Minggu Biasa – Bulan Budaya
Stola Hijau
Bacaan 1: Daniel 12 : 1 – 3
Bacaan 2: Ibrani 10 : 11 – 14, 19 – 25
Bacaan 3: Markus 13 : 1 – 8
Tema Liturgis: Melestarikan Hidup dengan Budaya Toleransi dan Saling Berbagi
Tema Khotbah: Hidup Bijaksana di Tengah Tantangan Akhir Zaman
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Daniel 12 : 1 – 3
Kitab Daniel merupakan kitab yang menuturkan riwayat hidup, sejarah, dan nubuat yang dikemas dalam bentuk sastra apokaliptis, yaitu berita nubuatan yang menyingkapkan penyataan Allah melalui mimpi, berbagai penglihatan, dan lambang. Kitab Daniel ini ditulis pada masa-masa sulit yang dialami oleh bangsa Israel sejak peristiwa peperangan Nebukadnezar ke Yerusalem (tahun 605 SM) sampai tahun ketiga pemerintahan Koresy (tahun 536 SM). Pada masa tersebut berbagai krisis sosial, politik, dan agama melanda bangsa Israel.
Daniel sebagai tokoh utama dalam kitab ini, kemungkinan adalah keturunan raja Hizkia (2 Raja-raja 20:17-18, Yesaya 39:6-7). Dia adalah seorang yang terdidik (Daniel 1:3-6), dia dijadikan sida- sida di Babel (Daniel 1:3; 2 Raja-raja 20:18). Sosok yang memiliki kepribadian dan tanggung jawab serta karunia bernubuat (Daniel 2: 46-49; Daniel 6:1-3).
Daniel 12 berisi nubuat akan datangnya malaikat Mikhael pelindung Israel atas lawan-lawannya. Bagian ini menggambarkan keadaan akhir zaman, dimana ada kesesakan dan kebangkitan orang mati. Kesudahan zaman juga ditandai dengan orang-orang yang akan dimurnikan dan diuji. Orang-orang yang setia dan teguh berharap pada penyertaan Tuhan disebut sebagai orang bijaksana dan mereka akan menerima kehidupan kekal tanpa kengerian. Sebaliknya orang yang tidak tahan uji akan mendapatkan penderitaan kekal.
Dari Kitab Daniel 12:1-3 setidaknya ada 3 pelajaran :
- Umat Israel tidak akan terhindar dari penderitaan hidup.
- Penderitaan, ancaman, dan kesesakan itu adalah sarana Allah untuk memurnikan kepercayaan umat Israel.
- Allah tidak tinggal diam dalam masa-masa kesukaran yang dialami oleh umat Israel.
Ibrani 10 : 11 – 14, 19 – 25
Kitab Ibrani 10 memberikan penjelasan tentang bagaimana aturan atau tata cara umat Allah menghampiri dan beribadah kepada Tuhan. Mereka harus membawa korban yang diwajibkan dan harus memakai pengantara yang disebut Imam yaitu Imam Besar yang ditetapkan Allah. Beberapa kali kata “sempurna” digunakan untuk menekankan bahwa aturan-aturan dalam Taurat dan Imamat Lewi tidak dapat menandingi kesempurnaan pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Pengorbanan Yesus Kristus dengan kematian-Nya di kayu salib menyingkap tabir rahasia Allah bahwa hanya Allah yang menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristuslah yang mampu menjadi korban yang sempurna untuk menghapus dosa, “satu kali untuk selama-lamanya”. Hal ini sekaligus hendak menyatakan bahwa melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib, umat dapat menghampiri dan menjumpai Allah dengan cara yang baru.
Gelar Imam Besar yang disematkan kepada diri Tuhan Yesus melebihi Imam-imam Besar pada saat itu. Hal ini dikarenakan Tuhan Yesus rela memberikan diri-Nya sebagai persembahan kepada Allah. Berbeda dengan para Imam yang membawa binatang sebagai korban. Tugas Imam untuk membangun hubungan Allah dengan manusia sempurna dan selesai dalam diri Yesus Kristus.
Ibrani 10 : 19 – 25
Keberanian kita masuk, menemui, menjumpai Allah bukanlah keberanian yang tanpa tatanan. Beberapa sikap ditunjukkan sebagai perwujudannya. Penulis Ibrani menyebutkan ada cara baru untuk berjumpa dengan Tuhan, yaitu :
- Hati yang tulus ikhlas (22b).
- Keyakinan iman yang teguh (22c).
- Tubuh yang sudah dibasuh (22d).
- Berpegang pada pengakuan (23).
- Saling memperhatikan (24a).
- Saling mendorong dalam kasih (24b).
- Saling mendorong dalam pekerjaan baik (24c).
- Tidak menjauhkan diri dari pertemuan ibadah (25a).
Bagian 1 – 4 menjelaskan bagaimana sikap kita beribadah. Bagian 5 – 8 menjelaskan bagaimana kita hidup beribadah. Hal ini penting untuk diingat bahwa kehidupan kerohanian kita secara pribadi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan persekutuan. Inilah pembaharuan dari pengorbanan Kristus yaitu memulihkan hubungan kita dengan Allah.
Markus 13 : 1 – 8
Bait Allah yang dilihat Tuhan Yesus dan para murid adalah bait Allah yang megah setelah direnovasi oleh Herodes pada tahun 20 – 19 SM. Bangunan itu kokoh dan indah. Banyak orang terkesima, takjub melihat bangunan bait Allah termasuk para murid. Namun Tuhan Yesus menubuatkan hancurnya bait Allah tersebut. Tentu saja hal ini menjadikan para murid bertanya-tanya apakah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus. Kemudian Tuhan Yesus memberikan penjelasan bahwa kehancuran bait Allah adalah pertanda akan tiba saatnya akhir zaman, dimana akan terjadi perang, bencana alam, penyesatan, dan kemerosotan moral.
Tuhan Yesus mengingatkan bahwa tanda-tanda itu adalah awal dari pelbagai peristiwa penderitaan pada akhir zaman. Tuhan Yesus juga menguatkan para murid-Nya bahwa Ia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkan orang-orang percaya. Injil harus tetap diberitakan. Kesemuanya itu disampaikan Tuhan Yesus agar para murid tetap memiliki kesetiaan dan terus memberitakan kabar baik, walaupun hidup bagi Kristus itu sama halnya menentang arus “Zaman Now” yang bercirikan instant, egois, apatis, konsumtif, cari aman, dan nyamannya sendiri.
Benang Merah Tiga Bacaan:
- Dalam sejarah manusia, penderitaan itu tetap terus ada.
- Allah senantiasa hadir ikut campur tangan dalam berbagai peristiwa yang dialami manusia.
- Berbagai macam penderitaan, kesusahan, kepahitan, penganiayaan adalah cara Allah untuk mengenal dan mengetahui, menguji kesetiaan, ketaatan, kekuatan, dan pengharapan yang dimiliki oleh setiap umat-Nya.
- Penderitaan pasti akan berganti sesuai dengan waktu Tuhan dan akan datang masa kelepasan.
- Orang bijaksana akan selamat karena tetap berpegang pada Firman Allah, tetapi orang fasik akan binasa karena memilih jalan sang mesias palsu.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Salah satu peserta katekisasi bertanya kepada pembimbingnya, “Pak… pada waktu penghakiman siapakah yang akan menjadi hakim untuk menentukan setiap orang yang masuk sorga atau neraka? Allah Bapa, Tuhan Yesus atau Roh Kudus?” Lalu bapak pembimbing itu menjawab, “Nak… lebih baik mulai sekarang kita memanfaatkan waktu untuk menghadapi hari Tuhan itu, karena bila kita sudah yakin hidup benar dihadapan Tuhan, setia, taat, maka siapapun yang akan mengadili kita, entah itu Bapa sendiri, atau Tuhan Yesus atau Roh Kudus, kita tidak perlu takut, karena kita sudah menghargai pengorbanan-Nya di kayu salib dengan melakukan dan menjaga perilaku hidup yang sesuai dengan Sabda-Nya serta menghormatiNya.” “Waduh… berat dan susah, ya pak”, sahut remaja itu. Si pembimbing meneruskan jawabannya, “Nak… Roh Kudus akan menolong kita, jangan kuatir, Dia paham siapa kita ini.”
Isi
“Eling lan Waspada”. Filosofi dari Etnis Jawa ini sudah lazim kita dengar, tidak saja bahasa pengucapannya namun juga garis besar makna dari sesanti tersebut. Yaitu dalam menjalani hidup ini perlu selalu berhati-hati, mengingat-ingat, memelihara nasihat petuah-petuah yang baik agar tetap selamat, terberkati, dan tentu saja mengalami kedamaian.
