Bacaan: Wahyu 3 : 14 – 22 ǀ Pujian: KJ. 17
Nats: “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” (Ayat 20).
Franz Magnis Suseno dalam buku Etika Jawa (Gramedia, Jakarta, 1999) menyampaikan bahwa belajar sikap hormat dapat dicapai melalui tiga perasaan yaitu wedi, isin, sungkan. Wedi berarti takut, baik sebagai reaksi terhadap ancaman fisik maupun sebagai rasa takut terhadap akibat kurang enak dari suatu tindakan. Isin berarti malu, juga dalam arti malu-malu dan merasa bersalah. Sungkan adalah suatu perasaan yang dekat dengan rasa isin, namun dalam arti yang lebih positif. Pembahasan khusus tentang rasa isin (malu) dapat dimaknai bahwa kultur Jawa sangat kuat dalam budaya malu. Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan dan kemudian diketahui orang lain, maka rasa malu akan sangat menguasai dirinya.
Bacaan kita tentang Laodikia merupakan bagian kisah tujuh jemaat di Kitab Wahyu. Menariknya, ada kalimat “aku tahu” yang kemudian diikuti dengan kata “segala pekerjaanmu” bagi ketujuhnya. Yaitu Efesus (2:2); Smirna (2:9), Pergamus (2:13), Tiatira (2:19), Sardis (3:1), Filadelfia (3:8) dan Laodikia (3:15). Ternyata ada pihak yang tahu tentang keberadaan jemaat. Bagaimana perasaan jemaat Laodikia saat ada yang mengatakan “aku tahu segala pekerjaanmu?” (ay. 15). Secara khusus, jemaat Laodikia ditelanjangi tentang kondisi riilnya. Situasinya suam-suam kuku. Merasa hebat dan tidak bisa dikalahkan. Miskin namun mengaku kaya. Pada sisi ini, apakah kemudian jemaat Laodikia menjadi malu (isin) atas dirinya? Apakah tergerak untuk sadar diri dan memantaskan diri? Pada keadaan inilah ada titik balik yang penting. Digambarkan adanya sosok yang mengetok pintu, ingin datang dan mengetahui keberadaannya (ay. 20). Sebuah makna tentang itikad dan inisiatif untuk duduk bersama serta merancangkan apa yang perlu dilakukan oleh jemaat Laodikia.
Bagaimana jika Tuhan datang dan berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu” kepada kita? Sementara kita sadar bahwa hidup kita tidak benar. Apakah kita punya rasa malu dan bertekad memperbaiki diri? Mari kita gunakan Masa Raya Paskah ini sebagai waktu menghormati kehadiran Allah, yang secara nyata bertujuan menemani dan menyempurnakan kehidupan umat-Nya. Amin. [WdK].
“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” (Yoh. 21:17)