Ya Tuhanku dan Allahku! Pancaran Air Hidup 24 April 2022

24 April 2022

Bacaan: Yohanes 20 : 19 – 31 ǀ Pujian: KJ. 40
Nats:
“Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Ayat 28-29).

Dari program CPE (Clinical Pastoral Education) yang pernah saya ikuti, saya mendapati bahwa diri saya termasuk orang yang penuh dengan keragu-raguan. Tentu hal ini menjadi perenungan tersendiri bagi saya sehingga memunculkan banyak pertanyaan, “Mengapa saya mengalami keragu-raguan. Apakah ragu-ragu itu salah? Apa yang harus saya lakukan dengan keragu-raguan itu? Kapan dalam hidup saya tidak ragu-ragu lagi?”

Salah satu tokoh Alkitab yang seringkali dikaitkan dengan keragu-raguan adalah Tomas “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” itulah yang dikatakan Tomas ketika menanggapi pengalaman murid-murid yang lain, ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya. Bisa jadi ia menyesal karena saat itu ia tidak bersama dengan para murid lainnya. Bisa jadi juga, ia tidak puas hanya mendengarkan cerita dari orang lain. Ia ingin mengalami sendiri perjumpaan dengan Tuhan yang telah bangkit, sehingga ia tidak mau menelan begitu saja kesaksian mereka. Sekalipun demikian, tidak ada seorangpun yang mencela keraguan Tomas. Mereka juga tidak memaksa Tomas untuk percaya dengan pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan. Mereka tetap merengkuh Tomas untuk bergumul dengan keraguannya itu. Delapan hari kemudian, ketika Tuhan Yesus kembali menampakkan diri yang ketiga kalinya. Tuhan Yesus pun menyapa dan memperlihatkan diri-Nya secara khusus kepada Tomas. Baru pada saat itulah, Tomas mau percaya dan berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Ia yang ragu kini menyatakan sendiri pengakuannya kepada Tuhan.

Dalam hidup ini bukankah kita seringkali seperti Tomas. Kita seringkali meragu. Hanya saja kita tidak jujur dengan diri kita sendiri ketika timbul keraguan kepada Tuhan. Melalui pengalaman iman Tomas, marilah kita semakin meneguhkan iman percaya kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk melihat setiap pengalaman iman kita sebagai bagian dari bukti kasih Allah, sehingga kita bisa berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Amin. [RA].

“Iman tidak dimulai dari pengetahuan tetapi dari keberanian untuk percaya.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak