Berbahasa yang Baik dan Benar sebagai Sarana Bersaksi Khotbah Minggu 5 Juni 2022

23 May 2022

Pentakosta | Pekan UEM
Stola Merah

Bacaan 1: Kejadian 11 : 1 9
Bacaan 2: Kisah Para Rasul 2: 1 21
Bacaan 3: Yohanes 14: 8 17, 25 27

Tema Liturgis: Allah Memperlengkapi Kita Bersaksi dan Melayani dengan Ragam Cara, Media, dan Usia
Tema Khotbah:Berbahasa yang Baik dan Benar sebagai Sarana Bersaksi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kejadian 11 : 1 9
Kehendak untuk tidak terserak ke mana-mana -dari manusia yang baru diselamatkan dari air bah itu- adalah bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah kepada manusia untuk memenuhi bumi (Kej. 1:28). Mereka bahkan hendak menandingi kemahatinggian Tuhan dengan mendirikan menara yang ujungnya menjulang sampai ke langit. Tuhan membubarkan kehendak mereka yang melawanNya. Namun, Tuhan tidak membinasakan atau mengacaukan mereka dengan air bah lagi ataupun bencana yang lain, melainkan dengan mengacaukan bahasa mereka. Tuhan mengaruniakan pengertian bahasa-bahasa yang berbeda di antara mereka. Dengan bahasa yang berbeda-beda itu, mereka terserak ke mana-mana sesuai dengan bahasanya memenuhi bumi dan terwujudlah karya kehendak Allah.

Kisah Para Rasul 2 : 1 21
Pada hari raya penuh berkat dalam wujud panen gandum (Pentakosta), Roh Kudus turun membawa karunia ajaib kepada para rasul. Dengan suara gemuruh, tanda lidah-lidah api, Allah mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada para rasul. Hal ini mengundang orang banyak menyaksikan karya karuniaNya yang tercurah kepada para rasul itu. Para rasul yang notabene adalah orang-orang Galilea yang tidak terpelajar itu seketika bisa berbicara dalam bahasa daerah-daerah di mana orang-orang Yahudi terserak. Dengan bahasa-bahasa itu mereka bersaksi tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah. Namun juga dalam bahasa kesatuan orang Yahudi, rasul Petrus berkhotbah tentang karya Roh Kudus yang sudah dibuatkan oleh nabi Yoel.

Yohanes 14 : 8 17, 25 27
Tuhan Yesus menjanjikan kepada Filipus dan orang-orang yang percaya kepadaNya bahwa mereka akan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Namun sebenarnya pekerjaan-pekerjaan besar itu bukanlah pekerjaan Tuhan Yesus ataupun orang percaya, melainkan pekerjaan Allah. Sebab, pada hakekatnya yang melakukan pekerjaan itu adalah Allah yang diam di dalam diri mereka, Roh Kudus yang menyertai mereka. Roh Kudus akan memampukan orang percaya untuk mewujudkan kasih kepada Tuhan dalam ketaatan mereka atas segala perintahNya. Roh Kudus bukan hanya mengaruniakan bahasa, namun juga mengajarkan segala hikmat yang sudah difirmankan oleh Tuhan Yesus. Tuhan juga mengaruniakan damai sejahtera melebihi yang tersedia di dunia.

Benang Merah Tiga Bacaan
Ketiga bacaan di atas berbicara tentang karya karunia Allah. Bacaan 1: Allah memberikan bahasa yang berbeda-beda kepada manusia sehingga pekerjaan Allah memenuhi bumi. Bacaan 2: Roh Kudus mengaruniakan berbagai bahasa untuk memberitakan pekerjaan-pekerjaan besar yang dilakukan oleh Allah. Bacaan 3: Roh Kudus memampukan orang percaya melakukan atau mewujudkan pekerjaan-pekerjaan besar dari Allah.

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Negara kita Indonesia memiliki sangat banyak bahasa daerah, yakni sebanyak 718 bahasa daerah. Meski memiliki bahasa sebanyak itu, Indonesia berada pada urutan kedua sebagai negara pemilik bahasa daerah terbanyak di dunia, setelah Papua Nugini dengan 840 bahasa daerahnya. Di seluruh dunia ada 7000 bahasa yang masih hidup, artinya masih digunakan sebagai alat komunikasi.

Isi
Seluruh bahasa di dunia ini adalah karya dan anugerah Allah kepada dunia, sehingga orang dapat berkomunikasi dengan mudah, paling tidak dengan komunitas bahasanya sendiri. Bahasa adalah alat yang sangat penting untuk menyampaikan segala berita. Segala macam berita dapat disampaikan melalui bahasa, baik yang dituturkan atau diucapkan, dituliskan maupun dibacakan. Berita memang tidak hanya bisa disampaikan melalui bahasa. Berita dapat juga disampaikan melalui perbuatan dan pekerjaan, kejadian atau peristiwa, gambar atau lukisan, patung, prasasti, dsb.

Kita semua dipanggil oleh Tuhan untuk menyampaikan berita tentang pekerjaan, kasih, kuasa, dan kehendakNya yang agung mulia kepada semua orang. Tentu sangat banyak -tak terhitung rasanya- pekerjaan-pekerjaan Tuhan sejak awal sampai akhir zaman. Mestinya juga tak terukur agung dan besarnya pekerjaan, kasih, dan kuasaNya. Kehendak Tuhan juga hanya bisa dipahami dengan hikmatNya. Di sisi lain, kita mempunyai keterbatasan yang besar untuk memahami semuanya itu. Karena itu, Roh Kudus dicurahkan untuk menolong kita supaya kita bisa memahami dan memberitakan pekerjaan, kasih, kuasa, dan kehendakNya. Roh Kudus yang mengingatkan kita tentang segala sesuatu yang telah diajarkan kepada kita, dan memberikan hikmat kepada kita untuk dapat menyampaikan berita tentang semua itu dengan cara dan bahasa yang baik. Roh Kudus memberikan berbagai karunia dan kelebihan atau ketrampilan kepada kita masing-masing.

Ada beragam cara dan media yang bisa dipakai untuk menyampaikan berita itu. Namun, tidak semua orang dapat menggunakan segala cara dan media yang ada untuk menyampaikan berita itu. Ada orang yang mampu menggunakan berbagai atau banyak cara untuk menyampaikan suatu berita. Ada orang yang hanya mampu menggunakan tiga atau dua cara untuk menyampaikan berita tentang Tuhan.

Namun demikian, semua orang pasti dapat menyampaikan berita paling tidak dengan satu cara, yakni dengan bahasa, entah itu dengan cara dituturkan, dituliskan ataupun diisyaratkan. Semua orang pasti bisa berbahasa. Bahkan tidak sedikit orang yang mampu menguasai atau lancar berbicara dalam beberapa bahasa. Namun, kemampuan dan kefasihan berbahasa masing-masing orang juga berbeda-beda, bahkan sekalipun berbicara dalam bahasa ibunya sendiri. Kemampuan dan kefasihan berbahasa -apalagi berbahasa asing- adalah karunia Roh Kudus, seperti yang dikaruniakanNya kepada para Rasul Yesus pada hari raya Pentakosta itu.

Sekalipun kemampuan berbahasa itu -apalagi berbahasa asing- adalah karunia Roh Kudus, namun tidak berarti bahwa kelancaran dan kefasihannya hanya bergantung pada karunia Roh Kudus. Kita harus mengembangkan kemampuan itu, karunia itu, seperti kita mengembangkan talenta pemberian Tuhan yang lainnya. Kemampuan atau kelancaran dan kefasihan kita berbahasa ibu pun harus dikembangkan. Karena, nyatanya sangat banyak orang yang penguasaan bahasa ibunya tidak baik, bahkan yang pekerjaannya adalah menyampaikan berita, seperti penyiar TV, radio, atau yang lain.

Mengapa kita harus mengembangkan kemampuan berbahasa kita? Mengapa hal itu nampak penting? Karena kebenaran, kewibawaan, dan daya tarik berita tentang pekerjaan, kasih, kuasa, dan kehendak Tuhan yang luar biasa besarnya itu sangat dipengaruhi oleh kelancaran dan kefasihan kita berbahasa. Semua pelayan ibadah sudah diberi karunia berbahasa oleh Roh Kudus. Namun, semuanya -baik itu pelayan ibadah minggu dewasa, ibadah adiyuswa, ibadah wanita, pemuda, remaja, sampai anak-anak- juga harus berupaya mengembangkan kemampuan, kelancaran, dan kefasihan berbahasa.

