Pemahaman Alkitab (PA) Januari 2023 (I)
Bulan Penciptaan
Bacaan: 1 Samuel 15 : 34 – 16 : 13
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Mewujudkan Keadilan Ciptaan
Tema PA: Dipilih Untuk Ikut Terlibat Mewujudkan Keadilan
Pengantar:
“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” merupakan isi dari sila kelima dari dasar negara kita, Pancasila. Di dalamnya tersirat bahwa seluruh warga negara di tanah air memiliki derajat yang sama, sehingga wajib diperlakukan setara, baik dalam hukum, politik, ekonomi, kesempatan beribadah, menyatakan pendapat, dan sebagainya. Pengakuan akan kesetaraan setiap warga negara di hadapan hukum juga telah diatur dan dijamin dalam UUD 1945. Meski secara das sollen (yang seharusnya) keadilan sosial tercantum dalam dasar negara Pancasila dan UUD, namun pada kenyataannya secara das sein (realita) keadilan sosial masih belum menjadi kenyataan di atas bumi Ibu Pertiwi.
Korban ketidakadilan sosial yang utama adalah pihak-pihak yang lemah, karena minoritas, miskin, dan kurang berpendidikan. Mereka seringkali sulit dan dipersulit dalam kehidupan sehari-hari, misalnya suku atau agama minoritas yang sulit memasuki bidang pemerintahan ataupun kampus-kampus negeri. Orang miskin yang sulit mendapatkan keadilan ketika berperkara di pengadilan, padahal seringkali kemiskinan mereka bersifat struktural, yaitu karena sulitnya mengakses sumber daya yang sudah dikuasai segelintir orang. Ujung dari ketidakadilan sosial yang terjadi seringkali berupa konflik akibat kemarahan korban. Konflik ini seringkali berakhir tragis dengan kekalahan korban itu sendiri dalam menghadapi kekuasaan yang terlalu besar, sehingga terus berlanjutnya penderitaan bagi mereka, sebagian korban terus menyimpan kemarahan dan kekecewaan terhadap kondisi, terhadap penindas, dan mungkin juga terhadap Tuhan.
Apa penyebab dari ketidakadilan sosial? Penyebab utamanya mungkin adalah kesombongan. Jika seseorang sudah menjadi sombong, maka ia tidak akan peduli dengan orang lain, orang lain hanya dinilai sebagai alat untuk mencapai tujuan, sebagai objek dari kehidupan, bukan lagi sebagai pribadi yang setara. Penyebab ketidakadilan sosial lainnya adalah hawa nafsu, upaya para penguasa untuk mempertahankan status quo kenyamanan dan kenikmatan mereka, sehingga nasib orang lain yang sedang menderita mereka lupakan. Penyebab lainnya dari ketidakadilan sosial adalah sistem dan kultur yang buruk yang sudah lama terbentuk, misalnya sistem pemeriksaan anggota dewan yang dibuat berbelit-belit. Ketidakadilan sosial karena kultur, misalnya budaya sebagian besar suku di Indonesia yang mengidentikkan pekerjaan dapur dan melayani sebagai pekerjaan wanita.
Penjelasan Teks:
Bacaan kita hari ini merupakan perikop peralihan dari ketokohan Saul menuju ketokohan Daud. Sebelum pasal 16, Daud masih belum muncul dalam panggung sejarah Israel yang dikisahkan dalam kitab 1 Samuel ini. Tokoh Daud mulai muncul pada akhir kejayaan masa pemerintahan Saul. Allah telah menolak Saul dan Ia melengkapi Daud.
Ayat 34-35 : Samuel yang tinggal di Rama adalah seorang pemimpin bangsa. Dia adalah seorang hakim terakhir, terbesar, dan yang pertama di antara para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Samuel dianggap sebagai tokoh terbesar sesudah Musa. Ia pengganti Eli dalam keimaman dan dia sendiri yang diberi wewenang untuk mempersembahkan korban. Demikian pula dengan Saul, dia adalah Raja Pertama Israel, yang tinggal di Gibea-Saul. Sebenarnya jarak antara Gibea–Saul dengan Rama kurang dari 15 kilometer. Namun demikian Samuel tidak pernah bertemu dengan Saul sampai akhir hayatnya.
1 Samuel 16:1 : TUHAN sudah tidak berkenan kepada Saul untuk menjadi raja atas Israel, karena itu Tuhan mengutus Samuel untuk mencari pengganti Saul. Samuel diutus ke rumah Isai di Betlehem, karena di antara anak Isai, TUHAN memilih pengganti Saul.
Ayat 2 – 3: Samuel nampaknya agak takut pergi ke rumah Isai, sebab dia khawatir Saul mengetahui tindakannya dan akan membunuhnya. Kekhawatiran Samuel disampaikan kepada Tuhan, sehingga Tuhan menolong Samuel dengan membuat strategi supaya ia tidak dicurigai oleh Saul.
Ayat 4 – 5: Samuel berangkat dan melakukan sesuai dengan petunjuk yang disampaikan TUHAN. Tetapi kedatangan Samuel disambut dengan ketakutan oleh para tua-tua yang ada di Betlehem. Mengapa? Karena biasanya kedatangan nabi, memberitahukan suatu bencana yang dapat menimpa rakyat. Karena itu mereka bertanya: “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat?” Tetapi Samuel menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu ingin mengajak mereka untuk mengadakan upacara korban kepada TUHAN. Karena itu mereka harus menyucikan diri.
Ayat 6 – 10 : Isai dan anak-anaknya ikut dalam upacara korban. Anak-anak Isai diminta untuk lewat di depan Samuel, Samuel tertarik kepada Eliab saat dia melihat penampilan fisiknya, tetapi TUHAN menolaknya. Demikian satu per satu anak-anak Isai lewat di depan Samuel, tetapi semuanya tidak ada yang berkenan di hati TUHAN.
Ayat 11 – 13 : Karena dari seluruh anak Isai yang telah lewat di depan Samuel tidak ada yang berkenan di hati TUHAN, maka Samuel bertanya kepada Isai, “Inikah anakmu semuanya?” Isai menjawab, “Masih tinggal yang bungsu, tetapi masih menggembalakan kambing domba”. Lalu Isai diminta untuk memanggil dia. Setelah Daud datang, TUHAN sangat berkenan kepada Daud, sehingga Samuel diutus untuk mengurapi Daud. Daud diurapi di tengah keluarganya. Sejak diurapi, Roh Tuhan berkuasa atas Daud. Sebenarnya, kakak-kakak Daud mempunyai latar belakang pendidikan prajurit, sedangkan Daud adalah seorang gembala. Tetapi Tuhan lebih memilih Daud untuk menggantikan Saul sebagai raja atas Israel.
Dari kisah tadi, ada beberapa hal yang menjadi perenungan kita:
- Sungguh ironis akhir hubungan antara Samuel dan Saul. Dekat di mata, namun jauh di hati, begitulah kira-kira hubungan antara keduanya. Kedekatan jarak tempat tinggal mereka tidak menjamin terbangunnya hubungan yang baik di antara mereka. Dari ayat 34 – 35 kita dapat belajar jika kita tidak dapat mengelola hati untuk mengasihi, maka sedekat apapun jarak antara kita dengan seseorang tidak akan menjamin adanya hubungan yang baik dengan orang tersebut.
- Melalui penyeleksian yang diijinkan Allah untuk dilakukan Samuel, nampaknya Allah ingin membuka wawasan tentang apa yang biasanya dipikirkan manusia untuk menilai sesamanya dan apa yang dipikirkan Allah untuk menentukan kualitas manusia yang hendak dipakai-Nya (Ay. 6-10). Biarlah melalui proses penyeleksian yang dilakukan Samuel itu kita belajar untuk memiliki cara pandang Allah saja, sehingga kita tidak mudah menghakimi sesama kita dengan semau diri kita sendiri.
- Dari ayat 11 – 13 kita belajar bahwa Allah berkenan memakai orang yang rendah hati dan terus mau belajar. Secara logika, kakak-kakak Daud lebih pantas menjadi pemimpin bangsa, karena sehari-hari mereka terbiasa berkutat dengan urusan militer. Tapi Allah malah menentukan Daud yang maju menjadi pemimpin. Daud memang ”hanya” gembala domba, tetapi jika kita tahu bagaimana pergulatan sehari-hari seorang gembala yang harus terus rela diasah dalam hal: kesabaran, kesigapan, kepedulian, dan kerelaan berkorban, maka tak salah jika pilihan TUHAN jatuh pada diri Daud. Jika kita mau dipakai Allah, milikilah hati yang rendah di hadapan-Nya dan siaplah diasah-Nya melalui pergulatan hidup yang kita alami.
Daud dipilih dan dipakai oleh Tuhan Allah untuk menjadi raja menggantikan Saul. Karena itu Daud akan menjadi pemimpn Israel. Kualitas seorang pemimpin di mata Allah ditentukan bukan oleh keberhasilannya melakukan hal-hal besar, tetapi oleh ketaatannya melakukan hal-hal apapun yang Allah kehendaki. Sekalipun Allah yang memilih Saul untuk menjadi raja, tetapi kemudian Allah menolak Saul. Penolakan Allah atas kepemimpinan Saul bukan karena Saul tidak pernah mencapai hasil yang baik di dalam kepemimpinannya. Allah menolak Saul, karena Saul tidak taat kepada perintah Allah. Perintah Allah sangat jelas untuk menumpas semua orang Amalek termasuk binatang kepunyaan mereka. Tetapi Saul melanggarnya. Ketidaktaatan Saul kepada Allah inilah yang menjadikan dia ditolak Allah.
Saat ini Allah memilih kita untuk menjadi “pemimpin”. Mungkin bukan pemimpin suatu bangsa, seperti Daud, tetapi minimal pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin bagi keluarga, pemimpin dalam masyarakat untuk memimpin dalam menunjukkan kepedulian dan keadilan dalam kehidupan setiap hari. Melalui Tuhan Yesus yang sudah mengorbankan diri-Nya, Tuhan memanggil dan menguduskan kita untuk dipakai menjadi alat-Nya dalam mewujudkan keadilan. Untuk itu dibutuhkan kerendahan hati dan kesediaan untuk berkorban bagi TUHAN.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
- Menurut saudara, mengapa Samuel tidak bertemu lagi dengan Saul sampai akhir hayat Saul?
- Menurut saudara, kalau Allah memang tidak berkenan kepada kakak-kakak Daud, mengapa Ia tidak memberitahu Samuel bahwa Daudlah orang yang dipilih-Nya? Mengapa Allah mengijinkan Samuel melakukan penyeleksian itu?
- Kakak-kakak Daud mempunyai latar belakang pendidikan prajurit, sedangkan Daud adalah seorang gembala. Manakah yang lebih dekat dengan kehidupan, seorang raja, prajurit, ataukah gembala? Menurut saudara, mengapa Allah lebih memilih Daud dari pada kakak-kakaknya?
- Apakah saudara merasa dipilih oleh Tuhan Allah untuk terlibat dalam menyatakan keadilan di dalam kehidupan setiap hari? Jika saudara merasa dipilih TUHAN, apakah yang akan saudara lakukan untuk menjalani pilihan TUHAN tersebut?
- Menurut saudara, dari mana kita bisa mengawali aksi atau tindakan dalam mewujudkan keadilan? [DC].
Pemahaman Alkitab (PA) Januari 2023 (II)
Bulan Penciptaan
Bacaan: Lukas 5 : 27 – 32
Tema Liturgis: GKJW Terlibat Mewujudkan Keadilan Ciptaan
Tema PA: Apakah Aku Sudah Berperan Dalam Mewujudkan Keadilan Sosial?
Pengantar:
GKJW memahami bahwa Tuhan Allah telah hadir di dunia dalam diri Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dunia. Melalui kedatangan Tuhan Yesus, Tuhan Allah melaksanakan rencana karya-Nya terhadap dunia supaya kasih, sukacita, keadilan, kebenaran, dan damai sejahtera dapat berlaku untuk seluruh kehidupan, sehingga tidak ada lagi maut, ratap tangis, perkabungan, dan dukacita. Untuk melaksanakan rencana Tuhan Allah tersebut, Tuhan Yesus telah mendirikan Gereja yang Esa, Kudus dan Am di dunia ini. Gereja itu dipahami sebagai buah sulung hasil pelaksanaan karya Tuhan Allah, yang selanjutnya ikut serta dalam pelaksanaan rencana karya Tuhan Allah tersebut. GKJW menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari Gereja yang Esa tersebut yang sudah dilahirkan, ditumbuhkan, dan dipelihara oleh Tuhan Allah di dalam Tuhan Yesus dan Roh Kudus-Nya di Jawa Timur (bdk. Bagian Pembukaan dari Tata Pranata GKJW).
GKJW juga memahami bahwa dirinya telah dipanggil oleh Tuhan Allah untuk ikut serta dalam melaksanakan rencana karya Tuhan di dunia ini dan juga untuk ikut bertanggung jawab atas pemberlakuan kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera bagi masyarakat, bangsa dan negara (bdk. Tata Gereja pasal 4). Lalu siapakah yang dimaksud dengan GKJW? GKJW adalah kita, orang-orang (baik anak, maupun dewasa) yang namanya sudah tercatat dalam buku kewargaan Greja Kristen Jawi Wetan, sebagaimana yang tercantum dalam Tata Gereja pasal 10. Artinya, yang memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan panggilan Gereja bukan hanya orang-orang tertentu yang mempunyai jabatan khusus gerejawi, seperti: Pendeta, Guru Injil, Penatua, dan Diaken saja, melainkan setiap pribadi yang menjadi warga GKJW mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mewujudkan panggilan Gereja, salah satunya adalah mewujudkan keadilan di tengah lingkungan, dimana kita ditempatkan oleh Tuhan. Keterlibatan untuk mewujudkan keadilan dalam laku hidup kita dapat kita wujudkan diantaranya dengan menunjukkan kepedulian kita kepada orang-orang yang “terasing” karena berbagai penyebab, misalnya karena ekonomi, karena sakit-penyakit, korban bencana, dan lain sebagainya, seperti yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus.
Penjelasan Teks:
Pada saat Tuhan Yesus hidup, Israel berada di bawah penjajahan Romawi. Pemerintah Romawi memungut sejumlah pajak dari negara jajahannya, tetapi pemerintah Romawi tidak ingin turun tangan langsung memungut pajak. Karena itu, pemerintah Romawi melakukan semacam tender bagi orang Israel agar dapat memenuhi target pajak. Dalam praktiknya, para pemungut cukai itu menarik pajak beberapa kali lipat dari rakyat demi memenuhi target dan juga demi keuntungan pribadi. Inilah yang menyebabkan orang Israel sangat membenci para pemungut cukai. Karena itu, tidak heran ketika Lewi, seorang pemungut cukai yang menjadi pengikut Yesus mengadakan perjamuan besar dan Yesus hadir di situ bersama murid-murid-Nya, timbullah protes besar dari orang-orang yang tergabung dalam kelompok Farisi dan ahli-ahli Taurat. Farisi adalah salah satu aliran keagamaan di Israel, pada zaman Yesus, diperkirakan kelompok ini mempunyai anggota yang banyak, kira-kira 6.000 orang. Dari segi agama, kelompok Farisi ini merupakan orang-orang terpenting dalam agama Yahudi di zaman Yesus. Kelompok ini telah membuat sejumlah besar aturan dan peraturan untuk menerangkan hukum Taurat. (John Drane, Memahami Perjanjian Baru, p.42). Ahli Taurat adalah orang yang mempelajari hukum Taurat secara teliti dan sungguh-sungguh, baik hukum yang tertulis maupun yang lisan. Banyak di antara ahli Taurat yang mempunyai aliran Farisi (WRF Browning, Kamus Alkitab). Ahli Taurat dan orang Farisi itu memprotes, mengapa Yesus makan bersama-sama dengan orang berdosa? (Ay. 27-30).
Menanggapi protes tersebut, Tuhan Yesus menjelaskan tujuannya datang ke dunia ini, yaitu untuk mencari orang yang berdosa supaya mereka mau bertobat. Tuhan Yesus menggambarkan orang-orang yang berdosa itu seperti orang yang sakit yang membutuhkan tabib dan Tuhan Yesus adalah tabib tersebut. Sehingga jika orang yang berdosa itu mau “sembuh sakitnya”, maka mereka harus bersedia datang menemui sang tabib. (Ay. 31-32).
Dari kesaksian Injil Lukas tersebut, kita bisa melihat Tuhan Yesus yang peduli terhadap keadaan sosial orang-orang yang ada di sekitarnya, dalam hal ini adalah Lewi. Sebagai pemungut cukai, Lewi nampaknya sangat dimusuhi oleh orang-orang sebangsanya. Dia dijauhi karena dianggap orang yang sangat berdosa. Dijauhi orang-orang yang ada di sekitarnya, bisa menjadikan perasaan “terasing” dan kesepian. Bisa jadi, Lewi-pun mengalami hal seperti ini. Bahkan, sampai-sampai orang yang dekat dengan Lewi-pun harus ikut merasakan akibat dari keberadaan Lewi, dimusuhi. Lewi disisihkan dan diabaikan, mengapa? Wajar! Pekerjaannya sebagai pemungut cukai yang mencekik ekonomi orang-orang sebangsanya demi menyenangkan penjajah Romawi dan kemakmurannya sendiri. Ditambah lagi sekian banyak hal yang dianggap negatif lainnya. Tetapi karena kepedulian Tuhan Yesus, membuat-Nya tetap berkenan untuk memanggil Lewi.
Saat Tuhan Yesus memanggil Lewi, ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus tidak hanya peduli terhadap masalah rohani, yaitu “dosa” dan akibatnya, tetapi juga terhadap masalah sosial yang dihadapi oleh Lewi. Di saat orang-orang sebangsanya menjauhi dirinya, Tuhan Yesus bersedia hadir, Ia peduli, Ia memanggil Lewi menjadi pengikut-Nya dan bahkan Ia mau dekat dengan Lewi (ditunjukkan dengan makan bersama). Meskipun untuk melakukan hal tersebut, ada resiko, yaitu Tuhan Yesus ikut dimusuhi oleh orang-orang sekitarnya. Tetapi untuk tujuan yang baik, yaitu keselamatan yang bisa dialami oleh orang berdosa, dalam hal ini Lewi, jika dia mau mendengarkan ajakan Tuhan Yesus, mau bertobat, maka resiko tersebut tetap dihadapi oleh Tuhan Yesus. Dengan memanggil Lewi dan bersedia dekat dengan dia, Tuhan Yesus tidak hanya menjadi tabib yang menyembuhkan “penyakit” rohani, yaitu dosa; tetapi juga menunjukkan bahwa Tuhan Yesus bersedia menjadi “sahabat/teman” bagi Lewi, sehingga hal ini menjadikan Lewi tidak “sendirian” dalam menghadapi situasi sulit karena dimusuhi dan ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya.
Pertanyaan untuk Didiskusikan
- Menurut saudara, mengapa saat Yesus berkata kepada Lewi: “Ikutlah Aku”, Lewi mau mengikut Yesus, bahkan dalam ayat 28 disebutkan Lewi bersedia untuk meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus?
- Apakah yang saudara pahami tentang Panggilan Yesus kepada Lewi, seperti yang tertulis dalam Lukas 5 : 27 – 32 tadi?
- Menurut saudara, apakah arti dari “orang-orang yang terasing”? Adakah orang-orang yang demikian di sekitar kita atau di lingkungan kita? Jika ada, apa yang perlu kita lakukan untuk mereka?
- Menurut saudara, apakah kita perlu ikut bertanggungjawab terhadap keberadaan “orang-orang yang terasing” itu? Mengapa? [DC].