Deritaku Hukumanku? Pancaran Air Hidup 20 Maret 2022

20 March 2022

Bacaan: Lukas 13: 1 9 ǀ Pujian: KJ. 378: 1, 5, 6
Nats:
“Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?” (Ayat 4)

Bencana tsunami Aceh di tahun 2004, gempa bumi Nias di tahun 2005, meletusnya gunung Merapi di tahun 2010, dan pandemi Covid-19 di tahun 2020 hingga saat ini adalah serentetan peristiwa yang akan terlintas di benak kita, saat kita mendengar kata “bencana alam dan non alam.” Sebagai entitas yang mempercayai keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Sang Ilahi, manusia sering merefleksikan bencana alam dan non alam dengan perilaku mereka. Salah satu refleksi yang terkenal adalah lagu yang dipopulerkan oleh Ebit G. Ade, yaitu “Berita kepada Kawan”. Mengapa bencana terjadi di tanah kita? Dosa apakah yang sudah kita perbuat?

Lukas 13 menyaksikan kepada kita moment dimana Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem. Dalam perjalanan itu, Yesus mendapat berita kematian dari orang-orang Galilea. Kematian yang disebabkan penganiayaan yang dilakukan oleh Pilatus dan kecelakaan 18 orang yang tertimpa menara Siloam. Orang Yahudi memahami bahwa kematian orang-orang tersebut, terutama kematian yang tragis karena tertimpa menara Siloam adalah bentuk hukuman kepada mereka yang telah melakukan dosa besar. Anggapan yang demikian itu dibantah keras oleh Yesus. Yesus memahami bahwa Allah bukan Allah yang sekejam itu. Jika anggapan demikian benar, lalu bagaimana kita menjelaskan seorang anak bayi yang tidak melakukan sesuatu kemudia ia menderita sakit penyakit atau ditinggal orang tuanya? Apakah itu bentuk dari penghukuman Allah untuk si bayi itu?

Apabila melihat perikop selanjutnya, perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah, Tuhan, sang pemilk pohon, memberikan kesempatan kepada pohon yang belum berbuah itu untuk hidup lebih lama dengan harapan mampu menghasilkan buah setelah diolah dan dirawat lebih ekstra. Ini berarti Tuhan masih memberi kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki diri, memperbaiki kesalahannya dengan cara bertobat. Jadi bencana, penderitaan, rasa sakit, dan luka hati yang kita alami tidak selalu datang dari Allah untuk menghukum kita. Penderitaan mengajak kita untuk mengingat janji Allah yang dimuat dalam kebaikanNya yang selama ini kita alami. Penderitaan itu ada, untuk membuat kita semakin melihat dan menyadari kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Amin. [FG].

 “Jika di dunia tidak ada penderitaan sama sekali, darimana kita tahu kalau Tuhan itu baik?”

Renungan Harian

Renungan Harian Anak