Minggu Paskah 7 | Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih
Bacaan 1: Kisah Para Rasul 16: 16 –34
Bacaan 2: Wahyu 22 : 12 – 21
Bacaan 3: Yohanes 17: 20 – 26
Tema Liturgis: Allah Melengkapi Kita Bersaksi dan Melayani dengan Ragam Cara, Media dan Usia
Tema Khotbah: Kesatuan Iman sebagai Wujud Kesaksian Iman
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Kisah Para Rasul 16 : 16 – 34
Perikop ini menceritakan tentang perjalanan penginjilan yang dilakukan oleh Paulus dan Silas di kota Filipi. Di sana ada seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung. Roh tenung dalam bahasa Yunani adalah pneuma yang berarti roh Piton, yang berdasarkan mitologi Yunani, ular piton menjaga tempat dan orang yang menerima petunjuk dewa-dewi. Perempuan itu mengabdi kepada beberapa tuan. Dengan tenung-tenungnya para tuan memperoleh penghasilan besar (Ay. 16). Perjumpaannya dengan Paulus membuatnya mengerti bahwa Paulus merupakan hamba Tuhan yang maha tinggi. Dengan permohonan kepada Tuhan, Paulus berhasil mengeluarkan atau mengusir roh yang menghinggapinya (Ay. 18). Setelah roh itu keluar, perempuan itu tidak dapat menenung lagi. Akibatnya para tuannya tidak bisa memperoleh penghasilan yang tinggi lagi. Setelah para tuannya mengetahui akan hal itu, mereka marah kepada Paulus dan Silas, serta menyeret mereka kepada penguasa. Tuduhan pada Paulus dan Silas adalah mereka membuat kekacauan, menyebarkan ajaran Yahudi kepada orang-orang Roma. Berdasarkan tuduhan tersebut, pembesar kota Filipi memutuskan untuk memenjarakan mereka. Pakaian mereka dilucuti dan mereka dicambuk berkali-kali. Paulus dan Silas dimasukkan ke dalam penjara yang paling dalam dengan kaki dan tangan mereka dipasung. Mereka juga dijaga oleh penjaga penjara dengan penjagaan yang ketat.
Di tengah kondisi yang demikian ini, Paulus dan Silas tidak patah semangat, apalagi mengeluh kepada Tuhan. Ada satu hal yang masih bisa mereka lakukan meski dipenjarakan dan dipasung kaki dan tangannya, yakni bersatu dengan Bapa melalui doa dan pujian bagi Tuhan (Ay. 25). Pada tengah malam, saat mereka memuji Tuhan, terjadilah gempa bumi yang hebat. Gempa bumi tersebut membuat sendi-sendi penjara goyah dan pintu-pintu penjara terbuka. Melihat situasi yang demikian ini, seorang kepala penjara yang terbangun menjadi kaget dan ketakutan. Ia takut jika tahanan yang berada dalam penjara melarikan diri. Jika itu terjadi, maka raja akan memberikan hukuman padanya. Karena takut, kepala penjara itu ingin bunuh diri dengan menggunakan pedangnya. Paulus mengetahui hal itu dan segera melarangnya. Selanjutnya Pulus dan Silas mengajak kepala penjara beserta keluarganya untuk percaya kepada Yesus. Ajakan itu disambut baik oleh kepala penjara beserta keluarganya dan mereka percaya kepada Yesus (Ay. 33).
Paulus dan Silas berani menghadapi tuduhan-tuduhan palsu dan fitnah. Fisik mereka yang dipenjarakan bahkan dipasung nyatanya tidak memenjarakan iman mereka kepada Tuhan. Dengan nyanyian dan doa, Paulus serta Silas bersatu dengan Bapa dan mukjizat besar pun terjadi. Tindakan Paulus dan Silas yang demikian ini merupakan cara mereka bersaksi tentang kebaikan Tuhan yang tetap mereka rasakan dan alami, bahkan di tengah keadaan yang paling mendesak dan tidak nyaman sekalipun.
Wahyu 22 : 12 – 21
Surat Wahyu ditulis dan dikirim kepada orang-orang Kristen dari ke tujuh jemaat (Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia dan Laodikia) untuk mendorong, menegur, dan menguatkan hati mereka di tengah penderitaan yang mereka alami di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi pada masa itu. Bagian Wahyu 22:6-21 merupakan bagian akhir dari surat wahyu. Pada bagian ini dibagi ke dalam tiga bagian besar: pertama, ungkapan malaikat (Ay. 6-7), kedua, ungkapan Yohanes (Ay. 8-11) dan terakhir yakni ungkapan Yesus (Ay. 12-21). Secara khusus bahasan kita pada bagian terakhir, yakni mengenai ungkapan Yesus. Dalam bagian ini Yesus berbicara dengan kewibawaan ilahi-Nya. Ia menegaskan bahwa Ia akan datang dan kembali dengan “segera” dan memberikan upah bagi setiap orang menurut perbuatan masing-masing semasa hidupnya. Kewibawaan ilahi Yesus nampak dalam pernyataan: “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian” (Ay. 13).
Secara dogmatis, pernyataan Yesus ini hendak mengatakan bahwa dunia dimulai dengan Kristus, “yang Sulung dari segala yang diciptakan” (Kolose 15:24). Pada akhirnya sejarah mencapai tujuannya apabila Kristus “menyerahkan Kerajaan Allah kepada Bapa.” Antara awal dan akhir terdapat jarak yang luas. Oleh sebab itu, umat diminta untuk tetap bertekun di antara dua rentang jarak dan waktu hidup. Ketekunan digambarkan dengan sebutan: “berbahagialah mereka yang membasuh jubah…” (Ay. 14), serta kesetiaan mempelai perempuan menanti datangnya mempelai laki-laki (Ay. 17). Pada akhirnya bacaan ini ditutup dengan penegasan bahwa Tuhan akan datang. Diberkatilah orang-orang yang mengamini kedatangan Tuhan Yesus dengan ucapan berkat: “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.” (Ay. 21).
Yohanes 17 : 20 – 26
Untuk dapat memahami isi Injil Yohanes 17:20-26, maka harus dilihat dalam satu kerangka utuh dalam Injil Yohanes pasal 17. Di dunia, Yesus telah melakukan pelayanan dan karya-Nya yang dilandasi dengan kasih-Nya yang besar bagi dunia (Yoh. 3:16), tapi dunia menentang-Nya. Hal ini sangatlah bertolak belakang, ada Allah yang mengasihi dunia melalui hadirnya Yesus di tengah dunia namun dunia menolak-Nya dan karya-Nya. Mengingat adanya pertentangan itu tidak mengherankan jika murid-murid dipertentangkan pula dengan dunia. Suasana ini akan sangat terasa jika dibaca dalam satu perikop penuh pasal 17 yang berisi doa Yesus. Dalam doa Yesus ini ada pernyataan-pernyataan Yesus yang diungkapkan untuk meneguhkan muid-murid-Nya. Pertama-tama, murid-murid bukan dari dunia, sama seperti Yesus bukan dari dunia (Ay. 14 dan 16). Karena bukan dari dunia, para murid berbeda dengan dunia (Ay. 19). Perbedaannya adalah bahwa para murid dikuduskan dalam kebenaran. Meskipun para murid bukan dari dunia, namun Yesus tidak mengambil mereka dari dunia, melainkan justru mengutus mereka ke dalam dunia, sama seperti Yesus yang diutus Bapa untuk mewujudkan kasih Allah bagi dunia (Ay. 18). Tentu ada maksud atas perutusan tersebut, yakni supaya dunia tahu dan percaya (Ay. 21 dan 23).
Selanjutnya, supaya dunia tahu dan percaya, para murid harus mengamalkan hal itu terlebih dahulu. Para murid harus tahu dan percaya terlebih dahulu. Maka supaya mereka tahu dan percaya, Yesus dalam doa-Nya meminta agar kehidupan para murid dijalani dalam kesatuan dengan kasih Bapa (Ay. 20-26). Kesatuan murid yang dimaksud bukanlah kesatuan organisasi dan institusi, melainkan kesatuan iman dan kesatuan spiritual antara orang percaya. Kesatuan itu adalah karya Roh Kudus. Murid-murid pasti mampu mewujudkan kesatuan tersebut, karena Roh Kudus akan mengajari mereka. Hal penting yang harus mereka lakukan adalah membangun relasi dan saling mengasihi antara murid yang satu dengan yang lainnya. Relasi dan mengasihi terjadi dalam waktu yang bersamaan. Mengasihi berarti membuka diri kepada orang lain, membangun relasi dan berdialog. Pada saat yang sama, seseorang tidak akan bisa membuka diri dan membangun relasi jika ia tidak mengasihi orang lain tersebut.
Konsep kesatuan yang demikian ini agaknya sulit diterima pada masa itu, mengingat doa Yesus ini diungkapkan di tengah-tengah para murid yang memiliki pandangan yang sama dengan orang-orang Yahudi. Keyahudian mereka masih melekat sekalipun mereka sudah menjadi murid Yesus. Pandangan yang dimaksud adalah mereka masih mempunyai pemahaman tentang ke-eksklusivitas-an mereka, bahwa Israel adalah bangsa yang dikasihi Tuhan. Bagaimana mungkin mereka juga dipanggil untuk membuka diri bahkan mengasihi yang lainnya? Namun, konsep kesatuan ini, bukanlah konsep manusia, melainkan menurut Allah (Bapa) dan Yesus (Anak). Oleh sebab itu, teladan yang diberikan oleh Yesus dalam doa-Nya adalah konsep kesatuan antara Bapa dan diri-Nya yang adalah satu meskipun bukan berarti sama dan melebur. Dalam kesatuan itu masing-masing bukan sedang menjadi orang lain, tetapi justru menjadi diri sendiri dengan menerima keberadaan yang lainnya dan mengasihinya. Setelah para murid mampu menerapkan kesatuan di antara mereka dengan saling membuka diri dan mengasihi, maka mereka dipanggil untuk menyatukan dunia (Ay. 20). Melalui penginjilan yang kemudian akan mereka laksanakan dan menjadi tugas serta tanggungjawab mereka.
Dengan demikian ketika Yesus mengatakan, “… dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Ay. 26) mengandung makna bahwa umat (yang dimulai dari para murid) yang dipersatukan oleh Yesus dengan Bapa adalah umat yang dipanggil untuk menyatakan kasih yang tak terbatas bagi sesamanya.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap orang percaya mendapat tugas untuk mewujudkan kesatuan iman dan spiritual pertama-tama di antara sesamanya secara intern (gereja) selanjutnya dipanggil keluar dimana pun ia berada (masyarakat, lingkungan kerja dll). Kesatuan tersebut hanya mungkin terjadi jika orang percaya mau membuka diri, membangun relasi, dan mengasihi orang lain. Tugas ini dilakukan melalui berbagai cara dan media dalam kehidupan sehari-hari. Diupayakan terus-menerus selama ia masih hidup. Sebagai wujud kesetiaan dan ketaatannya kepada Tuhan Yesus Sang Alfa dan Omega – Yang Awal dan Yang Terakhir.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Bapak, Ibu, dan Saudara yang terkasih, tentunya kita pernah mendengar semboyan: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Sebagai rakyat Indonesia tentu semboyan ini tidak asing lagi di telinga kita. Dalam buku Kronik Revolusi Indonesia: 1945 (1999) karya Pramoedya Ananta Toer, makna “Bersatu Kita Teguh” adalah menyatunya berbagai unsur dan perbedaan yang ada menjadi suatu kesatuan yang utuh dan serasi. Hal ini mengingat negara kita Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, budaya, ras dan agama. Hanya dengan kesatuan seluruh rakyatnya Indonesia terbukti mampu mengusir penjajah dan meraih kemerdekaan. Demikian juga dengan makna dari kelanjutan semboyan tersebut: “Bercerai Kita Runtuh.” Ungkapan yang terakhir ini seringkali diplesetkan: “Bercerai Kita Kawin Lagi.” Tentu bukan sekedar guyonan semata, tapi mengandung arti bahwa ya kalau bisa jangan sampai cerai atau berpisah supaya tetap teguh, utuh dan menyatu. Dengan teguh, utuh dan menyatu apapun tantangan yang dihadapi tentu bisa diatasi bersama.
Semboyan ini sangat merdu didengar apalagi jika berhasil diwujud–nyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, mari melihat kenyataannya yang seringkali terjadi. Permusuhan dan pertikaian masih kerap terjadi, tidak selalu dalam skala yang besar. Bahkan dalam bertetangga pun seringkali terjadi percecokan karena beragam perbedaan. Padahal jika bertetangga bisa hidup rukun, bersatu maka kehidupan ini akan menjadi sangat indah.
Isi
Senada dengan semboyan tersebut, Tuhan Yesus dalam doa-Nya menyatakan permohonan-Nya kepada Bapa supaya setiap orang yang percaya kepada Bapa dan kepada-Nya menjadi satu. Menjadi satu di sini bukan tentang satu gereja atau satu organisasi melainkan mengupayakan kesatuan iman dan spiritual. Ini sangatlah penting bagi umat percaya, sebab tantangan dan godaan dunia semakin hari bukan semakin kecil, tetapi semakin menjadi-jadi. Bukan baru kita alami pada masa sekarang, akan tetapi sudah dimulai sejak dahulu, bahkan pada masa pelayanan Yesus bersama dengan para murid. Doa Yesus yang demikian ini dibangun atas dasar keprihatinan terhadap karya Yesus yang ditolak pada masa itu. Yesus pun mengingat para murid yang akan ditinggalkan-Nya dan mereka akan melanjutkan karya pelayanan Yesus tersebut. Sekali lagi tantangan yang akan dihadapi bukan semakin ringan, melainkan berat dan besar. Oleh sebab itu, kesatuan yang Yesus doakan, pertama-tama ditujukan kepada para murid. Harapannya para murid terlebih dahulu melakukan dan mewujudkan kesatuan tersebut di antara mereka. Sehingga kelak ketika mereka melakukan pelayanan untuk melanjutkan karya Yesus, mereka telah siap.
Kesatuan yang diharapkan oleh Yesus adalah seperti kesatuan yang terjadi antara Yesus dan Bapa. Kesatuan yang penuh kasih. Kesatuan yang demikian itu yang menjadi teladan bagi para murid. Bagaimana Yesus dalam karya-Nya melibatkan kasih Allah Bapa tanpa menganggap kesetaraan dengan Allah Bapa. Artinya kesatuan itu bukan berarti melebur menjadi satu dan semua sama. Akan tetapi umat percaya mampu membuka diri terhadap adanya yang lain dan masing-masing saling mengasihi sebagai upaya untuk bersatu dan mewujudkan kesatuan yang Tuhan Yesus kehendaki. Kesatuan yang demikian ini hanya mungkin terjadi jika masing-masing saling membuka diri, membangun relasi, dan mengasihi. Tanpa adanya ketiga hal tersebut maka kesatuan akan sulit dicapai. Dengan membuka diri, membangun relasi, dan mengasihi maka akan semakin banyak orang yang dijangkau dan mengenal kasih Kristus. Mengenal kasih Kristus tidak harus membuat orang berpindah agama, kecuali Tuhan Yesus sendiri yang memanggil (Yoh. 15:16). Upaya ini merupakan wujud kesaksian kita terhadap siapapun yang ada di sekitar kita, dimanapun kita berada.
Tugas panggilan untuk mewujudkan kesatuan iman dan spiritual sebagai wujud kesaksian ini bisa dilakukan melalui berbagai cara. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Rasul, khususnya Paulus dan Silas dalam bacaan kita yang pertama. Sekalipun mereka mengalami penderitaan di tengah pelayanan, mereka tetap menyatukan hati. Pertama-tama di antara mereka berdua dengan sepakat untuk tidak meratapi apa yang mereka alami, melainkan justru berdoa dan menaikkan pujian kepada Tuhan. Selanjutnya kesatuan mereka dengan Tuhan, yakni melalui doa dan pujian yang mereka naikkan. Ini menggambarkan bahwa mukjizat yang kemudian terjadi, bukan karena kekuatan manusia semata, melainkan karena kekuatan Tuhan yang dianugerahkan melalui kesatuan iman dan spiritual yang mereka lakukan. Peristiwa lanjutan dari kisah mereka adalah bahwa keluarga kepala penjara kemudian mengenal dan menyerahkan diri untuk percaya kepada Yesus. Perlu dicatat bahwa puncak cerita ini, bukan pada bagian akhir ini, apalagi kaitannya dengan tema kesatuan yang sedang kita bahas. Puncaknya adalah bagaimana Paulus dan Silas tetap bersedia membuka diri, membangun relasi, dan mengasihi orang-orang yang membenci, bahkan memfitnah mereka. Di samping itu, terletak juga pada respon mereka terhadap penderitaan yang mereka alami. Mereka tidak menanggapinya dengan kesedihan, melainkan justru dengan puji-pujian yang akhirnya menjadi kesaksian iman bagi orang-orang yang ada dalam penjara di kota Filipi tersebut.
Kisah perjalanan pelayanan Paulus dan Silas di kota Filipi ini mengajak kita untuk melihat bahwa Allah memperlengkapi mereka untuk bersaksi melalui berbagai cara dan media. Pelayanan yang mereka lakukan, tidak selalu menempuh jalan mulus dan diterima dengan baik, namun juga harus mejalani penderitaan. Namun, toh nyatanya dalam penderitaan itu mereka tidak sendiri, ada kesatuan dengan Tuhan, yang berakhir pada mukjizat yang besar dan orang-orang di sekitar mereka menyaksikan kebesaran Tuhan bahkan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Seperti Tuhan Allah memperlengkapi dan memampukan para rasul di masa itu, demikian juga Ia memperlengkapi kita semua, setiap orang percaya di masa sekarang ini. Kita diperlengkapi dan dimampukan untuk bersaksi bahkan melayani melalui berbagai cara dan media. Selama kita mau membangun kesatuan iman dan spiritual dengan banyak orang serta melibatkan Tuhan, pastilah kita bisa melaksanakan tugas dan panggilan ini.
Penutup
Bersaksi dan melayani merupakan tugas dan panggilan yang harus dilakukan seumur hidup orang percaya. Sebagai bentuk ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus Sang Alfa yang Awal dan Sang Omega yang terakhir. Seperti yang diungkapkan dalam bacaan kita yang kedua dari surat Wahyu 22:12-21. Antara awal dan akhir terdapat jarak yang luas. Oleh sebab itu, umat diminta untuk tetap bertekun di antara dua rentang jarak dan waktu hidup. Ketekunan digambarkan dengan sebutan: “berbahagialah mereka yang membasuh jubah…” (Ay. 14), serta kesetiaan mempelai perempuan menanti datangnya mempelai laki-laki (Ay. 17). Maka selagi masih ada waktu dan kesempatan yang diberikan kepada kita untuk menjalani hidup, mari terus bersaksi dan melayani, melalui berbagai cara dan media. Yakinlah bahwa Tuhan Allah melalui Tuhan Yesus akan memapukan dan memberkati kita sekalian. Firman-Nya: “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian! Amin.” (Wahyu 22:21). Selamat Bersaksi dan melayani. Tuhan Yesus Memberkati. Amin. [TpJ].
Pujian: KJ. 432 Jika Padaku Ditanyakan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Kita tamtunipun nate mireng unen-unen: “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” Minangka rakyat Indonesia semboyan punika tamtu asring kita mirengaken. Wonten buku Kronik Revolusi Indonesia: 1945 (1999) pakaryanipun Prmoedya Ananta Toer, negesi bilih “rukun agawe santosa” inggih punika nyatunggile sedaya perangan ingkang maneka warna lajeng dados satunggal, utuh lan serasi. Ngengeti bilih negari kita Indonesia punika mawujud saking sak kathahing suku bangsa, budaya, ras, lan agama. Namung klayan nyatunggil kemawon sedaya rakyat Indonesia saged ngusir para penjajah lan pikantuk kamardikan. Mekaten ugi tegesipun unen-unen ingkang selajengipun: “crah agawe bubrah.” Tembung punika asring dipunplesetaken: “crah yo kawin maneh.” Tamtu mboten namung geguyonan kemawon, ananging tegesipun nggih menawi saged mboten ngantos crah utawi pisahan, supados tetep teguh, utuh, lan nyatunggil. Kanthi teguh, utuh, lan nyatunggil, punapa kemawon tantangan ingkang dipun adhepi mesthi saged dipun rampungaken sesarengan.
