Kendalikan Nafsu Pancaran Air Hidup 28 Juli 2022

28 July 2022

Bacaan: Amsal 23 : 1 – 11 | Pujian: KJ. 415
Nats:
“Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” (Ayat 2).

Mudah tergiur dengan sesuatu yang terlihat nikmat dan terbuai dengan ungkapan yang terdengar indah adalah salah satu kelemahan manusia. Hal tersebut menandakan bahwa sebagai manusia tidak bisa dipungkiri, kita cenderung dikuasai dan sekaligus dikendalikan oleh hawa nafsu. Tingkat ketertarikan atas beragam keinginan yang menggoda, membuat hawa nafsu memiliki peran besar untuk menggerakkan kita agar berupaya memenuhinya. Jika pada akhirnya kita dikendalikan oleh hawa nafsu, maka dipastikan kita akan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan bertahan baik, bahkan akan cenderung mengalami kehancuran. Itulah sebabnya, seringkali kita mendengar nasihat untuk mengendalikan hawa nafsu, untuk tidak mudah terjebak akan banyaknya tawaran yang menggiurkan, namun kenyataannya merugikan.

Penulis Amsal dalam bacaan kita pada hari ini mengingatkan kita dengan memberi gambaran sebuah perjamuan antara seseorang dengan pejabat di lingkungan istana. Diperlukan kehati-hatian untuk menikmati apa yang disajikannya. Demikian juga dalam mendengar, karena pertemuan itu tidak hanya sekedar menikmati jamuan makan dan minum sepuasnya, namun juga ada kesempatan untuk mengadakan percakapan. Disitulah seseorang harus menjaga diri supaya tidak mudah terjebak untuk makan dan minum secara berlebihan, serta bisa menata diri saat berlangsungnya percakapan dengan menyaring apa yang didengar dan tidak mudah menanggapinya. Inilah gambaran sikap agar seseorang terhindar dari kerakusan, ketamakan maupun ambisi pribadi. Diharapkan kita memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari hawa nafsu yang merusak.

Dengan merenungkan bacaan kita hari ini, tepatlah bagi kita untuk menjaga diri dari jeratan hawa nafsu, dengan memperhatikan setidaknya dua hal. Pertama, sikap penuh kehati-hatian dalam memutuskan terhadap segala sesuatu di hadapan kita yang menggiurkan, yang akan kita nikmati, agar tidak merugikan/ membahayakan diri sendiri. Kedua, mencermati benar dengan siapa kita bercakap-cakap, apa yang kita dengarkan, supaya tidak terjadi kesalah-pahaman yang menjurus pertikaian. Disinilah diperlukan hikmat dari Tuhan, supaya kita dimampukan untuk menahan diri. Amin. [YDSN].

 “Kendalikan hawa nafsumu dengan hikmat Ilahi”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak