Minggu Biasa – Pekan Pemuda
Stola Hijau
Bacaan 1: Ulangan 6 : 1 – 9
Bacaan 2: Ibrani 9 : 11 – 14
Bacaan 3: Markus 12 : 28 – 34
Tema Liturgis: Pemuda yang Bersatu dan Menjadi Berkat
Tema Khotbah: Generasi yang Berdampak bagi Kehidupan
Penjelasan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Ulangan 6 : 1 – 9
“Kasihilah Tuhan Allahmu….” Pesan yang disampaikan Musa kepada umat Israel bertujuan untuk meneguhkan iman mereka kepada Allah. Hal ini supaya mereka tidak berpaling kepada illah-illah lain di kala perjalanan menuju tanah yang dijanjikan (ay. 10). Oleh sebab itu ketaatan mutlak kepada Allah dalam segala situasi menjadi pokok yang harus dijalankan. Hanya ada satu Allah bagi Israel, dan semua daya mereka harus diarahkan untuk mengabdikan kepada Allah yang esa. Pengabdian ini dirupakan dalam bentuk mencurahkan kasih kepada Allah secara total sepanjang waktu. Mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap kekuatan (ay. 5). Supaya perintah ini senantiasa diingat dan dijalankan dalam hidup bersama Allah. Panggilan umat Israel ialah memberikan pengajaran setiap saat kepada generasi umat percaya, supaya kelak keturunan mereka tetap taat dan setia serta mengutamakan kasih kepada Allah. Semua itu didasari kesetiaan kasih kepada Allah atas pembebasan umat Israel oleh Allah dari perbudakan.
Ibrani 9 : 11 – 14
Sejak semula manusia dikasihi oleh Allah dan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Diciptakan dengan amat baik, serupa, dan segambar dengan Allah serta memiliki kuasa akan ciptaan yang lain (lih. Kej. 1:26-28). Namun segala yang baik pada akhirnya berjarak ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Hal ini membuat manusia tidak layak untuk berada di hadapan Allah. Oleh karena itu manusia diusir dari taman Eden supaya mengupayakan segalanya untuk hidup.
Akan tetapi kasih kemurahan Allah, tidak henti-hentinya dinyatakan kepada manusia yang rapuh ini. Sampai pertolongan Allah benar-benar nyata melalui Tuhan Yesus Kristus yang hadir ke dalam dunia. Dalam Ibrani 9:11-14, menghadirkan Kasih Allah yang sempurna. Ia datang sebagai Imam Besar yang menyatakan hal-hal baik. Darah-Nya mendatangkan pelepasan total oleh karena Roh Allah sendiri yang berkarya. Melalui darah Kristus manusia diperdamaikan dengan Allah. Hubungan yang telah rusak kembali pulih secara menyeluruh. Kehidupan yang tidak layak dilayakkan, sehingga kitapun diperkenankan beribadah kepada-Nya dengan hidup yang baru dan perjanjian yang baru.
Markus 12 : 28 – 34
Para pemimpin agama Yahudi rupanya masih belum puas menguji Yesus. Kali ini ahli Taurat dan orang Saduki yang berbicara dengan Dia. Topik bahasan mereka kali ini adalah ‘perintah yang terutama’. Dengan topik itu, mereka ingin menguji Yesus untuk melihat apakah Ia menghargai hukum Musa melebihi apa yang mereka harapkan. Yesus mendefinisikan hukum itu ke dalam esensinya : “kasihi Allah dengan segala yang kau miliki dan kasihi sesama seperti diri sendiri” (ay. 30-31). Jawaban Yesus menarik, walau diminta memberikan satu hukum yang dianggap terbesar, Ia menjawab dua hukum. Mengapa? Karena mengasihi orang lain adalah tindakan yang akan muncul bila orang mengasihi Allah. Kedua hukum ini saling melengkapi. Kita tidak dapat melakukan yang satu tanpa memenuhi yang lain. Hukum itu meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa. Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama.
Kasih memang penting untuk mendasari sebuah relasi. Kita bisa saja menaati Firman Allah tanpa mengasihi Dia. Namun ketaatan yang demikian bersifat hampa. Sebaliknya bila kita mengasihi Dia, niscaya kita menaati Dia. Selain itu kita harus mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Kemampuan mengasihi sesama bergantung pada pemahaman bahwa Allah mengasihi mereka juga. Misalnya jika orang membuat kita marah, apakah kita akan balas dendam? Jika ya, berarti sikap merekalah yang mendasari tindakan kita bukan Firman Allah. Lalu apakah kita harus tidak peduli perlakuan orang lain? Tidak. Alkitab mengajari kita cara berurusan dengan orang lain dan menangani perasaan saat merasa terluka. Namun solusi Allah dirancang untuk menghasilkan rekonsiliasi dan pertumbuhan iman. Bukan untuk balas dendam atau mengendalikan orang lain. Ingatlah bahwa tiap orang berharga di mata Allah. Pemulihan hubungan berarti menghargai Allah dan itu mewujud dalam sikap kita terhadap sesama sebagai ciptaan Allah.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Mengasihi Allah merupakan panggilan utama dalam iman orang percaya. Mengasihi-Nya merupakan wujud syukur atas kasih Allah yang lebih dulu diberikan kepada manusia. Ia memberikan kasih dengan sempurna. Darah-Nya wujud totalitas kasih Allah yang tidak dapat terbendung. Kasih ini akan hidup dalam umat beriman, bila kasih berdampak bagi sesama.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu, dan saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus. Kehidupan seseorang akan dikenang sepanjang masa ketika ia telah melakukan sesuatu yang besar. Semisal Thomas Alfa Edison, pria kelahiran 11 Februari 1847, dia dikenal sepanjang masa karena temuan-temuan yang berdampak dalam kehidupan manusia. Salah satu temuannya yang terkenal ialah bola lampu yang masih kita pakai hingga saat ini. Ir. Soekarno, pria kelahiran 6 Juni 1901, dia dikenal dunia sebagai bapak Proklamator yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tentunya masih banyak sekali tokoh dunia dan tokoh bangsa Indonesia yang dikenal hingga saat ini oleh karena perbuatannya yang berdampak bagi kehidupan.
Untuk dikenang atau dikenal dunia memang membutuhkan hal besar. Namun untuk berdampak dalam kehidupan sesungguhnya tidak harus menunggu hal besar terjadi. Tidak harus memiliki kecerdasan seperti Thomas Alfa Edison, tidak harus menunggu memiliki kekuasaan dan pengikut seperti Ir. Soekarno, atau bahkan tidak harus memiliki harta yang melimpah. Yang diperlukan ialah kemauan untuk melakukannya meski dengan cara yang sederhana. Berangkat dari hal yang sederhana seseorang bisa membawa dampak bagi kehidupan. Seperti yang pernah dikisahkan dalam sebuah film “Pay It Forward” yang dirilis pada tahun 2000. Diadaptasi dari novel karya Catherine Ryan Hyde.
Film tersebut menceritakan seorang anak usia 11 tahun yang bernama Trevor. Ia mendapatkan tugas dari gurunya, Eugene Simonet untuk membuat sebuah proyek yang mampu merubah atau berdampak baik bagi dunia agar menjadi lebih baik. Trevor mendapatkan sebuah ide yang sangat jenius, yaitu sebuah tindakan untuk membantu atau berbuat baik kepada tiga orang dengan tulus, baik dikenal maupun tidak. Masing-masing orang yang ditolong dapat membalas kepada tiga orang lainnya. Setiap orang yang menerima kebaikan diharapkan dapat meneruskan kepada orang lain.
Alur cerita dalam film Pay It Forward memang digambarkan tidaklah berjalan dengan mulus dan mudah. Untuk menjalanlan program tersebut, tokoh utama diperhadapkan dengan kekecewaan, kesedihan, bahkan konflik yang hampir membuatnya patah semangat. Namun dengan komitmen dan perjuangan yang keras, semuanya itu berbuah manis dan berdampak luas. Kebaikan yang dimulai dari Trevor, berdampak bagi beberapa orang yang telah menjalankannya. Menyelamatkan kehidupan, menghadirkan senyum dalam setiap kebaikan serta memberikan harapan yang berputus asa. Untuk meyakinkan program Pay It Forward mampu mengubah kehidupan menjadi lebih baik, Trevorpun rela sampai mati.
Isi
Jemaat terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, berdampak bagi sesama merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan beriman. Mengasihi sesama berarti sebuah hubungan yang terikat dengan kasih kita kepada Allah. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada para pemimpin Yahudi terkait hukum kasih. Mengasihi memang peristiwa yang mendasari sebuah relasi yang vertikal dan horisontal. Ketika manusia mengasihi Allah dengan sepenuh hati, kasih itu juga nyata bagi sesamanya. Bahkan ketika mengasihi sesama, pada saat itu juga manusia mengasihi diri sendiri. Allah tidak ingin manusia melukai dirinya sendiri dengan pertikaian, perselisihan, dan kebencian. Namun Allah berharap manusia dapat membasuh dirinya dengan belas kasih dan pengampunan. Sehingga iman tidak menjadi sesuatu yang hampa, akan tetapi menjadi suatu tindakan yang nyata. Hukum yang dinyatakan Tuhan Yesus meringkas hukum yang tertulis pada dua loh batu yang diterima Musa. Hukum itu menyatakan kewajiban manusia kepada Allah dan tanggung jawab kepada sesama.
Mengasihi memang butuh perjuangan dan pengorbanan. Seperti halnya yang tertulis dalam Ibrani 9:11-14. Damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus Kristus merupakan hal besar yang didasarkan pada pengorbanan-Nya. Penyucian yang nyata dalam kehidupan manusia diterimakan dengan jalan yang penuh dengan penderitaan. Tuhan Yesus didera, dicaci, dihina bahkan sampai mati di kayu salib. Ia datang sebagai Imam Besar yang menyatakan hal-hal baik. Darah-Nya mendatangkan pelepasan total oleh karena Roh Allah sendiri yang berkarya. Melalui darah Kristus manusia diperdamaikan dengan Allah. Hubungan yang telah rusak kembali pulih secara menyeluruh. Kehidupan yang tidak layak dilayakkan, sehingga kitapun diperkenankan beribadah kepada-Nya dengan hidup yang baru dan perjanjian yang baru.
Tuhan Yesus Kristus menggerakan hati umat supaya melakukan perihal yang sama dalam imannya. Memiliki kasih yang hidup dan membumi. Kasih yang berdampak bagi dunia. Oleh sebab itu, pada saat ini mari bersama kita merefleksikan panggilan kita masing-masing di hadapan Tuhan. Apakah iman kita menjadi iman yang hidup, ataukah menjadi iman yang hampa yang tidak berdampak apapun dalam kehidupan?
Hidup yang berdampak merupakan sebuah proses yang terus menerus diperjuangkan, sebab tidak ada proses yang instan. Butuh waktu, butuh ketelatenan, terlebih butuh komitmen yang teguh. Seperti halnya yang dilakukan oleh Trevor tokoh utama dalam film Pay It Forword. Tidak mudah untuk melakukan tindakan baik yang berdampak, memang iya! Namun tidak ada hal yang sia-sia jika bertujuan untuk sesuatu yang baik.
Penutup
Jemaat yang terkasih, dalam kitab Ulangan 6:1-9, melalui Musa, Allah mengingatkan bahwa setiap orang beriman agar memiliki tanggung jawab untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Terutama mengingatkan dan meneguhkan akan kasih Allah yang telah memberikan pertolongan. Ingatkanlah keluargamu, ingatkanlah anak-anakmu, ingatkanlah setiap pribadi yang kita sayangi bahwa Allah adalah yang utama dalam hidup kita. Supaya mereka berpegang teguh untuk mengasihi Allah sepanjang masa. Dan kasih itu berdampak bagi dunia.
Pada saat ini adalah pekan pemuda, tentunya kita diingatkan bahwa pemuda bukan hanya masa depan gereja akan tetapi mereka adalah kehidupan gereja pada masa kini. Mari dengan penuh kasih kita temani para generasi muda ini untuk memiliki arti dalam kehidupan persekutuan. Mari kita dukung mereka untuk berdampak bagi sesama manusia. Melalui pemuda kita percaya perubahan bisa terjadi, melalui pemuda kita percaya hal besar bisa terjadi. Selamat menjadi agen perubahan bersama kasih Allah. Amin. (ven).
