Minggu Adven 2 – Perjamuan Kudus Masa Natal
Stola Putih
Bacaan 1: Maleakhi 3 : 1 – 4
Bacaan 2: Filipi 1 : 3 – 11
Bacaan 3: Lukas 3 : 1 – 6
Tema Liturgis: Bersiap dan Mawas Diri Menanti Kedatangan Tuhan
Tema Khotbah: Menanti Kedatangan Kristus dalam Penyerahan Diri
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Maleakhi 3 : 1 – 4
Kitab Maleakhi ditulis dalam konteks Israel pasca pembuangan dan Bait Allah kembali dibangun. Karena itulah ketika membaca kitab ini kita akan menemui perayaan dan korban yang dilakukan oleh bangsa Israel. Waktu penulisan diperkirakan antara tahun 470 SM – 440 SM. Adapun kondisi kehidupan rohani bangsa Israel pada zaman kitab ini ditulis diwarnai oleh kemerosotan rohani sehingga bangsa Israel sering sekali abai dengan berbagai ritual dan perayaan iman. Itulah sebabnya Maleakhi tampil sebagai sosok yang menyerukan kembali pentingnya korban dan perayaan dalam kehidupan umat.
Para ahli biblika banyak menyebutkan bahwa arti dari Maleakhi itu sendiri adalah utusan Tuhan. Hal ini didasari dari penafsiran epistomologis kata Maleakhi yang dianggap singkatan dari kata “malakhiah’ yang berarti “utusan Tuhan”. Sebutan utusan Tuhan itulah yang juga kita temui dalam bacaan kita hari ini (Maleakhi 3:1). Utusan Tuhan tersebut memiliki tugas mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Secara metafora Tuhan digambarkan belum masuk ke bait-Nya sehingga dibutuhkan jalan untuk masuk ke bait-Nya tersebut. Semua orang memang sedang menantikan kedatangan Tuhan untuk bersemayam di bait-Nya. Hanya saja, tidak ada satupun yang mengetahui waktu dan saatnya akan tiba. Kalaupun memang saat Tuhan itu datang, digambarkan oleh Maleakhi bahwa tidak ada satupun orang yang tahan atau kuat (ay 2). Di sinilah gambaran Tuhan yang agung dan tak tersentuh oleh manusia sebagaimana zaman Musa dulu diperdengarkan kembali. Lalu bagaimanakah caranya supaya umat manusia dapat menyambut kedatangan Tuhan tersebut?
Syarat dari menyambut kedatangan Tuhan adalah dengan mempersembahkan korban. Persembahan korban tidak dilakukan sendirian dan tidak bergantung kepada kesucian orang yang mempersembahkan korban saja tetapi juga bergantung kepada imam (suku Lewi) sebagai pemimpin persembahan korban. Karena itulah ketika saatnya Tuhan datang maka yang pertama-tama dilakukan adalah memurnikan kembali suku Lewi sebagai suku yang bertugas menjadi imam dan memimpin persembahan korban kepada Tuhan Allah (ay. 3). Ketika imam yang bertugas memimpin persembahan korban itu layak maka persembahan umat Israel disebut menyenangkan hati Tuhan (ay. 4). Jadi kita dapat melihat bahwa menyambut kedatangan Tuhan Allah tidak hanya bisa dilakukan sendirian saja tetapi juga membutuhkan pertolongan dan kelayakan pemimpin persembahannya juga, yaitu kaum imamnya. Pemimpin persembahan menjadi bagian penting dari setiap korban yang hendak dipersembahkan oleh umat kepada Tuhan Allah.
Filipi 1 : 3 – 11
Filipi merupakan surat pastoral yang ditujukan kepada persekutuan. Karena tujuan dari surat ini adalah persekutuan maka nuansa kebersamaan dalam iman sangat terasa dari surat tersebut. Hal ini nampak dalam sebutan-sebutan yang dipergunakan oleh penulis surat yang banyak menyebutkan orang kedua jamak. Adapun penulis surat ini adalah Paulus dan Timotius (Filipi 1:1). Sebagai persekutuan, rupanya Filipi merupakan persekutuan yang sudah mapan dan tertata. Hal ini dapat dilihat dengan adanya penilik jemaat dan diaken yang melayani jemaat tersebut (Filipi 1:1). Mengingat keberadaan jemaat yang sudah mapan dan dilayani oleh banyak orang itulah Paulus memberikan nasehat dan pengajaran kepada jemaat Filipi. Inti ajarannya adalah menjaga kesatuan dalam kehidupan bersama di jemaat.
Adapun perikop kita hari ini berisikan kesan-kesan Paulus di saat dia tinggal bersama dengan jemaat ini. Paulus merasa dekat dan selalu mencintai jemaat ini (ay. 7). Bolehlah dikatakan bahwa dalam perikop kita saat ini ada dua bagian utama yaitu: kenangan kebersamaan Paulus bersama jemaat Filipi (ay. 3-5) dan juga harapan Paulus kepada jemaat Filipi (ay. 6-11). Kenangan yang membuncah dalam bagian pertama ini adalah kebanggaan, kebahagiaan, dan sekaligus kesukacitaan Paulus atas kondisi jemaat Filipi. Menurut Paulus, jemaat Filipi memiliki kesetiaan kepada berita Injil. Paulus melihat perubahan dan perkembangan jemaat ini dalam kesetiaannya kepada berita Injil dari permulaan sampai saat ini. Kemungkinannya adalah karena memang Paulus turut dalam proses awal pemberitaan Injil di Filipi sehingga mengetahui setiap perkembangan tersebut. Adapun harapan Paulus kepada jemaat Filipi yang paling menonjol adalah supaya kesetiaan kepada berita Injil tersebut dijaga sampai kepada akhir zaman (ay. 6).
Kesetiaan menjaga berita Injil itu bahkan menjadi pokok doa Paulus kepada jemaat Filipi tersebut. Secara khusus Paulus mendoakan jemaat Filipi supaya senantiasa berlimpah kasih dan pengetahuan yang benar untuk dapat memilih kebenaran dalam laku hidup sucinya (ay. 9). Secara tersirat Paulus memberikan penjelasan bahwa untuk menjaga kesetiaan kepada berita Injil sampai kepada kedatangan Tuhan Yesus adalah mengisi kehidupan dengan kasih setia dan memilih kebenaran sebagai jalan kehidupan. Kesucian yang sering abstrak menurut penjelasan Paulus ini justru menjadi kongkrit sebab selama ini kesucian hanya dikaitkan dengan menghindari berbagai larangan agama dan tidak jarang orang akan dihantui perasaan takut dan cemas. Justru bagi Paulus, kesucian itu harus dimulai dengan hidup yang penuh kasih sehingga apapun perbuatannya diarahkan kepada laku hidup benar (ay. 10). Kehidupan benar dan tak bercacat menjadi sesuatu yang penting dalam menyambut kedatangan Tuhan Yesus (ay. 10-11).
Lukas 3 : 1 – 6
Injil Lukas menampilkan sosok Yohanes Pembaptis dengan dua latar belakang yang terinci yaitu: penguasa pemerintahan Romawi (ay. 1) dan penguasa agama Yahudi (ay. 2). Tentu saja ini menarik untuk dicermati dan diteliti sebab tentunya Lukas tidak sembarangan memberikan rincian detail tersebut. Pasti ada sebuah maksud khusus yang disematkan kepada tokoh fenomenal dengan gaya yang unik dan eksentrik ini. Pertanyaannya adalah apakah maksud Lukas memberi dua latar belakang kekuasaan tersebut?
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kondisi bangsa Yahudi pada saat Yohanes hadir adalah sedang mengalami ketertindasan karena menjadi tamu di tanahnya sendiri. Bangsa Yahudi menjadi negara jajahan dari bangsa Romawi. Kenyataan ini memukul masyarakat Yahudi baik secara politis maupun iman. Bangsa Yahudi sebagai bangsa yang terpilih dan dikhususkan oleh Tuhan Allah sejak zaman dahulu kala, kini harus menerima kenyataan bahwa mereka menjadi budak jajahan bangsa lain. Kondisi politik ini pasti juga berdampak kepada iman mereka yang selama ini merasa selalu dibela oleh Allah. Sebagai bangsa pilihan tentu saja ada harapan mereka menjadi bangsa merdeka yang dapat mengatur pemerintahannya sendiri sebagaimana mimpi dan cita-cita para pendiri negeri. Apalah daya, impian itu kini pupus karena mereka tidak memiliki kebebasan politik dalam menentukan kehidupan pemerintahannya sendiri.
Kedua, ketika kebebasan politik yaitu menentukan pemerintahannya sendiri tidak dapat dilakukan maka harapan kedua muncul kepada kemerdekaan menata kehidupan agama (imannya sendiri). Itulah sebabnya para pemimpin agama menjadi tumpuan harapan masyarakat Yahudi untuk membawa pembebasan iman. Membawa pencerahan atas janji-janji Tuhan bagi seluruh bangsa. Imam Hanas dan Imam Kayafas adalah dua sosok yang diharapkan memberikan pencerahan dan pembebasan bagi iman bangsa Yahudi. Tapi nyatanya, kedua pemimpin agama ini tidak banyak melakukan apa-apa sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat Yahudi. Kedua pemimpin agama itu tidak juga memimpin perlawanan kepada penguasa Romawi, demikian juga memberikan nubuat pembebasan bagi bangsa ini.
Dalam kedua konteks itulah Yohanes tampil. Dan Lukas menyebutkan secara khusus kepada Yohanes, Allah berfirman (ay. 2). Firman Tuhan itu memjadikan Yohanes dengan lantang menyerukan pertobatan kepada seluruh bangsa Yahudi di daerah Yordan. Dari pola pelayanan Yohanes ini maka nampaklah bahwa Injil Lukas ingin menampilkan figure nabi pada Yohanes. Gaya kenabian dalam Perjanjian Lama juga dilakukan oleh Yohanes. Bahkan seruan pertobatan yang disematkan kepada Yohanes oleh Injil Lukas adalah seruan pertobatan yang dikumandangkan oleh nabi Yesaya yang tertulis dalam Yes. 40:3-5. Rupanya Injil Lukas menggambarkan kondisi bangsa Yahudi pada zaman Yohanes sama dengan kondisi bangsa Yahudi zaman Yesaya, yaitu sama-sama tertindas dan terbuang. Hanya saja bedanya adalah keterbuangan yang dialami oleh bangsa Yahudi zaman Yohanes adalah keterbuangan secara politis dari ketidakmerdekaan mereka menentukan nasib bangsanya sendiri. Itulah sebabnya sangat wajar jikalau seruan kemerdekaan dari penindasan politik ini menjadi harapan seluruh bangsa Yahudi. Namun uniknya dalam pengharapan yang demikian justru Lukas mengutip pembebasan yang sejati haruslah dimulai dari pembebasan diri dari dosa dan kelakuan najis melalui pertobatan. Jika ditanya lebih lanjut, apakah keterkaitan pertobatan dengan kemerdekaan politik bangsa Yahudi? Tentu ini akan menjadi topik diskusi yang menarik.
Pertobatan yang diserukan oleh Yohanes dengan mengutip seruan nabi Yesaya ini memiliki kebaruan yang tidak diserukan pada zaman Yesaya yaitu bahwa pertobatan yang diserukan Yohanes harus disertai penyerahan diri dalam baptisan. Secara tidak langsung, melalui Injil Lukas ini hendak ditekankan kembali bahwa pertobatan adalah sebuah syarat menerima pembebasan. Pertobatan itu harus disertai dengan penyerahan diri dalam baptisan. Apakah ada konsekuensi politik sebagaimana yang diharapkan oleh bangsa Yahudi? Tidak ada karena kalau pertobatan dilakukan dan disertai dengan memberikan diri dalam baptisan maka yang terjadi adalah Tuhan Allah akan mengampuni dosa (ay. 3). Pada titik pengampunan dosa inilah umat manusia akan mengalami pembebasan yang sebenarnya karena hanya orang yang dibebaskan dari kuasa dosalah yang akan melihat keselamatan dari Tuhan Allah.
Secara umum kita dapat menyimpulkan bahwa dengan memberikan latar belakang penguasa politik dan agama sebagaimana dalam ayat 1 dan 2 maka sejatinya Injil Lukas ingin kembali memberikan pesan khusus melalui tokoh Yohanes bahwa pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan Allah adalah kunci dari penggenapan pengharapan pembebasan dari Allah. Situasi politik apapun dan kekuasaan agama bagaimanapun tidak pernah menjadi solusi dan jawaban dari permasalahan yang sedang dialami, sebab kegenapan dari pengharapan iman adalah pertobatan dan penyerahan diri kepada Allah. Hal lain yang juga dapat disimpulkan dari pembacaan Injil Lukas ini adalah bahwa agama seharusnya hadir untuk menumbuhkan dan menguatkan pengharapan umat dalam menjalani realita kehidupan dan bukan menjadi tempat untuk melarikan diri dari realita kehidupan. Bahwa ada lembah yang perlu ditimbun, ada gunung dan bukit yang perlu diratakan, ada jalan berliku-liku yang perlu diluruskan itu benar dan agamalah yang mengambil peran untuk mempersiapkan umat dalam menyambut kedatangan Tuhan tersebut.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Menyambut kedatangan Tuhan selalu membutuhkan kesiapan khusus. Kekhususan itulah yang menjadi jalan supaya kita layak menyambut Tuhan. Dan kekhususan tersebut adalah kesediaan diri bertobat dan memberikan diri untuk dimiliki Tuhan. Inilah korban hidup kita yaitu ketika kita mempersembahkan diri dengan cara hidup penuh kasih setia dan menjaga laku untuk selalu berjalan dalam kebenaran.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan. Ketika kita merasakan suasana yang berat dan tidak segera nampak jalan keluar maka sering kita merindukan tokoh pahlawan yang dapat membantu kita mengatasi suasana berat tersebut. Apalagi ketika kita menyadari bahwa kita tidak mampu menyelesaikan permasalahan itu dengan kekuatan dan kemampuan diri sendiri maka figur pahlawan menjadi harapan terakhir kita. Tidak heran jika film-film yang menampilkan tokoh pahlawan begitu kita sukai dan kita kagumi. Bahkan game online yang menampilkan kepahlawanan juga menjadi game yang diminati oleh anak-anak zaman sekarang. Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita juga selalu merindukan figur pahlawan. Hal ini bermula dari pengharapan akan terjadinya perubahan atas situasi yang sedang kita alami. Karena ketidakpuasan kepada kondisi kita maka kita mengharapkan akan tampilnya figur pahlawan yang dapat membawa perubahan. Ini menjadi kecenderungan semua orang. Jangan heran jikalau kemudian ada publik figur yang dapat melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan maka akan banyak orang yang memuja dan mengidolakan. Begitu fanatiknya kepada figur tersebut sampai sering berantem dengan orang yang mengkritik idola kita tersebut. Permasalahan cebong vs kampret di negeri inikan bermula dari fanatisme kepada figur tertentu ini.
Isi
Susana pemujaan dan pengidolaan kepada figur tertentu juga dialami oleh orang-orang di sekitar daerah Yordan. Ya, figur idola yang begitu berpengaruh kepada masyarakat itu adalah Yohanes. Buktinya kita bisa lihat dari bagaiamana orang-orang di daerah Yordan begitu patuh dan taat mendengarkan Yohanes. Hal ini bisa kita jumpai ketika kita membaca Injil Lukas 3. Diceritakan dalam pasal 3 ini bahwa Yohanes memiliki pengaruh besar kepada orang-orang daerah Yordan. Mereka bukan hanya mendengarkan ajaran Yohanes tetapi juga melakukan perintahnya, yaitu dibaptis. Pertanyaannya adalah mengapa orang-orang itu begitu patuh kepada Yohanes? Mengapa orang-orang itu mengidolakan Yohanes?
Jika kita jeli melihat pasal 3 ini maka penyebabnya sudah ditampilkan Injil Lukas dalam ayat 1 dan 2. Pada ayat 1 penulis Injil Lukas menceritakan secara lengkap penguasa pemerintahan waktu itu. Nama-nama dan jabatannya disebutkan dengan detail. Sementara itu pada ayat 2, kita juga disuguhi secara lengkap pemimpin agama waktu itu. Dua tokoh besar yang sangat berpengaruh dalam agama Yahudi yaitu Hanas dan Kayafaslah yang menjadi pemimpin utama agama Yahudi. Jadi secara tersirat, Injil Lukas ingin menunjukkan bahwa masyarakat Yahudi waktu itu tidak bisa berharap banyak kepada penguasa pemerintahan maupun penguasa agama. Kedua penguasa itu tidak membawa perubahan bagi kehidupan orang-orang Yahudi sehingga ketika Yohanes tampil dan mengajarkan sesuatu yang berbeda maka menyita perhatian banyak orang. Yohanes menjadi figur pahlawan yang dinanti-nantikan oleh banyak orang untuk membawa perubahan. Bahkan ada kecenderungan banyak orang menduga bahwa Yohanes adalah Mesias yang mereka nantikan (ay. 15). Ini sekaligus menunjukkan bahwa pengharapan mesianik tetap ada dan dihidupi di tengah-tengah kehidupan umat Yahudi waktu itu. Apa yang beda dari Yohanes sehingga banyak orang berbondong-bondong mendatanginya?
Pertama, kita bisa melihat bahwa Yohanes adalah utusan Allah untuk menyampaikan firman-Nya kepada manusia (ay. 2). Pada titik inilah Yohanes mengambil peran para nabi sebagai perantara firman Allah kepada bangsa Yahudi. Dengan peran itu maka apapun yang diajarakan dan diperintahkan Yohanes, Injil Lukas ingin menegaskan kembali bahwa itu semua bersumber dari Allah sendiri. Yohanes hanyalah alat atau media dari komunikasi Allah dengan manusia. Dan Yohanes menjalankan peran itu. Yohanes dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya hanyalah utusan yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Kehebatan dari Yohanes terletak kepada kerendahan hatinya yang menyadari peran dirinya sebagai utusan yang mendahului Mesias yang akan datang. Belajar dari kisah ini maka kita harus belajar untuk tidak memiliki fanatisme buta apalagi kepada figur tertentu. Boleh-boleh saja mengidolakan seseorang tetapi jangan sampai begitu kita mengidolakan sampai kita lupa peran dari orang itu bahkan sudah menggantikan Tuhan Allah. Sisi lain, ketika kita memainkan peran sebagai utusan Tuhan di tengah dunia ini janganlah sampai kita justru menghalangi orang lain untuk menyambut Tuhan yang mengutus kita. Kerendahan hati adalah kunci, sebagaimana Yohanes yang rendah hati hingga akhirnya dia menyadari perannya yang hanyalah utusan. Di tengah-tengah dunia ini, kita semua adalah utusan sebagaimana Yohanes yang bertugas mewartakan tentang Tuhan Yesus. Tugas utama utusan adalah menjadikan orang mengenal Tuhan Yesus, tidak malah memuja utusannya sampai tidak bisa mengenali Tuhan Yesus.
Hal kedua yang berbeda dari Yohanes adalah bahwa seruan yang disampaikannya berisikan dua hal yaitu pertobatan dan penyerahan diri dalam baptisan. Kedua hal ini baru bagi orang zaman itu sebab pertobatan selama ini dilakukan dengan ritual korban persembahan. Yohanes justru menyerukan pertobatan dengan menyerahkan diri dalam baptisan. Kebaruannya terletak kepada kedalaman makna penyerahan diri sebab penyerahan diri sesungguhnya adalah mengorbankan diri sendiri bukan binatang atau sarana korban lainnya. Artinya pertobatan itu haruslah membawa keseluruhan diri untuk diberikan sebagai korban kepada Tuhan. Pertobatan bukan hanya sekedar seremonial tetapi pertobatan harus sampai kepada penyerahan diri. Jika penyerahan diri itu kita lakukan maka tidak ada lagi keakuan. Betapa hari ini sering sekali permasalahan muncul karena kita gagal menyerahkan diri secara utuh kepada Tuhan. Penyerahan diri kepada Tuhan berarti bersedia ditata, dipimpin, dan melakukan kehendak Tuhan sebab kehidupan yang kita hidupi ini sekarang milik Tuhan. Tidak dikenal mungkin, bahkan bisa saja kita diabaikan oleh orang lain tetapi ketulusan diri dalam penyerahan hidup kepda Tuhan sejatinya menjadi pertobatan kita.
Penutup
Lalu apakah maknanya semua itu bagi kehidupan kita di masa Advent ini? Kita tentu merasakan masa yang berat yang kita alami saat ini. Di tengah masa sulit itu kita pastilah mengharapkan pahlawan datang menolong kita. Siapakah pahlawan kita yang dapat menolong kita? Pemimpin agama atau pemimpin pemerintah? Belajar dari Lukas 3 ternyata bukan keduanya karena pahlawan kita adalah Mesias yang akan datang. Bukan keduanya yang menjadi pahlawan kita tetapi pahlawan sejati kita hanyalah Tuhan Yesus yang akan datang yang terus kita nantikan. Karena itulah diperlukan kerendahan hati seraya menyadari posisi diri kita di hadapan Tuhan sambil terus menyerahkan diri dalam pertobatan yang sungguh-sungguh. Dunia kita hari ini dipenuhi harapan hadirnya pahlawan, mari kembali mengabarkan bahwa pahlawan yang mampu membebaskan manusia dari segala dosa adalah Tuhan Yesus Kristus.
Mengakhiri renungan ini, mari kita kembali belajar dari kehidupan Yohanes yang bersedia dipakai Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya. Sekaligus mari kita mendengarkan seruan Yohanes dalam menantikan kedatangan Tuhan yaitu dengan bersedia bertobat dan menyerahkan diri. Bahwa ada lembah yang perlu ditimbun, ada gunung dan bukit perlu diratakan, ada jalan berliku-liku yang perlu diluruskan itu benar dan mari kita meluruskan kehidupan kita supaya ketika saatnya tiba nanti kita melihat keselamatan dari Tuhan. Tuhan memberkati kita semua. Amin. (to2k).
PUJIAN: KJ. 142 : 1, 2 Jurang di Hati Lekas Timbuni
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti. Nalika kita ngraosaken kahanan ingkang awrat awit kathah pambengan ingkang ketaman punapa malih sedaya pambengan punika mboten nedahkan bilih badhe lingsir, lajeng kita tamtu betahaken utawi ngajeng-ngajeng rawuhipun pahlawan ingkang paring pitulungan. Punapa malih kita sadar bilih daya lan kekiyatan kita piyambak punika mboten saged ngluwari kahanan ingkang kita lampahi, tamtu pahlawan punika ingkang dados tujuan kita nyuwun pitulungan. Pramila mboten ngeramaken bilih film-film ingkang nyariosaken tokoh-tokoh pahlawan punika dipun remeni dening tiyang kathah. Mekaten ugi game-game online ingkang nedahaken jiwa kepahlawanan ugi laris manis lan dipun gandrungi dening para nem-neman. Wonten ing gesang padintenan, kita ugi asring ngajeng-ajeng figur pahlawan ingkang ngasta perubahan ing pigesangan kita. Sedaya tiyang tansah ngajeng-ngajeng rawuhipun pahlawan awit sedaya tiyang sami ngajeng-ajeng pitulungan lan perubahan. Pramila nalika wonten public figur ingkang saged paring kaluwaran lajeng sedaya sami paring pangalembana.
Isi
Swasana pangalembana lan sami muji-muji figur pahlawan ugi dipun tindhakaken dening tiyang-tiyang ing Yarden. Yokanan, punika tokoh idola tiyang-tiyang Yarden. Tiyang-tiyang sami manembah lan miturut dawuhipun Yokanan. Injil Lukas 3 saweg nedahaken bilih Yokanan punika nggadahi pengaruh ingkang ageng sanget tumrap tiyang-tiyang Yarden. Tiyang-tiyang Yarden mboten anamung midangetaken piwucalipun ananging ugi nindhakaken dawuhipun Yokanan. Pitakenan kita enggih punika, kenging punapa tiyang-tiyang Yarden saweg patuh kaliyan Yokanan? Kenging punapa sedaya tiyang punika saweg ngidolaaken Yokanan?
Bilih kita gatosaken estunipun wonten kalih perkawis utami ingkang saged kita waos saking Lukas 3 punika. Malah wonten ing ayat 1 lan 2, kita sampun manggihi punapa ingkang dadosaken tiyang kathah punika sami muja-muji Yokanan. Wonten ing ayat 1 kita dipun paringin katrangan bilih wonten panguwaos ingkang agung inggih punika bangsa Romawi. Lajeng wonten ing ayat 2 kita ugi dipun paringi katrangan tumrap pemimpin agami Yahudi inggih punika Hanas lan Kayafas, kalih tokoh penting awit kekalihipun dados imam besar. Pramila saking kalih ayat punika kita saged mangertos sababipun Yokanan dados idolanipun tiyang Yarden awit kalih pihak inggih punika panguwaos pemerintahan lan ugi agami saweg mboten saged paring pangluwaran. Pramila Gusti Allah paring Sabda dhumateng Yokanan murih sabda punika dados pitedhah tumrap tiyang kathah. Malah kepara Yokanan punika ingkang dipun anggep Mesias dening tiyang kathah (ay. 15). Rupi-rupinipun kahanan ingkang awrat ing zaman punika andadosaken pangajeng-ngajeng tumrap rawuhipun Mesias sansaya kiyat malih. Punapa bentenipun Yokanan kaliyan panguwaos-panguwaos punika ingkang dadosaken tiyang kathah sami sowan dhumateng Yokanan?
Sepisan, Yokanan punika abdinipun Allah ingkang kautus gelaraken Sabdani-Pun Allah dhateng manungsa (ay. 2). Yokanan wonten babagan punika dados nabi kados dene para nabi ing zaman kepengker. Kanthi dados nabi Yokanan anggadahi kawibawan awit sedaya ingkang katindhakaken punika mboten mbujeng pikajengipun piyambak ananging namung gelaraken kersanipun Gusti Allah. Yokanan punika anamung pirantinipun Allah supados kersanipun Allah saged kagelar wonten ing sedaya manungsa. Lan, Yokanan nidhakaken peran punika. Kanthi andap asoring manah Yokanan sadar posisinipun minangka piranti ingkang nyawisaken margi kagem rawuhipun Sang Mesih. Yokanan pinunjul sanget ing babagan peran minangka utusan punika. Pasinaonipun kangge kita tumrap babagan punika, kita kepareng kemawon anggadahi tokoh panutan lan idola ananging tokoh punika estunipun sakderma utusan ingkang kedahipun dadosaken kita sansaya cawis diri methuk rawuhipun Gusti. Perangan sanes, kita sak mangke dipun engetaken malih bilih kita punika sakderma piranti ingkang dipun utus Gusti Allah gelaraken Sabdani-Pun Gusti Allah. Kados dene Yokanan, kita ugi kedah sadar posisi lan kanthi andap asor ngayahi kawajiban kita supados tiyang kathah sansaya wanuh lan siap methuk rawuhipun Gusti Yesus. Sampun ngantos malah kita kumolungun lan ngaling-alingi Gusti Yesus awit kita malah ingkang dipun puja-puji.
Kaping kalih, Yokanan anggenipun gelaraken sabdanipun Allah kanthi isi ingkang benten sanget kaliyan para nabi lan pemimpin agami. Piwucalipun Yokanan punika ngemu kalih teges inggih punika: pitobatan lan masrahaken diri wonten ing baptisan. Punika ajaran enggal awit salami niki bilih tiyang kepingin kaluwaran saking dosa kedah ngayahi pitobat lan asung korban dhumateng Gusti Allah ing Padaleman Suci. Ananging Yokanan paring piwucal tumrap pitobatan punika kedah ngurbanaken diri minangka korban. Masrahaken diri punika ugi ngemu teges korban, korban ingkang salami niki saking pihak jawi diri kaliyan Yokanan dipun ubah bilih korban punika inggih diri pribadi kita. Tegesipun, bilih kita mratobat kita kedah ngorbanaken diri inggih punika sedaya lampahan, pikiran, lan kahanan kita minangka dados korban. Masrahaken diri punika ateges bilih gesang kita punika sampun dados kagunganipun Gusti. Pramila kita kedah tansah miturut pranatan lan panggulawentahipun Gusti Allah. Punika esensi pitobatan ingkang sejatos. Bilih kita nindhakaken pitobatan ingkang makaten tamtu kita sampun koncatan ego pribadi lan sakmangke anamung cundhuk kaliyan kersanipun Gusti. Kita badhe mboten dianggep, mboten pikantuk pangalembana, punika mboten punapa awit kita netepi pitobatan kita dhumateng Gusti Allah.
Panutup
Lajeng punapa tegesipun babagan cariosipun Yokanan punika kangge gesang kita sak mangka ing masa Advent?
Zaman samangke sedaya tiyang sami ngraosaken kahanan ingkang awrat. Ing kahanan ingkang makaten punika, kita betahaken pahlawan ingkang paring pangluwaran. Sinten pahlawan kita, tokoh agami utawi pemimpin pemerintahan? Miturut Lukas 3 ingkang dados pahlawan ingkang saged ngluwari kita namung Sang Mesih ingkang bade rawuh. Sang Mesih punika Gusti Yesus piyambak ingkang sumadyanipun badhe ngrawuhi manungsa paring pangluwaran saking sekathahing kahanan ingkang kita sanggi. Malah dosa ingkang ageng badhe dipun luwari dening Gusti Yesus bilih kita sumadya mratobat lan masrahaken diri. Pramila sumangga sakmangke kita ngengungaken Gusti Yesus lan gelaraken asmanipun supados sedaya tiyang wanuh lan sumedya nampi rawuhipun.
Pungkasanipun, sumangga sakmangke kita sinau malih saking gesangipun Yokanan ingkang sumadya dipun agem dening Gusti Allah kagem gelaraken Sabdani-Pun. Kita ugi tansah mawas diri lan waspada kados dene pengetanipun Yokanan supados kita mratobat lan masrahaken diri. Wanci wonten lembahipun gesang ingkang kedah kaurug, wonten gunungipun gesang ingkang kedah dipun ratakaken lan ugi wonten margi kita ingkang kedah kita lempengaken supados kita saged ningali kawilujengan lan pitulunganipun Gusti Allah. Gusti berkahi kita sami. Amin. (to2k).
PAMUJI: KPJ. 414 : 1, 2 Sang Kristus Rawuh Ngadili