Minggu Kristus Raja
Stola Putih
Bacaan 1: Daniel 7 : 9 – 10, 13 – 14
Bacaan 2: Wahyu 1 : 4b – 8
Bacaan 3: Yohanes 18 : 33 – 37
Tema Liturgis: Melestarikan Hidup dengan Budaya Toleransi dan Saling Berbagi
Tema Khotbah: Budaya Toleransi dan Berbagi menjadi Jalan Hidup
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak Perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Daniel 7 : 9 – 10, 13 – 14
Teks hari ini merupakan bagian kedua dari Kitab Daniel (Psl. 7:1-12:13). Penglihatan Daniel, dalam teks menggambarkan tentang pengadilan surgawi (ay. 9-12). Dituliskan bahwa Daniel melihat Yang Lanjut Usia yaitu Allah yang digambarkan sebagai orang tua, berambut putih, berpakaian putih, duduk di kursi dari nyala api dengan roda-rodanya dari api (bdk. Yeh. 1:26). Lalu dalam peristiwa kedua dalam mimpinya, Daniel melihat suasana istana surgawi (ay. 13-14). Dia melihat seperti seorang anak manusia, datang dengan awan-awan ke Tahta Yang Lanjut Usia. Tokoh manusia yang khas ini (lambang dari orang-orang kudus, umat Yang Maha Tinggi (ay. 27) menerima anugerah kekuasaan dan kemuliaan yang kekal di atas segala bangsa. Konteks besar penglihatan Daniel, tentang keempat binatang merupakan lambang empat kerajaan yang akan dikuasai oleh umat kudus Yang Mahatinggi (ay. 17-18 : Babel, Media, Persia, dan Yunani).
Wahyu 1 : 4b – 8
Bagian ini merupakan pembuka atau prolog, seperti umumnya dalam surat. Sehingga Kitab Wahyu sebaiknya tidak dibaca seperti sebuah buku ramalan tentang apa yang akan terjadi, seperti abad 2 oleh Kaum Montanis. Namun, sebuah respon terhadap situasi konkrit yang terjadi. Teks ini merupakan respon terhadap Iman Umat Kristen yang mulai kendor kehilangan gairah untuk menyaksikan iman mereka. Teks ini ditulis dengan gaya surat yang ditujukan kepada jemaat di kota-kota Asia kecil. Supaya mereka berani menjadi “saksi” yang setia. Kata “saksi” dalam Kitab Wahyu digunakan lebih umum yang mengacu pada dua hal, yaitu pertama, bersaksi karena orang Kristen telah bangkit dari antara orang mati mengacu pada kebangkitan Yesus. Kedua, menjadi saksi karena orang Kristen telah berutang terima kasih kepada Allah untuk kemenangan dan penebusan–Nya. Dengan demikian, maka perspektif tentang penghakiman mengingatkan tentang melawan kejahatan dan kekuatannya menyajikan keselamatan bagi mereka yang setia.
Yohanes 18 : 33 – 37
Kisah Yesus di hadapan Pilatus, dalam teks ini menggambarkan peristiwa yang dramatis. Drama atas kepentingan politis kekuasaan, iri hati, dan hati nurani yang kontradiksi menarik untuk dicermati. Jika orang banyak dan Pilatus mau berkata jujur, maka sebenarnya tidak didapati kesalahan yang mendasar terhadap Yesus. Dalam percakapan Pilatus dengan Yesuspun, tentang istilah “Raja” yang dituduhkan orang banyak, dipahami Pilatus bukanlah sebagai usaha pemberontakan. Pernyataan Yesus tentang “kebenaran” (ay. 36) mengusik Pilatus dalam memahami arti kebenaran, dimana Tuhan Yesus hadir ke dalam dunia untuk menjadi saksi kebenaran. Secara tersirat, Yesus telah menyampaikan kebenaran tentang diri–Nya di hadapan Pilatus yang menjadikan kebenaran itu tidak bisa dipungkiri.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Cinta Allah kepada manusia tidak lekang oleh waktu. Dalam keadaan tertindas dan pergumulan yang dialami manusia, Allah hadir menyapa dan memberi pengharapan. Teks Daniel memberi gambaran yang jelas tentang kasih dan janji Allah bagi orang percaya yang menghadapi tekanan empat kekuasaan. Anugerah Allah itulah yang patut disaksikan sebagai kebenaran. Menyaksikan kebenaran seperti yang Yesus lakukan, diperlukan kesetiaan dalam keadaan apapun. Berbagi kasih dan cinta merupakan wujud anugerah Allah yang peduli kepada manusia. Pertanyaannya, apakah wujud budaya toleransi dan berbagi dalam hidup orang Kristen saat ini?
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu, dan saudara yang terkasih di dalam Tuhan Yesus. Apa yang kita rasakan saat hidup bersama atau berdampingan dengan orang lain ? Mari lihat video pendek ini. Wujud dari keterbukaan adalah merasa diri nyaman dan aman berada di antara orang-orang yang berbeda. Yang paling mudah diamati adalah berbeda usia, berbeda profesi, berbeda tingkat pendidikan, dan berbeda tingkat sosial. Dan yang lebih sulit adalah berada dengan orang-orang yang berbeda budaya, etnis, agama, dan ideologi politik. Jika kita terbuka, maka kita merasa biasa saja di antara orang-orang yang berbeda itu. Kita tidak merasa canggung, curiga, atau gelisah. Kita tidak merasa inferior dan juga tidak superior. Kita tidak merasa benci atau berprasangka. Sebaliknya kita merasa biasa saja, bahkan mungkin merasa senang bisa berteman dan tetap melakukan kebaikan-kebaikan sebagaimana mestinya. Itulah sebenarnya wujud kasih Allah akan dunia ini. Allah menciptakan banyak hal berbeda, tapi Tuhan Allah tidak pernah membeda-bedakan.
Isi
Teks Injil hari ini menunjukkan tentang kesetiaan Yesus dalam mewujudnyatakan cinta Allah kepada manusia. Sekalipun dihadapkan pada marabahaya atau hukuman, tapi karena cinta Allah kepada manusia maka kesaksian tentang kebenaran itu tetap disampaikan. Semangat inilah yang hendaknya menyemangati hidup kita sebagai murid Yesus, yang hendaknya membawa Syalom – (damai sejahtera) di dalam hidup dengan mewujudkan sikap toleransi dan berbagi. Toleransi (KBBI), sifat atau sikap toleran: dua kelompok yang berbeda kebudayaan yang saling berhubungan dengan penuh. Berangkat dari definisi tersebut, maka dalam hidup yang penuh perbedaan hendaknya kita tetap memikili semangat untuk saling berhubungan satu dengan yang lain tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, budaya, dan status sosial. Setiap perbedaan merupakan warna yang indah untuk mewujudkan sikap toleransi dan berbagi seperti video di awal tadi.
Begitu juga Allah yang telah mencintai dunia ini dengan memberikan sinar mentari dan hujan kepada semua orang, tanpa dibedakan–Nya. Bahkan tawaran akan anugerah keselamatan, dinyatakan kepada semua orang. Namun, hanya orang yang mau merespon tawaran kasih–Nya itulah yang berkenan kepada–Nya. Maka, berita Injil hari ini merupakan suara kebenaran tentang Mesias yang disaksikan kepada semua orang dengan hadirkan Syalom (Band. Ay.36).
Hari Minggu ini adalah Minggu Kristus Raja, artinya penghayatan bahwa Yesus Kristus adalah Alfa dan Omega – (Awal dan Akhir). Bahwa dengan gelar dan perayaan pesta itu, Kristus diakui lebih tinggi dan berkuasa di atas segala kekuatan yang diagung-agungkan oleh dunia. Namun demikian, hidup dan karya Yesus di tengah dunia dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan berpihak kepada semua orang tanpa membedakan status sosialnya. Gelar Raja tersebut berbeda makna dengan yang dipahami dunia pada umumnya. Oleh karena itu, dalam menghayati Minggu Kristus Raja hari ini kita diajak menghayati pelayanan Sang Raja yang mau merendahkan hati dan berjumpa kepada semua orang berdosa. Penghayatan Minggu Kristus Raja dilakukan akhir minggu biasa dan akan memasuki minggu Adven yang pertama. (Lebih lengkap lihat https://katolikpedia.id/sejarah-penetapan-hari-raya-kristus-raja-semesta-alam/).
Dengan demikian, maka Allah benar-benar menyapa manusia yang berdosa. Allah bukan Tuhan yang jauh dan hanya duduk di tempat maha tinggi (Deisme), tapi Allah yang hadir dan turut menderita bersama dengan manusia. Maka, saat ini kita memiliki tanggung jawab:
- Manusia hendaknya setia dan mewujudkan cinta anugerah-Nya
Menjadi manusia yang telah menerima cinta dan anugerah–Nya, maka hendaknya manusia juga tidak pernah letih dalam mewujudkan cinta bagi sesama dengan kesetiaan. Sekalipun banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, namun tetaplah seperti Tuhan Yesus yang berada di hadapan Pilatus, dengan menyaksikan kebenaran dan cinta kasih Allah. Seperti ilustrasi di awal, Tuhan Yesus tidak canggung berhadapan dengan Pilatus – penguasa saat itu karena Tuhan Yesus menyampaikan kebenaran dengan cinta. Pertanyaan untuk kita, apakah kita berkomitmen untuk setia mewujudkan cinta dalam hidup kita? - Mewujudkan Pengharapan
Seperti dalam bacaan 1 dan 2, bagi orang yang dikasihi–Nya selalu mendapatkan penghiburan dan pengharapan sekalipun sedang menghadapi bahaya dan pergumulan. Dengan demikian, hendaknya kita juga berani membawa pengharapan di tengah-tengah dunia yang tidak ideal dan seringkali membuat manusia menjadi kecewa atau putus asa. Mewujudkan pengharapan bukanlah sesuatu yang utopis – hanya dianggan tapi merupakan keniscayaan untuk bisa diwujudnyatakan dalam hidup. Manusia memerlukan harapan untuk tetap berjuang dan menjalani kehidupan ini, maka menghayati Kristus Raja yang telah hadir membawa harapan bagi manusia juga menginspirasi kita untuk berbagi harapan bagi orang-orang di sekitar kita.
Penutup
Kiranya Tuhan memberikan kesetiaan pada kita, untuk mewujudnyatakan cinta bagi semua orang dalam hidup. Dan kita dimampukan membawa pengharapan bagi sesama seperti doa St. Fransiskus dari Asisi:
TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah,
ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur;
mengerti daripada dimengerti;
mengasihi daripada dikasihi;
sebab dengan memberi kita menerima;
dengan mengampuni kita diampuni,
dan dengan mati suci kita dilahirkan ke dalam Hidup Kekal.
Amin.
Pujian: KJ. 288 : 1, 2 Mari, Puji Raja Sorga
(KULZ)
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Bapa, Ibu, lan para sederek ingkang kinasih. Punapa ingkang kita raosaken bilih kita gesang sesarengan kaliyan tiyang sanes? Sumangga kita mirsani video punika. Wujud anggenipun kita tinarbuka dhumateng tiyang sanes punika, kita saged ngraosaken nyaman lan aman wonten ing satengah-tengahipun tiyang sanes punika. Ingkang gampil kita tingali saking tiyang sanes inggih punika benten yuswa, benten pendamelan, ugi benten tingkat pendidikan lan sosial. Ingkang langkung ewet, nggih punika wonten ing satengah-tengahipun tiyang ingkang benten budaya, etnik, agama, lan ideologi politik. Bilih kita tinarbuka, tamtu kita rumaos biasa kemawon wonten ing satengah-tengah tiyang sanes ingkang benten punika. Kita mboten badhe rumaos canggung, curiga, utawi gelisah. Kita mboten badhe rumaos inferior (rendah diri) utawi superior (tinggi diri). Kita ugi mboten badhe rumaos benci lan nggadahi prasangka dhateng tiyang sanes. Kita malah saged ngraosaken bingah karana saged kekancan lan tetap nindakaken kasaenan kados sakmestinipun. Punika sejatosipun wujud sih katresnanipun Gusti Allah ing ndonya punika. Gusti Allah nitahaken kathah perkawis ingkang benten salebeting gesang kita, nanging Gusti Allah mboten nate benten-bentenaken setunggal lan sanesipun.
Isi
Seratan Injil dinten punika nedahaken bab kasetyanipun Gusti Yesus, wujudaken sih katresnanipun Gusti Allah dhumateng manungsa. Sanadyan Gusti Yesus ngadepi bebaya, nanging karana sih katresnanipun dhumateng manungsa, Gusti Yesus tetep ngaturaken paseksi kaleresan salebeting gesangIpun. Semangatipun Gusti Yesus punika ingkang kedah kita tuladhani minangka panderekipun Gusti Yesus. Kita kedah wantun atur pawartos bab Shalom – tentrem rahayu sak lebeting gesang kita kanthi wujudaken sikap toleransi lan andum berkah. Toleransi (KBBI)/ sifat utawi sikap toleran punika nggadahi teges kalih kelompok ingkang benten budaya ananging saged gesang kanthi rukun kanthi. Saking tegesipun toleransi punika, salebeting gesang ingkang kebak bentenipun punika, kita kedah nggadahi semangat kangge mbangun hubungan ingkang sae satunggal lan sanesipun, tanpa mbenten-bentenaken latar belakang suku, agama, budaya, lan status sosial. Saben perkawis ingkang benten punika dados warni ingkang endah kangge wujudaken sikap toleransi kados video ingkang wonten ngajeng kalawau.
Mekaten ugi Gusti Allah nresnani ndonya punika sarana paring sinar surya lan jawah dhumateng sedaya tiyang, tanpa benten-bentenaken. Sih Rahmatipun Gusti Allah punika dipun aturaken dhumateng sedaya tiyang. Nanging, namung tiyang ingkang nanggapi Sih Rahmatipun Gusti Allah kemawon ingkang pinaringan Sih Rahmat punika. Karana punika, pawartos Injil dinten punika bab Mesias dados pawartos ingkang leres lan kedah dipun wartosaken dhateng sedaya tiyang sarana rawuhaken Shalom (tentrem rahayu) (Bnd.ay.36).
Dinten minggu punika Minggu Kristus Raja, tegesipun kita sami dipun ajak ngraosaken bilih Gusti Yesus Kristus punika Sang Alfa lan Omega (Ingkang Purwo lan Pungkasan). Gusti Yesus Kristus dipun akeni langkung inggil lan kagungan kuwaos wonten ing sak inggilipun sedaya kakiyatan ingkang wonten ing ndonya. Gesang lan pakaryanipun Gusti Yesus ing ndonya tansah dipun tindakaken kanthi prasaja lan boten benten-bentenaken status sosialipun tiyang sanes. Gelar Raja punika benten tegesipun kaliyan ingkang dipun mangertosi kaliyan ndonya. Karana punika salebeting panghargyan Minggu Kristus Raja dinten punika, kita kaajak sami ngraosaken peladosanipun Sang Kristus ingkang andap asor lan purun pinanggih kaliyan kita, manungsa ingkang dosa. Panghargyan Minggu Kristus Raja punika dipun tindakaken wonten ing akhir minggu biasa lan badhe lumebet wonten ing minggu Advent ingkang wiwitan (jangkepipun saget dipun waos ing https://katolikpedia.id/ sejarah-penetapan-hari-raya-kristus-raja-semesta-alam/).
Karana saking punika, Gusti Allah kersa nyapa manungsa ingkang kebak dosa. Gusti Allah sanes Gusti ingkang tebih lan namung lengah wonten papan ingkang inggil (Deisme), nanging Gusti Allah ingkang kersa rawuh lan nderek ngraosaken sangsaraning manungsa. Pramila, ing wekdal punika kita nggadah tanggeljawab:
- Manungsa kedah setya lan wujudaken Sih Katresnan-Ipun
Manungsa ingkang sampun nampi katresnan lan sih rahmatipun Gusti, kedahipun mboten badhe sayah kangge wujudaken katresnanIpun Gusti Allah punika dhateng sesami kanthi setya. Sanadyan kathah tantangan ingkang kedah dipun adepi, nanging sumangga kita tetep nuladha Gusti Yesus. Nalika Panjenenganipun wonten ngarsanipun Pilatus, Panjenenganipun tetep atur paseksi bab kaleresan lan sih katresnan-Ipun Allah. Kados ilustrasi wiwitan, Gusti Yesus mboten ajrih wonten ing ngarsanipun Pilatus – panguwasa wekdal punika karana Gusti Yesus ngaturaken bab kaleresan sarana tresna. Pitakenan kangge kita, punapa kita nggadahi komitmen kanthi setya wujudaken sih katresnan ing gesang kita? - Wujudaken Pangajeng-ajeng
Kados ing waosan 1 lan 2, kangge tiyang ingkang dipun tresnani Gusti Allah tansah nampeni panglipuran lan pangajeng-ajeng sanadyan ngadepi bebaya lan pergumulan. Karana punika, sumangga kita betah pangajeng-ajeng ing satengah-tengahing ndonya ingkang mboten ideal lan asring ndadosaken manungsa kuciwa utawi semplah. Wujudaken pangajeng-ajeng punika sanes bab ingkang utopis– (namung wonten anggen-anggen) nanging saged kita wujudaken wonten ing gesang kita. Manungsa mbetahaken pangajeng-ajeng kangge nglampahi gesang punika. Mila mengeti Minggu Kristus Raja punika mbetah pangajeng-ajeng kangge kita lan ugi paring semangat kangge kita supados purun andum pangajeng-ajeng dhateng tiyang sanes ing sakeliling kita.
Panutup
Mugi Gusti paring kasetyan dhateng kita kangge wujudaken sih katresnan dhateng sedaya tiyang salebeting gesang kita. Kita ugi dipun paring kasagedan mbeta pangajeng-ajeng kangge sesami kados ing pandonga St. Fransiskus saking Asisi :
Gusti Allah, dadosaken kula tiyang ingkang mbetah katentreman
Bilih wonten ingkang benci, kasagetna kula wujudaken sih katresnan
Bilih wonten ingkang ngenyek, kasagetna kula wujudaken pangampunten
Bilih wonten pasulayan, kasagetna kula wujudaken karukunan
Bilih wonten ingkang sesat, kasagetna kula wujudaken ingkang leres
Bilih wonten ingkang bimbang, kasagetna kula wujudaken kapastian
Bilih wonten ingkang semplah ing manah, kasagetna kula wujudaken pangajeng-ajeng
Bilih wonten ingkang ngalami pepeteng, kasagetna kula wujudaken pepadhang
Bilih wonten ingkang ngalami kasedihan, kasagetna kula wujudaken kabingahan
Dhuh Gusti Allah,
Paduka wulang kula supados langkung remen nglipur katimbang dipun lipur;
mangertos katimbang dipun ngertosi;
nresnani katimbang dipun tresnani;
amargi bilih kawula maringi kawula nampeni;
kanthi paring pangapunten kawula kaapunten,
lan kanthi mati suci kawula kalairaken ing gesang langgen.
Amin.
Pamuji: KPJ. 118 Biyen Nglirwakake
(KULZ).