Gratifikasi Pancaran Air Hidup 10 Oktober 2022

10 October 2022

Bacaan: 2 Raja-raja 5 : 15 – 19 | Pujian: KJ. 436 : 1,2
Nats:
“Tetapi Elisa menjawab: ”Demi TUHAN yang hidup, yang dihadapan-Nya aku menjadi pelayan, sesungguhnya aku tidak akan menerima apa-apa.” Dan walaupun Naaman mendesaknya supaya menerima sesuatu, ia tetap menolak.” (Ayat 16)

Akhir-akhir ini sering kita saksikan di media massa adanya pejabat negara yang ditangkap oleh KPK dikarenakan tersangkut kasus gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas yang dapat berwujud uang, barang, maupun fasilitas. Gratifikasi dipahami sebagai akar dari korupsi, karena menjadi suap yang tertunda ataupun suap yang terselubung, yang dapat mempengaruhi keobjektivitasan serta keprofesionalan seorang pejabat negara. Sekilas mata mungkin tidak ada salahnya dalam niatan memberikan sesuatu sebagai sebuah ucapan terima kasih kepada seseorang. Namun bisa terjadi sebuah “relasi halus” yang berpotensi merusak relasi yang sejati. Gratifikasi memang menjadi akar korupsi, karena membentuk relasi halus yang dapat membuat seseorang memiliki kecenderungan hati untuk lebih terpaut pada satu pihak daripada melihat segala sesuatu secara proporsional. 

Demikian pula dengan kisah penyembuhan Naaman si kusta dari Aram oleh nabi Elisa. Dengan didorong rasa syukur dan terima kasih atas pemulihan yang diterimanya, Naaman bermaksud memberikan suatu imbalan kepada Elisa yang telah menyembuhkannya. Namun di sini Elisa menunjukkan integritasnya dengan secara tegas menolak imbalan dari Naaman. Elisa menyadari bahwa semua mujizat itu bisa terjadi karena kuasa Tuhan Allah semata. Elisa menyadari dirinya hanyalah hamba yang menjadi perantara terwujudnya mujizat tersebut. Oleh karena itu, Elisa tidak ingin merebut kemuliaan yang menjadi milik Allah. Justru dengan tanpa adanya imbalan yang ia terima, dapat terjadi relasi yang indah, yaitu Naaman menjadi percaya dan bermaksud untuk senantiasa beribadah kepada Tuhan Allah (Ay. 17).

Dalam suasana bulan Ekumene ini, kita kembali diingatkan untuk mewujudkan hubungan dan kerjasama yang baik di antara umat beragama yang dilandasi dengan motivasi yang murni. Singkirkan segala bentuk keinginan menerima keuntungan atau imbalan yang tidak semestinya kita terima, karena itu bukanlah hak dan bagian kita. Sebab dalam hidup ini hanya ada satu gratifikasi yang boleh kita terima, yaitu anugrah keselamatan dari Allah di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Sola Gratia! Amin. [ads].

 “Semua kar’na anugrah-Nya, dib’rikan-Nya pada kita.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak