Mengabaikan Peringatan Pancaran Air Hidup 4 Juli 2022

4 July 2022

Bacaan: Yeremia 6 : 10 – 19 | Pujian: KJ. 416 : 1, 3
Nats:
“Beginilah Firman Tuhan: “Ambilah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: “Kami tidak mau menempuhnya!” (Ayat 16).

Di kota Surabaya, setiap pagi mulai jam 6 sampai jam 7 pagi, kita akan melihat kesibukan orang yang sedang menuju ke sekolah atau ke tempat kerja. Terkadang begitu tampak terburu-buru, seolah-olah sudah akan terlambat sekali. Traffick Light yang belum sepenuhnya menyala hijau sudah diterjang. Sementara arus lalu-lintas di sisi yang berlawanan yang tinggal sekian detik saja lampu akan berwarna merah juga diterjang. Akibatnya bisa diduga: tabrakan. 

Ada hal lain yang juga tidak kalah mengerikan. Di sebuah palang pintu kereta api, palang pintu sudah pula diturunkan. Sebentar lagi kereta akan segera lewat. Namun toh, ada juga orang-orang yang nekat mengangkatnya lalu menyeberangi lintasan kereta api itu. Tentu mudah kita tebak resiko apa yang mungkin terjadi? Ya, kecelakaan yang bisa menewaskan pelanggar tersebut. Kemalangan seperti itu sebenarnya bisa kita hindari bila kita patuh kepada rambu-rambu atau aturan yang ada. Kuncinya adalah kesadaran diri untuk menegakkan peraturan yang sudah dibuat dan disepakati.

Lebih parah lagi bila ada seseorang yang mengatakan bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Tentu hal seperti ini adalah sebuah kebodohan yang luar biasa. Orang cenderung membuat aturannya sendiri karena merasa bisa mengakali peraturan yang ada. Satu, dua atau tiga kali mungkin mereka bisa selamat. Tetapi tentu tidak akan selamanya begitu. Suatu saat akan tiba hari naas, dan itupun seandainya mereka masih selamat, belum tentu mereka segera sadar dan bertobat. Oleh sebab itu, kepatuhan seharusnya dibangun di tiap-tiap keluarga. Perlu dilatih sejak masih anak-anak.

Pengalaman serupa juga dialami bangsa Israel yang diperingatkan oleh Tuhan. Alih-alih merasa malu dan bertobat, sikap yang ditampilkan justru mengabaikannya. Atau mungkin lebih tepatnya: “melawan.” Sebagaimana peristiwa di traffick light atau pintu perlintasan kereta api tadi, kita pasti bisa menduga, dampak besar apa yang akan diterima bangsa Israel atas kebodohannya tersebut. Mari kita belajar dari pengalaman Firman Tuhan hari ini. Jangan bodoh. Bertindaklah dengan penuh hikmat. Belajarlah menurut kehendak Tuhan, supaya kita selamat. Amin. [DK].

Begja wong kang eling lan waspada.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak