Bacaan: Wahyu 2 : 8 – 11 ǀ Pujian: KJ. 375
Nats: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Ayat 10b).
Berbicara mengenai hidup dengan setia itu mudah, namun berlaku setia itu butuh perjuangan. Setia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah berpegang teguh, patuh, taat, tetap, dan teguh hati. Artinya, di dalam kata setia itu ada unsur tunduk, rendah hati, dan kesediaan diri. Misalnya saja ketika kita berjanji untuk sehidup semati dalam janji pernikahan. Namun tak jarang ada orang yang melupakan janji setianya ketika diguncang badai persoalan dalam kehidupan rumah tangganya.
Dalam bacaan kita hari ini dijelaskan bahwa Jemaat di Smirna bukanlah jemaat yang kaya. Ayat 9 menyebutkan bahwa jemaat ini miskin dan juga sering mengalami kesusahan. Mereka seringkali difitnah, sehingga beberapa anggota jemaat mereka harus mendekam dalam penjara. Namun, dalam kondisi yang serba susah ini, penulis kitab Wahyu menghibur, menguatkan, dan meminta mereka untuk tetap setia sampai mati, karena pada akhirnya bagi mereka yang setia sampai akhir akan menerima mahkota kehidupan. Penulis Kitab Wahyu juga menegaskan bahwa Allah senantiasa menyertai kehidupan umat-Nya, sebab Ia adalah yang awal dan yang akhir serta yang telah mati namun hidup kembali (Ay. 8).
Ujian paling nyata dari kesetiaan kasih kita kepada Allah dan sesama adalah pada saat kita mengalami kesusahan dan penderitaan hidup. Saat ujian itu datang, apakah kasih kita tetap ada dan besar? Apakah kita tetap dapat memberikan yang paling baik dari hidup kita meskipun kita mengalami penderitaan yang luar biasa? Ingatlah bahwa kasih tidak pernah gagal. Kasih selalu berujung pada kehidupan. Saat ini jika kita sedang menghadapi tantangan dan penderitaan, ingatlah peristiwa Paskah. Bahwa Yesus tidak mati untuk selama-lamanya, Ia bangkit dan menyertai umat-Nya. Bagi siapa yang tetap setia kepada-Nya diberikan mahkota kehidupan selama-lamanya. Ingatlah kasih-Nya senantiasa menyertai kita, karena itu tetaplah setia mengiring Tuhan. Amin. [DB].
“Memang semua orang bisa bilang cinta, tapi tidak setiap orang mampu setia.
Kesetiaan adalah kemampuan jiwa-jiwa berkelas.”