Unen-unen punika endah sanget menawi dipun mirengaken, punapa malih menawi saged dipun wujudaken wonten ing gesang padintenan. Ananging, swawi kita niti priksa kados pundi ingkang kalampahan ing kasunyatanipun. Pasulayan lan padu taksih asring kalampahan, mboten namung ing prekawis ingkang ageng nanging kadangkala ing prekawis ingkang remeh. Wah malih wonten gesang tetanggan, inggih asring wonten gegeran krana maneka warna prekawis. Prayoginipun bilih gesang tetanggan punika saged dipun lampahi kanthi guyub, rukun lan nyatunggil, mesthi bakal endah sanget.
Isi
Kados dene unen-unen ing nginggil kalawau, mekaten ugi Gusti Yesus ing salebeting pandonga lan panyuwunipun dhumateng Rama ing swarga, supados sedaya tiyang pitados dhumateng Gusti Allah Sang Rama tuwin Gusti Yesus saged nyatunggil. Nyatunggil tegesipun sanes ing babagan satunggal greja utawi organisasi, ananging nyatunggil ing iman lan kapitadosan. Punika penting sanget tumrap tiyang pitados, amargi godha lan momotaning gesang ing donya tansaya dangu mboten saya alit, ananging tansaya ageng lan nggegirisi. Prekawis punika mboten namung ing mangsa kita sakpunika, ananging sampun kalampahan wiwit rumiyin, ugi wonten ing mangsa peladosanipun Gusti Yesus sesarengan kaliyan para sekabatipun. Pandonganipun Gusti Yesus ingkang kados mekaten kalawau adedasar kaprihatosanipun Gusti Yesus awit peladosan ugi pakaryanipun dipun tampik dening para umat ing mangsanipun. Gusti Yesus ngengeti bilih para sakabat badhe dipun tilar dening Panjenenganipun ugi badhe nglajengaken peladosanipun. Mesthi badhe manggihi kahanan ingkang awrat lan saged ugi dipun tampik dening umat. Mila, patunggilan ingkang dipun dongakaken dening Gusti Yesus, wiwitan inggih kangge para sekabat. Kanthi pangajeng-ajeng para sekabat badhe nindakaken patunggilan punika langkung rumiyin. Satemah suk benjing para sekabat sampun sagah ngladosi pasamuwan, senaosa badhe manggihi reribet.
Patunggilan ingkang dipun kersaaken dening Gusti Yesus inggih punika kados dene patunggilanipun Gusti Yesus kaliyan Gusti Allah Sang Rama. Patunggilan ingkang kebak katresnan. Patunggilan ingkang kados mekaten ingkang dados patuladan kangge para sakabat. Kados dene Gusti Yesus ingkang tansah ngagem sih katresnanipun Gusti Allah ing salebeting pakaryanipun tanpa nganggep sami (setara) kaliyan Sang Rama. Tegesipun, patunggilan punika sanes patunggilan ingkang campur dados satunggal sarta dados sami rupa lan sanes-sanesipun. Ananging, saben tiyang pitados saged nampi kawontenanipun tiyang sanes, minangka ngupadi lan mujudaken patunggilan ingkang dipun karsaaken dening Gusti Yesus. Patunggilan kados mekaten namung saged kalampahan bilih saben tiyang saged, nampi tiyang sanes, lajeng mbangun pasedherekan lan sami tresna tinresnanan. Lumantar tigang prekawis punika patunggilan saged dipun wujudaken. Menawi saged nampi tiyang sanes, mbangun pasedherekan lan tresna tinresnanan, tansaya kathah tiyang ingkang tepang kaliyan Gusti Yesus. Nepangi sih katresnanipun Gusti Yesus mboten ateges tiyang kedah pindah agama, awit Gusti Yesus piyambak ingkang nimbali saben tiyang pitados (Yok. 15:16). Sedaya punika mujudaken paseksen kita tumrap sok sinten kemawon ing sakiwa tengen kita lan ing pundi kemawon kita gesang.
Tugas lan timbalan anggenipun mujudaken patunggilaning iman lan kapitadosan minangka wujud paseksen saged dipun tindakaken lumantar kathah prekawis. Kadosdene ingkang sampun dipun tindakaken dening para Rasul mliginipun Paulus lan Silas wonten ing waosan kita ingkang sepisan. Senaosa piyambakipun ngalami kawratan ing satengahing peladosanipun, piyambakipun tetep nyatunggil ing manah. Dipun wiwiti ing antawisipun tiyang kalih punika, piyambakipun sarujuk supados mboten sedhih anggenipun nanggepi kahanan ingkang dipun alami, ugi sarujuk bilih kekalihipun sami ngunjukaken pandongan lan memuji, ngluhuraken asmanipun Gusti. Selajengipun, tiyang kalih kalawau nyatunggil kalian Gusti Allah lumantar pandongan lan pepujian ingkang dipun unjukaken. Prekawis punika maringi pirsa bilih mukjizat ingkang badhe kalampahan, sanes saking krana kekiyatanipun manungsa, ananging namung kakiyatanipun Gusti Allah ingkang dipun paringaken lumantar patunggilaning iman lan kapitadosanipun Rasul kekalih kalawau. Prekawis selajengipun ingkang kalampahan inggih punika brayatipun kepala penjara lajeng pitados dhumateng Gusti Yesus. Perlu dipun serat bilih punjeripun cariyos sanes bab punika, punapa malih gegayudan kalian punapa ingkang kita raos-raosaken. Punjeripun rikala Paulus lan Silas tetep saged nampi, mbangun pasedherekan, lan nresnani para tiyang ingkang sami sengit dhateng piyambakipun. Sanesipun, gegayudan kaliyan kados pundi anggenipun Rasul kekalih nanggepi prekawis awrat ingkang dipun alami. Piyambakipun mboten nanggepi klayan manah ingkang sedhih ananging klayan dedonga, memuji, lan ngluhuraken asmanipun Gusti, satemah punika dados paseksen iman kangge para tiyang ing penjara ing Kitha Filipi.
Cariyos bab peladosanipun Paulus lan Silas ing Kitha Filipi punika ngajak kita mirsani bilih Gusti Allah ingkang maringi kasagedan dados paseksi lumantar maneka cara lan media. Peladosan ingkang dipun tindakaken boten namung manggihi margi ingkang sae saha dipun tampi ugi kanthi sae, kadangkala ugi manggihi kawratan ingkang estu. Ananging toh, ing salebeting peladosan ingkang awrat punika rasul kekalih mboten piyambakan, wonten patunggilan kaliyan Gusti Allah ingkang ndadosaken mukjizat sarta kathah tiyang nyumurupi kamulyanipun Gusti, wah malih wonten ingkang dados tiyang pitados dhateng Gusti Yesus. Kadosdene Gusti Allah ingkang paring kasagedan tumrap para rasul, mekaten ugi Gusti Allah badhe nyagedaken kita sami. Kita dipun sagedaken dados paseksi ugi ngladosi lumantar maneka warna cara lan media. Bilih kita kersa mbangun patunggilan iman lan kapitadosan kaliyan tiyang sanes sarta nyuwun dhumateng Gusti Allah, kita mesthi saged nindakaken tugas lan timbalan punika.
Panutup
Dados paseksi lan ngladosi punika tugas lan timbalan ingkang kedah dipun tindakaken sakdangunipun tiyang pitados gesang. Minangka wujud manut lan setya dhumateng Gusti Yesus Sang Alfa ingkang miwiti lan Sang Omega ingkang mungkasi. Kados ingkang kaserat ing waosan kita kaping kalih, saking surat Wahyu 22:12-21. Ing antawisipun wiwitan lan pungkasan wonten jarak ingkang jembar. Mila, para tiyang pitados dipun suwun tetep setya tuhu ing antawisipun jarak lan wekdal gesang punika. Kasetyan punika dipun gambaraken ingkang mekaten: “begja wong sing padha ngumbah sandhangane nganthi resik…” (Ay. 14), sarta kasetyanipun para Penganten Putri ingkang ngajeng –ajeng Panganten Kakung (Ay. 17). Mila sadangunipun taksih wonten wekdal lan kesempatan kangge kita nglajengaken gesang punika, swawi terus dados paseksi lan pelados lumantar maneka warna cara lan media. Tetep yakin bilih Gusti Allah lumantar Gusti Yesus badhe paring kasagedan lan mberkahi kita sami. Sabdanipun: “Sih-rahmate Gusti Yesus Kristus anaa ing kowe kabeh! Amin” (Wahyu 22:21). Sugeng dados paseksi lan ngladosi. Gusti Yesus mberkahi kita sami. Amin. [TpJ].
Pamuji: KPJ. 428 Bingaha, Sisaha, Gusti Kula Puji