Yang Tinggi yang Merendahkan Hati Pancaran Air Hidup 14 April 2022

14 April 2022

Bacaan: Yohanes 13 : 1 – 17 ǀ Pujian: KJ. 379
Nats:
“… sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Ayat 15).

Ada pepatah yang mengatakan, “Satu keteladanan lebih baik dan bermakna daripada sejuta nasihat.” Satu teladan yang baik, baik dalam perkataan, sikap maupun perbuatan yang dapat dicontoh akan lebih bermakna daripada beragam nasihat yang tidak dapat dilihat dan tidak jelas. Tentu kita setuju dengan makna ungkapan pepatah ini. Berbicara perihal keteladanan, pada umumnya keteladanan dilakukan oleh sosok yang disegani, entah itu orang tua atau orang yang dianggap lebih tua, seorang pemimpin, tokoh, atau publik figur. Pribadi-pribadi tersebut diharapkan mampu menjadi penuntun sekaligus panutan bagi orang lain ataupun orang-orang yang lebih muda.

Tuhan Yesus memberikan nilai keteladanan yang begitu konkret kepada para murid dalam tindakan pembasuhan kaki. Sebagai Guru, Yesus rela melakukan ini kepada para murid-Nya. Tindakan Yesus ini jelas bertentangan dengan kebiasaan umum pada waktu itu (bahkan sampai sekarang juga!), dimana muridlah yang harus membasuh atau melayani gurunya. Yesus membalikkan fakta itu bahwa guru pun harus melayani muridnya. Sebuah langkah pelayanan yang bersahaja bukan? Yesus menginginkan para murid-Nya nanti menjadi pelayan bagi orang lain. Dia tidak menjelaskan tugas pelayanan itu dengan kata-kata saja, melainkan dengan tindakan nyata. Ini berarti Yesus harus merendahkan hati-Nya bagi para murid dan melayani mereka.

Tindakan membasuh kaki adalah membersihkan bagian tubuh yang paling sering kotor. Untuk itu setiap pelayan Tuhan harus mampu merendahkan hatinya bagi orang lain. Contoh ini sesungguhnya tidaklah sulit dilakukan. Syaratnya pun tidak berat. Yang dibutuhkan di sini sebagai yang paling utama adalah kerendahan hati. Akan tetapi dalam kenyataannya ini sulit dilakukan. Mengapa? Karena umumnya kita masih terkungkung dalam pola pelayanan “memberi asal diberi”. Semangat pelayanan kita berbinar-binar, pada saat kita merasa Tuhan memberi sesuatu kepada kita. Lalu ketika tidak diberi, kita tidak melayani. Fatalnya lagi, kalau kita sendiri masih selalu menuntut untuk dilayani! Yesus memberi teladan sekaligus perintah baru dalam kehidupan para murid sepanjang masa, termasuk kita. Jika Yesus yang adalah Allah yang menjadi manusia, rela merendahkan diri sedemikian rupa dengan menghamba, bagaimana dengan kita? Bersediakah? Amin. [ECW].

“Memberikan diri dengan kerendahan hati adalah sikap diri yang siap melayani.”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak