Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi Khotbah Minggu 1 Mei 2022

18 April 2022

Minggu Paskah 3 – Syukur YBPK
Stola Putih

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 9: 1 6
Bacaan 2
:
Wahyu 5: 11 14
Bacaan 3
:
Yohanes 21 : 1 19

Tema Liturgis: Mensyukuri Panggilan Tuhan melalui Keterlibatan Mendukung YBPK
Tema Khotbah : Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 9 : 1 6
Kisah Yesus yang menampakkan diri kepada Saulus adalah peristiwa perjumpaan yang luar biasa. Saulus yang diperkenalkan sebagai seorang pengancam dan pembunuh para pengikut Yesus, bahkan bisa semakin brutal ketika ia mendapat dukungan “kuasa” dari Imam besar maupun Mahkamah Agama Yahudi. Saulus dijumpai secara pribadi oleh Tuhan Yesus dalam perjalanannya ke Damsyik. Perjumpaan secara langsung tersebut tentu “menghenyakkan” diri Saulus, sebab apa yang ia perhatikan dan dengarkan yakni Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai para pengikut-Nya yang dianiaya oleh Saulus (Ay. 4-5). Apa yang sejak awal dianggap “sekte sesat” seketika itu memperbaharui pemikiran Saulus, bahwa Yesus Kristus adalah nyata, Ia benar-benar hidup!

Peristiwa inilah yang meluluhkan hati Saulus yang dinyatakan dalam pertobatannya. Dia tidak hanya mengikut Yesus namun juga bersedia untuk terjun dalam pekabaran Injil. Sekalipun awalnya Ananias, seorang murid Tuhan sempat meragukan kehadiran Saulus, namun dalam doanya, Tuhan meneguhkan hati Ananias dengan menyatakan, Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel (Ay. 15). Seketika itu Ananias berkenan untuk mendengarkan dan menumpangkan tangannya kepada Saulus. Saulus bertobat. Dampak dari pertobatan Saulus itu adalah kesetiaan Saulus (yang nantinya akan disebut Paulus) dalam memberitakan Injil, khususnya kepada bangsa-bangsa non Yahudi.

Wahyu 5: 11 14
Kitab Wahyu merupakan tulisan atas penglihatan yang diterima oleh Yohanes di pulau Patmos yang ditujukan kepada jemaat mula-mula yang sedang menghadapi penderitaan berat akibat penganiayaan. Dalam kitab Wahyu ini kita dapat mengerti betapa kuasa, kemuliaan, dan kekayaan Tuhan sangat luar biasa. Kunci kehidupan ada pada Anak Domba yang disembelih, yaitu Yesus Kristus. Oleh sebab itu, puji-pujian dipanjatkan dan segala makhluk menyembah dan memuliakan Dia selamanya. Penglihatan ini ditujukan kepada jemaat mula-mula sebagai pesan penguatan agar mereka tetap tabah dan berpengharapan dalam menghadapi tekanan dan penganiayaan. Sebab iman yang dimiliki oleh orang Kristen adalah kepada Dia, Sang Penebus yang menolong dan menyelamatkan umat-Nya yang menderita dan teraniaya. “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya.

Yohanes 21 : 1 19
Pasal 21 ini mengisahkan tentang penampakan diri Yesus Kristus yang ketiga kepada murid-muridNya. Saat itu, Simon Petrus bersama dengan murid-murid yang lainnya kembali menjalani hari-hari mereka sebagai seorang nelayan sepeninggal Sang Guru, Yesus Kristus. Entah apa yang dirasakan oleh para murid sehingga sepeninggal Sang Guru, mereka kembali pada profesi lama mereka seolah-olah dalam hati mereka tiada lagi harapan. Bahkan dalam kesempatan itu, mereka justru menjumpai kegagalan dimana tiada hasil yang mereka dapatkan. Namun situasi berubah saat hari mulai siang, ketika ada sosok yang berdiri dekat pantai memperhatikan dan meminta mereka menebarkan jala di sisi lain. Para murid mendengar dan melakukan sebagaimana yang diminta oleh sosok tersebut, lalu kuasa ajaib terjadi yakni jala tersebut dipenuhi oleh banyak ikan. Menyadari hal tersebut, seorang murid tersentak hatinya dan dengan penuh kesadaran mengatakan,Itu Tuhan!”.

Peristiwa ini sungguh membuktkan bahwa Yesus Kristus sungguh mengasihi bahkan menolong para murid dalam kehampaan mereka. Bahkan keajaiban terjadi, ketika mereka memperhatikan dan menaati apa yang dikatakan-Nya sekalipun dalam situasi yang penuh dengan keputusasaan dan penderitaan. Tentu peristiwa ini menjadi semangat yang membara bagi para murid, khususnya bagi Simon Petrus. Perjumpaannya dengan Yesus menggerakkan hatinya untuk bersaksi atas kebangkitan-Nya. Bahkan hati Simon Petrus semakin dimantapkan ketika Yesus bertanya tiga kali, Apakah engkau mengasihi Aku?” (Ay. 15, 16, 17). Pengakuan itu berarti pemulihan hubungan Petrus dengan dirinya sendiri. Dengan pengakuan dosa, Petrus berdamai dengan dirinya sendiri. Penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali diimbangi dengan tiga kali pernyataan kasihNya. Penting diperhatikan bagaimana peranan Petrus sebagai gembala dikaitkan dengan kasih dan bagaimana Petrus menyerahkan hidupnya untuk memuliakan Tuhan serta melayani-Nya seumur hidupnya.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Setiap orang percaya senantiasa dipanggil-Nya untuk terlibat aktif dalam menyatakan rencana agung Tuhan bagi dunia, namun dalam perjalanannya seringkali semangat “panggilan Allah” dalam kehidupan umat percaya berangsur kendor. Dampak dari kuasa dosa menjadikan manusia terpuruk dalam kerapuhan dan kelemahan, sehingga ketika beratnya pergumulan dan tantangan melanda, seringkali umat percaya jatuh dalam keputusasaan maupun kehampaan hati. Dengan iman percaya kepada Sang Anak Domba, Yesus Kristus, Tuhan yang memanggil setiap umat-Nya. Dengan kesediaan hati untuk memperhatikan dan mentaati apa yang dikatakan-Nya, maka pertolongan-Nya sungguh dinyatakan sekalipun dalam situasi yang penuh dengan keputusasaan dan penderitaan. Bahkan betapa kerasnya hati seseorang dapat luluh melalui kuasa perjumpaan bersama Sang Kristus. Hal ini membuktikan bahwa Allah sungguh mengasihi dan senantiasa merengkuh kehidupan orang percaya. Ia berkenan berjumpa umat-Nya sebagai wujud penyertaanNya yang nyata dan sungguh mengobarkan iman!

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)

Pendahuluan
Ada sebuah pepatah Jawa yang menarik untuk digumuli dalam rangka syukur YBPK, yakni ”Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi.” Adapun makna yang terkandung dari kalimat tersebut demikian: Mulat Sarira Hangrasa Wani: Keberanian untuk melihat/ introspeksi pada diri (kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan, maupun kekuatan-kekuatan dan kebaikan-kebaikan di dalam diri). Rumangsa Melu Handarbeni: Ikut bertanggungjawab/ memiliki atas penemuan itu. Terakhir, Wajib Melu Angrungkebi: kewajiban untuk menjaga kebaikan dan memperbaiki kesalahan. Pepatah tersebut memiliki arti yang dalam berkaitan dengan keaarifan masyarakat Jawa dalam membangun budi pekerti yang baik, maupun dalam kehidupan berorganisasi-bermasyarakat. Namun bagaimana dalam realitanya? Ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan untuk mengamalkan pepatah Jawa tersebut. Tidak sedikit ditemui orang-orang maupun organisasi yang kesulitan dalam mengintrospeksi diri, sehingga seringkali jatuh dalam krisis keputusasaan. Dalam keadaan demikian seringkali mereka hidup dalam keterpurukan seakan-akan menyerah dengan keadaan bahkan memunculkan rasa kebencian pada diri maupun organisasi. Akibatnya banyak orang maupun organisasi yang berakhir menyedihkan, tentu hal tersebut sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Isi
Kebersamaan para murid dengan Tuhan Yesus menjadi moment yang menyentuh dalam hidup mereka. Para murid mengalami semangat, kenyamanan, pengharapan bahkan cinta ketika mereka mengikuti Sang Guru, baik dalam pengajaran maupun dalam setiap karya-karya yang diwartakan-Nya. Namun kebersamaan tersebut harus berakhir ketika Tuhan Yesus menyatakan karya penyelamatan-Nya di kayu salib. Tentu peristiwa ini mendukakan hati mereka, karena mereka harus berpisah dengan Sang Guru. Lantas apa yang dilakukan oleh para murid pasca terpisah dengan Yesus? Mereka kembali pada pekerjaan lama mereka yang kebanyakan adalah nelayan. Keadaan ini seolah-olah ingin menggambarkan bahwa para murid mengalami kehampaan, tiada secercah pengharapan yang dimunculkan dalam diri Simon Petrus, Tomas, Didimus, Natanael, anak-anak Zebedeus, dan murid yang lain. Bahkan sebagai nelayan yang berpengalaman, kehampaan tersebut juga mempengaruhi gagalnya mereka dalam menangkap ikan.

Keadaan menjadi berbeda ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada mereka, sekalipun para murid sama sekali tidak mengenali-Nya. Kehadiran Tuhan Yesus dihadapan murid-murid-Nya tidak hanya sekedar memberikan pertolongan bagi mereka, namun Yesus juga mengajak para murid untuk “melihat pada diri” mereka masing-masing melalui peristiwa nostalgia: menjala ikan (Ay. 6), makan bersama (Ay. 12), membagikan roti (Ay. 13). Suasana tersebut memicu para murid kembali mengingat Sang Guru dan mengobarkan hati mereka untuk melanjutkan karya Tuhan Yesus dalam kehidupan. Terkhusus Simon Petrus mengungkapkan pengakuan dosa di hadapan Tuhan Yesus. Petrus berdamai dengan dirinya sendiri. Penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali diimbangi dengan tiga kali pernyataan kasih Kristus. Hal ini semakin memantapkan Petrus untuk melanjutkan karya Tuhan, menggembalakan domba-domba-Nya. Sekalipun untuk melanjutkan karya Tuhan bukanlah suatu hal yang mudah, namun peristiwa perjumpaan para murid dengan Tuhan Yesus, membuktikan bahwa kuasa Kristus sungguh nyata memberi pertolongan dan mengobarkan kembali semangat mereka yang padam.

Demikian pula dalam penglihatan yang diterima Yohanes di pulau Patmos. Dikala umat Kristen mula-mula mengalami berbagai penderitaan dan penganiayaan, Yohanes kembali mengajak umat untuk menggumuli kembali iman pada diri mereka bahwa Pemeliharaan Kristus, Sang Anak Domba yang disembelih melampaui apapun yang ada di dunia. Ia diberi kuasa, kekayaan, hikmat dan kekuatan yang dipuji-puji seluruh makhluk. Sungguh kuasa Allah yang luar biasa dinyatakan untuk mengobarkan semangat para pengikut Kristus dalam menghadapi beratnya tantangan yang ada. Sebagaimana para murid Yesus, ketika mereka berkenan untuk “memperhatikan dan menaati” apa yang dikatakan oleh Yesus, mereka menemukan keajaiban yang semakin memantapkan hati mereka dalam pengharapan yang kuat kepada Kristus.

Memang beratnya tantangan dalam hidup seringkali menggoyahkan sikap hati kita dalam menanggapi panggilan Tuhan untuk berkarya bagi nama-Nya, bahkan tidak sedikit yang jatuh terpuruk sampai memicu kebencian dalam hati, namun kuasa Tuhan mampu mengubahkan hati setiap orang. Sebagaimana Saulus, kebenciannya meledak-ledak kepada pengikut Kristus. Dia tidak segan menangkap, menyiksa, dan membunuh pengikut Kristus. Akan tetapi kehendak Tuhan berkata lain, Saulus yang bengis dan keras hati diubahkan oleh Tuhan dalam suatu perjalanannya ke Damsyik. Bahkan Saulus yang dikenal kejam, bertransformasi menjadi hamba Allah yang setia dan terlibat-aktif dalam menyatakan karya Tuhan bagi banyak orang, khususnya bangsa non Yahudi. Sungguh perjumpaan bersama Yesus meluluhkan hati yang keras, mengobarkan semangat yang padam untuk kembali menghayati semangat panggilan Tuhan di dalam kehidupan umat percaya bagi dunia ini.

Penutup
Sebagaimana para murid, kita pun juga sesungguhnya menerima panggilan Tuhan untuk terlibat dalam karya-Nya bagi dunia. Bahkan GKJW mewadahi berbagai bidang pelayanan untuk memberi ruang bagi kita terlibat berkarya bagi-Nya, salah satunya melalui YBPK. YBPK adalah wujud kesaksian nyata GKJW dalam dunia pendidikan yang sudah menggema sejak lama dan bertahan sampai dengan detik ini. Namun bagaimana nasibnya sekarang? Mungkin akan membuat kita mengalami “kehampaan bahkan kebencian” baik itu melihat dari sisi kualitas pendidikan, pengorganisasian, maupun penghidupan para guru, dsb. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Saling menyalahkan kah?

Mari kita coba untuk melihat pada diri kita pribadi lepas pribadi (Mulat Sarira Hangrasa Wani). Kita adalah GKJW, YBPK adalah kesaksian yang hidup milik kita bersama (Rumangsa Melu Handarbeni). Oleh sebab itu, marilah kita semua menanggapi panggilan Tuhan untuk terlibat-aktif, menorehkan sumbangsih bagi YBPK baik itu, pikiran, tenaga, dana, dsb. Kita patut bersyukur bahwa Tuhan memberkati dan menyertai YBPK – GKJW bertahan sampai saat ini. Marilah kita nyatakan syukur kita dengan terus mengupayakan, mengembangkan, dan membangun YBPK (Wajib Melu Angrungkebi) dalam keyakinan penuh bahwa Kristus senantiasa menolong dan memampukan kita untuk bersaksi bagi-Nya melalui kehadiran YBPK – GKJW di tanah Jawa Timur ini. Amin. [mojo].

Pujian: KJ. 357 : 1 4 Dengar Panggilan Tuhan


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten satunggal unen-unen Jawi ingkang saged kita mangertosi sesambetan kaliyan sokur YBPK, inggih punika:Mulat Sarira Hangrasa Wani, Rumangsa Melu Handarbeni, Wajib Melu Angrungkebi.” Wondene tegesipun mekaten: Mulat Sarira Hangrasa Wani: tegesipun wantun niti priksa/ introspeksi dhiri ing bab karingkihan lan kaluputan, kakiyatan saha kasaenan ing dhiri. Rumangsa Melu Handarbeni: tegesipun ndherek tanggel jawab/ nggadhahi panemu. Pungkasanipun, Wajib Melu Angrungkebi: tegesipun nggadahi kawajiban kangge njaga kasaenan saha ngewahi kaluputan. Unen-unen punika ngemu ateges ingkang luhur sanget gegayutan kaliyan nilai-nilai kawicaksanan tiyang Jawi kangge mangun budi pekerti ingkang luhur utawi kangge gesangipun organisasi-masyarakat. Ananging kados pundi kasunyatanipun? Nyatanipun boten gampil kangge nindakaken unen-unen Jawi punika ing gesang padintenen. Asring kita manggihi tiyang utawi organisasi ingkang ewed anggenipun mawas dhiri satemah asriring dawah ing kasisahan lan kasangsaran. Awit kawontenan punika, asring gesangipun tiyang utawi organisasi dawah ing kacingkrangan lajeng nyerah. Malahan saged nuwuhaken raos sengit ing dhirinipun utawi organisasinipun. Akibatipun kathah tiyang utawi organisasi ingkang nglokro, tamtu kawontenan punika jalari kaprihatosan dhateng kita sadaya.

Isi
Gesang sesarengan kaliyan Gusti Yesus dadosaken para sakabat ngraosaken trenyuh. Para sakabat saged ngraosaken semangat, ayem, nggadahi pengajeng-ajeng ugi katresnan nalika ndherek Gusti Yesus, sae ing salebeting ngangsu kawruh, sae ing salebeting pakaryan-pakaryanipun ingkang kababar. Ananging gesang sesarengan kaliyan Gusti Yesus punika boten saged kalajengaken, awit Gusti Yesus kaukum pati ing kajeng salib. Tamtu prastawa punika estu nyisahaken manah para sakabat, karana kedah pisah kaliyan Sang Guru. Lajeng punapa ingkang dipun tindakaken para Sakabat sasampunipun katilar dening Gusti Yesus? Para Sakabat sami nindakaken pandamelan asalipun, inggih punika nelayan. Kawontenan punika dados gegambaran bilih para sakabat ngraosaken suwung ing manah, boten gadhah pangajeng-ajeng malih. Punika ingkang dipun raosaken dening Simon Petrus, Tomas, Didimus, Natanael, putranipun Zebedeus, lan para sakabat sanesipun. Malah minangka nelayan ingkang kebak pengalaman, raos suwung ing manah punika ugi njalari kaapesan nalika njala ulam.

Kawontenan para sakabat sanalika ewah, Gusti Yesus kersa ngatingalaken Sariranipun dhateng para sakabat. Senadyanta para sakabat sami boten mangertos Panjenenganipun. Rawuhipun Gusti Yesus boten namung paring pitulungan dhateng para sakabat kemawon, Gusti Yesus ugi kersa ngajak para sakabat supados sami niti priksa dhirinipun piyambak-piyambak mawi prastawa nostalgia: njala ulam (Ay. 6), dhahar sesarengan (Ay. 12), andum roti (Ay. 13). Kawontenan ingkang mekaten njalari para sakabat mangertos bilih tiyang punika, Gusti Yesus Sang Guru. Saking pepanggihan punika manahipun para sakabat ngangah-angah kebak kabingahan lan semangat kangge nglajengaken pakaryanipun Gusti Yesus ing donya punika. Mliginipun Simon Petrus, piyambakipun purun ngakeni kalepatan lan dosanipun wonten ngarsanipun Gusti Yesus. Petrus saged “berdamai” kaliyan dhirinipun. Petrus ingkang nyelaki Gusti Yesus ngantos kaping tiga dipun imbangi kaliyan wangsulan katresnanipun Gusti Yesus ngantos kaping tiga. Prekawis punika sansaya ngantebaken batosipun Petrus anggenipun ndherek nglajengaken pakaryanipun Gusti kangge ngrimati mendha-mendha-Nipun. Sanadyanta kangge nglajengaken pakaryanipun Gusti punika sanes ayahan ingkang gampil, nanging kawontenanipun para sakabat, nedahaken panguaosipun Gusti Yesus saestu nyata. Gusti Yesus kersa paring pitulungan lan semangat dhateng para sakabat ingkang semplah nalika semanten.

Mekaten ugi ing salebeting paningalanipun Yokanan ing pulau Patmos. Rikala umat Kristen wiwitan ngalami mawarna-warni kasangsaran lan kaniaya, Yokanan ngajak para umatipun Gusti kangge ngraosaken malih imanipun. Kados pundi anggenipun Gusti Yesus Kristus, Sang Menda ingkang sampun kapragat, nglangkungi punapa kemawon ing alam donya punika, tansah nganthi lan ngrimati umat kagunganipun. Saestu panguwaosipun Gusti Allah ingkang ngedab-edabi saged kangge semangat para pandherekipun Gusti Yesus anggenipun ngadhepi awrating tantangan gesang. Kadya para sakabatipun Gusti Yesus ingkang sami nampi panemu ajaib ingkang sansaya ngantebaken batosipun ing pangajeng-ajeng dhumateng Sang Kristus.

Pancen awrating tantangan ing pigesangan asring ngewah-ewahi manah kita anggenipun nanggepi timbalanipun Gusti. Asring kangge ndherek makarya kagem asma-Nya, boten sekedhik tiyang ingkang dhawah kacingkrangan ngantos nuwuhaken raos sengit ing batos. Ing kahanan punika, swawi kita ngenget bilih panguwaosipun Gusti Yesus saged ngewahi manahipun tiyang nandhang kacingkrangan punika. Kadya Saulus, sengitipun tumrap tiyang Kristen ingkang ngedab-edabi kanthi tega nyepeng, nyiksa saha mejahi para pandherekipun Gusti. Ananging karsanipun Gusti Allah kababar, Saulus ingkang ambek siya lan wangkot ing sengit dipun ewahi dening Gusti Allah ing salebeting pepanggihan ingkang ngedab-edabi. Saulus katepangaken ambek siya, gumantos dados abdinipun Gusti Allah ingkang setya tuhu, sarta ndherek mbabarake pakaryanipun Gusti tumrap tiyang kathah, mligi tiyang non Yahudi. Estu pepanggihan kaliyan Gusti Yesus saged ngubah manah ingkang wangkot, paring semangat dhateng tiyang ingkang kendho, kangge ngraosaken malih semangat timbalanipun Gusti ing gesangipun.

Panutup
Kadya para sakabat, kita punika saestu nampi timbalanipun Gusti kangge ndherek mbabaraken pakaryan-Ipun ing alam donya. Ing GKJW wonten mawarni-warni bidang peladosan kangge maringi kita kesempatan ndherek pakaryanipun Gusti, salah satunggalipun inggih punika YBPK. YBPK punika wujud paseksinipun GKJW ingkang nyata ing dunia pendidikan. YBPK sampun misuwur saking rikala jaman rumiyin ngantos dumugi ing wekdal samangke. Ananging kados pundi kawontenanipun YBPK samangke? Mbok bilih ndadosaken kita ngraosaken kaprihatosan ningali kawontenanipun YBPK punika; sae ing kualitas pendidikan, pengorganisasian, utawi panguripanipun para guru, lsp. Lajeng punapa ingkang saged kita tindakaken? Punapa kita badhe sambat lan nggugat? Sumangga kita niti priksa saking dhiri kita pribadi baka pribadi (Mulat Sarira Hangrasa Wani). Kita punika GKJW, YBPK punika paseksi ingkang gesang gadhahanipun kita sami (Rumangsa Melu Handarbeni). Mila sumangga kula, panjenengan, lan kita sadaya sami tanggap dhateng timbalanipun Gusti kangge ndherek-aktif, maringi sumbangsih kagem YBPK, sae pikiran, sae tenaga, sae dana, lsp. Mangga kita tansah saos sokur dene Gusti tansah berkahi lan nganthi lampah gesangipun YBPK ngantos saged bertahan dumugi ing wekdal samangke. Sumangga kita wujudaken saos sokur kita mawi semangat kita anggenipun tansah mbudidaya, ngrembakaake, lan mbangun YBPK (Wajib Melu Angrungkebi). Kita yakin sestu bilih Gusti Yesus Sang Kristus tansah paring pitulungan saha kesanggeman dhateng kita sedaya kangge wartosaken paseksi kagem Gusti mawi YBPK ing tlatah Jawi Wetan. Amin. [mojo].

 

Pamuji: KPJ. 348 : 1, 3 Pasamuwan Kang Nyawiji

Renungan Harian

Renungan Harian Anak