Minggu Biasa
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 58 : 1 – 12
Bacaan 2: 1 Korintus 2 : 1 – 12
Bacaan 3: Matius 5 : 13 – 20
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Memperjuangkan Kebenaran Dalam Keseharian
Tema Khotbah: Pejuang Kebenaran Dalam Keseharian
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 58 : 1 – 12
Teks bacaan kita ini saat ini merupakan bagian ke-3 dari Kitab Yesaya yang berisi peringatan dan janji Allah kepada umat-Nya yang baru, sesudah pembuangan (Yes. 56:1 – 66:24). Secara khusus Yes. 56:1 – 59:21 dimana terdapat bagian bacaan kita isinya:
Ayat 1: Lakukanlah yang benar dan patuhilah hukum-hukum Allah. Hal ini terkait dengan pelanggaran dan dosa umat Israel yang memberontak kepada Tuhan dengan menolak hukum-hukum-Nya, berlaku tidak jujur, tidak adil, dan tidak benar, serta menyembah berhala.
Ayat 2-5 : secara lahiriah umat Israel tetap beribadah kepada Tuhan. Mereka membawa kurban dan persembahan yang ditentukan dan berpuasa pada hari raya – hari raya keagamaan. Namun, semuanya itu tidak berarti apa-apa, jika mereka tidak memperlakukan sesamanya dengan hormat dan adil. Bagi Tuhan, ibadah yang sejati lebih dari sekedar kebaktian dan pujian rohani.
Ayat 6-7: Puasa yang dikehendaki Tuhan adalah memperlakukan sesama dengan adil dan jujur.
Ayat 8: Yesaya mengingatkan umat pada terang, terang yang seringkali melambangkan Allah atau Firman Allah/ hukum (Yes. 60:1, 19-20). Yesaya juga mengingatkan umat pada perlindungan Tuhan yang melindungi umat Israel ketika keluar dari tanah Mesir. Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya.
Ayat 9-12: Pada saat umat Israel berada dalam kesesakan, mereka akan berseru dan memanggil TUHAN, dan Tuhan akan menjawab seruan dan permohonan mereka. Tuhan berjanji kepada umat Israel, jika mereka berbuat benar dan berlaku adil kepada sesama mereka, tidak menfitnah sesamanya, maka Tuhan akan selalu menuntun dan memberikan kekuatan kepada mereka.
Mereka akan hidup dengan “terang” kebenaran dan keadilan Allah. Dengan demikian, lenyaplah tempat-tempat yang penuh kejahatan dan ketidakadilan. Dan umat Tuhan akan menerima berkat-berkat Tuhan dalam hidup mereka.
1 Korintus 2 : 1 – 12
Korintus adalah sebuah kota kuno di Yunani, yang merupakan kota metropolitan terkemuka pada zaman Paulus. Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, tetapi bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini, karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Surat ini ditulis oleh Paulus untuk menguatkan iman percaya jemaat Korintus yang pada waktu itu mengalami kemunduran karena perilaku hidup mereka yang tidak benar dan tidak berpegang kepada Kristus dengan sungguh-sungguh. (6:9-10; 10:5-12, 20-21).
Secara garis besar surat 1 Korintus menjelaskan pokok penyebab adanya perpecahan di Korintus (1:18-4:5). Di antaranya karena adanya pandangan yang salah mengenai hikmat (1:18-3:4). Amsal 2:6-13 menyebutkan: hikmat yang benar berasal dari Allah, hikmat yang didasarkan pada hukum Taurat yang Allah berikan kepada Musa dan umat-Nya di Sinai. Yesus adalah kunci kepada misteri Allah dan di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. (Kol. 2:3).
Pada ayat 9 Paulus mengutip Yesaya 64:4, Yesaya melihat bahwa Allah akan memperbaharui umat-Nya dengan cara yang tidak pernah terpikirkan oleh seorang pun. Ayat 10: Roh Allah mengajar dan menuntun umat Allah agar dapat memberitakan Injil dan menjadi umat yang sejati. Ayat 12: Roh Allah menyingkapkan kebenaran, tetapi bukan kebenaran seperti yang dipahami atau diyakini oleh manusia di dunia. (Yoh. 14:15-17; Kis. 2:1-12; Gal. 5:22-25).
