Pemahaman Alkitab Juli 2022

6 June 2022

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2022 (I)
Bulan Keluarga

Bacaan: Kejadian 12 : 10 – 20
Tema Liturgis:
Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema PA
: Mengambil Keputusan yang Seturut Kehendak Allah

Pengantar
Ada sebuah kalimat bijak yang demikian, “Hidup adalah seni menggambar tanpa sebuah penghapus, jadi berhati-hatilah dalam mengambil keputusan di tiap lembar berharga dalam hidupmu.” Kalimat ini menegaskan kepada kita bahwa diperlukan sikap kehati-hatian dalam memutuskan sesuatu. Kita perlu memiliki pertimbangan yang matang agar dalam setiap keputusan yang kita buat membawa kebaikan bagi diri kita dan orang lain.

Realita kehidupan dalam keluarga juga diperhadapkan pada dinamika persoalan dan pergumulan hidup yang menuntut pada pengambilan keputusan yang tepat dan bijaksana. Di antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain memiliki cara yang berbeda dalam pengambilan keputusan. Misalnya tentang cara mendidik anak. Keluarga A memutuskan cara mendidik anak mereka dengan cara yang tegas, disiplin, dan cenderung otoriter. Keluarga B mendidik anak mereka dengan cara terbuka, membangun komunikasi/ dialog, dan motivasi. Keluarga C cenderung membebaskan anak mereka. Hal penting yang perlu kita perhatikan adalah setiap keputusan apapun dalam keluarga memiliki konsekuensi dan akibat. Tidak semua keputusan yang kita putuskan tersebut baik dan benar, ada kalanya kita bisa salah memutuskan sesuatu yang mengakibatkan keburukan pada keluarga kita. Di sinilah kita perlu bersikap bijaksana serta mampu mempertimbangkan secara matang dan baik agar setiap keputusan kita senantiasa membawa kebaikan bagi keluarga kita.

Penjelasan Teks
Kisah dalam Kejadian 12:10-20 merupakan kelanjutan dari kisah Abram dipanggil Allah (Kej. 12:1-9). Pada Kej. 12:1-9 ditunjukkan Abram yang percaya sepenuhnya kepada Allah. Saat Allah memanggilnya, Abram taat melakukan perintah Allah yang mengutusnya pergi dari Haran tempat tinggalnya menuju Kanaan, suatu negeri yang dijanjikan Tuhan. Abram meyakini bahwa janji Allah kepadanya adalah benar. Iman Abram tampak dari kesediaan dan ketaatannya melakukan kehendak Allah.

Sedangkan pada perikop kita, Kej. 12:10-20 dikisahkan Abram beserta sanak keluarganya yang tinggal di daerah Negeb. Pada saat itu di Negeb sedang mengalami kelaparan. Sedangkan di Mesir memiliki bahan makanan yang melimpah dibandingkan di tempat yang lain. Hal ini dimungkinkan karena di Mesir terdapat sungai Nil, yang mengaliri wilayah pertanian Mesir. Maka Abram memutuskan untuk pergi ke Mesir, untuk mendapatkan makanan.

Keputusan Abram untuk pergi ke Mesir menjadi sebuah keputusan yang sulit, sebab dia akan dipandang sebagai orang asing di Mesir (Ay. 10). Karena takut diketahui sebagai orang asing dan takut dibunuh, maka Abram menyuruh Sarai mengakui dirinya sebagai adik Abram. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah bagi Abram meminta agar Sarai berpura-pura menjadi adiknya. Hal ini dilakukan Abram dengan tujuan agar dia dan Sarai beserta keluarganya dapat tinggal dengan aman di Mesir, agar mereka semua selamat (Ay. 11-13).

Hal yang tidak diduga oleh Abram, Firaun Raja Mesir menghendaki Sarai menjadi istrinya dan memberi Abram berbagai macam ternak seperti kambing domba, lembu sapi, keledai, dan unta. Firaun juga memberinya budak laki-laki dan perempuan (Ay. 16). Pada saat itulah kuasa Tuhan dinyatakan. Tuhan menimpakan tulah kepada Firaun beserta seisi istananya (Ay. 17). Hal ini menyebabkan Firaun mengetahui siapa Sarai sebenarnya, yang adalah istri Abram. Ia menyadari tindakannya mengambil Sarai sebagai istrinya adalah sebuah kesalahan. Karena itu, pada akhirnya Firaun mengembalikan Sarai kepada Abram dan membiarkan mereka pergi beserta ternak dan budak yang telah ia berikan (Ay. 18-20).

Relevansi
Keputusan Abram untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana kelaparan dengan cara berbohong menjadi tanda imannya yang bimbang terhadap pemeliharaan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Tampak rasa kuatir dan cemas yang dialami Abram ketika diperhadapkan dengan krisis kelaparan yang dialaminya. Abram seharusnya berdoa memohon pertolongan dan jalan keluar dari persoalan yang sedang dia hadapi bukan memutuskan dengan caranya sendiri, berbohong tentang jati diri Sarai. Kekuatirannya akan dirinya dan keluarganya menyebabkan Firaun mendapatkan tulah dari Tuhan. Melalui tulah yang diberikan kepada Firaun itu, Allah menghendaki agar Abram selalu percaya kepada-Nya. Allah berkarya menyelamatkan Abram dan keluarganya. Ia senantiasa setia dengan janji-Nya, karenanya Ia menghendaki Abram senantiasa setia pada-Nya kendati mengalami kesulitan hidup.

Dalam realitas kehidupan keluarga Kristen, bukan tidak mungkin apa yang dialami dan terjadi pada diri Abram juga kita alami dan terjadi pada keluarga kita. Dimana seringkali himpitan persoalan rumah tangga membuat kita memutuskan dengan cara kita sendiri tanpa melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan kita. Pada akhirnya yang terjadi, persoalan yang kita hadapi tidak kunjung selesai, tetapi semakin bertambah.

Materi Diskusi:

  1. Apakah pendapat saudara terhadap keputusan yang diambil oleh Abram, yang meminta Sarai mengaku sebagai adiknya?
  2. Apakah yang saudara lakukan manakala tidak ada jalan keluar dari persoalan yang saudara alami dalam keluarga seperti pertengkaran dalam keluarga yang berujung pada perceraian? Apakah keputusan yang akan saudara buat?
  3. Sebagai keluarga Kristen yang diberkati dan dipersekutukan oleh Tuhan Allah, bagaimanakah upaya kita mewujudkan keluarga yang harmonis dan ikut serta dalam karya Allah? [AR].

 


 

Pemahaman Alkitab (PA) Juli 2022 (II)
Bulan Keluarga

 

Bacaan: 1 Yohanes 3 : 11 – 18
Tema Liturgis: Keluarga yang Ikut Serta dalam Karya Allah
Tema PA: Kasih Persaudaraan

Pengantar
Dalam ikatan tali kekeluargaan, kita mengenal istilah keluarga inti dan keluarga besar. Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan anak. Atau sepasang suami istri yang telah diberkati dalam perkawinan kudus. Sedangkan keluarga besar adalah keluarga yang terdiri dari relasi hubungan kekeluargaan yang lebih besar, mencakup kakek, nenek, ayah, ibu, kakak, adik, saudara dalam satu garis keturunan. Untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang harmonis dalam keluarga, baik keluarga inti dan keluarga besar dibutuhkan komunikasi, sikap saling menerima dan menghargai satu dengan yang lain, serta kerelaan untuk berkorban bagi orang lain. Tidak ada keluarga yang tanpa masalah di dalamnya, tetapi setiap keluarga yang mampu mengatasi dan menyelesaikan masalah di dalamnya akan mampu menjadi keluarga yang harmonis.

Kasih adalah dasar dalam kehidupan keluarga. Kasih menyatukan setiap perbedaan yang ada dalam keluarga. Oleh kasih, setiap anggota keluarga aktif untuk saling melayani dan mengasihi satu dengan yang lain. Karena itu, kasih menjadi keutamaan dalam membangun kehidupan bersama dalam keluarga. Dan Tuhan Yesus itulah kasih itu. Setiap keluarga yang menjadikan Tuhan Yesus sebagai nahkoda dalam keluarga akan senantiasa diterangi dan dituntun dalam damai dan kasih. Melalui persekutuan, doa, dan ibadah di tengah keluarga, kita menghayati dan menghadirkan Yesus Kristus dalam keluarga kita. Keluarga yang hidup dalam pimpinan Yesus Kristus akan mampu merasakan mujizat-Nya dan penyertaan-Nya yang nyata.

