Tahun Gerejawi: Bulan Ekumene
Tema: Ekumene: Antar Denominasi
Bacaan Alkitab: Lukas 9:51-56
Ayat Hafalan: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan. Tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.” (Roma 12:21)
Lagu Tema: “Tuhanku Bila Hati Kawanku” (KJ. 467)
Tujuan:
- Remaja dapat memberikan penilaian terhadap tindakan Tuhan Yesus yang menolak untuk melakukan tindak kekerasan terhadap orang Samaria.
- Remaja dapat menjelaskan bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar yang baik dalam membangun kehidupan bersama.
- Remaja dapat menunjukkan hambatan dalam mengendalikan diri dari tindak kekerasan dalam hidup bersama.
- Remaja dapat menunjukkan faktor pendukung untuk mengendalikan dirinya dari tindak kekerasan dalam hidup bersama.
Penjelasan Teks (Hanya Untuk Pamong)
Ketika Yesus dan murid-muridNya hendak menuju Yerusalem mereka memasuki suatu desa orang Samaria untuk melakukan persiapan. Namun rupanya orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Yesus di desa mereka. Yakobus dan Yohanes, dua murid Tuhan Yesus, tidak terima melihat kejadian ini. Sebagai pengikut Yesus mereka merasa perlakuan orang-orang Samaria kepada Tuhan Yesus itu tidak pantas. Mereka menganggap apa yang dilakukan oleh orang-orang Samaria itu adalah penghinaan kepada Tuhan Yesus. Karena itu mereka ingin membalas perbuatan orang-orang Samaria itu.
Kemudian mereka menawarkan diri untuk menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan orang-orang Samaria itu. Yang dilakukan Tuhan Yesus bukan menyetujui apa yang dilakukan oleh kedua muridNya, melainkan justru menegor mereka. Tuhan Yesus tetap tenang ketika Ia menghadapi penolakan. Dengan penuh kasih dan kesabaran Tuhan Yesus menjalani semua itu. Ia tidak membalas perbuatan yang tidak baik itu dengan hukuman. Ia tetap mengasihi orang-orang Samaria dan dengan penuh kesabaran Ia tidak melakukan tindakan balasan ataupun kekerasan kepada orang-orang Samaria yang telah menolakNya.
Dari sikap Tuhan Yesus ini remaja diajak untuk meneladan kepada Tuhan Yesus. Remaja diajak untuk mengendalikan dirinya ketika menghadapi perbuaan tidak baik yang dilakukan orang lain kepadanya. Persaudaraan dan kehidupan bersama harus dijaga dengan kesabaran dan kasih. Balasan berupa kekerasan bukanlah jalan yang baik untuk membangun hidup bersama. Dengan membalas kejahatan dengan kebaikan dan kasih maka kita memutus rantai pembalasan kekerasan. Kasih dan kesabaran yang akan membangun kehidupan bersama.
Pendahuluan
Pernahkah teman-teman melihat tawuran pelajar? Atau mungkin bahkan ada yang pernah terlibat di dalam tawuran tersebut? Menurut teman-teman, tawuran itu lebih menguntungkan atau merugikan? Tentu semua orang tahu bahwa tawuran itu merugikan. Tidak hanya merugikan yang ikut tawuran saja tetapi juga merugikan orang lain yang berada di sekitar tawuran tersebut terjadi. Yang ikut tawuran tentu membahayakan nyawanya sendiri dan orang lain, karena seringkali tawuran menggunakan senjata yang dapat melukai siapapun. Untuk orang lain juga sangat merugikan karena orang yang tidak terlibat tawuranpun juga dapat menjadi korban salah sasaran. Tawuran juga seringkali mengganggu kepentingan umum dan merusak fasiitas umum.
Tawuran tentu tidak ada gunanya. Tawuran hanya membawa kerugian bagi siapapun. Tawuran terjadi karena ada dua pihak yang tidak dapat saling menjaga emosi, sehingga akhirnya terjadi tindak kekerasan.
Cerita
Mari kita baca Lukas 9: 51-56. Dari bacaan ini kita melihat bahwa dua murid Tuhan Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang Samaria. Pada waktu itu Tuhan Yesus dan murid-muridNya akan memasuki kota Yerusalem. Mereka akan melakukan persiapan terlebih dahulu di satu desa orang Samaria. Namun orang-orang Samaria di desa itu menolak Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Karena itu Yakobus dan Yohanes terpancing emosinya dan ingin membalas perbuatan orang-orang Samaria yang menolak mereka. Yakobus dan Yohanes menawarkan kepada Tuhan Yesus untuk menyuruh api turun dari langit dan membinasakan orang-orang Samaria itu.
Kita bisa membayangkan seandainya Tuhan Yesus berkenan, tentu desa orang Samaria itu akan habis dimakan api. Namun Tuhan Yesus tidak melakukannya. Ia tidak setuju dengan kedua muridNya, bahkan menegor mereka. Tuhan Yesus tetap tenang ketika menghadapi penolakan. Ia tidak membalas perbuatan itu. Justru dengan kesabaran dan kasih Ia meminta kedua muridNya untuk tidak membalasnya. Memang sulit untuk menjaga emosi kita ketika dibuat marah oleh orang lain, atau kita melihat perbuatan orang lain yang tidak pantas. Bahkan kedua murid Tuhan Yesuspun juga sulit untuk menjaga emosinya. Keinginan untuk membalas perbuatan yang tidak baik muncul.
Namun kita dapat belajar dari Tuhan Yesus yang tetap tenang dan sabar serta penuh kasih. Ia tidak membalas apapun yang diperbuat oleh orang-orang Samaria. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ini memutus rantai permusuhan. Bayangkan seandainya Tuhan Yesus berkenan agar api turun dari langit membakar desa orang Samaria, maka orang Samaria akan memiliki dendam kepada murid-murid Tuhan Yesus. Ini akan menjadi lingkaran dendam yang tidak ada habisnya. Tetapi Tuhan Yesus memutus rantai itu dan menjaga kedamaian tetap ada di tengah-tengah mereka. Demikian juga dengan kita. Kekerasan bukanlah jalan yang baik untuk membalas kekerasan. Di dalam hidup bersama tentu sering terjadi perbedaan pendapat. Tetapi hal itu seharusnya tidak membuat kita membalasnya dengan kekerasan. Atau bahkan dengan provokasi, atau menumbuhkan emosi teman yang sedang berselisih untuk melakukan kekerasan.
Meneladan kepada Tuhan Yesus, kita harus dipenuhi dengan kesabaran dan kasih sehingga kita tidak dikuasai oleh keinginan untuk membalas kekerasan dengan kekerasan. Tugas kita adalah untuk memutus rantai dendam dengan tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Dengan menjadi pembawa damai bagi semua orang. Mulai dari diri kita sendiri untuk memutus rantai dendam, maka kedamaian dalam hidup bersama akan terwujud. Bekerja sama lebih baik daripada saling membalas dengan kekerasan.
Aktivitas:
Permainan bekerja sama, “Orang buta menggambar”
Alat yang dibutuhkan :
- Kertas kosong
- Alat tulis
Bagi tim dalam beberapa kelompok dengan masing-masing terdiri dari dua orang. Dalam satu kelompok, satu orang memiliki gambar dengan judul gambar, sementara lainnya memiliki selembar kertas kosong dan alat tulis. Orang yang memegang gambar tidak boleh memperlihatkan gambar kepada orang lain. Dia harus mendeskripsikan gambar yang dipegangnya dengan kata-kata tanpa menyebut benda yang ada di gambar tersebut. Sementara rekan kelompoknya harus menebak apa yang dijelaskan dalam bentuk gambar.
Misalnya, gambar dengan judul Musa membelah laut, pemain tidak boleh menyebut kata-kata Musa, membelah, laut.
Gunakan batas waktu dimana pemain harus dapat menyelesaikan gambar yang dijelaskan rekan timnya.
Jumlah orang pemegang gambar bisa lebih dari satu orang, agar pemain menjadi lebih seru.