Minggu Biasa | Pekan Pemuda
Stola Hijau
Bacaan 1: Yesaya 1 : 10 – 18
Bacaan 2: 2 Tesalonika 1 : 1 – 4, 11 – 12
Bacaan 3: Lukas 19 : 1 – 10
Tema Liturgis: Memberi Peluang kepada Pemuda untuk Beraksi dan Bersaksi
Tema Khotbah: Apalah Arti Ibadahmu kepada Tuhan?
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 1 : 10 – 18
Dalam pewartaannya, Yesaya sangat menekankan pemahaman tentang Allah sebagai “Raja Israel” dan “Allah adalah Yang Maha Kudus”. Setelah Allah memilih Yesaya sebagai nabi, Yehuda mengalami krisis politik yang sangat hebat, sehingga umat Allah hidup dalam ketidakadilan, kekerasan, dan ketidakjujuran (Yes. 1:14, 21-23). Perbuatan dosa serta jahat mereka tutupi dengan memberi persembahan dan kurban, berdoa, beribadah. Mereka seolah-olah yakin kalau Allah memberi pengampunan, mereka berusaha menyuap Allah, menutupi segala perbuatan dosa mereka. Namun Allah tidak memandang ibadah yang demikian, Ia akan memperhitungkan semua itu (Ay. 18). Oleh Yesaya, “mereka” itu disebut dengan istilah “para pemimpin (penghulu) manusia Sodom” dan “manusia Gomora”. Sodom adalah lambang untuk menggambarkan dunia dalam pemberontakannya terhadap Allah melalui kehidupan yang penuh kejahatan dan kekejian, serta untuk melambangkan murka Allah terhadap kejahatan tersebut. Namun Allah juga berkenan mengampuni, ketika umat berkenan datang dan bertobat dengan kesungguhan untuk melakukan segala yang diperintahkan-Nya (Ay. 16-17).
2 Tesalonika 1 : 1 – 4, 11 – 12
Rasul Paulus dipenuhi rasa syukur dalam surat kedua yang dikirim ke Jemaat di Tesalonika, sebab iman jemaat Tesalonika yang semakin bertambah kuat. Kasih seorang terhadap lainnya bertambah meningkat. Kesabaran mereka dalam penderitaan serta aniaya membawa iman mereka semakin berakar. Kemuliaan Kristus ditunjukkan dalam karakter jemaat Tesalonika yang tetap setia dalam Kristus sekalipun di tengah penderitaan yang terjadi. Disinilah rasul Paulus berdoa agar jemaat Tesalonika dimampukan untuk tetap berjuang melakukan perbuatan baik dan menyatakan pekerjaan iman yang seturut dalam kehendak Allah.
Lukas 19 : 1 – 10
Nama Zakheus berasal dari kata “זכי, zaki” yang berarti orang murni/ saleh. Namun nama itu sepertinya kurang pas dengan perbuatan Zakheus sebagai pemungut cukai. Zakheus adalah seorang kaya yang memperoleh kekayaannya dari memungut pajak lebih besar daripada yang seharusnya. Oleh karena itu, dia dan pekerjaannya dipandang rendah dan dibenci oleh masyarakat. Namun di sini Yesus tidak memandang rendah seorang Zakheus –atau orang berdosa lainnya. Bahkan Yesus datang untuk orang-orang seperti mereka: terhilang, tersesat, dan butuh diselamatkan. Yesus memanggil mereka supaya mereka dapat menerima maksud kedatangan-Nya, mengakui dosa, dan memiliki pengharapan keselamatan hidup di dalam Kristus. Pengakuan dosa dan pengharapan akan keselamatan inilah wujud iman sejati kepada Yesus. Dalam hal ini dibutuhkan tekad yang bulat, serta kejujuran menerima dan mengakui ketidakberdayaannya. Setelah menerima keselamatan, harus ada perubahan, tidak lagi hidup dalam ketidakjujuran, melainkan hidup penuh belas kasih kepada orang lain.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Ibadah yang sejati ialah mempersembahkan hidup kita bagi Tuhan. Mempersembahkan hidup menyangkut tentang penyerahan keseluruhan aspek dalam kehidupan kita menjadi milik Tuhan dimana konsekuwensinya adalah menjalani hidup taat dan setia kepada-Nya. Yesaya menegur kaum Yehuda yang berlomba-lomba beribadah dan mempersembahkan, yang mana motivasi mereka memicu murka Allah, karena mereka beribadah dan memberikan persembahan kepada Tuhan untuk “menutupi” kejahatan mereka. Pertobatan adalah titik mula penyerahan hidup kepada Allah, seperti pertobatan Zakheus yang berjumpa dengan Yesus yang diwarnai dengan perubahan hidup dari seorang pemeras menjadi seorang yang mengulurkan tangan bagi yang lemah.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat setempat)
Pendahuluan
PKJ. 264 APALAH ARTI IBADAHMU
Syair dan lagu Mercy Tampubolon-Tobing 1998
1.Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada hati tulus dan syukur?
Refrein:
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
3.Berbahagia orang yang hidup beribadah,
yang melayani orang susah dan lemah
dan penuh kasih menolong orang yang terbeban;
itulah tanggung jawab orang beriman.
Petikan lagu PKJ. 264 ini mengajak kita untuk berefleksi dengan suatu pertanyaan yang dilagukan “Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan…” yang perlu kita garis bawahi. Seringkali kita menjalankan ibadah dengan berbagai dorongan motivasi dalam kehidupan kita masing-masing, akan tetapi tidak sedikit di antara kita terjatuh dalam pemikiran peribadatan sebagai ritus semata. Bila memperhatikan kata “Ibadah” dalam bahasa Ibrani yakni עֲבֹדָה – ‘AVODAH’ kata tersebut tidak sekedar diartikan dalam konsep ritual semata, namun juga mencakup seluruh aspek kehidupan sehari-hari, baik bekerja, beraktivitas, berjumpa dengan sesama, dsb. Oleh sebab itu, benar adanya nasihat rasul Paulus dalam Roma 12:1 bahwa ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh (seluruh keberadaan hidup) kita kepada Tuhan, sehingga kehidupan kita benar-benar milik Allah untuk dituntun dalam hidup “kudus” dan dipakai sebagai saksi yang menyatakan karya-Nya bagi dunia.
Isi
Mempersembahkan tubuh sebagai Ibadah Sejati yang berkenan bagi Allah didasari oleh 2 hal, yakni kekudusan hidup dan penyerahan diri. Kata kudus dalam bahasa Ibrani קדשׁ yakni ‘qadosh’ memiliki arti bersih, tidak bercampur atau terpisah dengan hal-hal duniawi. Membangun hidup dalam kekudusan bukanlah perkara yang gampang, oleh karena manusia telah dikuasai oleh dosa dan dipenuhi oleh kerapuhan dalam hidupnya. Sebagaimana dengan keberadaan kaum Yehuda. Ketika Yesaya diangkat menjadi seorang nabi oleh Tuhan, bangsa Yehuda sedang mengalami krisis politik yang sangat hebat, sehingga umat Allah hidup dalam ketidakadilan, kekerasan, dan ketidakjujuran (Yes. 1:14, 21-23). Perbuatan dosa serta kelakuan jahat mereka tutupi dengan memberi persembahan dan kurban, berdoa, beribadah. Mereka seolah-olah yakin kalau Allah akan memberi pengampunan, sehingga mereka berusaha menyuap Allah, menutupi segala perbuatan dosa mereka. Keadaan demikian sungguh memicu murka Allah, melalui Yesaya, Allah memperingatkan mereka dengan menyebut mereka “para pemimpin (penghulu) manusia Sodom” dan “manusia Gomora” sebagai pengingat untuk menggambarkan pemberontakan mereka kepada Allah melalui kehidupan yang penuh kejahatan dan kekejian. Namun Yesaya juga memberitakan bahwa Allah tetap mengasihi umat-Nya dengan memberi kesempatan umat untuk berbenah diri dengan bertobat. Pertobatan adalah titik mula manusia menyadari dan berbalik kepada kuasa cinta kasih Allah yang akan dinyatakan untuk menyelamatkan umat milik Allah.
Pertobatan tidak berhenti hanya demikian. Sebagaimana bacaan ketiga, pertobatan Zakheus juga menuntunnya menuju perubahan hidup yang seturut dalam kehendak Tuhan. Zakheus yang semula adalah pemungut cukai yang keji, dimana seluruh kekayaannya berasal dari pajak yang dipungutnya secara berlebihan dari sesama kaumnya, ketika bertobat hidupnya berubah dengan luar biasa. Dari seorang pemeras pajak menjadi seorang pengulur tangan bagi orang lemah dan membutuhkan (Ay. 8). Begitu pula dengan pemberitaan Yesaya bagi kaum Yehuda, pertobatan ditengarai dengan perubahan hidup, membasuh diri, menjauhkan diri dari kejahatan, bahkan memperjuangkan hak-hak kaum yang lemah (Ay. 16-17). Sehingga semakin nyatalah kehendak Allah dalam makna ibadah yang sejati bagi-Nya. Pertobatan menuntun seseorang mengalami perubahan hidup menuju kekudusan serta menyatakan karya Tuhan bagi setiap orang yang membutuhkan, sebagaimana Yesus yang hadir untuk mencari domba-domba yang terhilang, tersesat, dan butuh diselamatkan.