Pujian: KJ. 67 : 1, 2 Hai Anak-anak Muda dan Belia
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Bapak, ibu, lan para sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti Yesus. Tiyang punika badhe dipun enget kaliyan tiyang sanes bilih piyambakipun punika nindakaken perkawis ingkang ageng salebeting gesangipun. Contonipun Thomas Alfa Edison ingkang lair tanggal 11 Pebruari 1947. Piyambakipun dipun enget tiyang kathah karana piyambakipun kagungan temuan-temuan ingkang migunani kangge gesangipun manungsa. Inggih punika lampu ingkang taksih kita damel ngantos sapunika. Conto sanesipun Ir. Soekarno ingkang lair tanggal 6 Juni 1901. Ir. Soekarno punika dipun enget tiyang sadonya minangka bapa Proklamator ingkang rekaos anggenipun ngupaya kamardikanipun Indonesia. Tamtu taksih kathah tokoh sanesipun sae ing donya lan Indonesia ingkang tansah dipun enget awit saking tumindak gesangipun ingkang migunani kangge kawontenaning gesang manungsa.
Supados tiyang punika saged dipun enget lan dipun kenal pancen betahaken prekawis ingkang ageng. Nanging gesang ingkang migunani kangge tiyang sanes boten kedah ngrantos prekawis ingkang ageng punika kawujud. Boten kedah kados Thomas Alfa Edison ingkang pinter sanget, boten kedah kados Ir. Soekarno ingkang kagungan panguwaos lan panderek utawi boten kedah nggadah bandha donya ingkang kathah cacahipun. Ingkang dipun betahaken namung tekad kangge makarya senajan punika sarana cara ingkang prasaja. Sarana tumindak gesang ingkang prasaja, tiyang punika saged migunani salebeting gesang. Kados ingkang kacariosaken ing Film “Pay It Forward” taun 2000, ingkang kapendet saking novel karanganipun Catherine Ryan Hyde.
Film punika nyariosaken lare umur 11 taun ingkang naminipun Trevor. Trevor angsal tugas saking gurunipun, Eugene Simonet damel proyek ingkang saged ngrubah utawi migunani kangge kawontenaning donya supados dados langkung sae. Trevos pikantuk ide ingkang sae inggih punika nindakaken tetulung utawi tumindak sae dhateng tiga tiyang kanthi tulus, saged ingkang dipun tepangi lan boten. Saben tiyang ingkang dipun tulung punika lajeng mbales nulung dhateng tiga tiyang sanesipun. Mekaten selajengipun, saben tiyang ingkang nampi kabecikan kedah nglajengaken kabecikan punika dhateng tiga tiyang sanesipun kanthi tulus.
Alur carios Film Pay It Forward punika gambaraken carios ingkang ewet lan rekaos. Kangge nindakaken proyek punika, Trevor ngraoasaken kuciwa, sedhih, konflik ingkang dadosaken piyambakipun badhe nglokro. Nanging sarana tekad lan upaya ingkang temen-temen, nuwuhaken kasil ingkang sae lan saged migunani kangge tiyang kathah. Tumindak becik ingkang dipun wiwiti saking Trevor punika betha dampak ingkang sae ugi kangge tiyang ingkang nindakaken proyek punika. Punapa ingkang dipun tindakaken Trevor punika nuwuhaken kawilujengan gesang, nuwuhaken kabecikan sarta nuwuhaken pengajeng-ajeng kangge tiyang ingkang nglokro. Kangge nyakinaken program Pay It Forward punika saged ngrubah gesang tiyang sanes langkung sae, Trevor nindakaken kanthi tulus ngantos pejah.
Isi
Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti Yesus. Gesang migunani kangge sesami punika boten kenging kapisah kaliyan gesang ing pitados/ iman. Nresnani dhateng sesami punika tegesipun kita ugi nresnani dhumateng Gusti Allah. Kados ingkang dipun dawuhaken Gusti Yesus dhateng para imam Yahudi prekawis angger-angger katresnan. Katresnan punika dados landesan hubungan kaliyan Gusti Allah (vertical) lan hubungan kaliyan sesami (horizontal). Nalika kita nresnani Gusti Allah kanthi gumolonging manah, tresna kita punika ugi nyata kangge sesami kita. Nalika kita nresnani sesami, punika ateges kita ugi nresnani kawontenan kita piyambak. Gusti Allah boten marengaken manungsa punika cidra karana pasulayan, padu, lan benci dhateng sesaminipun. Gusti Allah tansah ngajeng-ajeng manungsa punika kebak ing sih katresnan lan sih pangapunten. Sarana tumindak ingkang mekaten iman kapitadosan kita punika saestu dados tumindak ingkang nyata. Angger-angger katresnan ingkang dipun wucalaken Gusti Yesus punika ngringkes angger-angger sedasa perkawis ingkang dipun tampi dening Nabi Musa. Sarana angger-angger katresnan punika, kita kagungan kwajiban lan tanggeljawab dhumateng Gusti Allah lan sesami.
Nresnani punika tumindak ingkang kedah kita upaya kanthi temen, kados ingkang kaserat ing kitab Ibrani 9:11-14. Gusti Yesus anggenipun maringi tentrem rahayu dhateng kita punika adedasar pengorbananIpun ingkang ageng kangge kita. Kawilujengan ingkang kita tampi saking Gusti Yesus punika, kita tampi karana Gusti Yesus nandhang kasangsaran. Panjenenganipun dipun kuya-kuya, dipun fitnah, dipun siksa ngantos pejah ing kajeng salib. Gusti Yesus rawuh minangka Imam Agung ingkang nedahaken bab-bab kabecikan. Rah-ipun dadosaken kita uwal saking bebenduing dosa, punika karana pakaryaning Gusti Allah. Lumantar Rah-ipun Gusti Yesus Kristus, manungsa karukunaken malih kaliyan Gusti Allah. Hubungan ingkang waunipun risak sapunika kapulihaken malih. Kita ingkang waunipun boten pantes ing ngarsanipun Gusti Allah, sapunika dipun parengaken marek sowan ngabekti dhumateng Gusti Allah sarana gesang enggal lan prajanjian enggal.
Gusti Yesus nimbali para umatipun supados nindakaken katresnan salebeting iman kapitadosanipun, tansah kagungan katresnan ingkang nyata salebeting gesang. Katresnan ingkang migunani kangge sesami. Awit saking punika, wekdal punika mangga kita sami ningali malih timbalan kita wonten ngarsanipun Gusti Allah. Punapa iman kita saged dados iman ingkang gesang, punapa dados iman ingkang mati, ingkang boten wonten ginanipun salebeting gesang?
Gesang ingkang migunani punika proses ingkang kedah dipun upaya sanes proses ingkang instan. Sedayanipun mbetahaken wekdal, kasabaran, lan tekat ingkang kiyat. Kadosdene ingkang dipun tindakaken Trevor ing Film Pay It Forword, boten gampang kangge nindakaken tumindak sae ingkang migunani. Nanging boten wonten ingkang badhe mokal bilih sedaya tumindak punika nggadahi tujuan kangge nindakaken kabecikan.
Panutup
Pasamuwan ingkang dipun tresnani dening Gusti. Ing kitab Pangandaring Toret 6:1-9, lumantar Musa, Gusti Allah ngengetaken bilih saben tiyang pitados punika kagungan tanggeljawab kangge ngengetaken ing kabecikan. Langkung-langkung ngengetaken bab sih katresnanipun Gusti Allah ingkang tansah maringi pitulungan dhateng manungsa. Pramila swawi kita ngengetaken brayat kita, ngengetaken anak-anak kita, ngengetaken sedaya tiyang ingkang kita tresnani bilih Gusti Allah punika ingkang utami kangge gesang kita. Tujuanipun supados sedaya ingkang kita engetaken punika tansah rumaket lan nresnani Gusti Allah saklampah gesangipun. Sarana punika piyambakipun saged migunani kangge sesami.
Dinten Minggu punika dipun wastani Pekan Pemuda. Karana punika kita dipun engetaken malih bilih Pemuda punika boten namung mangsa ing ngajeng kangge greja nanging pemuda punika inggih gesanging greja kangge mangsa sapunika. Mangga kanthi kebak katresnan, kita nyarengi para pemuda punika supados kagungan arti salebeting gesang ing patunggilan punika. Mangga kita dukung pemuda punika, supados saged gesang migunani kangge sesami. Lumantar pemuda, kita pitados badhe wonten perubahan, lumantar pemuda kita pitados perkawis ingkang ageng badhe kelampahan. Sugeng dados agen perubahan sinarengan katresnanipun Gusti Allah. Amin. (terj. AR).
Pamuji: KPJ. 380 : 1, 2 Mara Kanca – Mudha Kristen