Minggu Biasa | Bulan Ekumene
Stola Hijau
Bacaan 1: 2 Raja – Raja 5 : 1 – 3, 7 – 15
Bacaan 2: 2 Timotius 2 : 8 – 15
Bacaan 3: Lukas 17 : 11 – 19
Tema Liturgis: Mewujudkan Hubungan dan Kerjasama Antar Umat sebagai Panggilan Pelayanan
Tema Kotbah: Memberitakan Allah yang Universal
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
2 Raja – raja 5 : 1 – 3 , 7 – 15
Menurut tradis Kristen, Kitab 2 Raja-raja adalah termasuk dalam kitab – kitab sejarah pada Perjanjian Lama. Kitab 2 Raja-raja merupakan lanjutan sejarah dari kedua kerajaan Israel (Kerajaan Utara (Samaria) dan Kerajaan Selatan (Yehuda)) yang kisahnya terputus pada akhir Kitab 1 Raja-raja. Catatan khusus untuk 2 Raja-raja 5:1–3, 7–15 yang merupakan bagian dari perikop 2 Raja–raja 5:1–27 (menurut pembagian LAI), paling tidak ada 2 hal sebagai berikut :
- Dalam pendekatan politik, hubungan antara Kerajaan Israel (bagian Utara) dan Kerajaan Aram pada zaman nabi Elisa (kira – kira abad ke-8 SM) menunjukkan situasi yang buruk, sehingga wajar jika Raja marah dan menuduh Naaman mencari gara – gara (Ay. 7).
- Buruknya hubungan Israel – Aram itu juga didukung adanya pemahaman iman Israel yang melihat orang Aram (atau Syria) adalah orang kafir yang menyembah berhala. Bagi orang Israel, keberadaan orang Aram adalah “ancaman” yang harus dilawan (dan bahkan diperangi).
Dalam situasi yang demikian, tampaknya kisah ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan orang Israel dan pembaca lainnya bahwa : Pertama, karya kasih TUHAN Allah tidak bisa dibatasi atau diatur oleh golongan, kepentingan politik dan bangsa tertentu, bahkan oleh logika dan pemahaman keyakinan iman manusia. Yang kedua, TUHAN Allah juga berkenan memanggil umat untuk menyatakan karya-Nya bagi semua orang.
2 Timotius 2 : 8 – 15
Beberapa informasi menyebutkan :
- Surat Paulus kepada Timotius ditulis ketika Paulus berada dalam situasi sulit di penjara yang sudah tidak bisa ditemui oleh siapapun. Diperkirakan ini penjara yang terakhir di Roma, menjelang dia dieksekusi mati. Sehingga Paulus merasa sudah dekat waktu kematiannya. Tampaknya ini juga karena beratnya siksaan yang dialami, yang membuatnya sangat menderita. Dalam situasi yang demikian, Paulus merasa perlu menyampaikan pesan pentingnya kepada Timotius.
- Gambaran “prajurit”, “olah-ragawan” dan “petani” pada ayat sebelumnya dalam perikop ini, menunjukkan motivasi kuat yang diberikan kepada Timotius untuk memberitakan Injil tentang Tuhan Yesus Kristus. Maka, Surat ini juga digolongakan sebagai surat pastoral pemberitaan Injil (Ay. 1 – 7).
- Pemberitaan Injil adalah “wajib” hukumnya dilakukan oleh Timotius. Karena kebenaran Injil harus terus dinyatakan (tidak boleh terbelenggu, tidak boleh berhenti) “…supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.” (Ay. 10).
Panggilan Paulus adalah memberitakan Injil, khususnya kepada orang – orang non Yahudi, kepada bangsa – bangsa. Maka dalam menjalankan panggilan itu Paulus harus bekerjasama dengan Timotius untuk membantu dalam keterbatasannya dan meneruskan pemberitaan Injil kepada semua orang.
Lukas 17 : 11 – 19
Beberapa catatan menunjukkan bahwa secara umum Injil Lukas sangat menekankan pentingnya pemberitaan Kerajaan Allah (Yun : Basileia tou Theou) bagi bangsa – bangsa. Teologi yang dikembangkan adalah Allah yang universal menyatakan kebaikan-Nya bagi semua, juga bagi yang tersisih (miskin, hina, sakit; Yun: ptokhos; termasuk yang berdosa dan perempuan). Kisah Tuhan Yesus yang menyembuhkan 10 orang kusta, nampak menegaskan teologi ini. Mengingat latar-belakang dimana peristiwa itu terjadi, keberadaan orang Samaria di mata orang Yahudi dan pengajaran keagamaan Yahudi tentang orang yang terkena penyakit kusta.
Ayat 11 menunjukkan Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem (daerah Yudea), dan melewati daerah Samaria, “…. Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea.” Ini berbeda dengan kebanyakan orang Yahudi yang lebih memilih menghindari daerah Samaria kalau sedang melakukan perjalanan dari Yudea ke Galilea atau sebaliknya. Mereka lebih memilih melewati daerah Perea, Gerasa, dan baru masuk Galilea. Rute ini lebih jauh dan lebih panjang dibanding kalau melewati daerah Samaria (lihat peta Alkitab “Palestina pada Zaman Tuhan Yesus”).
- Dalam pandangan Yahudi, orang Samaria keturunan yang “tercemar”, baik dalam ras dan dalam keagamaan. Hal ini dilatar-belakangi oleh politik “pencampuran” yang dilakukan Kekaisaran Asyur, sehingga terjadi kawin campur dan pencampuran ritual keagamaan. (2 Raja – Raja 17 – 18)
- Pengajaran keagamaan Yahudi menganggap orang yang terkena penyakit kusta menerima kutuk karena dosa yang dilakukannya. Maka orang kusta harus diasingkan, supaya tidak “mencemari” kehidupan normal. Itulah stigma yang “ditempelkan” oleh orang Yahudi kepada orang Samaria dan orang yang terkena penyakit kusta. Tetapi Tuhan Yesus tidak menghindari daerah Samaria. Tuhan Yesus juga berkenan mendekati dan menyembuhkan orang – orang kusta itu, yang salah satunya adalah orang Samaria. Penulis Injil Lukas sungguh menampilkan Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang universal, yang menyatakan kebaikan-Nya untuk siapa saja.
Benang Merah Tiga Bacaan:
- TUHAN Allah adalah Allah yang universal, Allah bagi semua ciptaan dan menyatakan karya kasih keselamatan-Nya bagi semua.
- Karya kasih keselamatan Allah (berita Injil Yesus Kristus) harus terus diberitakan kepada semuanya. Dan, inilah panggilan setiap orang percaya.
- Pemberitaan karya kasih keselamatan Allah (berita Injil Yesus Kristus) sudah semestinya dilakukan bersama – sama.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing).
Pendahuluan
Namanya Mbah Sadiman, seorang pria kelahiran Wonogiri, 1954, tinggal di Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jawa Tengah. Dialah yang disebut – sebut sebagai Pahlawan Penghijauan dari Wonogiri. Ini bermula dari kejadian kebakaran hutan Gunung Lawu pada Tahun 1964 dan 1980’an, yang menyebabkan sebagian besar lerengnya gundul dan kering. Akibatnya, jika musim kemarau tiba masyarakat mengalami kesulitan air. Kondisi inilah yang menjadikan mbah Sadiman tergerak hati untuk menanam pohon di lereng Gunung Lawu, khususnya di perbukitan Gendol, Ampyang dan sekitarnya. Dimulai sejak tahun 1996 dengan 13 batang pohon beringin, mbah Sadiman menghijaukan lebih dari 100 hektar lahan. Hingga saat ini sudah puluhan ribu pohon yang ditanam. Sehingga masyarakat di sekitar Gunung Lawu tidak lagi merasakan kekurangan air, walaupun musim kemarau tiba. Maka wajar, atas apa yang dilakukan itu mbah Sadiman, dia memperoleh banyak perhargaan. Salah satunya adalah Kalpataru dari Presiden Joko Widodo pada tahun 2016.
selengkapnya dapat dibaca pada link ini
Isi
Apa yang dilakukan mbah Sadiman, dari kaca mata iman Kristen tentu merupakan cerminan karya Allah yang universal. Penghayatan Allah dan karya-Nya yang universal ini tampak dalam ketiga bacaan kita hari ini. Kisah penyembuhan Naaman (yang orang Aram) oleh nabi Elisa (yang orang Israel); peristiwa Tuhan Yesus (Yahudi) menyembuhkan sepuluh orang kusta (salah satunya orang Samaria); dan panggilan Paulus yang dilakukan bersama Timotius untuk memberitakan Injil bagi bangsa – bangsa, menunjukkan penghayatan teologis TUHAN Allah adalah Allah bagi semua ciptaan dan karya-Nya bagi semuanya. Tidak ada kekuatan manapun yang dapat membatasi Allah dan karya-Nya itu.
Lalu apa yang harus dilakukan dengan penghayatan teologis Allah yang universal ini? Yang Pertama, tentu sebagai orang percaya kita dipanggil untuk memberitakan Allah yang universal itu dalam keseluruhan hidup ini. Seperti nabi Elisa yang tidak membatasi karya mujizat Allah hanya untuk sebangsa dan seagamanya saja. Dia menyembuhkan Naaman yang dianggap sebagai musuh bangsanya dan dianggap kafir. Sebagaimana Tuhan Yesus yang malah berkenan bergaul serta menolong orang Samaria dan orang – orang kusta. Walaupun dalam pandangan Yahudi mereka dicap “tercemar” dan dapat “mencemari”. (Orang Samaria dianggap sebagai keturunan dari ras dan keagamaan yang “tercemar”; orang kusta dicap kena kutukan karena dosanya sehingga harus dijauhi supaya tidak “mencemari” kehidupan normal). Demikian juga dengan Paulus, yang dalam surat pastoralnya memotivasi Timotius, apapun yang terjadi, walaupun harus menderita, Injil Yesus Kristus harus diwartakan kepada bangsa – bangsa. Inilah contoh – contoh memberitakan Allah yang universal dalam kehidupan.
Yang kedua, karena TUHAN Allah adalah Allah bagi semua dan berkarya bagi semua, maka sudah semestinya dalam memberitakan Allah yang universal itu kita lakukan bersama dengan semua. Ini tampak sekali khususnya dalam surat Paulus kepada Timotius. Paulus mendorong Timotius untuk mau bersamanya menjalankan dan meneruskan panggilan memberitakan Injil.
Penutup
Bulan Ekumene mengingatkan kita akan pentingnya mengupayakan terwujudnya kesatuan bukan hanya antar gereja, namun juga kesatuan sebagai manusia sesama ciptaan Allah yang universal. Khususnya kesatuan (atau kebersamaan) dalam karya mengupayakan terwujudnya kehidupan damai sejahtera bagi semua. Untuk itu mari bersama dengan sesama, di manapun kita berada, melalui wahana apapun, mari mengupayakan terwujudnya kebaikan, terwujudnya kehidupan damai sejahtera bagi semuanya. Dengan demikian kita memenuhi panggilan memberitakan Allah yang universal, memberitakan Injil kepada semua dan bersama dengan sesama. Percayalah, bersama TUHAN dan bersama dengan sesama, kita akan dimampukan mewujudkan kehidupan damai sejahtera. Amin. [WN].
Pujian: KJ. 341 Kuasa-Mu dan Nama-Mulah
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
(Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak)
Pambuka
Asmanipun mbah Sadiman, priyantun ingkang wiyos ing Wonogiri taun 1954, ingkang dumunung wonten ing dukuh Dali, dusun Geneng, Bulukerto, Wonogiri, Jawi Tengah. Priyantun punika kasebat Pahlawan Penghijauan saking Wonogiri. Punika kawiwitan wontenipun kedadosan kebakaran wana ing redi Lawu nalika taun 1964 lan 1980’an, ing pundi kedadosan punika dadosaken sapérangan ageng èrèng – èrèng Lawu gundhul lan garing. Lan punika ugi dadosaken masyarakat sak kiwa – tengenipun redi Lawu nalika mangsa ketiga ngalami kekirangan toya. Kawontenan punika ingkang dadosaken mbah Sadiman krenteg nanem uwit ringin ing punthug Gendol, Ampyang lan sak kiwa – tengenipun èrèng – èrèng redi Lawu. Wiwitanipun namung nanem tiga-welas wit ringin ing taun 1996. Ngatos samangké ingkang katanem sampun maèwu – èwu uwit, lan wiyaripun sampun langkung saking satus hektar. Dampakipun masyarakat boten naté ngalami kekirangan toya malih. Mila punika mbah Sadiman nampi kathah penghargaan, salah satunggalipun Kalpataru saking Presiden Joko Widodo ing taun 2016.
Isi
Punapa ingkang dipun tindakaken déning mbah Sadiman, ing salebeting iman Kristen punika gegambaran pakaryanipun Gusti Allah ingkang asipat universal. Pamanggih Gusti Allah lan pakaryanIpun ingkang universal punika ugi cetha sanget wonten ing tigang waosan kita. Cariyos nabi Elisa (tiyang Israel) ingkang nyarasaken Naaman (tiyang Aram); Gusti Yesus (tiyang Yahudi) ingkang nyarasaken sedasa tiyang budhugen (salah satunggalipun tiyang Samaria); lan timbalan Paulus ingkang dipun tindakaken sesarengan kaliyan Timoteus tumrap bangsa – bangsa, nedahaken pamanggih teologis, Gusti Allah punika Allahipun sedaya titah lan pakaryanIpun kanggé sedaya. Boten wonten satunggal – tunggala kekiyatan ingkang saged ngwatesi Gusti Allah lan pakaryanIpun.
Lha, menawi mekaten punapa ingkang kedah kita tindakaken sesambetan kaliyan pamanggih teologis Allah ingkang universal punika? Ingkang sepisan, tamtu minangka tiyang pitados saben kita nampi timbalan martosaken bab Allah ingkang universal ing wetahing gesang kita. Kados déné nabi Elisa ingkang boten ngwatesi pakaryan mujizatipun Gusti Allah namung tumrap sak bangsa lan sak agaminipun piyambak. Mila panjenenganipun karsa nyarasaken Naaman senaosa kaliyan bangsanipun dipun anggep mengsah lan kafir. Kados déné Gusti Yesus ingkang karsa mangun sesambetan sarta paring pitulungan dhateng tiyang Samaria lan tiyang budhugen. Senaosa pamanggihipun tiyang Yahudi, tiyang Samaria lan budhugen punika “nistha” lan saged nulari dadosaken nistha sanèsipun. (Tiyang Samaria dipun anggep turunan saking ras lan agami ingkang nistha; tiyang budhugen dipun anggep tampi ipat – ipat amargi dosanipun, mila kedah dipun tebihi supados boten nulari nistha dhumateng ingkang gesangipun kaanggep saé). Mekate ugi kaliyan Paulus, wonten ing salebeting seratipun memotivasi Timoteus, kadosa pundi kawontenanipun, senaosa nandhang kasangsaran Injil bab Gusti Yesus kedah dipun wartosaken tumrap bangsa – bangsa. Punika kalawau minangka conto – conto martosaken bab Allah ingkang universal ing sawetahing gesang ing pigesangan.
Ingkang kaping kalih, inggih amargi Gusti Allah punika Gusti Allahipun sedaya lan pakaryanipun kanggé sedaya titah, mila sampun sak mesthinipun wonten sak lebeting martosaken bab Gusti Allah ingkang universal punika katindakaken sesarengan kaliyan sedaya. Punika cetha dipun tedahaken mliginipun wonten ing seratipun Paulus dhumateng Timoteus. Paulus ngersakaken Timoteus purun sesarengan nindakaken timbalan lan ugi nglajengaken martosaken Injil tumrap bangsa – bangsa.
Panutup
Wulan Ekumene punika ngèngetaken saiba wigatos ngupadi kawujuding gesang ingkang nyawiji. Boten namung ing antawis gréja, ananging ugi nyawijining gesang kita minangka manungsa ingkang sami – sami dipun titahaken déning Gusti Allah ingkang universal. Mliginipun nyawiji ing bab pakaryan sesarengan ngupadi kawujuding gesang tentrem rahayu kanggé sedaya. Mila mangga sesarengan kaliyan sesami, ing pundia kémawon kita sami purun ngupadi kawujuding kasaénan gesang, kawujuding tentrem rahayu kanggé sedaya. Inggih kanthi mekaten kita sami martosaken bab Gusti Allah ingkang universal, inggih martosaken Injil sesarengan kaliyan sesami. Samia pitados, sesarengan kaliyan Gusti lan sesarengan kaliyan sesami, kita badhé pinaringan kasagedan mujudaken gesang tentrem rahayu tumrap sedaya. Amin. [WN].
Pamuji: KPJ. 192 Isining Kabar Kabingahan