Penutup
Pekan Pemuda merupakan kesempatan bagi para muda-mudi Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) untuk menyatakan diri mereka dalam keterlibatan mereka untuk berkarya dan berpelayanan di gereja milik Tuhan ini. Namun seyogyanya dalam Pekan Pemuda ini, kita tidak terjebak dalam nuansa rutinitas ritual semata, sebab ibadah yang sejati adalah ibadah yang nyata dalam menyatakan karya Tuhan baik secara ritual maupun secara aksi dan bersaksi. Sebagaimana Yesus yang hadir di tengah dunia ini bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, khususnya bagi mereka yang terhilang, tersesat dan butuh diselamatkan; begitu juga dengan para kaum muda dan kita semua hendaknya kita sebagai “gereja” sungguh menyatakan panggilan hidup kita menjadi berkat bagi dunia ini. Apalagi dunia saat ini sedang dalam proses pemulihan dari pandemic Covid-19, baik itu pemulihan ekonomi, pemulihan relasi dan pemulihan kesehatan. Marilah kita nyatakan ibadah kita yang sejati di hadapan Allah dengan terus menyatakan karya-Nya, khusunya melalui keterlibatan kaum muda dalam berbagai wadah yang ada melalui gereja kita GKJW seperti PEW, P2A, Tanggul Bencana serta Komunitas Perdamaian Lintas Budaya dan Agama, sehingga mereka yang mengalami penderitaan dapat merasakan kemuliaan Kristus dalam setiap pelayanan kita. Sebagaimana petikan lagu PKJ. 249 bait 3: Berbahagia orang yang hidup beribadah, yang melayani orang susah dan lemah dan penuh kasih menolong orang yang terbeban; itulah tanggung jawab orang beriman. Amin. [mojo].
Pujian: KJ. 341 : 1, 2 Kuasa-Mu dan Nama-Mulah
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
PKJ. 264 APALAH ARTI IBADAHMU
Syair dan lagu Mercy Tampubolon-Tobing 1998
1.Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada hati tulus dan syukur?
Refrein:
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
3.Berbahagia orang yang hidup beribadah,
yang melayani orang susah dan lemah
dan penuh kasih menolong orang yang terbeban;
itulah tanggung jawab orang beriman.
Tetembungan tembang saking PKJ. 264 punika, ngajak kita sami niti priksa dhiri kita mawi satunggal pitakenan wonten ing tembang punika “apalah arti ibadahmu kepada Tuhan…” punika ingkang kedah dipun raos-raosaken. Asring anggen kita ngabekti, kita lampahi kanthi mawarna-warni motivasi ing pigesangan kita pribadi baka pribadi. Boten sekedhik ing antawis kita dhawah wonten ing penggalih bilih pangibadah punika namung ritual kemawon. Nalika kita ningali tembung “ibadah” ing basa Ibrani עֲבֹדָה – ‘AVODAH, tembung punika ateges boten namung prekawis ritual kemawon, ananging ugi prekawis bab sarunduning gesang kita ing dinten padintenan; sae nyambut damel, sae aktifitas, sae pepanggihan kita kaliyan sesami, lsp. Pramila pancen leres dhawuhipun Rasul Paulus ing Rum 12:1, bilih Ibadah ingkang sejati punika bab misungsungaken badan ateges sarunduning gesang kita, kita pasrahaken dhumateng Gusti, satemah gesang kita estu kagunganipun Gusti supados katuntun ing gesang “suci” saha kaagem dados paseksinipun kangge martosaken Pakaryanipun tumrap alam donya.
Isi
Misungsungaken badan minangka ibadah sajati ingkang dados renanipun Gusti punika adedhasar 2 prekawis, inggih punika gesang suci kaliyan gesang sumarah. Tembung Suci ing basa Ibrani קדשׁ dipun waos ‘qadosh’ punika ateges resik, boten campur utawi pisah kaliyan bab-bab kadonyan. Mangun pigesangan ingkang suci punika sanes prekawis ingkang gampil, awit gesangipun manungsa sampun kabidhung ing dosa lan karingkihan. Kadya kawontenanipun bangsa Yehuda. Nalika Yesaya kapiji dening Gusti jumeneng dados nabi, bangsa Yehuda ngalami krisis politik ingkang ngedab-edabi ngantos kawontenanipun umat kagunganipun Gusti sami ngalami kacingkrangan, kasangsaran saha apus-apus (Yes. 1:14, 21-23). Tumindak dosa lan awon ingkang dipun tindakaken punika katutup kanthi mangun gesang saleh lan maringi pisungsung kurban, sembahyang sarta ngibadah. Tumindak punika dipun ugemi kanthi pitados bilih Gusti Allah badhe maringi pangapunten, awit umat ngupaya kanthi “nyogok” Gusti Allah, ngajeng-ajeng dosanipun katutup. Kawontenan punika jalari dukaning Gusti Allah, lajeng mawi Yesaya, Gusti Allah dhawuh kanthi ngengeti kawontenanipun para umat kanthi sinebut “para panggedhene Sodom” lan “rakyat Gomora” minangka simbol ngengetaken bilih tumindakipun bangsa Yehuda ingkang anerak dhumateng karsanipun Gusti kebak ing piawon sarta nistha. Nanging Yesaya ugi martosake bilih Gusti Allah tetap nresnani umat kagunganipun kanthi maringi kesempatan kangge niti priksa dhiri sarta mratobat, awit mratobat punika kawiwitanipun manungsa rumangsani karingkihanipun sarta wangsul malih dhumateng panguwaos sih katresnanipun Gusti Allah ingkang badhe kasumurupaken kangge milujengaken umat kagunganipun.
Mratobat punika boten namung rumangsa lan wangsul malih. Kadya waosan katiga, pamratobatipun Zakheus ugi nuntun piyambakipun ngewahi gesangipun kanthi bangun miturut karsanipun Gusti. Zakheus ingkang wiwitan punika juru-mupu-beya ingkang nistha, ing pundi kasugihanipun punika saking mendheti pajek sesaminipun kanthi linuwih, nanging nalika piyambakipun mratobat, gesangipun Zakheus ewah kanthi langkung becik. Saking tiyang ingkang meres pajek dados tiyang ingkang mulung tangan (mitulungi) tiyang ingkang sekeng sarta betahaken (Ay. 8). Mekaten ugi dhawuhipun Yesaya kangge umat Yehuda, tandha mratobat punika saking ewah-ewahing gesangipun; reresik dhiri, ngedohi panggawe piala, ugi mbelani tiyang ingkang asor (Ay. 16-17). Mila tansaya pranyata karsanipun Gusti Allah ing sajroning tembung pangibadah ingkang sejati kagem Gusti punika pamratobat ingkang ngewahi gesangipun manungsa tumuju ing gesang suci sarta nyumurupaken pakaryanipun Gusti Allah tumrap tiyang asor sarta ingkang betahaken. Kados Gusti Yesus ingkang rawuh madosi menda-mendanipun ingkang ical, mblasar sarta betahaken kawilujengan.
Panutup
Pekan Pemuda punika wekdal kangge para nem-neman Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) kangge nyumurupaken dhiri sarta ndherek makarya lan lelados ing greja kagunganipun Gusti. Ananging Pekan Pemuda langkung prayogi boten dhawah wonten ing penggalih bab rutinitas ritual kemawon, awit pangibadah ingkang sejati punika nyumurupaken pakaryanipun Gusti Allah sae sacara ritual, sae sacara aksi lan paseksi ingkang sanyata. Kadya rawuhipun Gusti Yesus ing alam donya punika boten supaya dipun ladosi, nanging malah ngladosi, mligi kangge umat ingkang ical, mblasar sarta betahaken kawilujengan. Mekaten ugi kita lan para nem-neman minangka “gereja” estu kedah nindakaken pakaryan netepi timbalan dados berkah kangge alam donya. Punapa malih ing mangsa pemulihan Covid-19 punika, sae pemulihan ekonomi, sae pemulihan sesambetan kaliyan tiyang sanes, sae pemulihan sacara kesehatan, lsp, sumangga kita sami mujudaken pangibadah kita ingkang sejati ing ngarsanipun Gusti. Mligi para nem-neman saged martosaken pakaryanipun Gusti sacara nyata mawi maneka warni wadah greja kita GKJW, kados PEW, P2A, Tanggul Bencana, sarta Komunitas Peramaian Lintas Budaya lan Agama, satemah tiyang sanes ingkang ngalami kasangsaran saged nyekseni kamulyanipun Sang Kristus ing sajroning peladosan kita sedaya. Kadya tetembungan tembang PKJ. 249 pada 3: Berbahagia orang yang hidup beribadah, yang melayani orang susah dan lemah dan penuh kasih menolong orang yang terbeban; itulah tanggung jawab orang beriman. Amin. [mojo].
Pamuji: KPJ. 196 : 1, 2 Kula Pengin Lir Gusti