Matius 5 : 13 – 20
Injil Matius ditulis untuk orang percaya Yahudi. Latar belakang Yahudi dari Injil Matius ini nampak a.l: dalam penggunaan istilah yang khas Yahudi, seperti Kerajaan Surga yang searti dengan Kerajaan Allah, sebagai ungkapan rasa hormat orang Yahudi, sehingga enggan menyebut nama Allah. Secara langsung, menunjuk kepada beberapa kebiasaan Yahudi tanpa memberikan penjelasan apapun, berbeda dengan Injil-Injil yang lain. Sekalipun demikian Injil ini tidak semata-mata untuk orang Yahudi, seperti amanat Yesus sendiri, Injil Matius pada hakekatnya ditujukan kepada semua orang percaya, serta dengan saksama menyatakan lingkup universal Injil. (2:1-12; 8:11-12; 13:38; 21:43; 28:18-20).
Pasal 5-25 mencatat ajaran yang disampaikan oleh Yesus dan kisah mengenai perbuatan-Nya yang besar sebagai Mesias. Ajaran utama itu a.l: khotbah di Bukit, mengenai standar-standar kebenaran dalam Kerajaan Allah yang berisi penyataan dari prinsip kebenaran Allah, dengan mana semua orang Kristen harus hidup oleh iman kepada Allah dan oleh kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam diri mereka. Semua orang yang menjadi anggota keluarga Allah harus lapar dan haus akan kebenaran yang diajarkan dalam khotbah Kristus.
Ayat 13 : garam digunakan untuk memberi cita rasa pada makanan dan mengawetkannya agar tidak cepat busuk. Yesus mengajar para pengikut-Nya agar senantiasa membantu orang lain. Orang percaya dan gereja harus menjadi teladan yang saleh di dalam dunia dan harus melawan kebobrokan moral dan kecurangan yang nyata dalam masyarakat.
Ayat 14-15 : pada masa itu orang menggunakan pelita kecil dari tanah liat yang diisi minyak Zaitun. Dalam PL, firman Allah diibaratkan dengan pelita dan terang (Maz. 119:105; Yoh. 8:12; 9:5).
Benang Merah Tiga Bacaan
Ibadah sejati harus dilakukan berdasarkan hikmat Allah dan prinsip-prinsip kebenaran Allah yang hidup oleh iman dan kuasa Roh Kudus. Ibadah sejati akan melahirkan pejuang-pejuang kebenaran yang haus dan lapar akan kebenaran serta gigih berjuang memperjuangkan kebenaran dalam hidup sehari-hari.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Tema khotbah kita kali ini: “Pejuang Kebenaran dalam Keseharian”. Secara etimologis, menurut KBBI: berjuang artinya memperebutkan sesuatu dengan mengadu tenaga. Memperjuangkan artinya berjuang untuk merebut sesuatu. Perjuangan artinya usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya dalam interaksi sosial. Pejuang artinya orang yang berjuang untuk merebut sesuatu. Sehingga pejuang kebenaran dalam keseharian dapat diartikan orang yang memperebutkan kebenaran dengan mengadu segala daya yang penuh kesukaran dan bahaya dalam interaksi sosial di dalam hidup sehari-hari.
Kebenaran merupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidup kita sehari-hari, karena dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Orang yang melakukan kebenaran, maka dia akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman untuk selama-lamanya. Tentunya kita semua merindukan terwujudnya dan berlakunya kebenaran dalam hidup kita, tetapi pada kenyataan kita tidak mudah untuk mewujudkannya. Untuk itulah kita harus menjadi pejuang-pejuang kebenaran yang berjuang dan memperjuangkan kebenaran bersama dengan segala resikonya. Pertanyaannya, “Apa yang harus kita lakukan sebagai pejuang-pejuang kebenaran dalam hidup sehari-hari?”
Isi
Kita adalah orang-orang yang telah dikuduskan dan dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah. Oleh kasih karunia-Nya, kita telah dibenarkan dengan cuma-cuma, karena penebusan Yesus Kristus, dan oleh darah-Nya kita pasti diselamatkan dari murka Allah dan dimuliakan. Oleh karena itu, kita yang telah menerima pembenaran dan kebenaran dalam Yesus Kristus dapat mewujudkan rasa syukur kita dengan menjadi pejuang-pejuang kebenaran yang memperjuangkan kebenaran dalam hidup sehari-hari. Hal tersebut dapat kita lakukan dengan cara:
- Melakukan Ibadah yang Sejati
Ibadah yang sejati lebih dari sekedar kebaktian dan pujian rohani. Ibadah sejati bukan sekedar ritual dan formalitas saja, beribadah tetapi tidak menjalankan ajaran-Nya. Ibadah sejati terwujud dalam tindakan nyata dalam hal memperlakukan sesama dengan hormat dan adil. Ibadah sejati berarti tidak munafik: lain di bibir lain di hati, kelihatannya beribadah secara lahiriah, tetapi memungkiri kekuatan-Nya. Beribadah dan berpuasa, tetapi hatinya jauh dari Allah. Ibadah hanya menghafalkan perintah manusia.Ibadah sejati tidak mencari pujian yang sia-sia. Ibadah sejati disertai kerelaan untuk sujud dan sungkur, dengan segenap hati, dengan tulus ikhlas, dengan rasa takut akan Tuhan, dengan sukacita/tidak terpaksa. Ibadah sejati merupakan wujud persembahan yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Ibadah sejati merupakan tanggungjawab serta panggilan pelayanan orang beriman yang dilakukan dalam roh dan kebenaran, dalam bentuk melayani orang yang berkeluh kesah, orang yang susah dan lemah, dengan penuh kasih menolong orang yang terbeban. Untuk itu, kita perlu melatih diri untuk melakukan ibadah yang sejati.
- Hidup dalam Hikmat dan Kebenaran Allah
Hikmat yang benar adalah hikmat yang berasal dari Allah dan berfaedah bagi kita. Hikmat adalah pemberian Allah dan dapat kita temukan dalam Kitab Suci. Tuhan Yesus sendiri adalah kunci kepada misteri Allah, di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan. Hikmat lebih berharga daripada permata dan keperkasaan. Oleh karena itu, mari kita memohon hikmat dan pengertian kepada Allah, dengan segala kerendahan hati dan lemah lembut, karena hikmat ada pada orang yang rendah hati dan lemah lembut. Di samping itu memperoleh hikmat jauh melebihi memperoleh emas dan hikmat merupakan kekayaan yang menyelamatkan.Tuhan Yesus Kristus adalah Sang Firman yang menjadi manusia penuh dengan kebenaran. Dia Sang Kebenaran itu sendiri. Kebenaran Allah memerdekakan bahkan melepaskan manusia dari maut. Karena itu, mari kita mengejar dan berpegang teguh pada kebenaran dalam kasih, sehingga kita layak disebut orang benar yang dikasihi dan diberkati-Nya. Orang percaya yang hidup dalam kebenaran, ia akan memperoleh hidup. Tuhan sungguh berkenan kepada kita yang berbuat benar dalam laku hidup kita, yang senantiasa mewartakan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Maka kita diajak untuk melatih diri kita senantiasa hidup dalam hikmat dan kebenaran Allah!
- Hidup yang Berfungsi dan Berperan sebagai Garam dan Terang Dunia
Sama seperti garam membuat makanan menjadi enak dan menghindarkan daging dan ikan dari pembusukan (mengawetkan), begitu juga peranan kita sebagai umat percaya di dunia ini. Kita sebagai pengikut Kristus harus menjadi garam dunia dengan jalan: hidup benar, mengasihi sesama, menjaga kesucian hati kita, berpengharapan kepada Tuhan, melawan kebobrokan moral dan kecurangan yang nyata dalam masyarakat.Gereja/orang Kristen yang menjadi suam, yang memadamkan kuasa Roh Kudus, tidak lagi menjadi orang Kristen yang sungguh dan tidak lagi menyuarakan kebenaran akan menjadi garam yang tawar. Akibatnya ia akan “dibuang dan diinjak orang”, orang percaya yang suam beserta keluargnya akan dihancurkan oleh cara hidup dan nilai-nilai masyarakat yang tidak beriman. Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk menyinarkan terang Kristus. Seorang Kristen yang hidup benar seturut kehendak Allah akan memberi kesan kepada orang yang disekelilingnya, seperti kota di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi. Sebaliknya kalau kita menyembunyikan kekristenan kita dan ketaatan kita pada Tuhan, maka kita akan seperti pelita yang dibawah gantang. Ayat 16 mengajak kita supaya terang kita bercahaya di depan semua orang. Dengan demikian orang lain akan melihat perbuatan-perbuatan baik dan benar yang kita lakukan. Bagi Yesus, penting bagi kita melakukan perbuatan-perbuatan benar dalam kehidupan sehari-hari. Dunia akan melihat dan menjadi heran atas perbuatan-perbuatan baik dan benar yang kita lakukan. Dan orang lain akan ikut memuliakan Tuhan karena perbuatan baik dan benar yang kita perbuat. Itu juga yang memberi kekuatan kepada kita untuk terus berbuat baik dan benar seturut kehendak Allah.
Penutup
Selaku pejuang-pejuang kebenaran yang haus dan lapar akan kebenaran, apa saja yang kita lakukan harus berdasar atas hikmat Allah dan prinsip-prinsip kebenaran Allah yang dihidupi oleh Iman dan kuasa Roh Kudus. Ingatlah kebenaran yang dikehendaki oleh Yesus lebih dari kebenaran orang Farisi dan Ahli Taurat, dimana mereka menaati banyak peraturan, berdoa, memuji Tuhan, berpuasa, membaca Firman Tuhan, dan menghadiri kebaktian, akan tetapi semuanya itu hanya lahiriah. Tuhan Yesus menghendaki agar hati dan roh kita selaras dengan kehendak-Nya dalam iman dan kasih, bukan sekedar tindakan lahiriah. Selamat berjuang. Jadilah pejuang-pejuang kebenaran yang handal, tangguh, dan setia. Amin. [SS].
Pujian: KJ. 260 : 1, 3 Dalam Dunia Penuh Kerusuhan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Khotbah kita dinten punika kanthi sesirah: “Pejuang Kebenaran dalam Keseharian”. Miturut Kamus Ageng Basa Indonesia, berjuang tegesipun ngrebat salah satunggaling prekawis kanthi ngetokaken tenaga. Memperjuangkan artosipun berjuang kangge ngrebat salah satunggaling prekawis. Perjuangan artosipun usaha ingkang kebak pakewed lan bebaya ing salebeting sesambetan secara sosial. Pejuang tegesipun tiyang ingkang berjuang kangge ngrebat salah satunggaling prekawis. Pejuang kebenaran dalam keseharian artosipun tiyang ingkang ngrebat kaleresan kinantenan ngetokaken sedaya daya kanthi kebak pakewed lan bebaya ing salebeting sesambetan secara sosial ing pigesangan sadinten-dinten.
Kaleresan mujudaken prekawis ingkang penting ing salebeting gesang padintenan, karana ing pundi wonten kaleresan ing ngriku badhe wonten tentrem rahayu, kamangka wahananipun keleresan punika kaayeman lan katentreman ing salami-laminipun. Tamtunipun kita sedaya sami kepengin supados kaleresan punika kababar lan kalampahan wonten ing pigesangan kita sadinten-dinten, ananging kasunyatan nedahaken saiba ewetipun babaraken kaleresan punika. Awit saking punika kita kedah dados para pejuang keleresan ingkang sesarengan berjuang lan memperjuangaken kababaripun kaleresan kanthi sedya resikonipun. Pitakenipun, “Punapa ingkang kedah kita tindakaken minangka pejuang-pejuang keleresan ing gesang padintenan?”
Isi
Kita para tiyang ingkang sampun masrahaken badan kita, supados karesikan lan kasucekaken, sampun kaleresaken amargi dening Asmanipun Gusti Yesus Kristus lan amargi dening Rohipun Allah. Awit saking Sih Rahmatipun Gusti, kita sampun kaleresaken lumantar panebusipun Sang Kristus Yesus. Sarana Rahipun kita mesthi kawilujengaken saking bebendunipun Allah lan kamulyakaken. Karana kita sampun kaleresaken amargi sih rahmatipun Gusti Yesus Kristus, sumangga kita mujudken raos sukur kita kanthi apengawak dados pejuang-pejuang keleresan ing gesang padintenan, srana :
- Nindakaken Pangabekti Ingkang Sejatos
Pangabekti ingkang sejatos boten namung awujud kebaktian lan pujian rohani, boten namung ritual kemawon, sanes formalitas (ngibadah ananging boten nindakaken ajaranipun Gusti). Pangabekti ingkang sejatos kedah kebabar ing pandamel ingkang nyata ing salebeting nggatosaken sesami kanthi urmat lan adil. Pangabekti ingkang sejatos punika boten munafik (lain di bibir lain di hati, katawisipun ngibadah/ibadah sacara lahir, supados dipun nggunggung dening manungsa, ananging nyelaki kekiyatanipun), ngibadah lan pasa, ananging sejatosipun manahipun tebih saking Gusti Allah. Ibadah ingkang namung ngapalaken prentahipun manungsa.Ibadah ingkang sejatos kedah dipun kantheni rilaning manah kangge sujud lan sungkur, kanthi gumolonging manah, kanthi tulus ikhlas, kanthi raos ajrih asih dhateng Gusti, kanthi suka bingah/boten kapeksa. Ibadah ingkang sejatos mujudaken kurban ingkang suci lan dadosaken keparengipun Gusti Allah, minangka tanggeljawab sarta timbalan peladosan tumraping kita para tiyang pitados ingkang katindakaken ing salebeting roh lan kaleresan, ing salebeting ngladosi tiyang ingkang sisah lan tanpa daya, tiyang ingkang kesrakat lan sesambat, kanthi kebak ketresnan mitulungi tiyang ingkang kamomotan. Tansah nggenggulanga ing pangibadah.
- Gesang Ing Salebeting Kawicaksanan lan Kaleresanipun Allah
Pinangkanipun lan paedahipun kawicaksanan ing leres inggih punika kawicaksanan ingkang kadasaraken wonten ing angger-anggeripun Gusti. Kawicaksanan peparingipun Gusti Allah lan saking Kitab Suci. Wonten ing Gusti Yesus sumimpen sedaya kekeranipun Gusti Allah, karana wonten ing Panjenenganipun sumimpen rajabrana kawicaksanan lan kawruh. Kawicaksanan ingkang mekaten punika langkung aji katimbang raja peni lan kasantosan. Kadosdene Salomo, sumangga kita sami nyuwun kawicaksanan lan kawasisan saking Allah, kanthi andap asor lan lembahing manah, karana kawicaksanan punika dumunung wonten ing tiyang ingkang andap asor lan lembah manah. Anjawi saking punika pikantuk kawicaksanan punika saestu nglangkungi angsal emas lan kawicaksanan lan kawruh mujudaken kasugihan ingkang milujengaken.Gusti Allah ingkang nuwuhaken keleresan. Gusti Yesus Sang Sabda ingkang manjalma dados manungsa kapenuhan ing sih rahmat lan kayekten, malah Panjenenganipun piyambak punika Jatining Kayekten. Inggih kayekten/ kaleresanipun Gusti Allah punika ingkang badhe merdekakaken lan nguwalaken kita saking pejah. Pramila saking punika sumangga kita sami budidaya lan nggondeli kaleresan ingkang sejatos ing salebeting katresnan. Satemah kita pantes sinebat tiyang ingkang leres lan kinasihan dening Gusti Allah, binerkahan lan pikantuk gesang. Pancen saestu, Gusti Allah punika karenan dhateng kaleresan, kanthi kendel kendelan Gusti Allah kersa paring sumerep bab kawicaksanan dhumatang kita. Mangga tansah gesang ing sajroning kawicaksanan lan kayekten.
- Gesang Apengawak dados Sarem lan Pepadanging Jagad
Kadosdene sarem dadosaken tetedhan dados sedep lan eca, tuwin ngawetaken, inggih mekaten ugi kedahipun kawontenaning gesang kita para tiyang pitados ing jagad punika. Kita para kagunganipun Gusti dados sareming jagad kanthi dados tuladha ing babagan: gesang ing kayekten/keleresan, lumantar katresnan ingkang kita tindakaken dateng sesami, gesang suci, gesang ing pangajeng-ajeng namung dhateng Gusti, lan tansah nglawan dhateng sedaya karisakaning moral lan tumindak culika ingkang nyata ing satengahing masyarakat.Greja/tiyang Kristen ingkang dados manget-menget (ora adem ora panas), ingkang mejahi pangwasanipun Roh Suci, boten dados tiyang Kristen ingkang estu-estu, lan boten nglawan dateng kawontenan ingkang kebak kalepatan ingkang samangke nglimputi jagad punika, kados sarem ingkang ical asinipun. Pepuntonipun, badhe “kabucal lan keidak-idak dening tiyang”, inggih punika tiyang pitados ingkang manget-manget dalasan kulawarganipun badhe kasirnakaken dening patraping gesang tiyang ingkang boten pitados. Tiyang Kristen kepareng nyunaraken cahya saking Gusti Yesus, Sang Padhang ingkang Ageng lan Sejatos. Tiyang Kristen ingkang gesang “ngrisiteni”, tamtu kanthi “otomatis” bekta pengaruh ingkang sae dhateng tiyang-tiyang sakiwa tengenipun. Warga Kratonipun Allah (kita), kadosdene kitha ingkang mapan wonten ing sangginggilipun redi, ingkang boten saged kaling kalingan. Anjawi menawi kita delikaken kekristenan kita lan kasetyan kita dhateng Gusti, kita badhe kadosdene diyan ing sangandaping tompo. Ing ayat 16 kita ketimbalan supados nyunaraken padhang kita dhateng tiyang, supados tiyang sami ninggali tindak tanduk kita ingkang sae lan leres ingkang kita tindakaken. Menggahing Gusti Yesus, saiba pentingipun tindak tanduk kita sadinten-dinten. Jagad badhe nggungun/eram menggahing tindak tanduk kita ingkang sae lan leres ingkang kita tindakaken, temahan ngluhuraken asmanipun Gusti, ingkang maringi kekiyatan dhateng kita tumindak mekaten.
Panutup
Minangka pejuang-pejuang kayekten/kaleresan, ingkang tansah ngorong lan keluwen dateng kayekten/kaleresan, punapa kemawon ingkang kita tindakaken kanthi tembung utawi pandamel ing salebeting memperjuangkan kayekten/kelaeresan kedah kita tindakaken ing dalem Asmanipun Gusti Yesus, adedasar kawicaksanan lan “prinsip-prinsip” kelaresanipun Allah ingkang tansah “dihidupi” dening iman lan pangwasanipun Roh Suci. Engeta, bilih kaleresan ingkang dipun kersakaken dening Gusti Yesus, kaleresan ingkang nglangkungi kaleresanipun tiyang Farisi lan Ahli Toret, ing pundi tiyang-tiyang punika kanthi setya nindakaken pranatan ingkang kathah sanget, dedonga, memuji Gusti, pasa, maos Kitab Suci, taberi ngabekti, ananging sedaya punika namung tata lahir, manahipun nebihi Gusti. Gusti Yesus ngersakaken, manah lan roh kita kedah cunduk kaliyan kersanipun Gusti ing salebeing iman lan katresnan, boten namung ing lathi utawi tata lahir kemawon. Sugeng menjuang dados para pejuang kaleresan ingkang handal, tanggon lan setya ing gesang padintenan. Amin. [SS].
Pamuji: KPJ. 338 : 3 Greja Prasasat Baita