Membiasakan yang Benar, Bukan Membenarkan yang Biasa Khotbah Minggu 12 Februari 2023

30 January 2023

Minggu Biasa
Stola Hijau

Bacaan 1: Ulangan 30 : 15 – 20
Bacaan 2: 1 Korintus 3 : 1 – 9
Bacaan 3: Matius 5 : 21 – 37

Tema Liturgis: GKJW Terlibat Memperjuangkan Kebenaran dalam Keseharian
Tema Khotbah: Membiasakan yang Benar, Bukan Membenarkan yang Biasa

Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 30 : 15 – 20
Setelah dibebaskan dari perbudakan di Mesir, bangsa Israel melakukan perjalanan di padang gurun selama empat puluh tahun, di bawah pimpinan Allah melalui Musa menuju tanah perjanjian. Perjalanan tersebut sangat berat, namun pada akhirnya mereka sampai di daerah Moab, di sebelah Timur sungai Yordan. Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah itu sudah berada di depan mata. Di Moab itu juga, Musa yang tahu bahwa dia tidak akan ikut memasuki Tanah Perjanjian dan akan digantikan oleh Yosua (Ulangan 31), berdiri sekali lagi di hadapan bangsa Israel dan memperhadapkan bangsa itu untuk mengambil pilihan yang paling menentukan bagi kehidupan dan masa depan mereka.

Mereka harus memilih antara kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan (Ay. 15). Mereka akan menerima kehidupan, berkat, dan keberuntungan, jika mereka mengasihi TUHAN, Allah mereka dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan, dan peraturan-Nya (Ay. 16). Sebaliknya, mereka akan ditimpa kematian, kutuk, dan kecelakaan jika hati mereka berpaling, tidak mau mendengarkan Allah, bahkan mereka mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya (Ay. 17). Pilihan yang harus diambil oleh bangsa Israel bukan pilihan yang main-main, sebab itu menentukan masa depan mereka. Dibalik semuanya itu, Musa mengajak bangsa Israel untuk mengambil pilihan yang benar: “Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya.” (Ay. 19-20).

1 Korintus 3 : 1 – 9
Kehidupan jemaat di Korintus secara kasat mata, mereka sepertinya rohani dalam pelayanan, akan tetapi di dalamnya terdapat iri hati dan perselisihan di antara mereka. Mereka menganggap kelompok mereka lebih utama dari yang lain. Paulus merasa prihatin, karena orang Korintus tidak hidup dalam tuntunan Roh Allah. Meskipun mereka menjadi pengikut Kristus, mereka masih tetap berbantahan dan melakukan hal-hal “duniawi”, yang biasa mereka lakukan sebelum mendengar pemberitaan Paulus. Itulah sebabnya, Rasul Paulus menyebut mereka sebagai manusia duniawi.

Dalam kondisi yang demikian, Rasul Paulus menasihati supaya jemaat tidak berfokus pada manusia, tetapi kepada Allah. Paulus kembali mengingatkan mereka tentang status orang percaya di hadapan Allah. Baik dirinya, rasul lain, maupun orang-orang Korintus hanyalah alat Tuhan (kawan sekerja). Tugas utama semuanya adalah memuliakan Allah lewat hidup dan pelayanan, bukan memuliakan diri sendiri. Maka penting bagi mereka bisa menjadi manusia “rohani”, yaitu menjadi manusia yang bersedia membuka diri untuk dituntun oleh Roh Allah agar semakin bisa mendalami dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya di dalam kehidupan.

Matius 5 : 21 – 37
Dalam tradisi agama Yahudi, hukum Tuhan diterjemahkan dalam kumpulan aturan lisan. Aturan lisan itu memuat apa yang boleh dan tidak boleh, termasuk soal yang sederhana. Akibatnya realitas beragama mereka terpaku pada apa yang tertulis saja. Secara tersirat, apa yang dilakukan Yesus dalam bagian Khotbah di bukit ini memuat perlawanan terhadap hal yang demikian. Yesus mengajak umat Yahudi untuk melihat hukum pada tataran yang lebih mendalam, bukan sekadar pada apa yang tertulis.

Yesus mulai memberikan contoh-contoh tentang arti yang dalam dari hukum Taurat. Jangan membunuh. Kalau hukum Tuhan berbunyi “Jangan Membunuh”, maka dipastikan setiap orang dapat berkata bahwa ia belum pernah membunuh orang. Tetapi Yesus memperlihatkan arti yang dalam dari hukum itu, kita dapat “membunuh” orang lain dalam hati kita juga. Yesus mengatakan, “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”. Dalam naskah asli kata marah yang disampaikan Yesus menggunakan kata orge, yang berarti kemarahan yang tersimpan dan berakar dalam hati. Dalam orge ada kebencian terselubung, ada dendam yang bertumbuh subur. Yesus menelisik lebih dalam, mengajak untuk melihat secara jernih mengapa terjadi tindakan pembunuhan. Jawabannya adalah karena adanya kemarahan dalam makna orge. Kemarahan sering dianggap biasa, sebuah kenyataan manusiawi. Benar! Namun kemarahan yang tidak dapat dipadamkan menghasilkan kekerasan bahkan pembunuhan. Yesus menyinggung dua istilah yang kerap dipakai pada waktu itu, yaitu kafir dan jahil. Kedua istilah ini memiliki konotasi bahwa orang tersebut bukan hanya bodoh secara intelektual, tetapi bodoh secara moral. Itu sebabnya jika seseorang mengatakan kafir dan jahil, sebenarnya mereka sedang melakukan pembunuhan karakter. Bukan hanya berhenti sampai pada pembunuhan karakter, tetapi juga menanam benih kebencian yang sekaligus membuka pintu terjadinya pembunuhan fisik. Untuk itu, Yesus menegaskan bahwa seseorang harus mengatasi sebab (kemarahan), bukan berfokus pada akibat (pembunuhan). Cara mengatasi kemarahan adalah dengan mengampuni. Itu sebabnya Yesus memberikan contoh, ketika ada orang mengingat kemarahannya pada orang lain saat beribadah, orang itu diminta untuk meninggalkan ibadahnya dan berdamai terlebih dahulu dengan orang lain itu.

Jangan berzinah. Persoalannya apa yang disebut berzinah? Apakah sekadar terkait dengan hubungan seks secara tidak legal? Kembali Yesus mengajak masuk pada kedalaman untuk melihat secara jernih akar perzinahan. Persoalannya terletak pada kata “menginginkan” yang diterjemahkan dengan “nafsu birahi”. Nafsu birahi bukan hanya sekadar menunjuk pada hubungan seks. Ketika seseorang tidak mampu menahan diri hingga terjatuh pada ketidaksetiaan dan menjadikan orang lain sebagai obyek pemuas hasrat nafsu birahi, maka seseorang sudah melakukan perzinahan. Untuk itu, Yesus mengajarkan agar berlatih melakukan disiplin diri, yang dimulai dengan menahan diri melalui penguasaan indra. Demikian juga ajaran Yesus tentang perceraian (kecuali karena zinah) perlu dilihat sebagai upaya Yesus menempatkan pernikahan sebagai hubungan yang setara, bukan menjadikan pasangan sebagai obyek pemuas diri.

Jangan sekali-kali bersumpah, dengan dan atas nama apapun. Di sini Yesus juga mengajak melihat lebih dalam secara jernih, mengapa orang harus bersumpah? Karena orang meragukan dirinya atau juga dipaksa bersumpah karena orang ragu pada integritasnya. Bagi Yesus sumpah tidak perlu dilakukan ketika seseorang memiliki integritas, yang dinyatakan lewat ketegasan: ya adalah ya, tidak adalah tidak.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Hidup menjadi pengikut Kristus tiada lain adalah hidup yang melandaskan diri pada kebenaran. Orang yang melandaskan diri pada kebenaran akan membawa mereka pada kehidupan, jika tidak mereka akan mendapatkan kutuk. Maka penting bagi setiap kita untuk membuka diri dituntun oleh Roh Allah, agar semakin bisa mendalami dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, sehingga berkat Tuhanlah yang akan kita terima di dalam kehidupan kita.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Kebiasaan adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan secara terus menerus hingga menjadi otomatis. Membentuk kebiasaan baru yang positif adalah keinginan banyak orang. Kebiasaan-kebiasaan tersebut memungkinkan seseorang untuk menjalani hidup yang lebih baik. Sayangnya, kebiasaan baru tidak bisa dibentuk secara instan. Prosesnya memerlukan kesabaran dan konsistensi. Pada tahun 1960, seorang ahli bedah plastik Maxwell Maltz menuliskan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru adalah sekitar 21 hari. Hal tersebut didasarkan pada pengamatan Maltz terhadap perilaku pasien-pasiennya yang diamputasi. Ia menemukan bahwa pasien-pasiennya butuh waktu setidaknya 21 hari untuk beradaptasi saat dia kehilangan anggota tubuhnya. Philippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan dari University College London, juga tertarik melakukan eksperimen untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang agar terbentuk kebiasaan. Hasilnya bervariasi tergantung kompleksitas kebiasaannya, paling cepat 18 hari, paling lama 254 hari. Kalau ingin membentuk kebiasaan baru yang positif, maka perlu untuk melakukannya setidaknya 21 hari. Demikian juga sebaliknya, bila tanpa sadar ada kebiasaan buruk berulang kali kita lakukan selama 21 hari, maka bisa saja lama kelamaan hal itu menjadi kebiasaan yang sulit untuk dihilangkan.

Isi
Membiasakan diri untuk hidup benar seturut dengan kehendak Tuhan adalah sesuatu hal yang penting untuk dilakukan, karena disitulah ada kehidupan, berkat, dan keberuntungan. Ketika bangsa Israel berada di Moab di sebelah Timur sungai Yordan, tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah itu sudah berada di depan mata. Pada saat itu, Musa tahu bahwa dia tidak akan ikut memasuki Tanah Perjanjian dan akan digantikan oleh Yosua (Ulangan 31), maka dia berdiri sekali lagi di hadapan bangsa Israel dan menasihati mereka agar bisa hidup benar seturut dengan kehendak Tuhan, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan, dan peraturan-Nya. Dengan demikian maka mereka akan menerima kehidupan, berkat, dan keberuntungan, namun apabila tidak, maka akibat yang diterima adalah kematian dan kecelakaan.

Hidup benar seturut dengan kehendak Tuhan bukan sekadar menjalankan apa yang tertulis saja, tetapi juga perlu melihat pada tataran yang lebih mendalam sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus. Misalnya saja ketika Tuhan Yesus membahas hukum keenam, jangan membunuh. Maka dipastikan setiap orang dapat berkata bahwa ia belum pernah membunuh orang. Tetapi Tuhan Yesus memperlihatkan arti yang lebih dalam dari hukum itu dengan tidak terfokus pada pemahaman harafiah dan lahiriah saja, tetapi pada masalah batiniah yang menjadi akar pembunuhan tersebut, yaitu kemarahan dan dendam. Seseorang dapat “membunuh” orang yang lain dalam hati mereka juga. Tuhan Yesus mengatakan, “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”. Dalam naskah asli kata marah yang disampaikan Tuhan Yesus menggunakan kata orge, yang berarti kemarahan yang tersimpan dan berakar dalam hati. Dalam orge ada kebencian terselubung, ada dendam yang bertumbuh subur. Tuhan Yesus menelisik lebih dalam, mengajak untuk melihat secara jernih mengapa terjadi tindakan pembunuhan. Jawabannya adalah karena adanya kemarahan dalam makna orge. Kemarahan sering dianggap biasa, sebuah kenyataan manusiawi. Benar! Namun kemarahan yang tidak dapat dipadamkan menghasilkan kekerasan bahkan pembunuhan (karakter ataupun fisik). Untuk itu, Yesus menegaskan bahwa seseorang harus mengatasi sebab (kemarahan), bukan berfokus pada akibat (pembunuhan). Cara mengatasi kemarahan adalah dengan mengampuni. Itu sebabnya Yesus memberikan contoh, ketika ada orang mengingat kemarahannya pada orang lain saat beribadah, orang itu diminta untuk meninggalkan ibadahnya dan berdamai terlebih dahulu dengan orang lain itu.

Ketika Tuhan Yesus membahas hukum yang ketujuh, Jangan berzinah. Persoalannya apa yang disebut berzinah? Apakah sekadar terkait dengan hubungan seks secara tidak legal? Kembali Yesus mengajak masuk pada kedalaman untuk melihat secara jernih akar perzinahan. Persoalannya terletak pada kata “menginginkan” yang diterjemahkan dengan “nafsu birahi”. Nafsu birahi bukan hanya sekadar menunjuk pada hubungan seks. Ketika seseorang tidak mampu menahan diri hingga terjatuh pada ketidaksetiaan dan menjadikan orang lain sebagai obyek pemuas hasrat nafsu birahi, maka seseorang sudah melakukan perzinahan. Untuk itu, Yesus mengajarkan untuk berlatih melakukan disiplin diri, yang dimulai dengan menahan diri melalui penguasaan indra.

Demikian juga ketika Tuhan Yesus membahas “Jangan sekali-kali bersumpah dengan dan atas nama apapun”. Di sini Yesus juga mengajak melihat lebih dalam secara jernih mengapa orang harus bersumpah? Karena orang meragukan dirinya atau juga dipaksa bersumpah karena orang ragu pada integritasnya. Bagi Yesus sumpah tidak perlu dilakukan ketika seseorang memiliki integritas, yang dinyatakan lewat ketegasan: ya adalah ya, tidak adalah tidak.

Membiasakan hidup yang benar seturut dengan kehendak Tuhan bukanlah hal yang mudah, itulah yang terjadi dalam kehidupan jemaat di Korintus. Paulus prihatin karena orang Korintus tidak hidup seperti mereka yang dituntun oleh Roh Allah. Meskipun menjadi pengikut Kristus, mereka masih tetap berbantahan dan kembali melakukan hal-hal “duniawi”, yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Paulus kembali mengingatkan tentang status orang percaya di hadapan Allah. Baik dirinya, rasul lain, maupun orang-orang Korintus hanyalah alat Tuhan (kawan sekerja). Tugas utama semuanya adalah memuliakan Allah lewat hidup dan pelayanan, bukan memuliakan diri sendiri. Maka penting bagi pengikut Kristus membuka diri untuk dituntun oleh Roh Allah agar semakin bisa mendalami dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, sehingga berkat Tuhanlah yang akan diterima di dalam kehidupannya.

Penutup
Kita seringkali tidak sadar bahwa dalam hidup kita ada kebiasaan-kebiasaan yang buruk seperti: mudah mendendam, sulit memaafkan kesalahan orang lain, suka membicarakan kejelekan orang lain, dll. Ketika kita sudah lama menghidupi kebiasaan itu, mengakibatkan kita sulit untuk berubah, sebab kita merasa itu tidak salah atau itu kita anggap sebagai hal yang biasa dan manusiawi. Firman Tuhan saat ini mengingatkan kita bahwa hidup benar seturut dengan kehendak Tuhan adalah sesuatu hal yang penting untuk dilakukan, karena disitulah ada kehidupan, berkat, dan keberuntungan. Satu hal yang perlu diingat hidup benar bukan sekadar menjalankan apa yang tertulis saja, tetapi juga perlu melihat pada tataran yang lebih mendalam sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus dan itu bukanlah hal yang mudah. Maka penting bagi setiap kita untuk membuka diri dituntun oleh Roh Allah, agar semakin bisa mendalami dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya, sehingga berkat Tuhanlah yang akan kita terima di dalam kehidupan kita. Mari kita mohon tuntunan Tuhan, agar kita bisa membiasakan hidup yang benar, bukan malah membenarkan yang biasa. Tuhan memberkati. Amin. [YHS].

 

Pujian: KJ. 400 : 1 – 3 Kudaki Jalan Mulia

 

 

Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)

Pambuka
Pakulinan punika tumindak utawi prilaku ingkang dipun lampahi kanthi terus-terusan ngantos dados otomatis. Nindhakaken pakulinan enggal ingkang sae punika dados pepinginanipun tiyang kathah. Awit pakulinan ingkang sae saged ndadosaken manungsa punika gesangipun sae. Nanging, pakulinan enggal punika boten saged cepet/instan. Prosesipun mbetahaken kasabaran lan konsistensi. Ing taun 1960, ahli bedah plastik Maxwell Maltz paring seratan menawi manungsa punika mbetahaken wekdal selami 21 dinten kangge nuwuhaken pakulinan enggal. Punika adhedhasar penelitianipun Maltz babagan tumindak pasienipun ingkang dipun amputasi. Piyambakipun manggihi menawi pasien-pasien ingkang dipun amputasi punika mbetahaken wekdal antawis 21 dinten kangge adaptasi bab kecalan peranganing badanipun. Philippa Lally, peneliti psikologi kesehatan saking University College London, ugi ngawontenaken penelitian kangge mangertosi dangunipun wekdal kangge nuwuhaken pakulinan enggal. Asilipun benten-benten gumantung saking ewedipun pakulinan, paling cepet 18 dinten, paling dangu 254 dinten. Menawi ngersakaken pakulinan enggal ingkang sae, kita perlu nglampahi paling boten 21 dinten. Kosokwangsulipun, menawi kita boten sadar kagungan pakulinan ingkang awon lan asring kita tindakaken ngantos 21 dinten, dangu-dangu tumindak kita punika saged dados pakulinan ingkang ewed dipun bucal.

Isi
Mbiasaaken gesang bener miturut kersanipun Gusti punika babagan ingkang penting dipun lampahi, awit ing ngriku wonten gesang, berkah, lan rejeki. Nalika bangsa Israel wonten ing Moab, ing sisih Wetan bengawan Yarden, tanah Kanaan, tanah prajanjianipun Gusti Allah sampun ketawis. Ing wekdal punika Musa mangertos menawi piyambakipun boten saged lumebet ing tanah prajanjian punika lan badhe kagantos dening Yosua (Pangandharing Toret 31). Mila piyambakipun jumeneng ing ngajengipun bangsa Israel lan atur pitutur supados bangsa Israel gesang sae lan bener miturut kersanipun Gusti Allah, kanthi gesang ing marginipun Gusti. Ing ngriku bangsa Israel bakal nampi gesang, berkah, lan rejeki, nanging menawi boten, wusananipun bakal nampi kacilakan.

Gesang ingkang bener miturut kersanipun Gusti Allah boten namung nglampahi punapa ingkang kaserat, nanging ugi kedah ningali babagan ingkang langkung lebet kadosdene ingkang dados piwucalipun Gusti Yesus. Contonipun, nalika Gusti Yesus ngrembag bab angger-angger nomer enem, aja mateni. Mesthi sedaya tiyang badhe mungel menawi piyambakipun mboten nate mejahi sinten kemawon. Ananging Gusti Yesus nedahaken makna ingkang langkung lebet saking angger-anggering Toret punika. Gusti Yesus boten nengenaken pangertosan harfiah lan lahiriah, ananging wonten ing masalah batin ingkang dados oyodipun pejah, inggih punika nesu lan dendam. Salah satunggaling tiyang saged “mateni” tiyang sanes ing sajroning manahipun. Gusti Yesus dhawuh : ”Sapa waé sing nesu karo seduluré kudu diukum”. Ing teks aslinipun, Gusti Yesus ngginakken tembung nesu punika mawi tembung “orge”, tegesipun nesu ingkang dipun simpen lan ngoyod ing ati. Ing tembung “orge” wonten raos gething ingkang dipun simpen, wonten dendam ingkang tuwuh. Gusti Yesus nliti langkung lebet, ngundang kita supados mangertos sebabipun tiyang mejahi sesaminipun punika kelampahan. Wangsulanipun amarga wonten nesu ing makna “orge”. Nesu asring dipun wastani prilaku ingkang wajar lan manusiawi. Leres! Nanging nesu ingkang mboten saged dipun kendaleni saged nyebabaken kekerasan lan malah mateni (karakter utawa fisik). Pramila saking punika Gusti Yesus nandhesaken bilih manungsa kedah ngatasi sabab (nesu), sanes fokus ing efek (mateni). Salah satunggaling cara kangge ngatasi nesu nggih punika ngapura. Milanipun Gusti Yesus paring tuladha: “nèk ana wong sing ngéling-éling nesu marang wong liya nalika ngibadah, wong kuwi dikon ninggal ibadahé lan rukun dhisik karo wong liya.”

Nalika Gusti Yesus ngrembag angger-angger kapitu, Aja laku jina. Pitakenanipun punapa ingkang dipun wastani jina punika? Punapa namung ingkang wonten hubunganipun klayan seks ingkang boten legal? Gusti Yesus ngajak kita ningali kanthi jelas oyoding laku jina punika. Masalahipun kasebut dumunung wonten ing tembung “pengin” ingkang dipun jarwakake minangka “nafsu”. Napsu mboten namung mratelakaken bab seks. Nalika tiyang boten saged ngendhaleni dirinipun lan dhawah ing tumindak boten setya lan ndadosaken tiyang sanes obyek kangge nyekapi hawa nafsunipun, piyambakipun sampun laku jina. Pramila saking punika, Gusti Yesus paring piwucal supados kita saged nindakaken disiplin diri, ingkang dipun wiwiti kanthi ngendhaleni diri sarana nguwasani indra.

Mekaten ugi, nalika Gusti Yesus ngrembag angger-angger “Aja sumpah, kanthi nami lan nami punapa kemawon”. Ing ngriki Gusti Yesus ngajak kita sami ningali langkung lebet kanthi jelas, kenging punapa kok tiyang kedah sumpah? Awit tiyang punika mangu-mangu marang dirinipun piyambak utawi ugi kapeksa sumpah amargi wonten tiyang ingkang mangu-mangu tumrap integritasipun. Mila Gusti Yesus nedhahaken bilih sumpah punika boten perlu menawi tiyang punika gadah integritas, ingkang kapratelakaken kanthi mantep : yen iya ya iya, yen ora ya ora.

Miwiti gesang ingkang sae lan bener miturut kersanipun Gusti Allah punika sanes prekawis ingkang gampang. Kados ingkang kelampahan ing pasamuwan Korinta. Paulus kuwatos menawi tiyang Korinta mboten gesang kadosdene tiyang ingkang dipun tuntun dening Rohipun Allah. Sinaosa dados pandherekipun Gusti, piyambakipun tetep ngeyel lan wongsal-wangsul nglampahi prekawis-prekawis “kadonyan”, ingkang biasanipun dipun lampahi. Paulus paring pepenget bab statusipun tiyang pitados ing ngarsanipun Gusti Allah. Piyambakipun, para rasul sanesipun, lan tiyang Korinta punika minangka pirantinipun Gusti Allah (rekan sekerja). Tugas ingkang utami kanggene sedayanipun nggih punika ngluhuraken Gusti lumantar gesang lan peladosanipun, mboten namung ngluhuraken dirinipun piyambak. Mila para pandherekipun Gusti kedah mbikak gesangipun supados dipun tuntun dening Rohing Allah. Sarana mekaten para pitados saged langkung lebet anggenipun njelajah lan nglampahi punapa ingkang dados kersanipun Gusti. Karana punika ingkang jalari berkahipun Gusti katampi ing gesangipun.

Panutup
Kita asring boten sadar menawi ing gesang kita wonten pakulinan ingkang awon, kadosdene: gampang dendam, ewet ngapura tumrap kalepataning tiyang sanes, remen rerasan, lan sanesipun. Ewetipun pakulinan punika sampun kelampahan dangu lan ndadosaken kita ewed owah. Kita ngraosaken menawi sedaya ingkang kita lampahi punika boten lepat, biasa kemawon lan manusiawi. Dhawuhipun Gusti dinten punika ngengetaken kita: menawi kita kaparingan gesang, kita kedah nglampahi gesang ingkang bener miturut kersanipun Gusti Allah, awit ing ngriku wonten gesang, berkah, lan rejeki. Kita kedah enget menawi gesang ingkang bener punika boten namung nglampahi punapa ingkang kaserat, nanging kedah ningali babagan ingkang langkung lebet kadosdene punapa ingkang sampun kawucalaken dening Gusti Yesus. Sanajan punika sanes prekawis ingkang gampil, mangga kita nyuwun kakiyatan saha kawicaksanan dhumateng Gusti Allah. Kita purun mbikak manah kita supados katuntun dening Sang Roh Suci, temahan kita saged langkung lebet anggenipun mangertosi kersanipun Gusti. Kanthi mekaten berkahipun Gusti tansah luber wonten ing gesang kita. Sumangga kita nyuwun pitedah dhumateng Gusti supados kita saged nglajengaken gesang ingkang bener lan boten mbeneraken ingkang limrah. Gusti mberkahi kita. Amin. [YHS].

 

Pamuji: KPJ. 289 : 1, 3 Sang Roh Suci Mugi Pareng

Renungan Harian

Renungan Harian Anak