Minggu Biasa | Bulan Penciptaan
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 9 : 1 – 4
Bacaan 2: 1 Korintus 1 : 10 – 17
Bacaan 3: Matius 4 : 12 – 22
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Mewujudkan Keadilan Ciptaan
Tema Khotbah: Berlakulah Adil Terhadap Sesama Ciptaan!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 9 : 1 – 4
Yesaya 9 : 1 ini dimulai dengan suatu perbandingan yang kontras, yaitu bangsa yang berjalan di dalam kegelapan – melihat terang besar; mereka yang diam dalam negeri kekelaman – atasnya telah bersinar. Ini menjelaskan betapa pentingnya kehadiran Sang Raja Damai. Pada ayat 2 disebutkan mereka bersukacita, “banyak sorak, sukacita besar.” Kesukacitaan ini digambarkan terjadi pada waktu mereka panen dan pada waktu mereka membagi jarahan. Bukan hanya karena hasil panen yang melimpah dan kemenangan atas musuh, melainkan ada nilai penghormatan kepada Tuhan. Karena itu, hasil panen dan jarahan terbaik selalu diberikan kepada Tuhan, sebab umat menyadari penyertaan Tuhan dalam hidup mereka.
Raja Damai telah datang juga menjadi alasan mengapa mereka bersukacita, karena mereka dibebaskan dari kuk. (Ay. 3). Yesaya menggunakan istilah Kuk untuk menggambarkan betapa beratnya tekanan yang dialami oleh umat Israel. Secara harafiah kuk adalah kerangka kayu untuk menghubungkan dua ekor binatang (biasanya lembu jantan) untuk membajak. Secara metaforis, digunakan untuk melukiskan takluknya seseorang kepada orang lain. Disinilah Allah menjanjikan pembebasan, Ia akan membebaskan umat-Nya Israel dari kuk penindasan bangsa Asyur (bnd. Yes. 10:24-26).
Kedatangan Raja Damai juga untuk membebaskan umat dari ikatan dosa dan menjadikan umat Allah hidup damai. Setelah dibebaskan dari cengkaraman musuh (Ay. 4), Yesaya melukiskan kedatangan Raja Damai, membawa kelepasan secara total. Bukan hanya dilepaskan dari kuk saja, atau hal-hal yang menghambat seseorang untuk merdeka dan menikmati kebebasan serta sukacita di dalam Tuhan, melainkan menyapu bersih semua musuh yang disebut kelepasan total. Tidak akan ada lagi musuh, segala alat perang dibakar habis, tidak ada lagi sepatu tentara berderap-derap untuk maju perang, serta jubah-jubah perang yang berlumuran darah. Hal ini tentunya menghibur umat serta memberi kekuatan kepada umat bahwa tidak ada lawan yang bertahan, ketika Allah menjadi pembela. Sang Raja Damai yang dijanjikan itu akan datang, Ia akan melepaskan setiap beban umat-Nya dan memberi jaminan keamanan penuh ketika berada di dalam-Nya.
1 Korintus 1 : 10 – 17
Ayat 5 menyebutkan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya dalam segala hal, baik dalam perkataan maupun pengetahuan. Di ayat 7 dikatakan, “Demikianlah kamu tidak kekurangan satu karunia pun…” Untuk itulah Rasul Paulus mengucap syukur akan semua hal ini. (Ay. 4). Sayangnya, dalam segala kelebihan yang dimiliki oleh jemaat Korintus itu, ada borok yang menyebar dan membahayakan kesatuan tubuh Kristus, yakni perpecahan. Pada ayat 10, rasul Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Korintus dengan memakai frasa kata: seia sekata, jangan ada perpecahan, erat bersatu, sehati sepikir. Ia menghendaki supaya jemaat Korintus dapat bersatu dan tidak terpecah, agar jemaat Korintus seia sekata dan sehati sepikir. Nasihat ini disampaikan Paulus dengan sungguh – sungguh, ia meminta jemaat Korintus seia sekata, bukan sekedar untuk menghormatinya saja, melainkan karena Kristus. Jemaat Korintus senantiasa seia sekata dalam pemberitaan dan pengajaran Injil Kristus yang murni, yang tidak terkontaminasi oleh hikmat manusia (1 Kor. 2:1-5).
Selanjutnya, Paulus menggunakan frasa kata “sehati sepikir”. Kata sehati sepikir ini dimaksudkan agar jemaat Korintus memiliki kesatuan dalam pola pikir mereka bahwa karunia-karunia yang berbeda harus digunakan untuk membangun dan saling melengkapi sebagai anggota tubuh Kristus. Bukan hanya perbedaan karunia saja yangmengancam kesatuan tubuh Kristus di Korintus, tetapi juga ada perselisihan tajam di antara kelompok-kelompok yang ada di Korintus. Hal ini dilaporkan oleh anggota keluarga Kloe, yang dikenal oleh jemaat Korintus. Berdasarkan laporan tersebut, tampaknya perselisihan antar kelompok itu sudah tidak wajar lagi. Pemicu utamanya: tidak adanya lagi sikap “seia sekata” dan sikap “sehati sepikir.” Akibatnya terjadi perselisihan di dalam hal pengajaran (psl. 1-4), percabulan (psl. 5-6), masalah pernikahan (psl. 7), perdebatan tentang makan persembahan berhala (psl. 8), penyimpangan dalam Perjamuan Kasih dan Perjamuan Kudus (psl. 11), kekurangan kasih (psl. 13), ketidaktertiban dalam ibadah (psl. 14), bahkan keraguan akan kebangkitan Kristus (psl. 15).
Pada bagian pembuka yang sederhana ini, Paulus meneropong panorama surat 1 Korintus secara utuh untuk menunjukkan bahwa jemaat ini sedang dalam masa kritis dan harus segera diobati. Karena itu, dengan yakin Paulus menasihatkan agar setiap orang percaya senantiasa seia sekata dan sehati sepikir, dengan demikian kesatuan tubuh Kristus pasti terpelihara.
Matius 4 : 12 – 22
Injil Matius merupakan salah satu Injil di antara empat Injil, yang disusun dalam urutan Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Bersama-sama Injil Markus dan Lukas, Injil Matius ini disebut sebagai Injil Sinoptis. Injil Matius berisikan “Kabar Baik” bahwa Yesus adalah Raja Penyelamat yang dijanjikan oleh Tuhan Allah. Yesus Kristus akan memulihkan kondisi bumi dan kehidupan umat manusia. Hal inilah yang kemudian menjadi kesaksian bagi semua bangsa. Melalui Yesuslah, Allah menepati apa yang dijanjikan-Nya kepada umat seperti tertulis dalam kitab-kitab di Perjanjian Lama. Sekalipun Yesus lahir dari orang Yahudi dan hidup sebagai orang Yahudi, namun Kabar Baik itu bukan hanya untuk orang Yahudi saja, melainkan untuk seluruh dunia.
Matius menyebutkan wilayah pelayanan Yesus meliputi empat wilayah geografis: Galilea (4:12), daerah seberang Sungai Yordan (19:1), Yudea (19:1) dan Yerusalem (21:1). Bersama dengan Injil Sinoptis lainnya, Matius menyebutkan awal dari pelayanan Yesus dimulai dari Galilea (4:12).
Matius 4:18-20 menyebutkan nama tempat dan nama orang : Danau Galilea, Simon, Andreas, Ikutlah Aku, yang menjadi perhatian pada perikop saat ini. Pertama, kata Danau Galilea. Danau Galilea adalah sebuah danau di Lembah Yordan, 680 kaki di bawah permukaan laut, lebar 7 mil dan panjang 14 mil, berlimpah ikan. Kedua, kata Simon dan Andreas. Simon sedang menebarkan jala bersama saudaranya Andreas pada saat Tuhan Yesus memanggil mereka. Ketiga, kata Ikutlah Aku. Kata ini adalah sebuah undangan Tuhan Yesus kepada Simon dan Andreas untuk mengikuti Dia. Kata “Ikutlah Aku” memanggil orang-orang percaya ini untuk terus bersama Yesus. Pemanggilan Yesus ini kemudian direspon baik oleh Simon dan Andreas yang segera menghela jalanya, lalu pergi mengikut Yesus.
Sedangkan Matius 4:21-22 menyebutkan kata Yakobus dan Yohanes. Yakobus dan Yohanes, pasangan saudara yang lain, merupakan rekan dari Simon dan Andreas (Luk. 5:10). Mereka juga dipanggil Yesus pada saat membereskan jala mereka. Sangat mungkin orang-orang saat itu sedang menebarkan dan membereskan jala, ketika Yesus pertama kali menghampiri mereka. Yesus memakai perahu Simon, membuat mukjizat penangkapan ikan dalam jumlah besar, lalu memanggil Simon dan Andreas untuk mengikut Dia. Ketika kembali ke pantai, Yohanes dan Yakobus mulai membetulkan jala yang terkoyak, dan pada saat itulah Yesus juga memanggil mereka untuk mengikut Dia.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Kehidupan alam semesta tidak bisa lepas dari peran kehidupan manusia. Pengaruh inilah yang menjadikan manusia sadar diri bahwa perannya berdampak bagi alam semesta. Dalam menata dan memelihara alam semesta dibutuhkan hati nurani yang baik.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silakan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Seorang Bapak mengatakan kepada anaknya saat belajar bertani, katanya, “Nak… kalau hatimu tidak enak dan tidak tenang apalagi sedang marah, kamu jangan pergi ke sawah, sekalipun hanya melihat-lihat saja, apalagi menanam padi.” Saat itu si anak tidak mengetahui mengapa bapaknya berkata demikian? Si bapak juga tidak pernah menjelaskan lebih lanjut. Anak itu hanya diam saja, menurut, dan penuh tanda tanya. Setelah sekian lama pertanyaan itu terpendam, akhirnya anak itu tahu alasan mengapa bapaknya berkata demikian. Saat seseorang tidak enak dan tidak tenang, apalagi sedang marah, dia akan mengeluarkan CO2 yang terbawa dalam hatinya yang dipenuhi amarah. CO2 itulah yang akan masuk ke dalam tanaman dan itulah yang mempengaruhi perkembangan tanaman tersebut.
Isi
Hubungan antara manusia dengan ciptaan yang lain dalam kehidupan alam semesta, terjadi sejak awal penciptaan. Dari hubungan ini, sejak awal penciptaan, alam semesta diciptakan Tuhan dalam keadaan baik dan teratur. Setelah itu, barulah Tuhan menciptakan manusia. Kehadiran manusia bisa jadi melengkapi kehidupan alam semesta. Manusia oleh Tuhan diberi mandat untuk menjaga keteraturan kehidupan alam semesta. Jika hal ini menjadi penekanan bagi kita, maka munculah pertanyaan penting, “Bagaimana kita yang diberi mandat menjaga keteraturan alam semesta ini bisa melaksanakan tugas ini dengan baik dan bertanggungjawab?” Ini renungan awal kita. Dengan kata lain, “Sudahkah mandat ini terus menjadi semangat bagi kita dalam melanjutkan karya Tuhan Allah di dunia?”
Jika kita renungkan lebih dalam, terdapat kekontrasan dalam kitab Yesaya (bacaan pertama): “kegelapan yang ingin melihat terang” dan “sebutan hasil panen dengan hasil jarahan.” Ini menunjukkan bahwa kehidupan kita sedang tidak baik-baik saja. Ada hal yang tidak beres dengan penugasan Tuhan terhadap perwujudannya. Ketidak-beresan itu menjadi ancaman satu dengan yang lain untuk saling merebut dan menguasai. Harapannya ada kekuatan lain yang bisa mengharmoniskan kembali. Kekuatan lain itu adalah kehadiran Sang Raja Damai. Hal ini menyadarkan kita akan keterbatasan diri kita. Sekalipun kita disebut sebagai makhluk yang lebih sempurna dibanding dengan ciptaan yang lainnya, namun di tengah kesempurnaan kita itu, terdapat keterbatasan dan kelemahan kita. Manusia cenderung lebih menyukai hidup yang memuaskan keinginan sendiri dan golongannya sendiri, seperti yang dialami jemaat Korintus. Di Korintus terdapat golongan yang menyebut diri mereka sebagai golongan Paulus, Apolos, Kefas dan Kristus. Dalam perikop kita nampak bahwa mandat kita sebagai manusia untuk menjaga keteraturan alam semesta sedang tidak baik-baik saja. Bahkan kita berani melegitimasi institusi/lembaga, demi memuaskan keinginan dan keserakahan kita.
Kesembronoan mewujudkan mandat Tuhan Allah menjaga keteraturan alam semesta, berakibat hilangnya keharmonisan dan rusaknya kehidupan. Sesama ciptaan menunjukkan kekuatannya masing-masing, akibatnya terjadi perselisihan, perpecahan, ketidakpercayaan yang nampak saat kita melihat bencana alam. Bencana alam terjadi karena hilangnya kantong-kantong air, penataan lingkungan tempat tinggal yang tidak memikirkan tata lingkungan yang ramah dengan keharmonisan alam. Itu semua terjadi karena keegoisan atau keserakahan manusia. Apa benar dengan tidak merusak keharmonisan alam semesta itu, kebutuhan hidup kita tidak terpenuhi? Terus kita menjadi tidak punya makanan, jadi gizi buruk!
Pemanggilan Tuhan Yesus kepada Simon, Andreas, Yohanes, dan Yakobus adalah sebuah pemanggilan yang mengajak mereka untuk memulai dari hal yang kecil, untuk kemudian diajak terlibat dalam perkara yang besar, yaitu mewujudkan Kerajaan Sorga. Mereka yang terbiasa menjala ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Merekapun dengan kesadaran penuh meninggalkan jalanya dan mengikut Tuhan Yesus (Mat. 6:20, 22). Merubah pola pikir dari penjala ikan menjadi penjala manusia adalah merubah orientasi hidup dari keuntungan yang bersifat material menjadi keuntungan sistem kehidupan. Contoh: ada perabot rumah mewah, mobil mewah yang kita miliki, lalu terkena banjir, maka semua perabot itu tidak bisa kita nikmati lagi, malah membuat beban pikiran kita semua. Perubahan inilah yang hendaknya menjadi bagian yang perlu kita jalani: meninggalkan pola pikir menjala ikan (mencari keuntungan material) menjadi penjala manusia (mencari keuntungan sistem kehidupan), agar tatanan keharmonisan dapat pulih kembali, seperti Tuhan Allah ciptakan sejak semula.
Penutup
Saat ini kita berada di bulan Penciptaan, mari kita berjuang membangun sistem kehidupan yang harmonis. Kita mengingat bahwa Tuhan menciptakan kita manusia sebagai penjaga keharmonisan alam semesta. Sebagai penjaga keharmosian alam semesta, mari kita gunakan akal budi, jiwa, dan perasaan kita untuk merasakan kehadiran Sang Raja Damai. Dialah yang memimpin kita agar setiap perbuatan kita senantiasa berkenan kepada-Nya. Bagaikan seorang anak yang belajar bertani dengan pengendalian diri, tidak marah saat memelihara tanamannya, maka kita tidak serta merta serakah, kita tidak merusak sistem kehidupan demi memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Mari kita memohon agar panggilan Tuhan Yesus kepada kita sebagai murid-Nya, memampukan kita untuk terus menjaga kehidupan di dunia demi terwujudnya suasana kerajaan Sorga. Mari kita bertindak adil kepada sesama ciptaan, janganlah serakah terhadap ciptaan Tuhan yang lain, yang menjadikan ciptaan Tuhan yang lain tereksploitasi dan dirugilkan. Ingatlah bahwa ciptaan Tuhan lain itu bisa menunjukkan kekuatannya saat mereka tersakiti. Amin. [SM].
Pujian: K. Ria 45: Semesta Bernyanyi
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Nalika wonten kang putra purun sinau dados tani, nanem wonten sabin, Bapanipun ngendika mekaten: “Le… yen awakmu lagi duwe rasa mangkel ing ati, krasa atine ora nyaman, apa maneh lagi uring-uringan, aja pisan-pisan ngendangi sawahmu, apa maneh pas nandur pari.” Nalika semanten kang putra punika namung mendel kemawon, nggih mboten taken kenging punapa mekaten, piyambakipun namung nyimpen prekawis punika ing salebetipun manah. Dangu pitakenan punika dipun sindem. Sasampunipun kirang langkung wonten 13 tahunan piyambakipun (kang putra wau) nembe sadar lan mangertos, menawi tiyang kraos mboten kepenak ing manahipun, wonten uneg-uneg ing manah lan mboten kraos nyaman punapa malih membe muntap, piyambakipun badhe ngedalake CO² ingkang awon/ panas. CO² ingkang awon/ panas punika mlebet dhateng tetaneman mesti badhe ganggu tuwuhipun lan suburipun pari kalawau.
Isi
Saking sekawit salebetipun alam pigesangan, antawisipun manungsa kaliyan titah sanesipun wonten sesambetan ingkang raket. Sesambetan ingkang raket punika tansah dados prekawis ingkang kita tengenaken, krana saking kitab Purwaning Dumadi dipun cariyosaken bilih saking sekawit Gusti Allah nitahaken jagad kanthi teratur lan mranata kawontenanipun kanthi sae, malah nitahaken sedaya titah kanthi ngremenaken. Pranatan jagad raya ingkang sae dipun titahaken langkung rumiyen. Sasampunipun sedaya titah katata kanthi sae, Gusti Allah nembe nitahaken manungsa. Dadosipun manungsa dipun paringi jejibahan supados njagi lan njangkepi titah sanesipun ingkang sampun sae. Pitakenan ingkang dados reraosan kita sami inggih punika, “Punapa ingkang Gusti Allah paringaken dhateng kita supados njagi lan njangkepi titah sanesipun, sampun kita lampahi kanthi tanggel jawab?” Utawi kanthi tembung sanesipun, “Punapa mandat peparingipun Gusti punika sampun dados spirit kita kangge nglajengaken pakaryanipun Gusti ing wanci samangke?” Menawi sampun ateges jagad punika badhe kraos tentrem.
Waosan kita saking kitab Yesaya nyariosaken wonten prekawis ingkang kontras, dipun sebataken wonten pepeteng ingkang ngantos-antos rawuhipun pepadang lan ugi pepanenan kaliyan asil jarahan. Kalih prekawis punika mratelakaken bilih ing pigesangan punika nembe wonten pasulayan ugi kawontenan gesang ingkang mboten sae-sae kemawon. Wonten prekawis ingkang mboten beres salebetipun mandat ingkang Gusti Allah paringaken dhateng kita sami. Raos mboten beres kalawau dadosaken satunggal mbetahaken sanesipun, malahan ugi wonten ancaman setunggal dhateng sanesipun kanthi rebutan panguwasa. Kawontenan ingkang mboten nyaman punika lajeng mbetahaken Sang Juru Katentreman ingkang saged ndadosaken setunggal kalian sanesipun gesang selaras. Kekiyatan punika mboten sanes inggih punika Rawuhipun Sang Juru Wilujeng. Bab punika nyadaraken dhateng kita sami minangka manungsa, sinaosa kita punika klebet makhuk ingkang langkung sampurna katimbang titah sanesipun, ananging kita ugi makhluk ingkang taksih winates kakiyatan saha kasagedan kita. Malahan asring ingkang kita remeni ngumbar hawa nepsu kita lan golongan kita, kados ingkang kelampahan wonten ing pasamuwan Korinta. Ing Korinta, wonten golongan ingkang nyebut aku golongane Paulus, aku golongane Apolos, aku golongane Kefas lan ugi nyebut aku golongane Kristus. Langkung cetha bilih mandat peparingipun Gusti dhateng kita manungsa supados njagi lan mranata katentremanipun jagad raya ingkang mboten sae-sae kemawon. Langkung saking punika malah wonten golongan ingkang wantun kanthi ngesah-aken (melegitimasi) golonganipun ngumbar napsu lan srakahipun piyambak.
Tumindak sembrono anggenipun manungsa sampun nampi mandat peparingipun Gusti Allah mesti wonten akibatipun. Akibatipun inggih punika mboten selarasipun malah risakipun tatananipun Gusti Allah. Ingkang sekawit dipun tata kanthi teratur lan harmonis, dados risak. Salajengipun dados titah ingkang setunggal kaliyan sanesipun saling ngancam, langkung saking punika setunggal titah kalian titah sanesipun sami nedahaken kekiyatanipun piyambak-piyambak, wusanaipun tuwuh pasulayan, crah, lan ical kapitadosan. Prekawis punika saged kita tingali nalika wonten bencana alam. Bilih dipun tlesik kenging punapa kok tuwuh bencana kalawau? Wangsulanipun cetha krana sampah ingkang mboten saged bosok, utawi mboten wonten kantong-kantong toya kangge nyimpen toya, utawi bangunan ingkang mboten mikiraken tata lingkungan ingkang ramah, lan sapanunggalipun. Sedaya conto punika menawi kita raosaken, awit krana asring kita egois utawi tumindak srakah kanthi alasan kangge nyekapi kabetahan kita pribadi. Menawi kagem kabetahan pribadi punapa pancen mesti srakah lan mboten mikiraken tata lingkungan ingkang ramah? Mangga kita raosaken “menawi mboten ngrisak keselarasan alam punika, punapa mboten cekap kabetahan kita, lajeng kirang, mboten saged nedha trus kirang Gizi?” Mangga kita raosaken.
Kawontenan ingkang kawengku ing karisakan punika ingkang ndadosaken Gusti Yesus nimbali para sakabatipun inggih punika Simon, Andreas, Yohanes lan Yakobus. Para sakabat punika kakang lan adi ing sabrayat. Timbalan punika ngengetaken kita bilih Gusti Yesus nimbali pakempalan alit inggih punika brayat, supados saking prekawis ingkang alit punika saestu tumuju ing prekawis ingkang langkung ageng inggih punika karawuhanipun Kratoning Suwarga. Gusti Yesus nimbali Petrus, Andreas, Yokanan lan Yakobus ingkang waunipun dados juru jala ulam dipun timbali dados juru jala manungsa. Artosipun Gusti Yesus ngersakaken supados gesangipun manungsa punika mboten namung mikiraken kangge kabetahan secara kajasmanen utawi kepuasan diri pribadi kemawon nanging saged ngribah mikiraken kagem kabetahan pigesangan sanesipun, ngribah keuntungan material dados keuntungan tatanan pigesangan. Kanthi ngribah keuntungan material dados keuntungan tatanan pagesangan dadosaken larasipun jagad saged kapulihaken. Kosokwangsulipun menawi langkung nengenaken keuntungan material lajeng ngrisak tatanan pigesangan saged ugi ruginipun material badhe langkung kathah. Conto ingkang saged kita tingali, wonten tiyang tumbas mobil mewah, prabot mewah, gedung ingkang megah nalika kenging banjir, barang-barang punika sampun mboten wonten ajinipun. Pramila timbalanipun Gusti dhateng para sakabat supados mulihaken tatanan pigesang lan nglajengaken tatananipun Gusti Allah ingkang sampun dipun tata saking sekawit nalika jagad dipun titahaken.
Panutup
Ing salebetipun Bulan Penciptaan sapunika, mangga kita ngeningaken manah, punapa kita sampun ndherek nampi timbalanaipun Gusti Yesus kanthi langkung nengenaken tatanan pigesangan kangge ganjaran kita anggen kita lumampah? Pangajeng-ajengipun kita para pendherekipun Gusti, kita saged njagi lan nglajengaken pakaryanipun Gusti supados selarasing jagad klanggengan kawujud. Kita ingkang dipun jangkepi pangerten, pangrasa sarta raos peduli, mangga mbangun pigesangan kanthi sadar, bilih kita ingkang sampun karawuhan Sang Juru Wilujeng tansah mimpin raosing manah ingkang lerem. Salajengingpun kanthi raosing manah ingkang lerem, kita dasari lampah kita. Kados kang Putra ingkang sinau dados tani, ingkang saged ngendaleni diri, mboten kanthi manah ingkang nesu anggenipun ngrimati tetaneman, ugi mboten serakah pados ganjaran kauntungan material ingkang dadosaken nrisaking tatanan jagad. Mangga kita tumindak adil dhateng titah sanesipun, supados titah sanesipun ugi saged dados mitra kita sami. Kita tetap waspada bilih titah sanesipun saged ngedalaken kekiyatanipun kanthi caranipun nalika rumaos kenging pilara. Amin. [SM].
Pamuji: KPJ. 67 Allah Kang Makwasa