Mendekat Kepada Allah untuk Mendengarkan dan Melaksanakan Perintah-Nya Khotbah Minggu 19 Februari 2023

6 February 2023

Minggu Transfigurasi
Stola Putih

Bacaan 1: Keluaran 24 : 12 – 18
Bacaan 2: 2 Petrus 1 : 16 – 21
Bacaan 3: Matius 17 : 1 – 9

Tema Liturgis: GKJW Terlibat Memperjuangkan Kebenaran dalam Keseharian
Tema Khotbah:
Mendekat Kepada Allah untuk Mendengarkan dan Melaksanakan Perintah-Nya

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 24 : 12 – 18
Sangatlah sulit bagi manusia bisa berjumpa dengan Allah seperti yang dialami Musa. Hal tersebut terjadi karena Tuhan Allah Maha Kudus dan Maha Mulia, sedangkan manusia tercemar oleh dosa. Alkitab memang tidak menceritakan secara mendetail terkait peristiwa perjumpaan tersebut, bahkan tidak disebutkan bagaimana sesungguhnya wujud Allah yang memanggil Musa mendekat kepada-Nya. Alkitab hanya menginformasikan, bahwa suasana kehadiran Allah ditandai dengan awan yang menutupi gunung selama enam hari. Bangsa Israel memahami peristiwa tersebut sebagai kemuliaan Tuhan yang tampak seperti api yang menghanguskan (Ay. 17). Pada hari yang ketujuh barulah Musa diperkenankan dan dipanggil masuk ke tengah awan dalam kurun waktu empat puluh hari (Ay. 18). Hal tersebut menunjukkan, bahwa Allah yang Maha Kudus dan Maha Mulia ternyata bisa dijumpai manusia, meskipun dalam keterbatasan. Hal tersebut bisa dipahami karena keberadaan manusia yang tercemar oleh dosa. Hal yang juga perlu dipahami adalah perjumpaan itu terjadi hanya karena perkenan Allah. Tanpa perkenan Allah perjumpaan itu tidak akan terjadi.

2 Petrus 1 : 16 – 21
Apa yang disampaikan oleh rasul Petrus ini adalah suatu kesaksian tentang Yesus Kristus yang menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa. Ia datang dengan kuasa yang dimiliki-Nya untuk menjumpai dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Petrus berani bersaksi dengan lantang, karena ia mendengarkan sendiri suara dari Allah yang menyatakan perkenan-Nya atas Yesus, saat Ia dimuliakan di atas gunung (lih. Matius 17:1-13). Oleh karena itu, apa yang telah didengar Petrus disampaikan kepada jemaat yang ia layani agar setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus tetap memiliki iman yang teguh dan tidak tergoda untuk menjauh dari Yesus Kristus. Petrus dengan lantang bersaksi bahwa ia mendengarkan sendiri suara yang menyatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Ay. 17). Kesaksian sekaligus pemberitaan rasul Petrus tersebut menegaskan, bahwa Yesus Kristus yang datang dari sorga adalah suatu kebenaran, bukan cerita dongeng!

