tidak ada biaya tunggu tumbuhnya tanaman pangan, akhirnya supaya mereka tidak terlunta-lunta di tanah orang, mereka balik lagi ke sekitar waduk Kedung Ombo. Tapi ternyata sejak 14 Januari 1989, waduk yang baru jadi itu sudah diisi air dan sudah menenggelamkan 37 desa. Orang-orang ini lantas mengungsi ke kota-kota terdekat.

Oleh karena, sebagian besar mereka adalah para petani dan peladang, maka ketika berada di kota, sebagian besar mereka tidak memiliki bekal kemampuan yang memadai untuk bekerja mencari nafkah. Menjadi pengemis di jalanan sebenarnya adalah pilihan yang sangat menyakitkan hati mereka, tetapi mereka tidak punya pilihan lagi untuk bisa tetap bertahan hidup. Mereka ini menjadi miskin, bukan karena malas dan bodoh, tapi karena ulah orang lain yang sedang memegang tampuk pemerintahan pada zaman itu.

Tentu saja orang malas dan bodoh itu ada. Begitu juga orang menjadi miskin karena kemalasan dan kebodohannya sendiri itu pasti ada. Tetapi bagaimana dengan mereka yang miskin akibat bencana alam? Bagaimana dengan anak-anak yang mendadak yatim piatu dan jatuh miskin gara-gara kedua orang-tuanya mengalami kecelakaan? Bukankah ada begitu banyak alasan seseorang menjadi miskin? Terlebih kemiskinan yang terjadi secara sistemik akibat buruknya kinerja suatu pemerintahan dalam menata ekonomi negara dan dalam penyediaan kesempatan kerja bagi rakyatnya.

Terkadang memang penguasa sengaja membuat bodoh orang-orang yang dikuasainya, supaya mereka gampang diperdaya. Lalu pada akhirnya, mereka mudah untuk diperalat atau malah diadu domba. Informasi penting yang seharusnya diterima oleh mereka sengaja dihambat atau dibatasi, kalau tidak begitu ya sengaja dikacaukan. Intinya supaya orang-orang yang dikuasai itu menjadi bodoh, terbelakang, tidak kritis dan mudah untuk diatur-atur sekehendak hati sang penguasa.

Tentu saja kita tidak bisa hanya berdiam diri menonton rangkaian tragedi sosial terjadi begitu saja di depan mata kita. Kita yang berdosa dan salah di hadapan Tuhan Allah, masih saja mendapat belas-kasihan-Nya. Bagaimana mungkin kita bisa bersikap abai terhadap saudara-saudara kita yang mengalami nasib tragis menjadi miskin, atau malah sengaja dimiskinkan seperti itu? Bukankah sikap abai dan miskin kepedulian semacam ini membuktikan keberdosaan kita juga?

Kita membutuhkan uluran tangan Tuhan untuk memperoleh keselamatan, maka betapa egoisnya kita jika tetap membiarkan saudara-saudara kita terkungkung dalam kerangkeng kebodohan dan ketidak-berdayaan. Betapa buruknya perangai kita yang merasa membutuhkan tindak solidaritas Tuhan Allah agar membebaskan kita dari keterpurukan, tetapi kita sendiri sedang mengabaikan keterpurukan yang menimpa orang lain? Bukankah kalau acuan hidup kita itu adalah Kristus, maka perangai dan tindakan nyata kita juga harus mengacu kepada karakter Kristus?

Penutup
Ada begitu banyak cara untuk memberdayakan orang lain. Ada begitu banyak cara melakukan tindak solidaritas kepada orang lain, seperti Kristus. Misalkan saja, kita yang menguasai teknologi internet, harusnya bisa menolong para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) untuk mendapatkan NIB (Nomor Induk Berusaha) yang dibagikan secara gratis oleh pemerintah melalui laman oss.go.id. Kadang kesempatan sudah dibuka secara luas, tetapi alat untuk menggapainya tidak ada, karena kurangnya kemampuan kita dalam menguasai alat. HP yang bisa kita pakai untuk memonitor ujung dunia, hanya kita pakai untuk menghabiskan pulsa saja, padahal alat yang sama itu bisa kita gunakan untuk mewujud-nyatakan legalitas usaha kita atau usaha orang lain, supaya usaha kita menjadi sah dan resmi secara hukum, sehingga lebih aman.

Itu bukan hal yang sulit apabila kita sudah terbiasa melakukannya. Menjalankan tindak solidaritas itu memang membutuhkan langkah pembiasaan supaya kita semakin lancar melakukannya. Bunda Teresa, tutup usia tahun 1997 pada usia 87 tahun, ialah seorang perempuan Albania berperawakan kecil mungil yang selama lebih dari empat puluh lima tahun membaktikan dirinya melayani orang-orang miskin di Calcuta – India. Ketika untuk pertama kalinya ia melakukan tindak solidaritas kepada kaum miskin tentu mengalami banyak kendala, baik itu dari diri sendiri maupun dari lingkungannya. Tetapi semakin lama ia melakukannya, maka semakin mudah baginya untuk mengatasi segala kendala tersebut, karena ia sudah terbiasa melakukannya, hasilnya semakin banyak orang yang ia tolong. Pembiasaan memang membutuhkan waktu dan ketekunan pelakunya.

Solidaritas itu bukan gagasan, melainkan tindakan nyata yang dilakukan berdasar kasih kepada sesama ciptaan Tuhan. Kasih yang merujuk kepada kasih Kristus atas kita. Kasih yang membebaskan dan menyelamatkan setiap ciptaan Tuhan. Langkah-langkah solidaritas itu membutuhkan pembiasaan, supaya kita semakin lancar melakukannya. Dan ketika kita menjadi terbiasa melakukannya, maka di situlah kita tiba pada titik sebagai pelaku firman Tuhan dan peneladan Kristus yang sejati. Amin. [CBPA].

 

Pujian: KJ. 260 : 1, 2 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan 

 


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Kebak kasisahan kaalami dening sakathahing manungsa ing sak ngandhap jumantara punika. Prekawis ingkang gampil dipun tingali inggih punika kirang saenipun kawontenan ekonomi tanggi tepalih ing sakiwa tengen kita. Kawontenan griya ingkang kayasa saking kardus utawi slimar bekas, dereng malih jrambahaning griya ingkang namung ngangge siti kemawon tanpa dipun paringi tegel utawi keramik. Wuwuh ingkang sumebar ing sak wiyaripun griya, mekaten ugi ukuran griya ingkang alit nanging dipun panggeni dening tiyang ingkang kathah cacahipun. Para lare mboten wonten ingkang ngurus. Rasukanipun ugi awon. Gandaning raga ingkang karaos kecut. Inggih swasana ingkang mekaten punika asring kawastanan mlarat utawi sekeng.

Ing pundi-pundia panggenan, sae punika wonten kitha utawi ing dusun, salaminipun taksih ing Indonesia, mesthi  saged kita panggihi warga masyarakat ingkang angalami kawontenan ingkang kados mekaten punika. Anggen kita nanggapi prekawis awon mekaten punika ugi mawarni-warni. Wonten ingkang kagungan pamanggih bilih kawontenan ingkang kados mekaten punika jalaran saking awatak bodho lan keset. Dados kaapesan ingkang kasandang punika dipun jalari dening kalepatanipun piyambak. Sinaosa kaapesan punika kasunyatanipun ugi saged amargi kalepatanipun piyambak, ananging mboten saged dipun antem-krama bilih sedaya tiyang mlarat punika mesthi krana keset lan bodho. Punapa malih malah wonten ingkang mastani bilih punika sedaya kajalaran saking dosa ingkang saweg katanggel, boten saged mekaten tamtunipun.

Isi
Ing wiwitaning tahun 1989, Ngayogyakarta dumadakan kadugen kathah tiyang ngemis. Pramila punika, lajeng para murid ingkang manggen ing Asrama Duta Wacana sami nanggapi mawi ngirangi jatah neda tumrap dirinipun piyambak. Turahanipun tedhan punika lajeng dipun kempalaken lan dipun bungkusi sarta salajengipun dipun edum dhateng para tiyang ngemis ingkang kalunta-lunta ing sakathahing margi ing kitha Ngayogyakarta punika.

Saking para tiyang ngemis punika katampi pawartos bilih tiyang-tiyang punika kepeksa nglampahi pendamelan ngemis punika awit griyanipun ingkang wonten ing sakupenge waduk Kedung Ombo – Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah sampun kelem ing salebeting toya waduk. Para tiyang punika kausir saking papan kelairanipun wiwit pambangunan waduk ingkang kawiwitan ing tahun 1985. Tiyang-tiyang punika pancen nampi ganti rugi, ananging cacahipun mboten timbang kaliyan reginipun siti. Malah wonten ingkang maringi informasi bilih per-meter persegi namung dipun regani sami kaliyan setunggal pak rokok kretek isi kalih welas.

Saperangan para tiyang punika sempat dipun iming-iming pasiten ing tanah Sumatra, ananging nalika sampun dumugi wonten ing ngrika tiyang-tiyang punika mboten dipun paringi arta kangge tumbas winih pantun utawi gandum lan alat-alat pertanian. Mekaten ugi mboten pun paringi sangu kangge ngrantos wekdal dumugi panen. Pungkasanipun kepeksa tiyang-tiyang punika sami wangsul malih dhateng pasiten ing celakipun Kedung Ombo, ananging wiwit tanggal 14 Januari 1989, waduk enggal punika sampun dipun kebaki mawi toya ingkang nglelepaken 37 dusun. Pramila tiyang-tiyang punika lajeng ngungsi malih dhateng kitha-kitha sacelak ngriku, kalebet Ngayogyakarta.

Amargi ingkang kathah punika tetiyang ingkang salaminipun gesang dados petani lan ngrimat kebon, pramila nalika gesang ing kitha ndadak mboten nggadhahi kasagedan kangge pados pandamelan. Sejatosipun pandamelan dados tiyang ngemis punika sanes prekawis ingkang dipun ajeng-ajeng para saderek punika, malah-malah pandamelan ingkang kados mekaten punika sampun natoni manahipun. Ananging para saderek punika pancen mboten nggadhahi pilihan sanesipun, para saderek punika kepeksa nindakaken prekawis punika supados saged nglajengaken gesang. Piyambakipun dados sekeng mboten jalaran saking keset utawi bodho, nanging jalaran saking pratingkahing tiyang sanes, inggih punika para pimpinan pemerintahan ing zaman semanten ingkang sak sekecanipun piyambak anggenipun mranata negari.

Tamtu kemawon tiyang keset lan bodho punika mesthi wonten. Mekaten ugi tumraping tiyang ingkang dados mlarat awit saking keset lan bodhonipun piyambak punika mesthi ugi wonten kemawon. Ananging kados pundi tumraping para sederek ingkang kepeksa sekeng awit saking prahara, kados dene tsunami, siti ingkang jugrug, banjir bandhang, gunung njeblug lan sapiturutipun punika? Kados pundi tumraping para lare ingkang ujug-ujug kepeksa dados yatim piatu krana tiyang sepuhipun kenging musibah? Saestu kathah prekawis ingkang saged ndadosaken tiyang punika mlarat, boten namung jalaran saking keset lan bodho. Punapa malih kawontenan sekeng ingkang dipun jalari dening awonipun pemerintahan anggenipun mranata ekonominipun bangsa. Mila lajeng dados pakewet tumraping rakyat anggenipun badhe pikantuk padamelan.

Kadang-kadang pancen oknum ingkang kajibah nyepeng panguwaos ing pemerintahan punika sengaja andadosaken para tiyang ingkang dipun kuwasani punika, saperlu gampil dipun apusi lan gampil dipun tata kadosa pundi kemawon. Pungkasanipun gampil dipun adu satunggal lan satunggalanipun supados gampil crah lan mboten rukun. Informasi penting ingkang sejatosipun kedah dipun tampi dening rakyat sengaja dipun delik’aken piyambak kemawon, menawi mboten mekaten nggih informasi punika dipun samaraken. Cekak ing tembung, supados rakyat punika gampil dipun kuwasani lan dipun tata sak pikajengipun para panguwaos punika.

Tamtu kemawon kita mboten saged namung kendel ningali prekawis ingkang kados mekaten, kamangka kasunyatan ingkang kados mekaten punika asring kadadosan ing sak ngajeng kita. Lha wong kula kaliyan panjenengan ingkang sampun cetha dumawah ing dosa mekaten kemawon taksih pinaringan welas asih ingkang mboten kanten-kantenan saking Gusti Allah. Mosok nggih pantes menawi kula lan panjenengan lajeng merem kemawon ningali kasangsaranipun para sesami ing sakiwa-tengen kita? Punapa malih menawi kasangsaranipun tiyang kathah punika dipun rancang kanthi sengaja dening tiyang sanes. Punapa tumindak mboten preduli tumraping ngasami punika malah nedahaken sansaya cetha bilih kula lan panjenengan punika pancen kebak ing dosa?

Kita saestu mbetahaken pitulunganipun Gusti supados angsal kawilujengan langgeng, mila saestu ageng watak egois kita punika menawi tetep ngendelaken para sesami ing sakupeng kita kabidhung dening kasangsaran. Saestu awon watak kita menawi namung rumaos kedah dipun tulungi dening Gusti Allah, ananging mboten purun nulungi sesami. Menawi saestu leres bilih panuladha kita punika namung Gusti Yesus, punapa mboten kedahipun samudayaning tumindak kita punika ugi laras kaliyan pribadinipun Sang Kristus?

Panutup
Wonten kathah prekawis ingkang saged kita tindakaken kangge mitulungi ngasanes. Wonten kathah prekawis ingkang saged kita angge mujudaken tumindak solider dhateng para sesami kados dene Sang Kristus. Upaminipun, menawi wonten ingkang nggadhahi kasagedan nglampahaken teknologi internet, kedahipun ugi saged asok pambiyantu dhateng sesami ingkang saweg usaha minangka UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah), supados para saderek punika saged pikantuk NIB (Nomor Induk Berusaha) ingkang dipun gratisaken dening pemerintah wonten ing laman oss.go.id. Kadang ingkang naminipun kesempatan punika sampun dipun bikak sak wiyaripun, alat ingkang dipun betahaken inggih sampun cumawis kados dene HP punika, ananging kasagedan kangge ngginaaken HP punika ingkang taksih dereng gadah. Mila sesami ingkang kados mekaten punika kedah dipun biyantu dening sok sintena kita ingkang anggadhahi kasagedan ngginaaken HP kanthi sae. HP ingkang kita gadhahi punika asring namung kangge nelasaken pulsa kemawon, mboten langkung saking niku, kamangka saksanesipun punika HP ugi saged kangge ngurusi usaha kita, supados absah sacara hukum utawi kangge nulungi tiyang sanes ngangsalaken keabsahanipun usaha ingkang saweg dipun gadhahi.

Punika sanes prekawis ingkang ewet, menawi kita sampun kulina nglampahi. Nindakaken kiprah solidaritas punika pancen mbetahaken pakulinan, supados anggen kita nglampahi punika saged lancar. Kados dene Ibu Teresa, seda nalika tahun 1997 ing yuswa 87 tahun, punika priyantun putri Albania ingkang prawakanipun alit, ananging sinaosa alit Ibu Teresa punika sampun sekawan dasa gangsal tahun leladi ing satengahing para tiyang sekeng ing kitha Kalkuta – India. Nalika miwiti ngecakaken paladosanipun ing ngriku, tamtu ugi kathah pambengan ingkang kedah dipun adhepi. Sae punika kawontenan ing diri pribadi ingkang sarwa winates, ugi saking kawontenan nyata ing kiwa tengenipun. Ananging sansaya dangu anggenipun Sang Ibu punika nindakaken katresnanipun, mila ugi sansaya lancar anggenipun mrantasi samudayaning pambengan ingkang dipun adhepi. Sansaya lancar paladosanipun punika ateges ugi sansaya kathah sesami ingkang saged dipun tulungi. Pancen pakulinan punika mbetahaken wekdal lan kasregepan tumrap ingkang nglampahi.

Prekawis solider dhateng sesami punika sanes namung gagasan, nanging saestu tumindak nyata ingkang kadasaran pangraos tresna dhateng sesami titahipun Gusti. Tresna ingkang saestu manulada dhumateng tresnanipun Sang Kristus tumrap kita. Tresna ingkang kados mekaten punika inggih tresna ingkang ngluwari saking prahara lan bebendu. Tresna ingkang saestu milujengaken sok sintena kemawon titahipun Gusti. Pawujudaning solidaritas punika ugi mbetahaken pakulinan, supados sansaya dangu anggenipun leladi sansaya sae. Menawi kita sampun kulina anggenipun nindakaken, mila ing ngriku kita saged kawastanan mujudaken dhawuhipun Sang Kristus Panuladha Sejati. Amin.  [CBPA].

 

Pamuji: KPJ. 431 Gusti Adhawuh

Renungan Harian

Renungan Harian Anak