Mungkin saja di antara kita masih ingat beberapa peristiwa mengenaskan pada bulan November tahun 2020 yang lalu. Masyarakat kita digegerakan dengan semakin bertambahnya penyebaran Covid-19 pasca kedatangan Habib Riziq Shihab, di penjuru negeri. Disusul kemudian pada hari Sabtu, 28 Nopember 2020 terjadi tragedi pembunuhan anggota Gereja Bala Keselamatan di Desa Lemban Tongoa Provinsi Sulawesi Tengah dan pembakaran Gereja oleh orang tak dikenal yang diduga dilakukan oleh kelompok Teroris Mujahidin Indonesia Timur. Dan sementara itu juga terjadi kerusuhan, ketegangan politik, persoalan kebijakan ekonomi, peraturan Pemerintah, serta intoleransi yang terjadi dimana-mana.
Sebagai bagian masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak satupun umat percaya mengharapkan kehancuran tatanan kehidupan di Negeri tercinta ini. Malah kita diperintahkan Tuhan untuk menjadi perisai dan turut serta beraksi, bertanggungjawab melibas ketidakadilan, kelakuan negatif yang terjadi dengan berbagai cara. Hal itu dapat kita mulai dari lingkungan tempat kita berada sebagai bentuk nyata menjadi garam dan terang. Tetapi tidak bisa kita pungkiri seringkali kita mangkir dari panggilan kita sebagai saksi pemberita Injil, karena kita sendiri sedang bergelut melawan dan mempertahankan kehidupan kita sendiri. Tidak sedikit yang terkejut, tergopoh-gopoh yang pada akhirnya berujung pada kekalahan karena harus mengikuti gaya, model, cara hidup yang instan, intoleran dengan pembohongan, dan konsumtif. Sebab apabila kita tidak melakukan hal-hal itu, maka kita akan tersingkir, tidak mendapat tempat, posisi, dan selalu dibayangi dengan ancaman.
Sebut saja Pak Brow, sudah 23 tahun dia mengabdi di salah satu Instansi Pemerintahan. Ia berhasil menyekolahkan kedua anaknya ke jenjang perguruan tinggi negeri (PTN) sampai tamat dan mendapatkan pekerjaan. Dia juga bisa memberi modal istrinya untuk membuka usaha kios yang menyediakan kebutuhan pokok bagi tetangganya. Tetapi menjelang masa akhir pengabdiannya, Pak Brow terpaksa berurusan dengan lembaga pengadilan. Diam-diam Pak Brow memiliki rumah, mobil mewah di luar kota, dan istri muda dari uang suap yang ia terima. Sulit dipercaya oleh para tetangganya. Pak Brow yang selama ini bersahaja, bisa berubah total dan bernasib mengenaskan. Ditelusuri Pak Brow tidak kuat menghadapi rekan kerjanya yang selalu merundungnya dengan ejekan. Celakanya rumah dan mobil mewah itu diperuntukkan untuk istri mudanya. Belum lama menikmati kesenangan, dia sudah mengalami kesengsaraan.
Jawa Timur dengan sesanti “Jer Basuki Mawa Bea” patut diacungi jempol. Sesanti itu tidak saja menjiwai rakyat Jawa Timur dalam menggapai kemakmuran dari segi materi tetapi juga kaya dengan pesan moral tentang bagaimana spiritual, moral dan mental setiap orang untuk mencapai dan mewujudkan kebahagiaannya agar tetap lestari dan bermanfaat dalam jangka panjang. Jer Basuki – Jikalau ingin berkehendak mencapai kemulyaan, kehormatan dan kebahagiaan. Mawa Bea – diperlukan modal usaha perjuangan yang mahal nilainya. Sesanti ini bukan sebuah “kebetulan” tetapi juga menjadi jiwa seluruh umat Tuhan, khususnya warga Gereja Kristen Jawi Wetan yang lahir dan berkembang di bumi Jawa Timur dan menjadi salah satu landasan gerak langkah kelangsungan hidup. Untuk menggapai kebahagiaan yang sesungguhnya diperlukan modal dan perjuangan. Tidak hanya materi, tenaga, pikiran, waktu tetapi juga karakter, jiwa yang jujur, benar, loyal, taat, dan kebersamaan.
Bukankah ini juga selaras dengan Sabda Tuhan bahwa dalam menggapai keselamatan dan kebahagiaan sejati itu tidak mudah. Kesetiaan, keteguhan, kebersamaan (sehati, saling memperhatikan menolong) menjadi taruhan. Pilihan yang lebih mudah, kita bisa mengikuti Illah zaman akhir yang hanya mengejar dan meraup kepuasan diri dengan cara–cara yang cepat, egois, tanpa tatanan batin yang tepat. Tetapi ingatlah bahwa hal tersebut hanya akan berujung pada penyesalan.
Penutup
- Mengetahui tanda-tanda akhir zaman itu baik, tapi jauh lebih baik dan bermanfaat jika kita berjaga-jaga dan bersikap bijaksana dalam menantikan akhir zaman.
- Selama penderitaan itu ada, maka di situ Tuhan Allah hadir.
- Orang yang setia dan teguh berpengharapan adalah orang yang bijaksana. Tekun adalah cara untuk mendapatkannya. Penderitaan adalah tempat dimana ia berada.
- Lebih baik menderita sementara waktu, tetapi berbahagia sepanjang masa daripada berbahagia sementara waktu tetapi menderita selamanya. (Japri).
Pujian: KJ. 392 : 1, 2 Ku Berbahagia
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Wonten salah setunggaling lare katekisasi munjuk pitaken, “Pak… menawi sampun titiwancinipun dinten kiamat, sinten ingkang jumeneng Hakim ngadili manungsa ingkang kagungan pangaos (namtok aken) manungsa setunggal lan setunggalipun mlebet swarga utawi neraka? Punapa Gusti Allah Sang Rama, punapa Gusti Yesus Kristus, punapa Sang Roh Suci?” Wangsulanipun Pak Guru, “Nak… luwih becik wiwit dina iki, kita pada cecawis, ati-ati, waspada ngadhepi dina pangadilane Gusti, menawa kita pada tumindhak becik, bener, pener, setya tuhu tumraping dawuh pangandikane Gusti, sapa bae kang ngadili kita ing dina Gusti rawuh ing pungkasan iya Gusti Allah Sang Rama, apa Gusti Yesus Kristus putrane kang kapiji uga Sang Roh Suci, kita wis cumandhang lan ora perlu wedi. Mulane payo kita pada diawas anggone nglakoni urip iki supaya bisa ngajeni pangurbanane Gusti Yesus kang wus seda sinalib.” “Waduh… awrat sanget pak…”, wangsulanipun lare kalawau. Pak Guru paring wangsulan malih, “Ojo kuatir yo le, Sang Roh Suci mesthi bakal paring pitulung marang kita.”
Isi
“Eling lan waspada” ugeman gesang piantun Jawi punika sampun kapiah lan limrah kita pirengaken maknahipun nalika nindakaken gesang sadinten-dinten. Ingkang tegesipun nalika kita nglampahi gesang punika, anggen kita nggayuh karahayon lan kawilujengan kinanthenan kawaspadan, nastiti, lan ati-ati.
Mbok bilih ing antawis kita taksih enget, wonten prastawa nggegirisi nalika sasi Nopember 2020. Pagebluk Covid-19 dereng rampung katungka Habib Riziq Shihap wangsul saking Saudi Arabia, pandherekipun ingkang mapak wusananipun dados jalaran sumebaring Covid-19 ing tlatah sanesipun. Ugi wonten rajapati ingkang dipun alami saperangan sadherek kita warga Greja Bala Keselamatan ing Desa Lemban Tongoa Sulawesi Tengah dening kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur .
Sawerninipun demonstrasi karana mboten sarujuk kalayan keputusan pemerintah. Minangka peranganipun masyarakat NKRI, kita dipun utus Gusti Allah dados saksi ingkang kedah nderek asung tanggeljawab tumraping bangsa lan nagari mbengkas sawernipun tumindhak dora, angkara, panganiaya kanthi mawarni-warni cara. Wondene kita mboten saged nyelaki, asring kita mungkir lan katalumpen netepi timbalanipun Gusti punika. Inggih awit saking kita pribadi kagubel, kabidhung dening kabetahan gesang lan ruwet rentengin pigesangan kita piyambak-piyambak.
Kathak ing antawis kita keli kapilut reribet nunten gesang kita tebi saking paugeranipun Gusti. Gesang prasaja kagantosken mubra-mubru, pamer bondo donya, ngangsa-angsa ing panggayuh drajat pangkat, samukawis kedah sak dek sak nyet lan sak panunggalanipun. Prakawis punika nyata kadadosan ing pigesangan, karana kita rumaos kecalan samukawis ingkang kita anggep darbek kita. Karana manika warna ancaman pepalang miwah rubedo nempuh ing gesang kita, lajeng kita rumaos ajrih lan kuatir, wusananipun nglengseraken katentreman ing gesang kita pramila kita lajeng katut keli ing pangrehipun roh pepeteng.
Wonten kadadosan nyata bab lampahing gesang salah satunggaling brayat, kita samaraken kemawon asmanipun, kita sebut Pak Brow. Pak Brow sampun 23 tahun nyambut damel wonten ing salah satunggal instansi pameritah, ning karena ulet lan prigel, gemi anggenipun ngracik berkah, Pak Brow saged ngentasaken putranipun kekalih lulus Perguruan Tinggi Negri (PTN), malah sampun pikantuk padamelan. Semahipun Pak Brow ugi pikantuk kesempatan usaha dagang pracangan.
Iba kagetipun semah, putra, sanak sederek, lan tanggi tepalihipun, nalika sumerep Pak Brow kedah ngadepi pangadilan lan nglampahi ukuman pidana amargi kacepeng operasi tangkap tangan KPK. Pak Brow ketangkep karana nampi arta suap ingkang ageng sanget. Rupinipun 5 taun dangunipun Pak Brow kanthi sesideman sampun nindakaken pratawa punika. Ugi kanthi cara sesideman Pak Brow saget tumbah griya lan mobil mewah ing luar kota. Sedaya ingkang dipun tindakaken Pak Brow krana mboten kiyat nandang ancaman saking para mitra lan rencangipun ing kantor. Sakawit Pak Brow saged nampi lan nglampahi kanthi sabar, ananging krana rumaos ajrih lan kuatos kecalan padamelanipun, mila Pak Brow nyimpang lan nilar dawuh pangandhikanipun Gusti. Wusana Pak Brow namung saged nggetuni sedaya perkawis ingkang sampun kelampahan ing gesangipun namung nemahi kuciwa.
Propinsi Jawa Timur nggadahi sesanti “ Jer Basuki Mawa Bea”. Ingkang tegesipun sok sinteno ingkang nggayuh kamukten pinesti mbetahaken bunci ingkang adi lan ageng. Sesanti punika sampun mbalung sumsum, anyarira tumraping masyarakat Jawa Timur. Mila menawi nggayuh kamukten tamtu dipun kantheni kasembadan.
Anjawi saking punika saestu kebombong ngraosing manah kita krana sesanti provinsi Jawa Timur, laras, cunduk, kaliyan dawuh pangandhikanipun Gusti kados ingkang kajlentrehaken ing waosan kita sapunika. Dene nalika kita tinempuh ing sawernining karupekan ing gesang ugi ketaman ing kasisahan nalika nggayuh katentreman punika minangka pinestinipun gesanging manungsa ing jagat. Kasetyan, pangajeng-ajeng, tepa sliro, mboten mburu kasenengan sak pikajeng kita, andhap ashor, punika bunci (modal) anggen kita saged nampi kawilujengan lan katentreman. Sinaoso mboten gampil ananging menawi kita saged anggelar bunci punika Gusti tansah nunggil ing gesang kita.
Ing sak sisih wonten pilihan ingkang saestu gampil amargi kita babar pisan mboten ketaman lan nggambah kasangsaran nderekaken roh pepetheng ingkang kebak angkara, dora, tega, mentala, lan sak panunggalanipun ning engeto wusananipun kita badhe nemahi karisakan lan kuciwa.
Panutup
- Menawi kita paham tumrap pratanda akhir zaman prakawis punika sae, ananging estu linangkung migunani tumrap kita nalika kita nglampahi gesang kanthi eling lan waspada.
- Nalika kasangsaran punika nempuh ing gesang kita, ing ngriku Gusti Yesus nunggil klayan kita.
- Luwih becik nampa kasangsaran sawetara wektu ning ngalami karahayon ing selawase klayan tetep ngestokake dawuh pangandikanipun Gusti. Tinimbang nampa kabegjan sawetara wektu ninggal kasangsaran lan paugeraning Gusti nanging nelangsa kuciwa ing salawase.
- Kawicaksanaan punika saged kita lampahi krana nggondeli kanthi tumemen pangajeng-ajeng tumrap pitulunganipun Gusti sarta tetep setya tuhu nindhakaken dhawuh pangandikanipun senandya ta gesang tinempuh dening kasangsaran.
- Sayektosipun kasangsaran punika minangka papan panggenanipun kawicaksanan, ing ngriku kita saged pinanggih kaliyan sih katresnanipun Gusti. Amin. (japri).
Pamuji: KPJ. 292 : 1, 2 Sang Roh Suci, Rohing Katresnan