Matius 17 : 1 – 9
Penulis Injil Matius menekankan bahwa Yesus Kristus memiliki kemuliaan yang harus diketahui oleh para pengikut-Nya. Kemuliaan Yesus itu terlihat melalui peristiwa yang menakjubkan yang tidak diketahui oleh banyak orang. Peristiwa itu terjadi di atas gunung yang tinggi. Suatu tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Tampaknya juga tidak ada orang yang naik ke atas gunung tersebut. Yesus hanya mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes saudara Yakobus untuk menyaksikan Yesus dimuliakan. Dari kesaksian ketiga murid tersebut ada beberapa hal menarik untuk diperhatikan, yakni: Pertama, kemuliaan Yesus terlihat melalui wajah-Nya yang tampak bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih seperti terang. Kedua, terlihat juga dua orang tokoh besar yang sangat diakui kewibawaan-Nya, yakni: Musa dan Elia. Musa dikenal sebagai seorang Nabi yang menerima hukum Tuhan (Taurat). Sedangkan Elia adalah nabi yang memperbarui komitmen umat pada hukum Tuhan. Kedua orang tersebut tampak berbicara dengan Yesus yang memiliki kemuliaan. Ketiga, tampak awan yang terang turun dari langit menaungi Yesus, Musa, dan Elia. Lalu, dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (Mat. 17:5). Hal tersebut menegaskan tentang diri Yesus sebagai Anak Allah yang dikehendaki Allah untuk menyatakan kuasa dan karya Allah bagi manusia. Oleh karena itu, setiap orang harus mendengarkan apa yang difirmankan Allah di dalam diri Yesus Kristus. Keempat, saat melihat awan yang turun dari langit dan suara yang mereka dengar, para murid merasa sangat takut dan tersungkur. Mereka merasa tidak sanggup melihat peristiwa kemuliaan yang diterima Yesus karena keberadaan mereka sebagai manusia yang memilki berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun, Yesus mendatangi mereka dan menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut.” (Mat. 17:7). Sapaan dan sentuhan Yesus memberikan semangat dan kemampuan kepada mereka agar melakukan apa yang dikehendaki Allah di dalam diri Yesus Kristus.

Apa yang dialami oleh ketiga murid Yesus yang menyaksikan langsung peristiwa Yesus yang dimuliakan di atas gunung adalah suatu anugerah. Meski demikian anugerah yang mereka terima dari Tuhan Allah tersebut bukan hanya untuk mereka simpan sendiri. Pada saatnya peritiwa tersebut juga harus diberitakan kepada banyak orang. Oleh karena itu, Petrus, Yakobus, dan Yohanes harus menjadi saksi atas peristiwa tersebut. Mereka harus menceritakan kepada murid-murid lainnya dan kepada banyak orang. Selain itu juga mengajak banyak orang agar mendengarkan apa yang diajarkan dan diteladankan Yesus Kristus. Sehingga, semakin banyak orang yang mengenal tentang siapa Yesus Kristus, percaya kepada-Nya, dan bersedia melakukan apa yang dikehendaki Yesus Kristus.

Peristiwa dimana  Yesus  dimuliakan di gunung, serta bertemu dengan Musa dan Elia di atas gunung dikenal dengan sebutan Transfigurasi Kristus (Terkait hal tersebut berikut ini kutipan dari WIKIPEDIA). Hal ini merupakan puncak spiritualitas dari Yesus. Cahaya kemuliaan yang memancar dari wajah Yesus itu untuk memberikan pengajaran kepada para murid, bahwa di balik peristiwa yang menyedihkan yang akan dialami Yesus. Peristiwa (penyaliban) akan membawa pada kemenangan, kemuliaan. Bahwa di balik hinaan dan caci maki akan ada kemuliaan yang akan menguatkan para murid dalam kehidupan mereka dalam mengikuti guru (Yesus) mereka itu.

Peristiwa ini kemudian menjadi tradisi umat Kristen dalam menghayati salah satu peristiwa hidup  Yesus Kristus. Waktu untuk melaksanakan transfigurasi ini berlangsung pada Minggu sebelum merayakan Hari Raya Jumat Agung  sebagai peringatan kematian Yesus. Transfigurasi ini dijadikan titik sentral dalam karya Yesus sebagai  Mesias  menurut rencana  Allah. Peristiwa ini dapat diketahui dalam  Alkitab  pada  Injil Matius 17:1-12 atau di Injil Markus 9:2-13 atau di Injil Lukas 9:28-36.

Tujuan transfigurasi ini adalah untuk memberikan spiritualitas kepada umat Kristen dalam sikap batin dan berdampak pada sikap lahirnya juga. Sikap Batin itu menurut Kardinal Carlo Mantini dapat dilihat dalam diri  Santo Paulus dalam beberapa hal: adanya sukacita batin dan kedamaian yang besar, adanya sikap pujian, kesiapan dalam mengikut Yesus.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ajakan kepada umat agar mendekat kepada Tuhan Allah untuk mendengarkan perintah-Nya dan memuliakan-Nya telah dimulai pada masa Perjanjian Lama. Hal tersebut dialami oleh Musa yang dikehendaki Tuhan Allah sendiri agar mendekat kepada-Nya. Pada masa Perjanjian Baru, beberapa murid, yakni: Petrus, Yakobus dan Yohanes Yesus juga dikehendaki oleh Allah untuk mendekat kepada-Nya, mendengarkan perintah-Nya, dan memuliakan-Nya. Kesempatan tersebut adalah anugerah yang patut disyukuri. Meskipun demikian anugerah tersebut tidak hanya disimpan untuk dirinya sendiri, melainkan harus disampaikan kepada banyak orang sebagai suatu kesaksian. Sehingga pada saatnya akan semakin banyak orang yang mengetahui tentang Yesus Kristus, percaya kepada-Nya, lalu melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Menjadi umat Allah itu menyenangkan. Namun, tidak semua orang bisa menjadi umat Allah. Bisa mendekat kepada Allah, pasti akan lebih menyenangkan. Namun, tidak semua orang bisa dengan mudah mendekat kepada Allah. Setiap orang bisa menjadi umat Allah dan mendekat kepada-Nya hanya karena anugerah Allah. Oleh karena itu, jika seseorang merasa sebagai umat Allah dan dekat dengan Allah, hal tersebut patut disyukuri, sebab dengan mengandalkan kekuatan sendiri, manusia tidak bisa menjadi umat Allah, apalagi mendekat kepada-Nya. Itulah yang dialami Petrus, Yakobus, dan Yohanes.

Isi
Ada beberapa hal menarik yang perlu kita renungkan bersama berkaitan dengan Yesus yang dimuliakan di atas gunung:

Pertama, Petrus, Yakobus, dan Yohanes mendapat anugerah bukan saja menjadi umat Allah, melainkan juga bisa mendekat kepada Allah dengan menyaksikan kemuliaan Yesus Kristus. Hal tersebut terjadi bukan karena usaha dan kerja keras yang mereka lakukan. Bukan juga karena mereka memiliki keistimewaan daripada murid-murid Yesus lainnya, melainkan karena Yesus sendiri yang memilih dan menghendaki mereka. Sama seperti Musa yang dikehendaki Allah untuk mendekat kepada-Nya di atas gunung. Meskipun Musa tidak melihat wujud Allah secara langsung, namun ia merasakan kehadiran Allah melalui cahaya yang begitu terang. Oleh karena itu, jika umat Tuhan merasa mendapatkan kesempatan untuk mendekat kepada Allah melalui ibadah dan doa, kesempatan tersebut hendaknya tidak dilewatkan begitu saja atau diabaikan, sebab kesempatan tersebut diberikan Allah kepada umat-Nya. Sebaliknya, sebagai umat Allah kita harus bersyukur dan menggunakan kesempatan tersebut untuk bisa merasakan persekutuan yang begitu dekat dengan Allah.

Kedua, adanya dua orang tokoh besar yang sangat dikenal umat Allah, yakni Musa dan Elia yang tampak berbicara dengan Yesus yang menerima kemuliaan. Kedua orang tokoh tersebut diakui kewibawaan-Nya oleh bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Musa dikenal sebagai seorang Nabi yang menerima Hukum Tuhan (Taurat). Sedangkan Elia adalah nabi yang memperbarui komitmen umat pada hukum Tuhan. Hal tersebut mengingatkan kita sebagai umat Allah agar selalu mengingat dan melakukan apa yang dikehendaki Allah sebagaimana diberitakan atau disampaikan oleh para nabi. Nabi-nabi tersebut dikehendaki oleh Allah untuk membimbing, menuntun, dan memberikan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan sebagai umat Allah. Bagaimanapun juga umat Allah memiliki tanggung jawab melakukan apa yang dikehendaki Allah sebagaimana disampaikan oleh para nabi.

Ketiga, saat awan yang terang turun dari langit menaungi Yesus, Musa, dan Elia, terdengar suara dari dalam awan yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (Mat. 17:5). Suara tersebut menegaskan tentang diri Yesus sebagai Anak Allah. Dialah yang dikehendaki Allah untuk menyatakan kuasa dan karya Allah bagi manusia. Oleh karena itu, setiap orang harus mendengarkan dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikehendaki Allah melalui pengajaran yang diberikan Yesus, serta teladan yang ditunjukkan Yesus kepada setiap orang yang bergaul dengan-Nya. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita pun juga dikehendaki untuk mendengarkan apa yang diajarkan dan dikehendaki Yesus. Kita tidak hanya mendekatkan diri kepada Yesus, melainkan juga harus dengan sungguh-sungguh mendengarkan dan melakukan apa yang difirmankan-Nya.

Keempat, mengingat keberadan manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan di hadapan Tuhan, maka tidaklah mengherankan jika setiap orang yang menyaksikan Yesus dimuliakan dan mendengar suara dari dalam awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” merasa sangat takut dan tersungkur seperti yang dialami Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Mereka merasa tidak sanggup melihat peristiwa kemuliaan yang diterima Yesus, karena keberadaan mereka sebagai manusia yang memilki berbagai kelemahan dan kekurangan. Namun, justru dengan keberadaan manusia yang demikian ini, Yesus mendekati mereka dan menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” (Mat. 17:7). Sapaan dan sentuhan Yesus ini memberikan semangat dan kemampuan agar melakukan apa yang dikehendaki Yesus. Inilah yang juga dilakukan Yesus kepada kita di saat kita merasa lemah dan tidak berdaya melakukan apa yang dikehendaki Allah. Yesus Kristus memberikan semangat dan memampukan kita melakukan apa yang dikehendaki Yesus: “Berdirilah, jangan takut!”. Kita diminta untuk berani bersaksi tentang apa yang kita ketahui tentang Yesus Kristus dan apa yang kita alami sama seperti yang dilakukan oleh Petrus agar setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus tetap memiliki iman yang teguh dan tidak tergoda untuk menjauh dari Yesus Kristus. Petrus dengan lantang bersaksi, bahwa ia mendengar sendiri suara yang menyatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (2 Ptr. 1:17). Kesaksian sekaligus pemberitaan rasul Petrus tersebut menegaskan kepada setiap orang agar tidak ragu-ragu beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.

Penutup
Sebagai umat Allah kita patut bersyukur kepada-Nya, karena mendapatkan kesempatan dan diperkenankan mendekat kepada-Nya dalam iman kita kepada Yesus Kristus. Dengan mendekat kepada Allah, kita akan banyak mendengarkan apa yang diajarkan dan dikehendaki Allah untuk kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga mendapatkan semangat dan kemampuan untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah, meskipun harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan. Oleh karena itu, janganlah kita menjadi terlena pada kemuliaan Yesus, lalu hanya diam saja di dekat-Nya. Kita pun juga harus bersemangat untuk bersaksi memberitakan karya keselamatan Allah bagi banyak orang sebagaimana dinyatakan dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus senantiasa memberikan semangat dan keberanian kepada kita. “Berdirilah, jangan takut!”. Amin. [HSW].

 

Pujian: KJ. 46 : 1, 2, 5 Besarkan Nama Tuhan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Dados umat kagunganipun Allah punika bingahaken. Nadyan mekaten boten sedaya tiyang dados umat kagunganipun Allah. Saged nyelak dhumateng Gusti Allah, mesthi ugi sansaya bingahaken. Nadyan mekaten boten sedaya tiyang saged kanthi gampil nyelak dhumateng Gusti Allah. Saben tiyang saged dados umat kagunganipun Allah lan nyelak dhumateng Panjenenganipun awit saking kanugrahanipun Allah. Pramila menawi wonten tiyang ingkang rumaos dados umat kagunganipun Allah lan nyelak dhumateng Allah punika prekawis ingkang kedah dipun tampi kanthi saos sokur, awit kanthi ngandelaken kakiyatanipun piyambak, manungsa boten saged dados umat kagunanipun Allah, punapa malih nyelah dhumateng Panjenenganipun. Inggih mekaten ingkang dipun alami dening Petrus, Yakobus, lan Yokanan.

Isi
Wonten prekawis ingkang wigati gagayutan kaliyan Gusti Yesus ingkang kamulyakaken:

Sepisan, Petrus, Yakobus, dan Yokanan kaparingan kanugrahan boten namung dados umat kagunganipun Allah, nanging ugi saged nyelak dhumateng Gusti Allah kanthi ningali Gusti Yesus ingkang kamulyakaken. Prekawis punika kalampahan sanes saking pambudidayanipun ingkang katindakaken. Kejawi punika ugi sanes awit saking kaunggulan utawi keistimewaan ingkang dipun gadhahi ngungkuli para sakabatipun Gusti Yesus sanesipun, nanging karana Gusti Yesus piyambak ingkang ngersakaken Petrus, Yakobus, lan Yokanan. Kados dene Musa ingkang dipun kersakaken dening Gusti Allah dhumateng Panjenenganipun ing sak nginggilipun redi. Nadyan Musa boten saged ningali wujudipun Gusti Allah sacara langsung, nanging Musa saged ngraosaken rawuhipun Gusti Allah wonten cahya ingkang sumunar sanget. Pramila menawi para umat kagunganipun Gusti Allah rumaos nggadahi wekdal nyelak dhumateng Gusti Allah lumantar pangibadah lan pandonga, wekdal punika kedah kaginakaken kanthi sae supados boten nglaha, awit punika kanugrahan ingkang dipun paringaken Gusti Allah dhumateng para umat kagunganipun. Malah kanugrahan punika kedah kita tampi kanthi saos sokur lan ngginakaken wekdal punika supados saged ngraosaken tetunggilan ingkang raket kaliyan Gusti Allah.

Kaping kalih, wontenipun Musa lan Elia ingkang katingal wicantenan kaliyan Gusti Yesus ingkang nampi kamulyan. Tumrap bangsa Israel, Musa lan Elia dipun akeni nggadhahi kewibawaan. Musa kasuwur minangka nabi ingkang nampi angger-anggering Toret lan Elia nabi ingkang ngenggalaken komitmen tumrap angger-anggeripun Gusti. Prekawis punika ngengetaken kita minangka umat kagunganipun Allah supados tansah enget lan lan nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken Gusti Allah lumantar punapa ingkang kawartosaken dening para nabi. Para nabi punika dipun kersakaken dening Gusti Allah nuntun lan paring pitedah gegayutan kaliyan punapa ingkang kedah dipun tindakaken dening para umat kagunganipun Allah. Para umat kagunganipun Gusti Allah nggadhahi tanggel jawab nindakaken karsanipun Gusti Allah kados ingkang kawartosaken dening para nabi.

Kaping tiga, nalika mega ingkang padhang mandhap saking langit ngayomi tiyang-tiyang punika kapireng suwanten saking langit: “Iki putraningSun, KekasihingSun, Kang damel renaning panggalihingSun, Iku sira rungakna” (Mat. 17:5). Suwanten punika nedahaken bab Gusti Yesus minangka Putranipun Allah. Panjenenganipun dipun kersakaken dening Gusti Allah supados mujudaken kawasa lan pakaryanipun Allah dhumateng manungsa. Pramila saben tiyang kedah mirengaken lan migatosaken saestu punapa ingkang dipun kersakaken dening Gusti Allah lumantar piwucalipun Gusti Yesus, sarta tuladha ingkang dipun tedahaken dening Gusti Yesus dhateng saben tiyang ingkang tansah srawung kaliyan Panjenenganipun. Minangka pandherekipun Gusti Yesus kita ugi dipun kersakaken mirengaken punapa ingkang dipun wucalaken dan dipun kersakaken Gusti Yesus. Kita boten namung nyelak dhumateng Gusti Yesus, nanging ugi kanthi saestu mirengaken lan nindakaken punapa ingkang dipun ngendikakaken Gusti Yesus.

Kaping sekawan, ngengeti kawontenanipun manungsa ingkang kebak kakirangan ing ngarsanipun Gusti, mila boten nggumunaken menawi saben tiyang ingkang ningali Gusti Yesus kamulyakaken lan mirengaken suwanten: “Iki putraningSun, KekasihingSun, Kang damel renaning panggalihingSun, Iku sira rungakna” rumaos ajrih sanget lan sumungkem kados ingkang dipun alami dening Petrus, Yakobus, lan Yokanan. Para pandherekipun Gusti Yesus punika rumaos boten sagah ningali prastawa kamulyan ingkang dipun tampi dening Gusti Yesus awit saking kawontenanipun minangka manungsa ingkang nggadhahi kathah sanget kakirangan ing ngarsanipun Allah. Nanging, ngrumaosi kawontenan ingkang kados mekaten punika Gusti Yesus malah nyelak njawili para sakabat punika, sarta ngandika: “Padha ngadega, aja wedi!” (Mat. 17:7). Pangandikanipun Gusti Yesus punika dadosaken para sakabat nggadhahi semangat lan kasagedan supados nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken Gusti Yesus. Inggih mekaten ingkang katindakaken dening Gusti Yesus dhumateng kita nalika kita rumaos boten nggadhahi kasagedan nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken Gusti Allah. Gusti Yesus paring semangat lan kasagedan dhumateng kita supados nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken: “Padha ngadega, aja wedi!”. Kita dipun kersakaken supados wantun martosaken punapa ingkang kita alami lan kita tampi saking Gusti Yesus kados dene Petrus ingkang paring piwucal lan pawartos supados saben tiyang ingkang ngandelaken kapitadosanipun dhumateng Gusti Yesus tetap nggadhahi kapitadosan ingkang mantep lan boten kagodha supados nebih saking Gusti Yesus. Petrus kanthi sora wantun paring pawartos: “Iki Putraningsung kekasih, kang ndadekaken keparenging pangalihingSun” (2 Ptr. 1:17). Punapa ingkang katindakaken dening Petrus punika nedahaken dhumateng saben tiyang supados boten mangu-mangu nanging pitados dhumateng Gusti Yesus.

Panutup
Minangka umat kagunganipun Allah kita tantu saos sokur dhumateng Panjenenganipun awit nampi wekdal dan dipun parengaken nyelak Panjenenganipun wonten kapitadosan kita dhumateng Gusti Yesus Kristus. Kanthi nyelak dhumateng Panjenenganipun, kita saged mirengaken lan nampi kathah sanget punapa ingkang kawucalaken lan kakersakaken dening Gusti Allah wonten ing gesang sadinten-dinten. Kejawi punika kita ugi nampi semangat lan kasagedan nindakaken punapa ingkang dipun kersakaken Gusti Allah, sandayan kita ugi ngadhepi mawerni-werni pambengan. Pramila, sampun ngantos kita namung
terlena tumrap kamulyanipun Gusti Yesus, lajeng namung mendel kemawon nyelak dhumateng Panjenenganipun. Nanging, kita ugi kedah nggadahi semangat martosaken bab kawilujengan ingkang kaparingaken dening Gusti Allah kababar wonten ing pakaryanipun Gusti Yesus Kristus. Panjenenganipun tansah paring semangat lan kakendelan dhumateng kita: “Padha ngadega, aja wedi!”. Amin. [HSW].

 

Pamuji: KPJ. 123 : 1, 2 Kula Pitados Mring Gusti

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak