Menanti Sampai Kapan? Khotbah Minggu 28 November 2021 (Adven 1)

15 November 2021

Minggu Adven I
Stola Ungu

Bacaan 1: Yeremia 33 : 14 – 16
Bacaan 2:
1 Tesalonika 3 : 9 – 13
Bacaan 3:
Lukas 21 : 25 – 36

Tema Liturgis: Bersiap dan Mawas Diri Menanti Kedatangan Tuhan
Tema Khotbah:
Menanti Sampai Kapan?

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Yeremia 33 : 14 – 16
Bacaan ini merupakan akhir dari bagian yang disebut “Kitab Penghiburan” (Yeremia 30-33). Bagian ini memiliki gema yang sama dengan Yeremia 23:5-6. Nubuat pada pasal 23 tersebut disampaikan pada masa pemerintahan raja Zedekia untuk memberitahukan adanya harapan setelah pembuangan. Sedangkan Yeremia 33:14-16 ini merupakan ulangan atau penegasan kembali terhadap nubuat sebelumnya tentang janji pengharapan dari Allah bagi umatNya. Pengulangan atau penegasan semacam ini dimaksudkan untuk membangkitkan harapan baru bagi bangsa Israel di pembuangan.

Pada bagian ini ada janji tentang masa depan Israel yang penuh berkat sebagai ganti dari pembuangan atau penindasan yang mereka alami. Kini, Allah menjanjikan keselamatan yang berlaku bagi kedua kerajaan di Israel (Utara dan Selatan). Allah akan menepati janji yang telah dikatakanNya kepada kaum Israel dan kaum Yehuda. Ada janji tentang pemerintahan yang penuh dengan kebijaksanaan, keadilan, dan kebenaran. Janji tentang kehidupan yang dimerdekakan dan penuh ketentraman. Janji tentang pemulangan umat Tuhan dari pembuangan dan masih banyak janji yang lainnya. Intinya Tuhan memberikan pengharapan baru bagi umatNya, menjanjikan suatu kehidupan yang dipulihkan bagi umatNya, kehidupan yang mencerminkan damai sejahtera bagi semua.

Janji Tuhan yang dimaksud dalam teks ini adalah tentang penumbuhan Tunas keadilan bagi Daud, pelaksanaan keadilan, dan kebenaran di negeri Israel. Ungkapan ini menunjukkan datangnya penguasa yang sah, adil, dan benar. Dalam Perjanjian Baru, Tunas yang Adil ini bisa dibaca dalam Lukas 1:31-33, yaitu Kristus yang lahir dari garis keturunan Daud dan akan menduduki takhta Daud. Kristus yang kedatanganNya (Adven) sedang dinantikan itu memberi harapan yang baru, yaitu pemerintahan dan kehidupan yang ditandai dengan pelaksanaan kebenaran dan keadilan. Benar dan adil dalam pengambilan keputusan hukum, benar dan adil dalam membela orang-orang yang menderita. Dia akan melakukan keadilan dan kebenaran bagi manusia. Teks ini menegaskan bahwa janji Allah bagi umatNya pasti dilaksanakan dan digenapi. Janji itu pada akhirnya berujung pada datangnya pembebasan, kedamaian, keselamatan, dan kehidupan bagi umat Tuhan.

1 Tesalonika 3 : 9 – 13
Paulus adalah pendiri Jemaat di Tesalonika, khususnya setelah ia meninggalkan Filipi. Bagian ini merupakan doa Paulus untuk orang-orang Kristen di Tesalonika. Doa Paulus biasanya dimulai dengan ucapan syukur kepada Allah atas mereka semua dan segala sukacitanya dihadapan Allah. Paulus bersukacita atas segala sesuatu yang telah dilakukan Allah di dalam mereka. Itu adalah pekerjaan Allah dan Paulus tidak mengambil kehormatan bagi dirinya sendiri.

Paulus berdoa siang dan malam bagi kesejahteraan rohani mereka supaya Allah memungkinkan dia kembali mengunjungi orang-orang Kristen di Tesalonika. Paulus bukan hanya ingin mengunjungi mereka tetapi ia menginginkan supaya ia dapat mengajar dalam kesempatan itu untuk menyempurnakan apa yang masih kurang pada iman mereka. Sungguh hal itu merupakan tujuan yang mulia. Doa Paulus merupakan suatu kerinduan hati supaya iman mereka tetap teguh menghadapi ujian dan pencobaan kehidupan. Paulus berdoa supaya Allah menguatkan mereka agar tak bercacat dan kudus dihadapan Allah pada waktu kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus. Paulus berharap supaya mereka menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Paulus berharap supaya mereka tetap memperjuangkan iman mereka sampai Tuhan datang. Ujian dan pencobaan hidup jangan sampai membuat mereka lengah dalam menantikan kedatangan Tuhan.

Lukas 21 : 25 – 36
Injil menyatakan bahwa Yesus adalah seorang pengamat alam yang tajam. PengajaranNya menyentuh lingkungan disekelilingnya dan pendengarnya. Tidak terkecuali perumpamaan-perumpaan Yesus menyentuh kehidupan petani, nelayan, dan gembala. Pendengar Yesus hidup lebih dekat dengan alam daripada kita pada saat ini, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan memahami pesan yang ingin disampaikanNya.

Pada zaman Injil, pohon ara adalah pohon yang sudah umum di seluruh Israel. Pohon ara dengan daun-daunnya yang hijau besar akan memberikan tempat berteduh yang luas selama musim panas. Daun pohon ara akan gugur pada waktu mendekati musim dingin. Karakter pohon ara sangat berbeda dengan tanaman yang lain sehingga mudah dijadikan penanda. Misalnya, pada waktu pohon almond sudah mulai berbunga, pohon ara masih bertahan dengan cabang-cabang tanpa daun sampai di awal musim panas. Kemudian getah tumbuh-tumbuhan itu mulai mengalir, kuncup-kuncup semakin besar dan dalam beberapa hari muncul daun-daun muda. Dengan kondisi pohon ara seperti itu, ini bisa menjadi penanda bahwa bahaya dari embun beku malam yang mematikan telah berlalu dan musim panas telah tiba.

Dengan kata “…jika kamu melihat..” (ayat 31), maka kita diminta waspada dengan menggunakan indera kita. Yesus dapat mengenal pohon ara sebagai penanda datangnya musim panas karena indera-Nya terlatih sejak kecil. Maka kita juga harus menggunakan indera pemberian Allah supaya kita menjadi waspada dan bisa berjaga-jaga dengan baik. Tuhan Yesus meminta kita melakukannya sambil berdoa. Berdoa dan berjaga-jaga adalah latihan rohani yang baik untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam diri kita. Dengan kesadaran penuh akan kehadiran Allah maka kita akan menantikan kedatangan Tuhan dengan sukacita. Menikmati masa penantian dengan penuh syukur dan bahagia.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Menantikan Tuhan dengan berjaga-jaga dan berdoa. Supaya dimampukan untuk menikmati prosesnya, yakni masa penantian yang dapat menjadi masa yang membahagiakan sekalipun tantangan berat harus tetap dihadapi dan diatasi. Karena yang dinantikan pasti datang membawa keselamatan dan kehidupan baru bagi seluruh umat manusia.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks jemaat)

Pendahuluan
Menanti sampai kapan? Menyimak pertanyaan tersebut akan menjadikan seseorang jenuh dan tidak menikmati masa penantian. Karena terlalu berfokus pada saat harinya tiba, saat yang dinantikan tiba. Padahal fokus dengan masa penantian tidak kalah indahnya, karena masa Adven bisa kita pahami sebagai masa penantian akan Tuhan yang sudah datang, Tuhan yang sedang datang, dan Tuhan yang akan datang. Jika kita hanya berfokus dengan Tuhan yang akan datang, kita akan kehilangan dua masa sekaligus, yakni masa Tuhan yang sudah datang dan masa Tuhan yang sedang datang.

Jika kita ditanya mengapa kita memakai helm saat mengendarai sepeda motor? Sudah bisa dipastikan bahwa jawabannya adalah untuk keselamatan kita, untuk melindungi kepala kita, untuk berjaga-jaga saat kita jatuh, agar kepala tidak mengalami benturan yang membahayakan hidup kita. Namun dalam kenyataannya, apakah semua orang setia mengenakan helmnya saat mengendarai sepeda motor? Tidak, bukan? Apalagi dengan alasan alamat yang dituju dekat dan jalan yang dilalui tidak ada polisi berpatroli. Bukankah hal yang demikian mengartikan kepada kita bahwa mengenakan helm menunggu kita diberi sangsi, menunggu dijaga polisi, tanpa ada kesadaran bahwa mengenakan helm demi keselamatan diri kita sendiri.

Demikian juga halnya dengan berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan. Banyak orang merasa jenuh, lelah, dan akhirnya menjadikannya tidak lagi setia menanti kedatangan Tuhan. Jika kehidupan yang dijalani sedang menyenangkan, mudah sekali melupakan keberadaan Tuhan. Namun sebaliknya, ketika seseorang sedang mengalami beban penderitaan yang berat, sakit yang parah bahkan sudah dekat dengan ajalnya, baru orang mengingat kembali akan keberadaan Tuhan. Baru ia disadarkan bahwa dirinya harus bertobat dan berbalik kepada Tuhan. Menunggu situasi tertekan dan menderita, baru membuat kita tersadar bahwa kita membutuhkan Tuhan. Penderitaan membuat kita bertobat kepada Tuhan. Memang itu termasuk hal yang baik karena banyak orang dalam penderitaannya justru menyalahkan Tuhan dan mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Namun yang menjadi pertanyaannya, untuk bertobat dan berbalik kepada jalan Tuhan apakah harus menunggu sakit dan menderita serta banyak masalah di dalam kehidupan kita?

Isi
Firman Tuhan kembali mengingatkan kita bahwa posisi kita sedang berada dalam masa penantian akan kedatangan Tuhan. Ternyata gemerlapnya dunia menjadikan kita terlena bahkan lupa bahwa kita sedang dalam masa penantian akan kedatangan Tuhan. Sedangkan yang menjadi tugas kita adalah berjaga-jaga dan berdoa. Lukas 21:34-36,Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk di bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri dihadapan Anak Manusia.

Firman Tuhan jelas mengatakan kepada kita, tanpa kita berjaga-jaga dan berdoa, kita tidak akan beroleh kekuatan. Doa adalah pondasi kehidupan umat percaya kepada Tuhan. Burj Khalifa adalah gedung pencakar langit dan bangunan tertinggi di dunia. Secara spontan pasti orang mengagumi bangunan itu dari tampak luarnya, orang jarang langsung memuji pondasinya. Mengapa? Karena pondasi bangunan itu tersembunyi dan tertanam dalam tanah dengan kedalaman dan kekuatan sesuai tinggi bangunan tersebut, padahal sesungguhnya pondasi bangunan itulah penentu kekokohan bangunan itu dan bukan kemegahan yang tampak dari luar. Itulah doa! Doa itu sesuatu yang tidak nampak tetapi membuat orang mampu bertahan dalam segala kesulitan dan penderitaan. Doa mampu membuat orang berdiri dengan kokoh dalam iman menghadapi penderitaan yang dialaminya. Relasi yang intim dengan Tuhan semakin meningkatkan iman dan kepercayaan akan perlindungan Tuhan. Doa memberi kekuatan kepada setiap orang yang menghidupi kuasa doa dengan baik dan benar. Jika tidak dikuatkan oleh doa, orang yang mengalami penderitaan akan meragukan kasih dan penyertaan Tuhan. Orang yang tidak berdoa akan mudah terjatuh di dalam dosa. Itulah sebabnya firman Tuhan menekankan betapa pentingnya berjaga-jaga sambil berdoa.

Tuhan adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji. Seperti yang disaksikan dalam Yeremia 33:14-15 “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikian firman Tuhan, bahwa Aku akan menepati janji yang telah Kukatakan kepada kaum Israel dan kaum Yehuda. Pada waktu itu dan pada masa itu Aku akan menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud. Ia akan melaksanakan keadilan dan kebenaran di negeri.” Marilah percaya akan janji Tuhan dengan tetap setia berjaga-jaga sambil berdoa. Sehingga doa Paulus pun dapat terwujud dalam kehidupan kita. 1 Tesalonika 3:13,Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, dihadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudusNya.

Penutup
Bagaimanakah dengan kehidupan kita orang-orang yang percaya kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari akan posisi kita, yakni sedang menantikan kedatangan Tuhan? Jika kita sudah menyadari akan posisi kita, sudahkah kita setia berjaga-jaga sambil terus berdoa? Ataukah kita justru terlena dan lupa akan posisi kita? Ataukah saat ini kita sedang sulit merasakan kehadiran Tuhan di tengah-tengah kehidupan kita? Atau bahkan sedang menyalahkan Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Memasuki masa adven yang pertama ini, marilah bersama kita introspeksi diri dan mawas diri.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami kesulitan dalam keluarga, dalam studi, dalam berpacaran, dalam persahabatan, bahkan dalam kehidupan bergereja. Dalam kondisi yang sulit, dalam keadaan tertekan, dalam keadaan terjepit, biasanya apapun bisa dilakukan. Percaya atau tidak, banyak orang berperilaku aneh untuk menutupi masalah dalam hidupnya. Banyak orang berpura-pura gila, berpura-pura sakit, ketika masalah terasa begitu berat membebani. Banyak juga yang benar-benar stress dan depresi karena terganggu jiwanya. Banyak remaja/ pemuda yang bunuh diri karena masalahnya. Banyak anak-anak tidak terurus karena orang tuanya bercerai. Ada banyak anak putus sekolah dan memilih hidup di jalanan karena masalah dengan guru dan teman. Ada banyak orang memilih untuk mencuri karena masalah keuangan. Di saat-saat yang demikian, kita merindukan adanya pencerahan. Hari ini kita disemangati dengan firman Tuhan, bahwa seburuk dan separah apapun kondisi kita, Tuhan pasti mampu menolong dan memulihkan hidup kita. Itulah pengharapan kita dan pengharapan itu hanya disandarkan kepada Allah yang pasti sanggup memenuhinya. Tuhan itu setia terhadap janjiNya dan Dia berkuasa melaksanakan janjiNya.

Dan yang pasti mari terus mengingat akan posisi kita sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, yakni sedang menantikan kedatanganNya. Mari terus mengupayakan hidup yang setia, berjaga-jaga sambil terus berdoa, supaya kita beroleh kekuatan. Tidak perlu menunggu kita sedang menghadapi banyak masalah, tertekan, menderita, dan sakit, baru kita berdoa kepada Tuhan. Dengan berjaga-jaga sambil terus berdoa, akan menjadikan masa penantian kita penuh sukacita dan bahagia. Selamat memasuki masa adven dengan berjaga-jaga sambil terus berdoa. Amin. (Life).

 

Pujian: KJ. 438 : 1 – 3 Apapun juga Menimpamu


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Mbenjang punapa Gusti Yesus rawuh? Ngantos kapan kita ngrantos rawuhipun Gusti Yesus? Nggatosaken pitakenan kalawau ndadosaken kita bosen lan boten sabar ngrantos rawuhipun Gusti Yesus. Awit kita namung nggatosaken kapan dintenipun Gusti Yesus rawuh. Kamangka nggatosaken prosesipun anggen kita ngrantos rawuhipun Gusti boten kawon endahipun. Awit mangsa adven punika saged kita mangertosi minangka mangsa anggen kita ngrantos Gusti Yesus ingkang sampun rawuh, Gusti Yesus ingkang saweg rawuh, lan Gusti Yesus ingkang badhe rawuh. Bilih ingkang kita angen-angen namung dinten rawuhipun Gusti Yesus, kita malah kecalan kalih mangsa ingkang endah sanget, inggih punika ngadepi mangsa Gusti Yesus ingkang sampun rawuh lan mangsa Gusti Yesus ingkang saweg ngrawuhi gesang kita.

Nalika kita dipun takeni, kenging punapa kok kita kedhah ngagem ‘helm’ nalika nitih sepeda motor? Mestinipun wangsulan kita, kangge kawilujengan kita, kangge jaga-jaga manawi dawah, sirah punika boten ngantos kenging benturan sanget. Namung kadospundi ing kasunyatan? Punapa nggih sadaya tiyang sami setya ngagem ‘helm’ nalika nitih sepeda motor? Boten to? Kathah ingkang dados alasanipun. Aku ora lunga adoh, mung cedhak wae. Ora ana polisi jaga, ora ana sing ngukum. Bilih makaten ingkang kadadosan, punapa artosipun? Kita boten preduli dhateng kawilujengan kita piyambak. Kita purun ngagem ‘helm’ bilih ajrih katangkep polisi kemawon.

Makaten ugi anggen kita jumaga ngrantos rawuhipun Gusti Yesus. Kathah tiyang ingkang ngraosaken bosen, kesel, lan pungkasanipun boten setya anggenipun jumaga. Bilih gesang kita namung bingah-bingah, murugaken tiyang gampil kesupen dhumateng Gusti Allah, kesupen bilih wonten Gusti ingkang saben dinten paring kacekapan lan bagas kasarasan. Ananging bilih gesang punika sisah, mlarat tur sakit-sakiten, nembe kita enget kaliyan Gusti lan nyuwun pangapunten dhumateng Gusti. Pancen nggih sae tumindhak ingkang kados makaten, awit kathah tiyang wonten ing satengahing kasisahan gesangipun malah ndhamel sekel penggalihipun Gusti. Boten ngrumaosi lepat malah swalikipun nglepataken Gusti. Wonten ugi awit karana awrating momotaning gesangipun, sedherek kita milih margi ingkang awon, pados tiyang pinter utawi dukun, bilih boten kasil lajeng kendhat. Ingkang dados pitakenan, punapa ngrumaosi bilih gesang kita punika ringkih lan kebak dosa, lajeng boten saged nglampahi punapa-punapa bilih kita tebih saking Gusti Allah, ngrantos kita sakit lan nandhang sangsara?

Isi
Sabda pangandikanipun Gusti ngengetaken dhateng kita sami, bilih kita sapunika saweg ngrantos rawuhipun Gusti. Semseming jagad punika saged ndadosaken kita lena lan ugi kesupen bilih kita punika saweg jumaga. Kamangka ingkang dados ayahan kita inggih punika kedhah setya jumaga lan ndedonga. Lukas 21:34-36 “Padha jaganen awakmu dhewe, atimu aja nganti kabotan dening pista gedhen lan mendem, tuwin dening kasusahaning ngaurip sarta supaya Dinaning Pangeran mau aja nganti tumempuh marang kowe kalawan dadakan kayadene kalajiret. Amarga iku bakal nungkebi marang sakabehing wong kang dumunung ing bumi iki. Padha tansah jumagaa lan ndedongaa, supaya kowe diparingana kakuwatan kang njalari kowe padha ora bakal katempuh dening apa kang bakal kalakon iku lan supaya kowe padha bisa tahan anggonmu ana ing ngarsane Putraning Manungsa.

Sabda pangandikanipun Gusti sampun cetha sanget bilih kita boten jumaga lan ndedonga, kita badhe loyo tanpa kakiyatan. Donga punika dados pondasi utawi dasaring gesangipun para pendherekipun Gusti. Burj Khalifa inggih punika wewangunan ingkang ageng lan megah sanget. Malah kepara ing jagad punika dados wewangunan ingkang ageng piyambak, dereng wonten tandinganipun. Limrahipun tiyang badhe nggumun lan remen kaliyan wewangunan punika saking ageng lan megahipun. Sami kesupen bilih ingkang murugaken wewangunan punika rosa, wonten pondasi ingkang boten katawis. Asring tiyang lajeng ngremehaken bilih wonten pondasi ingkang murugaken wewangunan punika endah tur rosa. Pondasi punika ingkang nemtokaken wewangunan punika rosa utawi gampil rubuh. Makaten ugi bab ndedonga. Tiyang ndedonga pancen boten ketawis, ananging dampakipun saged murugaken tiyang punika tatag, sabar lan setya ngayahi timbalanipun. Donga saged murugaken tiyang kiyat ngadepi kasunyatan ingkang boten sami kaliyan pangajeng-ajengipun. Donga saged murugaken tiyang tatag ngadepi kasisahan lan kasangsaran. Sesambetan ingkang celak kaliyan Gusti Allah saged sansaya ngiyataken iman kapitadosanipun. Bilih kita setya ndedonga, pandonga punika saged ndadosaken kita santosa ndherek Gusti Yesus. Tiyang ingkang boten ndedonga badhe gampil semplah, nglokro, lan dawah ing panggoda. Punika kalawau ingkang murugaken, kenging punapa Gusti paring dawuh padha tansah jumagaa lan ndedongaa.

Gusti Allah ingkang kita dhereki sanes Gusti Allah ingkang gampil lirwa janji. Kadosdene ingkang sineksenan ing Yeremia 33:14-15 “Pangandikane Sang Yehuwah mangkene: Lah, bakal tumeka ing mangsane anggoningSun bakal nuhoni prasetya, kang Sunparingake marang tedhak turune Israel lan Yehuda. Ing wektu lan ing mangsa iku Ingsun bakal nuwuhake Trubusing kaadilan tumrap Dawud, kang bakal nindakake kaadilan lan kabeneran ana ing nagara.” Sumangga sami pitados dhateng janjinipun Gusti kanthi netepi ayahan kita, inggih punika jumaga lan ndedonga. Matemah pandonganipun Rasul Paulus dados kasunyatan ing salebeting gesang kita. 1 Tesalonika 3:13 “Muga Panjenengane karsaa nyantosakake atimu, supaya tanpa cacad lan suci ana ing ngarsane Gusti Allah iya Rama kita besuk samangsa Gusti Yesus, iya Gusti kita, rawuh ginarebeg ing sakehe para suci kagungane.

Panutup
Kadospundi gesang kita minangka tiyang pitados dhumateng Gusti Yesus? Punapa nggih kita punika tansah enget bilih kita saweg ngrantos rawuhipun Gusti? Bilih kita enget, punapa nggih sampun kita punika nindakaken ayahan kita jumaga lan ndedonga? Sampun ngantos kita punika lena, punapa malih kesupen datheng timbalan kita piyambak. Sumangga lumebet ing minggu adven 1 kita sami introspeksi lan mawas diri.

Mbok bilih samangke saweg ngadepi prakawis ing gesang bebrayatan, anggen kita sinau, ing mangsa pacangan, pasawrungan lan pasedherekan sarta gesang ing satengahing pasamuwan. Wonten satengah kawontenan ingkang mrihatosaken, limrahipun tiyang saged tumindhak ingkang boten nalar. Tiyang saras dados sakit, tiyang sakit dados saras. Tiyang mlarat dados sugih, tiyang sugih dados mlarat. Tiyang pinter dados bodho, tiyang bodho dados pinter, lan sakpanunggalanipun. Kathah bocah ingkang boten kopen awit tiyang sepuhipun pisahan. Kathah murid ingkang boten purun sekolah awit masalah kaliyan guru lan kancanipun. Kathah tiyang ingkang wantun nyenyolong awit kacingkrangan lan mbetahaken arta. Sadaya ingkang kasebataken ing nginggil mbetahaken margi solusi. Ing dinten punika kita sami kadawuhan, dikadospundi kawontenan kita, Gusti Allah boten badhe negakaken, Gusti Allah badhe rawuh makarya mitulungi gesang kita. Gusti Allah badhe ngatasi sadaya prakawis ing gesang kita lan badhe ngenthengaken tanggelan kita sadaya.

Sumangga sami nggatosaken ayahan lan timbalan kita minangka pendherekipun Gusti, inggih punika ngrantos rawuhipun Gusti kanthi setya jumaga lan ndedonga. Matemah kita saged rosa awit nampi kakiyatan saking Gusti. Boten ngrantos sakit, sisah, lan sangsara nembe ndedonga dhumateng Gusti. Kanthi jumaga lan ndedonga, kita badhe dados pribadi ingkang rahayu wonten ing satengahing mangsa ngrantos rawuhipun Gusti. Sugeng lumebet ing minggu Adven 1 kanthi jumaga lan ndedonga. Amin. (Life).

 

Pamuji: KPJ. 446 : 1 – 3 Nalika Ngambah Margi kang Sepi

Renungan Harian

Renungan Harian Anak