Jumat Agung – Perjamuan Kudus
Stola Merah
Bacaan 1: Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Bacaan 2: Ibrani 10 : 16 – 25
Bacaan 3: Yohanes 18 : 1 – 19 : 42 (Yohanes 18 : 1 – 11; 19 : 28 – 30)
Tema Liturgis: Setialah dalam Kasih hingga Paripurna!
Tema Khotbah: Cinta Melampaui Kata
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 52 : 13 – 53 : 12
Hal yang seringkali dianggap sebagai kewajaran di mata manusia, seringkali jauh berbeda bagi Tuhan. Pandangan yang nampaknya normal dan biasa seringkali juga dijungkir-balikkan. Hal yang wajar bagi umat adalah berusaha mendekat Allah yang kudus dengan membawa korban. Umat yang penuh dengan salah berharap mendapat anugerah dengan mempersembahkan korban kepada Allah. Sampai pada saatnya, umat disadarkan bahwa cinta Allah terlampau murah untuk umat yang bersalah. Allahlah yang justru mendekat kepada umat berdosa dengan membawa korban. Itulah yang digambarkan oleh Yesaya tentang hamba yang menderita dalam bacaan kita. Ia dihina, dianiaya dan bahkan orang yang melihatpun menutup mukanya.
Hamba TUHAN yang menderita ini digambarkan sebagai sosok yang menyambut dan mewujudkan rencana kasih Allah dengan tuntas walau derita yang diterima. Rencana kasih Allah adalah menyelamatkan manusia dari kegelapan hidup, dosa, dan pemberontakannya kepada Allah. Penderitaan berat diterimanya demi tujuan yang jauh besar dan mulia, yaitu mencintai hidup dengan sempurna. Jalan terjal penuh derita tidak selalu bermakna kekalahan dan kehinaan, namun bisa jadi adalah jalan kemenangan dan kemuliaan.
Ibrani 10 : 16 – 25
Di tengah penderitaan yang akrab dengan kehidupan manusia, Penulis Surat Ibrani memberikan penghiburan dan kekuatan bahwa orang yang percaya pada Tuhan Yesus tak perlu kuatir. Tuhan Yesus yang digambarkan sebagai Imam Besar itu terus bersama-sama dengan perjuangan umat. Ia mengosongkan diri untuk turut merasakan kelemahan dan penderitaan manusia. Sebagai Imam Besar, Yesus menghantar kita pada Allah untuk mendapatkan keselamatan sejati melalui pengorbanan diri-Nya. Kesetiaan Sang Kristus sampai akhir itu memang bukan hal yang mudah, namun dengan laku nyata itu, cinta-Nya sempurna melampaui kata. Karenanya, Penulis surat Ibrani memberikan dorongan semangat bagi orang Kristen untuk tetap setia dan taat mengarahkan diri pada kesalehan hidup. Itulah panggilan umat untuk meneladan Kristus.
Yohanes 18 : 1 – 19 : 42 (Yohanes 18 : 1 – 11 ; 19 : 28 – 30)
(Karena bacaan cukup panjang, ayat yang berada dalam kurung menjadi saran untuk dibacakan)
Usai perjamuan terakhir digelar, Yesus dan para murid-Nya keluar menuju taman yang sering dipakai mereka untuk berkumpul. Itulah sebabnya sekalipun Yudas tidak bersama-sama, ia mengetahui tempat itu. Peristiwa penangkapan oleh sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah bersenjata lengkap itu dihadapi Tuhan Yesus dengan sikap berani. Bisa saja Yesus yang tahu bahwa kedatangan mereka hendak menangkap-Nya mengajak para murid untuk bersembunyi di balik pepohonan di taman. Apalagi mereka sudah menyiapkan diri dengan membawa lentera dan obor. Namun, yang terjadi sebaliknya. Yesus justru keluar dan bertanya, seperti ula marani gepuk. Yesus menunjukkan keberanian-Nya menghadapi segala hal yang akan terjadi, yang paling buruk sekalipun, mengingat Ia bertangan kosong dan yang datang bersenjata lengkap. Namun, kewibawaan Yesus justru makin bersinar. Ketika Ia mengatakan “Akulah Dia (yang kamu cari)” justru mereka mundur dan jatuh ke tanah.
Peristiwa di taman itu menunjukkan bahwa Yesus siap memilih mati. Ia bisa saja melarikan diri dari penangkapan itu, namun Ia justru memilih mengasihi dan melindungi murid-murid-Nya (Ay. 8). Ia bahkan seperti menolong para prajurit itu untuk melakukan tugas penangkapan. Yesus menampakkan kepatuhan-Nya pada panggilan mengasihi dunia sampai paripurna ketika berkata, “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
Kematian Yesus diceritakan oleh Yohanes dengan singkat pada ayat 28 -30. Sebelum kematian-Nya, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Hal ini menegaskan bahwa sebenarnya kematian Yesus bukan karena kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang membencinya, namun karena karya-Nya sudah selesai dan tugas yang diemban-Nya sudah genap. Segala kekerasan, kekejian, fitnah, dan dosa-dosa yang bermuara pada kematian kekal sudah selesai.
Cinta yang melampaui kata yang nampak dalam kesetiaan dan keberanian Simon Petrus. Ia adalah tokoh yang perlu diberi penilaian secara adil. Memang akhirnya ia akan menyangkali Yesus, namun keberaniannya seorang diri, menghunuskan pedang untuk melawan sepasukan prajurit dan para penjaga itu demi Kristus, tidak boleh dilupakan dan patut dihargai. Bukankah hanya Petrus dan satu murid lain yang menolak untuk melarikan diri saat Yesus diadili? Ia tidak bisa memisahkan diri dari Kristus dan tetap mengikuti-Nya. Maka, sosoknya yang pemberani, setia, dan sungguh mengasihi, inilah yang membawa Petrus pada situasi dimana murid lain hampir tidak ada yang berani menghadapinya. Situasi itu memang membuatnya gagal, namun bisa dikatakan itu bukan karena dia seorang pengecut. Keberanian dan kasih besar yang dimiliki Petrus ini yang terus akan hidup dan membuatnya setia melayani Kristus sampai akhirnya.
Benang Merah Tiga Bacaan
Kasih yang besar dan dimulia telah dialirkan dengan sempurna oleh Allah kepada manusia berdosa melalui Yesus Kristus. Sengsara dan derita rela ditanggung-Nya demi cinta, yang dengan setia Ia wujudkan dalam karya nyata sampai paripurna. Meskipun tidak mudah, sebagai umat yang dikasihi-Nya, kita dipanggil untuk meneladan Dia melalui karya nyata dengan penuh cinta melampaui kata-kata.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing)
Pendahuluan
Salah satu cerita menonjol ketika perang dunia kedua adalah kisah tentang Alfred Sadd, seorang misionaris di Tarrawa. Saat serdadu-serdadu Jepang mendarat di pulau itu, Sadd dan dua puluh orang serdadu dari Selandia Baru yang adalah penjaga pulau dijadikan tawanan. Orang Jepang membentangkan bendera Inggris ke tanah dan memerintahkan Sadd untuk berjalan di atasnya. Sadd berjalan mendekati bendera itu, dan begitu dia sampai di bendera itu, dia berbelok ke kanan. Sekali lagi serdadu Jepang memerintahkan untuk menginjak bendera dan kali ini Sadd berbelok ke kiri. Untuk ketiga kalinya, Sadd diperintah untuk berjalan lurus dan menginjak bendera, namun Sadd malah mengambil bendera itu dan menciumnya. Ketika orang Jepang membawa mereka ke lapangan untuk ditembak mati, kebanyakan semua tawanan yang rata-rata masih muda itu sangat bersedih. Seketika itu juga Sadd yang berada di tengah barisan keluar dan berdiri di depan tawanan dengan mengucapkan kata-kata yang memberikan semangat. Setelah usai, Sadd kembali, tidak kembali ke tengah sebagaimana semula namun ada di depan barisan, sehingga jika ada tembakan mati dialah yang akan terkena terlebih dahulu. Alfred Sadd lebih memikirkan orang lain daripada keselamatannya sendiri. Dia melindungi orang lain dengan bersedia mengorbankan diri.
Isi
Sepanjang sejarah kehidupan ini, mungkin kita bertemu dengan sosok-sosok yang mengasihi, melindungi, dan meneladankan kesetiaan hingga mati. Mereka mengambil keputusan besar untuk menunjukkan bahwa kasih harus diperjuangkan dengan berani sekalipun harus mengorbankan diri. Ribuan tahun sebelum Alfred Sadd melakukan laku heroik itu, demi melindungi dan menyelamatkan kehidupan, jalan penderitaan telah disambut Tuhan Yesus dengan patuh. Ketika Tuhan Yesus mengatakan “Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi”, maka sejatinya Dia tidak pernah memikirkan diri-Nya sendiri, selain mengasihi, melindungi, dan menyelamatkan kehidupan yang lain. Yesus menampakkan kepatuhan-Nya pada panggilan mengasihi dunia sampai paripurna ketika berkata, “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
Ungkapan itu menegaskan bahwa Yesus tahu apa yang dikehendaki Bapa atas hidup-Nya. Walaupun dalam pandangan umum waktu itu salib adalah kekalahan dan kehinaan, namun bagi Yesus yang memikul salib, merengkuh luka dan derita karena cinta dan kesetiaan adalah mulia. Yesus tidak berhenti apalagi melarikan diri dari panggilan kasih-Nya bagi hidup manusia, sekalipun Dia mampu melakukan itu.
Karya Yesus adalah karya cinta kasih yang dihidupi dengan setia sampai paripurna. Penolakan yang mewarnai pelayanan sampai dengan siksaan yang diterima paska penangkapan memenuhi semua gambaran Yesaya tentang Hamba yang menderita. Namun, beratnya derita itu diterimanya demi tujuan yang jauh besar dan mulia, yaitu mencintai hidup dengan sempurna. Jika sebelum menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya Yesus berkata, “Sudah selesai”, maka ini menegaskan bahwa sebenarnya kematian Yesus bukan karena kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang membenci-Nya. Hidup-Nya berakhir karena karya-Nya sudah selesai dan tugas yang diemban-Nya sudah genap. Segala kekerasan, kekejian, fitnah, dan dosa-dosa yang bermuara pada kematian kekal sudah selesai. Kematian Yesus mengajak dunia menghayati bahwa sesungguhnya melalui sengsara dan pengorbanan-Nya, selesai juga segala bentuk penyaliban di dunia ini. Mestinya tidak ada lagi kekerasan kepada sesama manusia, tidak ada lagi fitnah, dan kata-kata caci maki kepada sesama. Tidak ada lagi manusia yang saling merendahkan sesamanya. “Sudah selesai” bermakna bahwa kekerasan yang dulu dialami Yesus dan semua umat manusia, harus dihentikan. Kekerasan harus diganti dengan cinta kasih. Ya, cinta yang melampaui kata.
Itulah sejatinya panggilan hidup setiap orang yang telah dicintai dengan sempurna oleh Sang Kristus. Karenanya, meski perjalanan hidup tidak mudah, Penulis surat Ibrani memberikan dorongan semangat bagi orang Kristen untuk tetap setia dan taat mengarahkan diri pada Kristus yang mencinta sampai paripurna. Umat dipanggil untuk meneladan Kristus yang setia melakukan kehendak Bapa, mengasihi kehidupan sampai paripurna. Cinta Kristus tidak untuk diri sendiri, namun melindungi dan demi keselamatan yang lain. Begitu juga, hidup mengikut Kristus, menjadi Kristen, seharusnya adalah hidup yang tidak terarah pada diri sendiri. Hidup dalam cinta yang melampaui kata.
Hidup dalam cinta yang melampaui kata itu pernah terjadi pada Simon Petrus yang memiliki kesetiaan dan keberanian untuk melindungi dan mengasihi Yesus, tanpa memikirkan diri sendiri. Dia adalah tokoh yang perlu diberi penilaian secara adil. Memang akhirnya, dia menyangkali Yesus, namun keberaniannya saat menghunuskan pedang seorang diri untuk melawan sepasukan prajurit dan para penjaga demi Kristus tidak boleh dilupakan dan patut dihargai. Bukankah hanya Petrus dan satu murid lain yang menolak untuk melarikan diri saat Yesus diadili di hadapan Hanas? Dia tidak bisa memisahkan diri dari Kristus dan tetap mengikuti-Nya dengan penuh kasih, kesetiaan, dan keberanian. Keberanian dan kasih besar yang dimiliki Petrus ini yang terus akan hidup dan membuatnya setia melayani Kristus sampai akhirnya. Dia terus mencinta melampaui kata.
Penutup
Pandemi Covid-19 menjadi jalan sulit, gelap, dan penuh derita bagi banyak orang. Banyak orang marah, menyerah, bahkan tidak peduli dengan keadaan dan sesama. Kekerasan dalam keluarga semakin meningkat seiring dengan kesulitan yang datang bertubi-tubi. Mereka yang rentan semakin merasakan kesesakan. Namun tidak sedikit juga yang berani bertahan, terus berjuang dengan semangat, bahkan menabur kebaikan untuk orang sekitar. Ada banyak cinta yang melampaui kata menjadi cerita sepanjang pandemi terjadi. Banyak yang terluka, berduka, bahkan berkorban segalanya. Covid-19 nyatanya memang membuat banyak sekali kehidupan berakhir, namun banyak juga yang semakin tumbuh dalam mencintai hidup. Orang makin peduli dengan kesehatan diri agar dapat menolong, melindungi, dan menyelamatkan yang lain betapapun butuh pengorbanan diri.
Memang tidak mudah hidup kita sekarang, namun sejatinya di sana senantiasa terbentang anugerah. Kristus setia mengasihi sampai paripurna dan di jalan ini Dia memanggil kita untuk selalu bertanya, “Karya apa yang saat ini dapat kulakukan bersama Kristus untuk mengungkapkan cinta yang melampaui kata-kata?” Jika mewujudkan karya itu tidak mudah, jangan menyerah karena Dia bersama kita. Bukankah setiap kali Perjamuan Kudus dan menerima sarananya, kita diingatkan akan pesan mulia ini: “Ada Kristus yang penuh cinta, hidup dalam diriku. Jika demi mengikuti-Nya di jalan cinta itu, aku terluka, berkorban, maupun ditolak, Sang Kristus menyertai aku sepanjang perjalanan.” Jadi, mari terus berkarya dengan penuh cinta melampaui kata. Amin. [KRW].
Pujian: KJ. 177 Golgota, Tempat Tuhanku Disalib
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Salah satunggaling carios ingkang wigati nalika perang donya kaping kalih inggih punika bab Alfred Sadd, misionaris wonten ing Tarrawa. Nalika serdadu-serdadu Jepang dumugi ing tlatah ngriku, Sadd lan kalih dasa serdadu saking Selandia Baru ingkang njagi pulau ngriku kadadosaken tawanan. Tiyang Jepang nggelar bendera Inggris wonten ing siti lan ngutus Sadd lumampah ing sanginggilipun. Sadd lumampah nyelaki bendera kalawau, lan nalika sampun dumugi bendera, piyambakipun menggok manengen. Sepisan malih, serdadu Jepang ngutus ngidakaken sukunipun wonten bendera lan samangke Sadd menggok mangiwa. Kaping tiganipun, Sadd kautus lumampah jejeg, ananging piyambakipun malah mendhet benderanipun lan dipun ambung. Tiyang Jepang mbekta tawanan kalawau ing satengahipun lapangan saperlu katembak mati. Kathah tawanan ingkang taksih enem ngraosaken sedhih. Dumadakan Sadd ingkang wonten ing satengahing barisan medal lan jumeneng ing ngajeng, banjur paring pitutur kebak ing semangat. Sakrampungipun, piyambakipun wangsul malih nanging boten ing panggenan kalawau nanging wonten ngajeng piyambak. Menawi wonten tembakan, piyambakipun ingkang badhe katembak langkung rumiyin. Alfred Sadd langkung ngayomi tiyang sanes, sagah ngurbanaken dhiri lan nggalih tiyang sanes katimbang kawilujenganipun piyambak.
Isi
Ing pigesangan punika mbokbilih kita asring pinanggih tiyang ingkang saestu anggenipun nresnani, ngayomi, lan paring tuladha bab kasetyan ngantos dumugi pati. Tumindak punika nedahaken bilih katresnan punika kedah dipun upadi kanthi tumemen senaosa kedah ngurbanaken diri. Tebih sakderengipun Alfred Sadd nglampahi tumindak heroik punika, Sang Kristus sampun setya tuhu ngayomi lan paring kawilujengan tumrap gesanging manungsa. Nalika Gusti Yesus ngandika, “Iya Aku iki wonge. Menawa Aku kang kokgoleki, wong-wong iki kareben padha lunga.” Punika ateges Panjenenganipun boten nate nengenaken dhiri pribadi kejawi nresnani, ngayomi, lan paring kawilujengan tumraping liyan. Gusti Yesus ngetingalaken kasetyanipun dhumateng timbalan nresnani ndonya ngantos paripurna nalika dhawuh, “Apa Aku ora kudu ngombe isine tuwung peparinge Sang Rama marang Aku?”
Pangandika punika nedahaken bilih Gusti Yesus pirsa karsanipun Sang Rama tumrap gesang-Ipun. Senadyan wonten ing pemanggih umum kala semanten, salib punika asor, nanging Gusti Yesus sampun sumedya manggul salib, ngrengkuh sangsara karana tresna. Salib dados bab ingkang mulya. Gusti Yesus boten kendel, punapa malih mlajeng saking timbalan nresnani manungsa, senaosa sejatosipun Gusti Yesus saged nindakaken sedaya punika.
Pakaryanipun Sang Kristus karana tresna punika katindakaken ngantos paripurna. Ing peladosan, Gusti Yesus katampik lan wiwit saking kacepeng nampeni panandhang kados ingkang kagambaraken dening Yesaya bab Abdining Yehuwah kang nandhang sangsara. Nanging, sedaya ingkang awrat punika katampi karana wonten ingkang langkung ageng lan mulya, inggih punika nresnani gesang kanthi sampurna. Menawi sakderengipun ndhingklukaken mastaka lan masrahaken nyawan-Ipun, Gusti Yesus ngandika “Wus rampung!” Punika nedahaken bilih sejatosipun sedanipun Gusti Yesus sanes karana tumindakipun tiyang-tiyang ingkang gething dhumateng Panjenenganipun. Sedanipun karana pakaryan-Ipun sampun rampung lan timbalan ingkang dipun ayahi sampun jangkep. Sedaya bab ingkang awon, asor, drengki, fitnah, lan dosa-dosa ingkang murugaken pejah langgeng mestinipun sampun rampung ugi. Sedanipun Gusti Yesus ngatag kita ngugemi bilih sayektosipun lumantar kasangsaran ingkang katandhang dening Gusti Yesus, sedaya penyaliban ing donya dipun pungkasi. Sedaya ingkang ala ginantos kanthi katresnan ingkang nglangkungi tetembungan.
Tiyang ingkang dipun tresnani dening Gusti kanthi sampurna katimbalan nulad Sang Kristus. Pramila, senadyan rumpil lampah Kristen punika, pangatag ing serat Ibrani kalawau dados semangat kangge pasamuwan supados tansah setya tuhu ngener Sang Kristus. Katresnanipun Gusti boten namung kagem diri pribadi, nanging kangge ngayomi dan paring kawilujengan tumrap tiyang sanes. Mekaten ugi, timbalan kita ingkang gesang tut wingking Gusti. Gesang nglangkungi tetembungan.
Tumindak kados mekaten nate kaalami dening Simon Petrus ingkang saestu wantun lan setya anggenipun kepengin ngayomi lan nresnani Gusti Yesus, tanpa nggalih diri pribadi. Ing wusananipun Petrus pancen sélak, nanging kita boten saged nglalékaken nalika Petrus piyambakan ngunusaken pedhangipun nglawan abdinipun Imam Agung. Rak nggih namung Petrus lan satunggal murid sanes ingkang boten purun mlajeng nalika Gusti Yesus kaadili wonten ing ngajengipun Hanas? Piyambakipun boten saged nilar Gusti Yesus, nanging malah ngetut wingking kanthi kebaking katresnan, kasetyan, lan kakendelan ngantos dumugi wekasanipun. Petrus kebak ing tresna nglangkungi tetembungan.
Panutup
Pagebluk Covid-19 punika kaanan ingkang awrat lan ewet kangge kathah tiyang. Saperangan tiyang nesu, nglokro, pasrah, lan boten peduli. Nanging, boten sekedhik ingkang tansah ngupadi kanthi semangat kanthi nyebar kesaenan kangge tiyang sanes. Kathah katresnan ingkang nglangkungi tetembungan. Kathah ingkang tilar donya nanging tumindak sae ugi kathah ingkang tuwuh ngrembaka. Tiyang tansaya nggatosaken kesehatan diri supados saged tetulung, ngayomi, lan paring kawilujengan senaosa kedah ngurbanaken diri.
Sang Kristus sampun setya nresnani ngantos paripurna, lan ing margi punika Panjenenganipun nimbali kita. Senaosa rumpil, sampun ngantos kendel karena Panjenenganipun nunggil kaliyan kita. Saben bujono suci lan nampeni sarananing bujono kita tansah kaengetaken bilih: “Sang Kristus ndedalem ing gesang kita. Yen demi mujudaken katresnan punika kula kedah kangelan, Sang Kristus tansah nunggil sauruting margi. Dados, sumangga tansah sengkut makarya kanthi tresna ingkang nglangkungi tetembugan. Amin. [KRW].
Pamuji: KPJ. 266 Nulada Mring Sang Pamarta