Bacaan: Keluaran 19 : 16 – 25 | Pujian: KJ. 26
Nats: “Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Musa berbicara, lalu Allah menjawabnya dalam guruh.” (Ayat 19)
Suatu sore, penggubah himny terkenal dari Amerika Serikat, Fanny Crosby diundang menjadi pembicara bagi sekelompok narapidana. Namun, penyair tunanetra yang menelurkan ribuan kidung rohani itu tidak sekadar berkhotbah. Ia lebih banyak memakai waktu untuk berdiskusi dan mendengar bagaimana para tahanan itu menghidupi doa-doa mereka. Salah seorang narapidana bercerita pada Crosby, bahwa ia selalu diliputi rasa sesal mendalam atas kesalahan yang menyebabkannya di penjara. Narapidana itu selalu mengingat bahwa ia tidak layak untuk dikunjungi Tuhan, bila dibandingkan dengan sekian banyak orang lain yang berdoa memohon kepada Tuhan. Namun narapidana itu tahu bahwa ia membutuhkan kehadiran Tuhan. Ia pun selalu berdoa, “Ya Juruselamat yang baik, janganlah lewatkan aku.” Crosby begitu tersentuh dengan kerendahan hati dan kepasrahan doa narapidana tersebut. Kata-kata yang menjadi doa si narapidana itu terngiang hingga ia pulang. Crosby kemudian merangkai tiga bait syair yang didasarkan pada doa tadi. Syair itu menggambarkan bagaimana seharusnya sikap seorang Kristiani saat berdoa dengan berseru, “Jangan lewatkan aku Tuhan, dengarlah seru tangisku yang sangat rendah ini.“ Kemudian muncullah lagu di KJ. 26 yang berjudul: “Mampirlah dengar doaku.” Artinya, Tuhan bukanlah Allah yang jauh di atas dan tidak terjangkau tetapi sebaliknya, Ia hadir dan dekat dengan kehidupan manusia dalam kondisi apapun. Hal ini senada dengan teks hari ini.
Pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar ada guruh, kilat, dan awan padat di atas gunung Sinai tanda hadirnya Allah dalam kemuliaan dan kebesaran-Nya. Allah juga hadir dalam api yang asapnya membumbung tinggi. Semua itu membuat bangsa Israel menjadi gentar, tetapi Musa berbicara kepada Allah dan dijawab melalui guruh (Ay. 19). Hal ini menunjukkan, bahwa Allah yang besar, kudus, dan tak terbatas sekalipun, bisa dihampiri dengan akrab dalam kekudusan diri.
Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada kita dalam spiritualitas doa, mengajak setiap kita untuk berani menghampiri hadirat Allah dalam kerendahan hati dan kegentaran, seperti kisah tahanan di awal yang membuahkan lagu “Mampirlah dengar doaku”. Allah memang misteri yang menggetarkan, tetapi Ia juga hadir dalam keakraban, dalam setiap relasi doa kita kepada-Nya. Mari mengarahkan hati dan sujud berdoa kepada-Nya. Amin. [Kulz].
“Allah hadir dan menghampiri setiap seruan doa kita.”