Bacaan: Yesaya 35 : 3 – 7 | Pujian: KJ. 85
Nats: “Kuatkanlah tangan yang lemah lesu dan teguhkanlah lutut yang goyah.” (Ayat 3).
“Oh ternyata ini maksud bapak!” ujar seorang anak ketika dia menerima sebuah HP baru dari bapaknya. Diceritakan bahwa ada seorang anak yang ‘dihukum’ oleh bapaknya karena dia kecanduan bermain HP. Dampaknya dia tidak lagi fokus pada keluarga, sekolah, apalagi kepada Tuhan, karena dia menggunakan sarana itu dengan tidak benar! Sampai pada akhirnya sang bapak ini melarang anaknya untuk tidak lagi memegang HP. Tentunya hal itu adalah siksaan yang begitu berat bagi si anak yang telah kecanduan. Sedikit banyak akan timbul pikiran benci, marah, kecewa kepada bapaknya karena kebahagiaannya telah dirampas! Namun, yang menjadi istimewa adalah sang bapak tidak hanya ‘menghukum’ dengan melarang si anak untuk tidak memegang HP, dalam proses itu ada sebuah pendampingan, wejangan, arahan, didikan kepada si anak untuk dengan bijak menggunakan media sampai pada akhirnya rasa candu dari si anak yang membabi-buta itu berangsur berganti dengan sifat bijak dan dewasa! Dan ketika anak sudah mengalami perubahan itu, maka bapak menghadiakan HP baru kepada dia. Dan dengan rasa malu serta bahagia si anak berkata, “Oh ternyata ini maksud Bapak!”
Hal itu pula yang dirasakan oleh umat Israel ketika menjalani proses pembuangan sebagai akibat laku kehidupan mereka yang tidak setia kepada Tuhan. Tentunya ada beban, kekecewaan, bahkan mungkin putus asa yang dirasakan oleh umat Israel, akan tetapi Tuhan melalui Yesaya tidak serta-merta hanya menghukum mereka, ada wejangan dan didikan dari Tuhan, ada sebuah daya semangat yang diberikan Tuhan melalui Yesaya agar mereka berproses semakin dewasa.
Poin inilah yang menjadi pemantik dalam masa penantian saat ini! Karena fenomena yang cenderung muncul dalam masa penantian adalah biasa-biasa saja sehingga ketika merasakan Natal nilai wawas diri untuk menerima Yesus sebagai bagian terindah semakin pudar! Natal tidak jarang hanya sekedar menjadi ornament musiman yang sebenarnya tidak bermakna apapun karena tidak ada proses menuju dewasa apalagi ketika diperhadapkan pada himpitan. Mari menanti dengan bijaksana dan dewasa, meskipun kita ada di tengah masalah. Kita menanti sampai akhirnya kita mampu berkata, “Oh… ternyata ini maksud-Nya.” Amin. [gus].
“Yang lebih penting dari hasil adalah proses.”