Relasi dan kerjasama kita sekarang -baik lembaga gereja, negara ataupun pekerjaan- tidak hanya bersifat lokal atau nasional, melainkan global dan internasional. Karena itu, kita juga sangat perlu belajar dan mengembangkan kemampuan bahasa asing kita. Dengan demikian, kita bisa menyampaikan berita tentang pekerjaan, kasih, kuasa, dan kehendak Tuhan itu benar-benar sampai ke ujung dunia, kepada semua bangsa.

Penutup
Sebagai anggota UEM (United Evangelical Mission), dalam hubungan kerjasama dengan gereja-gereja sesama anggota UEM di Jerman, Filipina, Sri Langka, Hongkong, Tanzania, Kameroon, dll, dan dalam kerjasama dengan Gereja Presbiterian Korea, dan hubungan kerjasama internasional yang lain kita sangat perlu mengembangkan kemampuan bahasa asing kita. Di lingkungan lokal atau nasional kita GKJW, kita mempunyai bahasa Jawa, Madura dan Osing. Bahasa-bahasa daerah itu ada di dalam lagu-lagu Kidung Kontekstual. Kita perlu menghargai, mencintainya serta belajar untuk mengerti bahasa daerah lain. Dengan demikian, kiranya sungguh dimuliakan dan dimashyurkanlah nama Tuhan Allah kita dalam segala bahasa dan di seluruh dunia. Amin. [st]

 

Pujian: KJ. 427 Ku Suka Menuturkan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Negari kita Indonesia nggadhahi basa daerah ingkang kathah sanget, wonten 718 basa daerah. Sanadyan nggadhahi basa semanten kathahipun punika, Indonesia punika mapan ing angka kalih sadonya negari ingkang paling kathah basa daerahipun, ngandhapipun Papua Nugini ingkang nggadhahi 840 basa daerah. Ing saindhenging donya punika wonten basa 7.000 basa cacahipun ingkang taksih dipun agem minangka piranti pangandika.

Isi
Sedaya basa ing donya punika pakaryan lan kanugrahanipun Gusti Allah dhateng donya, satemah tiyang saged berkomunikasi (wawan pangandika) kanthi gampil, saboten-botenipun ing bebrayan basanipun piyambak. Basa punika dados pirantos ingkang wigatos sanget kangge ngundhangaken sedaya kabar pawartos. Sedaya jinis pawartos saged kaundhangaken lumantar basa, dadosa basa ingkang dipun ucapaken, dipun serat utawi dipun waosaken. Pawartos kabar pancen boten namung saged kawartosaken lumantar basa. Kabar pawartos ugi saged dipun undhangaken lumantar tumindak lan padamelan, lelampahan, gambar, patung, prasasti, lsp.

Kita sedaya dipun timbali dening Gusti kinen ngundhangaken pawartos bab pakaryan, katresnan, pangwaos, lan karsanipun ingkang agung mulya dhateng sedaya tiyang. Tamtu kathah sanget -tanpa wilangan- pakaryanipun Gusti wiwit wiwitan ngantos pungkasaning jaman. Agung lan agenging pakaryan, katresnan lan pangwasanipun mesthi tan jinajagan. Karsanipun Gusti ugi namung saged dipun mangertosi kanthi kawicaksananipun Gusti. Kamangka, kasagedan lan pangertosan kita punika winates sanget kangge mangertosi sedaya punika. Pramila, Roh Suci katedhakaken kangge mitulungi kita supados kita saged mangertos lan saged mawartosaken pakaryan, sih katresnan, pangwaos, lan karsananipun. Roh Suci ingkang ngengetaken kita bab samukawis ingkang sampun kawulangaken dhateng kita, lan maringi kawicaksanan dhateng kita kangge ngundhangaken pawartos bab sedaya punika kanthi margi lan basa ingkang sae. Roh Suci maringi mawarni-warni peparing (karunia) lan kaluwihan sarta kaprigelan dhateng kita piyambak-piyambak.

Wonten kathah margi lan pirantos ingkang saged kaagem kangge ngundhangaken pawartos. Nanging, boten sedaya tiyang saged migunakaken sedaya cara lan pirantos ingkang wonten kangge ngundhangaken pawartos punika. Wonten tiyang ingkang saged ngginakaken sawatawis utawi kathah cara kangge ngundhangaken pawartos. Nanging ugi wonten tiyang ingkang namung saged ngginakaken kalih utawi tigang cara kangge ngundhangaken pawartos bab Gusti.

Ewasamanten, saben tiyang mesthi saged ngundhangaken pawartos paling boten mawi satunggal cara, inggih punika mawi basa, duka punika basa ingkang dipun ucapaken, dipun serat utawi dipun sasmitakaken. Sedaya tiyang mesthi saged basa. Malah boten sekedhik tiyang ingkang saged lan wenteh (lancar) wicanten sawatawis basa. Nanging kasagedan lan wentehing basa saben tiyang punika ugi boten sami, nadyan wicanten mawi basanipun piyambak. Kasagedan tuwin wentehing tetiyang basa -punapa malih wicanten basa manca- punika peparingipun Roh Suci, kados ingkang dipun paringaken dhateng para rasulipun Gusti Yesus ing dinten Pentekosta nalika semanten.

Sanadyan kasagedanipun tetiyang basa -punapa malih basa manca- punika peparingipun Roh Suci, nanging boten ateges bilih wenteh utawi lancaripun ugi namung gumantung dhateng peparingipun Roh Suci. Kita kedah ningkataken kasagedan punika, peparing punika, kados dene kita ningkataken talenta peparingipun Gusti sanesipun. Kasagedan lan wentehing kita wicanten basa kita piyambak ugi kedah dipun tingkataken. Awit nyatanipun, kathah tiyang ingkang boten sae wicanten mawi basanipun piyambak, malah sanadyan padamelanipun punika ngundhangaken pawartos, kados penyiar TV, radio, lsp.

Punapa perlunipun kita ningkataken kasagedan basa kita? Punapa bab punika wigatos lan penting? Inggih wigatos, karana kayekten (kaleresan), kawibawan sarta sengseming pawartos bab pakaryan, katresnan, pangwaos lan karsanipun Gusti ingkang agung lan elok punika dipun jalari (dipengaruhi) dening wenteh lan lancaring anggen kita basa. Sedaya palados pangibadah sampun nampi peparing basa saking Roh Suci. Ewasamanten, sedayanipun -dadosa palados pangibadah minggu diwasa, adiyuswa, wanita, pemuda mekaten ugi ibadah anak- kedah mbudidaya indhak-indhakaning kasagedan lan wentehing wicanten basa.

Sesambetan lan memitran ing padamelan kita ing jaman samangke -dadosa minangka lembaga greja, negari, kantor lan pribadi- boten namung asipat lokal utawi nasional, nanging asipat global lan internasional. Pramila saking punika, kita perlu sanget sinau lan ningkataken kasagedan kita ing babagan basa manca. Kanthi mekaten, kita saged ngundhangaken pawartos bab pakaryan, katresnan, pangwaos, lan karsanipun Allah punika saestu ngantos ing poncoting donya, dhateng sedaya bangsa.

Panutup
Minangka gegelitaning UEM (United Evangelical Mission), ing salebeting sesambetan lan memitran kaliyan greja-greja gegelitaning UEM ing Jerman, Filipina, Sri Langka, Hongkong, Tanzania, Kameroon, lsp, lan ugi ing salebeting memitran kaliyan Greja Presbiterian Korea, dalah memitran internasional sanesipun kita perlu sanget ningkataken kasagedan lan kaprigelan kita ing babagan basa manca. Ing papan dunung lokal lan nasional greja kita GKJW, kita nggadhahi basa Jawi, Medunten lan Osing. Basa-basa daerah punika wonten ing lagu-lagu Kidung Kontekstual GKJW. Kita perlu ngajeni, ngremeni sarta nyinaoni basa-basa daerah punika, satemah kita saged mangertos lan saged ngluhuraken sarta mawartosaken asmanipun Gusti mawi sawatawis basa daerah kita. Kanthi mekaten, mugi saestu linuhurna lan kasuwurna asmanipun Gusti Allah mawi sedaya basa tuwin dhateng saindhenging donya. Amin. [st]

 

Pamuji: KPJ. 200 Mugi Wradin Ingundhangna

Renungan Harian

Renungan Harian Anak