Penjelasan Teks
Yohanes mengawali isi suratnya pada perikop ini dengan sebuah kalimat perintah, “Kita harus saling mengasihi.” (Ay. 1). Bagi Yohanes, kasih bukanlah sekedar kata benda atau kata sifat. Yohanes memakai kata kerja “mengasihi” (Ay. 11, 14, 18) untuk menegaskan bahwa setiap orang percaya hendaknya hidup saling mengasihi satu dengan yang lain. Sebagai kata kerja, kata “kasih” tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan kata yang menghubungkan manusia yang satu (personal) dengan manusia yang lainnya. Di dalam kasih itu selalu terwujud relasi antar sesama manusia bahkan antara manusia dengan Tuhan.

Selanjutnya Yohanes menunjukkan dua gambaran kasih yang ada pada manusia (Kain) dan Kristus. Kitab Kejadian menceritakan persembahan Kain tidak diterima oleh Allah, sedangkan persembahan Habel adiknya diterima Allah (Kej. 4:3-8). Hal ini menyebabkan kebencian dalam diri Kain terhadap Habel adiknya. Kain tidak lagi mengasihi Habel. Kain menyimpan kebencian yang mendalam yang berakhir dengan ia membunuh Habel. Yohanes menyebutkan Kain membenci Habel, karena Habel berbuat benar di hadapan Tuhan (Ay. 2). Oleh karena itu, Yohanes mengingatkan para pembaca suratnya, bahwa dunia membenci umat Tuhan, tetapi bagi mereka yang mau mengasihi saudaranya akan beroleh hidup. Sebaliknya jika kita membenci saudara kita dan membenci perbuatan yang benar, hal tersebut menunjukkan tidak ada kasih di dalam diri kita (Ay. 14). Mereka yang membenci saudara atau sesamanya berarti ia seorang pembunuh manusia dan tidak ada hidup yang kekal pada dirinya.

Kasih yang sejati ditunjukkan oleh Yohanes melalui Kristus. Yesus datang ke dunia adalah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada dunia. Kedatangan Yesus adalah tanda Allah mengasihi manusia dan dunia. Dalam hidup-Nya, Yesus menunjukkan kasih-Nya melalui perkataan dan perbuatan-Nya. Dia rela mengorbankan diri-Nya demi menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Melalui kesengsaraan, penderitaan, dan kematian-Nya di atas kayu salib, Yesus menunjukkan arti kasih yang sejati (Ay. 16). Dia menyerahkan nyawa-Nya agar setiap orang yang percaya beroleh hidup kekal. Oleh karena itu, bagi setiap orang percaya harus meneladani hidup-Nya.

Pada akhirnya Yohanes menegaskan dan mengajak kepada umat Tuhan untuk mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran (Ay. 18).

Relevansi
Meneladani Yesus Kristus berarti kita harus mengasihi sesama kita, dimulai dari keluarga kita masing-masing. Kita mengasihi suami, istri, anak, orang tua, saudara yang ada di tengah keluarga kita. Kita mengasihi mereka tidak hanya dengan kata-kata saja, tetapi kita mengasihi mereka melalui perbuatan nyata bahkan pengorbanan kita. Jika kita mampu mengasihi keluarga kita, maka kita juga akan mampu mengasihi orang lain di sekitar kita dan mengasihi Tuhan Allah.

Materi Diskusi:
Beberapa pertanyaan yang memandu kita dalam diskusi saat ini:

  1. Hal-hal apakah yang dapat saudara pelajari dari nasihat rasul Yohanes dalam perikop kita saat ini?
  2. Mengapa kehadiran Yesus Kristus digambarkan sebagai tanda kasih Allah kepada manusia?
  3. Bagaimana kita mewujudnyatakan kasih di tengah-tengah kehidupan keluarga kita? [AR].

Renungan Harian

Renungan Harian Anak