Ilmu Kanthong Bolong Khotbah Minggu 7 November 2021

25 October 2021

Minggu Biasa – Pembukaan Bulan Budaya
Stola Hijau

Bacaan 1: 1 Raja raja 17 : 8 16
Bacaan 2:
Ibrani 9: 24 28
Bacaan 3:
Markus 12 : 38 44

Tema Liturgis: Melestarikan Hidup dengan Budaya Toleransi dan Saling Berbagi
Tema Khotbah:
Ilmu Kanthong bolong

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

1 Raja raja 17 : 8 16
Ahab dan Elia, keduanya adalah umat Tuhan, tetapi berbeda dalam ketaatan. Ahab, raja Israel, telah mengalami pertolongan Tuhan dalam peperangan. Akan tetapi, ia tetap tidak taat. Sedangkan Elia taat menyuarakan penghukuman Allah, meski taruhannya adalah nyawanya. Ahab tetap menyembah Baal, dewa pemberi hujan dan kesuburan. Maka lewat Elia, Allah menyatakan kuasa-Nya, yaitu hujan dan embun tidak akan turun sampai Elia mengatakannya (ay. 1). Ini mengakibatkan kerajaan Israel terancam masa kekeringan yang berlanjut dengan masa paceklik. Melalui masa kekeringan ini Ahab dapat melihat siapakah yang sesungguhnya berkuasa atas alam semesta, Allah atau Baal. 

Elia yang taat dilindungi oleh Allah secara ajaib. Allah memerintahkan Elia agar bersembunyi di tepi Sungai Kerit (ayat 2-3). Ia terpelihara dari bencana yang melanda negerinya karena minum air Sungai Kerit dan memperoleh makanan dari burung gagak yang mengantarnya setiap hari (ayat 4-6). Saat air sungai kering, Allah melanjutkan pemeliharaan-Nya melalui seorang janda di Sarfat (ayat 7-10). Janda ini hanya memiliki persediaan makanan yang terakhir untuk dia dan anaknya (ayat 11-12). Akan tetapi, karena taat maka ia melakukan permintaan Elia sehingga janda itu dan anaknya terpelihara (ayat 13-15). Allah memelihara hidup keluarga janda di Sarfat ini secara ajaib (ayat 16). Bahkan anak janda yang mati karena sakit keras, dihidupkan kembali oleh Allah (ayat 17-24).

(sumber: http://alkitab.sabda.org/commentary)

Ibrani 9 : 24 28
Dosa adalah masalah yang sangat serius sehingga hanya Allah yang dapat menyelesaikannya secara tuntas. Dalam ritual Perjanjian Lama, pengudusan dilakukan dengan memakai darah binatang sebagai kurban yang dipercikkan pada kemah suci, perabotan, dan orang-orang di dalam kemah itu. Sesungguhnya dosa harus diselesaikan dengan persembahan darah kurban yang lebih mulia, yaitu darah Kristus sendiri. Oleh karena itu, Allah mengutus Kristus untuk menyelesaikan dosa, yakni dengan mewakili manusia berdosa di hadapan-Nya (ayat 24). Kelebihan Kristus dibandingkan imam besar keturunan Harun adalah Ia mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya sebagai kurban penghapusan dosa yang menghasilkan keselamatan (ayat 25-28a). Dengan pengurbanan-Nya itu, Ia bukan masuk ruang Maha Kudus, di Bait Allah, tetapi Ia masuk ke surga dan menyebabkan orang yang percaya kepada-Nya layak untuk masuk surga. Sekarang, anak-anak Tuhan sedang mencicipi sebagian dari berkat keselamatan itu. Kelak pada saat Kristus datang kedua kali, mereka akan menikmati keselamatan secara penuh (ayat 28b). (sumber: http://alkitab.sabda.org/commentary)

Markus 12 : 38 44
Sungguh kontras gambaran dua figur dalam bacaan hari ini. Figur pertama adalah ahli-ahli Taurat. Mereka adalah gambaran pemimpin agama yang lebih suka bersikap sebagai tuan daripada sebagai hamba (ayat 38-39). Doa-doa mereka yang panjang mengesankan bahwa mereka adalah orang saleh. Mereka berpura-pura dekat dengan Allah, tetapi sesungguhnya mereka sedang mencari simpati orang lain. Mereka juga suka mengambil harta janda-janda miskin.

Ini sangat kontras dengan figur kedua, yaitu seorang janda. Ia sangat miskin sehingga hanya bisa memberikan persembahan sebesar dua peser. Namun Yesus menghargai pemberian si janda. Mengapa? Karena walau ia hanya punya uang sejumlah dua peser, tetapi ia mau memberikan kedua-duanya. Padahal bisa saja ia menyimpan satu peser untuk dirinya sendiri, tak ada orang yang akan tahu. Namun bagi si janda, kemiskinan tidak menghalangi dia untuk mengungkapkan syukur dan penyerahan diri yang bulat kepada Tuhan. Iman dan cintanya kepada Tuhan utuh dan penuh.

Melalui tindakan si janda, Yesus mengajarkan bahwa nilai sebuah persembahan bukan ditentukan semata-mata oleh jumlah, melainkan oleh motivasi dan hati si pemberi. Inilah yang membuat persembahan si janda jadi bernilai. Ia melepaskan diri dari segala miliknya dan melupakan semua kebutuhannya untuk menyatakan bahwa ia dan semua miliknya adalah kepunyaan Tuhan (ayat 42-44). Melalui kisah si janda, Yesus bagai menantang anggapan bahwa memberi persembahan dalam jumlah banyak bisa dilakukan bila kita memiliki banyak uang. Si janda mematahkan anggapan itu. Ia hanya mempersembahkan sedikit uang, tetapi menurut Yesus ia mempersembahkan lebih banyak daripada semua orang. (ayat 43).

(sumber: http://alkitab.sabda.org/commentary)

Benang Merah Tiga Bacaan
Tiga bacaan kali ini menyuguhkan makna memberi di dalam kehidupan ini. Seberapapun didapati resikonya, memberi merupakan hal yang sangat mulia dan terpuji, jika pemberian itu juga didasari oleh semangat mengasihi. Dengan semangat tolong-menolong dan berbagi, hal itu sudah memberi sumbangsih terbesar untuk merawat kehidupan bersama dalam ruang semesta.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Salam budaya, mengawali Bulan Budaya hari ini, ijinkan saya mengajak saudara-saudara untuk sejenak mengenal atau mengingat kembali seorang tokoh yang bernama Raden Mas Panji Sosrokartono (R.M.P. Sosrokartono) kakanda dari R.A Kartini. Dari R.M.P Sosrokartono kita mengenal yang disebut Ilmu Kanthong bolong. Dia menulis:

“Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, kanthong.

Yen ana isi lumuntur marang sesami.”

yang memiliki arti membantu atau menolong sesama manusia, tidak perlu memikirkan perihal waktu, perut, atau kantong saku, jika isinya memang ada dapat disalurkan pada sesama.

Isi
Inti ajaran ilmu kanthong bolong menganjurkan kita untuk menolong sesama hidup, sehingga dapat meminimalisir sikap egois dalam diri kita masing-masing. Selain itu, suka menolong sesama, menjadikan kita manusia dengan penuh perhatian dan tidak berlebihan dalam mementingkan diri sendiri.

Ilmu kanthong bolong mengajarkan kita untuk tidak berlaku egois. Hal ini dijelaskan Sosrokartono, bahwa diri sendiri jika dikesampingkan dan menempatkan sesama manusia sebagai pusat perhatian, maka manusia menjadi kosong sama seperti kantongnya. Kosong di sini berarti suatu keadaan yang dapat ditafsirkan sebagai kosong dari segala gairah dan nafsu untuk menempatkan diri pada pusat dunia. Sehingga, akan terbentuk diri yang meletakan sesama manusia pada hati nuraninya (altruis). Lan saben wong aja mung mikir marang kabutuhane dhewe, nanging elinga uga marang kabutuhaning liyan. (Filipi 2:4).

Maknanya adalah orang yang selalu nulung marang sesama”. Seperti ibarat kanthong yang bolong, maka apapun yang masuk ke dalam kantong yang diterima dari limpahan anugerah Tuhan, akan mengalir terus kepada sesama. Be blessed to blesssing. Diberkati untuk menjadi berkat. Itulah cita-cita GKJW dalam tema PPJP (Program Pembangunan Jangka Panjang)nya selama 18 tahun yang dimulai 2016 – 2034. “Mandiri dan Menjadi Berkat”. Ilmu kanthong bolong adalah ilmu tentang kedermawanan dan keikhlasan. Orang yang menguasai ilmu kanthong bolong tidak akan pernah takut dan bersedih. Sebab ia sudah sampai pada tataran keyakinan bahwa hidupnya adalah sebagai sarana, saluran atau talang berkah bagi sesamanya untuk memenuhi panggilan dan kehendak Tuhan. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).

Menerapkan ilmu kanthong bolong tidaklah mudah, apalagi jika hidup tertutupi oleh ego dan nafsu pribadi yang berlebihan, maka yang terjadi orang akan sering menutup kantong. Kantongnya penuh, tetapi pikiran dan perasaan kasihnya kepada sesama kosong. Kita diajar oleh Tuhan Yesus Kristus, yang menunjukkan kita akan manifestasi kasih Allah melalui diri-Nya, sampai-sampai Ia harus mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Filipi 2:7). Kristus harus mengosongkan diri-Nya untuk mengasihi kita, hingga mencurahkan darah-Nya sendiri untuk dunia (Ibrani 9:25), tidak seperti Imam Besar Israel yang mencurahkan darah (bukan darahnya sendiri) tetapi darah binatang. Artinya masih ada obyek penderita yang lain untuk sebuah pencurahan darah. Tetapi Kristus sebagai subyek sekaligus obyek yang mencurahkan darah-Nya sendiri untuk kita. Betapa tidak murahnya, darah Yesus Kristus, Sang Penebus dosa dunia.

Dalam Kisah Elia dan janda di Sarfat kita diajak untuk menghayati bahwa tindakan berbagi tidak harus berangkat dari kecukupan dan kesempurnaan, tetapi tindakan berbagi bisa berangkat dari kesederhanaan bahkan kekurangan. Sering orang berasumsi untuk menjadi kaya dulu, baru orang bisa memberi dan berbagi. Jangan-jangan hal itu merupakan obsesinya sendiri, yang sesungguhnya bukan tekanan memberi dan berbaginya yang diprioritaskan, tetapi kayanya dulu.

Kisah janda miskin dalam bacaan Injil hari ini, juga mengingatkan kita bahwa tindakan memberi dan berbagi, termasuk memberi persembahan tidak selalu berangkat dari hal mudah, berangkat dari sebuah keberhasilan, kesuksesan, berlimpah rejeki, banyak uang dan tabungan, tetapi tindakan memberi dan berbagi bisa berangkat dari sebuah kesederhanaan, bahkan kekurangan sekalipun.

Seringkali orang malu untuk datang kebaktian karena hal-hal teknis, misalnya tidak memiliki persembahan, baju lusuh, tidak punya sandal atau sepatu yang pantas, dsb. Ingat Tuhan tidak dapat kita tipu sedemikian rupa karena hal-hal yang sebenarnya kita rekayasa dan kita pupuri menurut ukuran lahiriah kita sendiri. Bukan berarti hal yang lahiriah tidak penting, tetapi sesungguhnya, Tuhan melihat hati kita, Ia melihat motivasi kita, Ia menyelidiki hati kita untuk tidak takut datang kepada-Nya, tetapi merdekalah dengan apa yang kita punya dan miliki, karena bagaimanapun hal itu adalah bagian dari bentuk pemeliharaan Tuhan yang sungguh utuh di dalam kehidupan kita. Tidak perlu menghindar dan menjauh dari hadapan Tuhan, ketika yang lahir itu belum ada pada diri kita.

Penutup
Ibu Theresia, Biarawati legendaris yang melayani di wilayah Kalkuta, India mengatakan “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love”. (Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil dengan penuh cinta). Jika kita tidak dapat melakukan/ memberi/ berbagi dengan nilai yang besar, kita dapat melakukan hal pemberian yang mungkin nilainya kecil sekalipun dengan cinta yang besar. Hal ini bukan berarti dalam kita memberi, kita lakukan ala kadarnya, namun semua itu juga harus realistis. Kalau Tuhan menganugerahkan kita perkara besar dalam hidup kita, maka sudah sepatutnya pula kita belajar setia melakukan perkara-perkara yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita sesuai kapasitas yang Tuhan berikan.

Maka marilah sikap toleransi dan berbagi dengan semangat menghayati ilmu kanthong bolong ini juga menjadi semangat gereja, semangat kita semua untuk sangkul-sinangkul ing bot repot. Baik dalam hidup bergereja juga dalam kehidupan dengan segala tantangan dan kesulitan guna merawat kehidupan yang saling menghidupkan, dengan kerelaan untuk bertoleransi dan mau berbagi. Tuhan memberkati. Amin. (pong).

 

Pujian: KJ. 338 Marilah, Marilah Hai Saudara


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Salam budaya, miwiti wulan budaya dinten punika, kepareng kula ngaturi panjenengan sedaya sawetawis wekdal ngengeti lan nepungi salah sawijinipun tokoh ingkang asmanipun RMP. Sosrokartono, kakangipun RA. Kartini. Saking RMP. Sosrokartono kita sinau bab ilmu kanthong bolong. Wiwitanipun, ilmu kanthong bolong punika dipun lairaken dening RMP. Sosrokartono. Piyambakipun nyerat:

“Nulung pepadhane, ora nganggo mikir wayah, wadhuk, lan kanthong.

Yen ana isi lumuntur marang sesami.”

Isi
Intisari piwulang ilmu kanthong bolong punika ngatag kita supados remen tetulung lan ngirangi sikep egois ing sajroning dhiri kita piyambak-piyambak. Sanjawinipun punika, sikep remen tetulung punika ndadosaken kita dados manungsa ingkang remen migatosaken liyan lan boten kebat kliwat anggen kita mikiri kawontenanipun dhiri kita pribadi.

Ilmu kanthong bolong ngajak kita supados boten asikep egois, namung mikir butuhe dhewe. Ilmu kanthong bolong mucal kangge kita supados boten tumindak egois. Bab punika RMP. Sosrokartono njlentrehaken menawi diri pribadi punika boten dipun gumunggung, lan mapanaken liyan punika langkung utami, tiyang punika saged suwung kadosdene suwung kanthongipun. Suwung punika ateges rumaos boten aji lan boten mapanaken diri dados punjer, nanging mapanaken sesami wonten ing salebeting manahipun (altruis). lan saben wong aja mung mikir marang kabutuhane dhewe, nanging elinga uga marang kabutuhaning liyan (Filipi 2:4).

Tegesipun, tiyang ing demen aweh pitulung, kadosdene kanthong bolong. Mila, punapa kemawon ingkang mlebet saking berkahipun Gusti, badhe mili dhateng sesami. Be Blessed to Blessing. Diberkahi supaya andum berkah. Kados punika angkahipun GKJW ing salebetipun tema PPJP selami 18 taun ingkang kawiwitan tahun 20162034. Ilmu kanthong bolong punika paring piwucal supados gesang kita dados berkah. Tiyang ingkang nguwasani ilmu kanthong bolong boten badhe ajrih lan susah. Awit piyambakipun sampun dumugi pamanggih bilih gesangipun punika minangka dados sarana, saluran utawi talanging berkah kagem sesami kangge nuhoni timbalan lan karsanipun Gusti.

Mujudaken ilmu kanthong bolong punika boten gampil, punapa malih menawi manah kita kaling-kalingan ego lan nepsunipun pribadi ingkang linuwih, tiyang badhe asring nutupi kanthongipun. Kanthongipun kebak, nanging dipun tutupi. Kita kaparingan piwucal dening Gusti Allah lumantar Sang Kristus Yesus, ngantos-antos Gusti Yesus karsa nyuwungake sarirane piyambak, lan ngagem sipating abdi, sarta wus dadi padha karo manungsa. (Filipi 2:7), Sarta Panjenengane ora mlebet prelu bola-bali ngurbanake sarirane piyambak, kayadene Imam Agung kang saben taun lumebet ing pasucen ngasta getih kang dudu rahe piyambak (Ibrani 9:25). Boten kados Imam Agung Israel ingkang sampun mutahaken rah (sanes rahipun piyambak) nanging getihipun kewan korban. Ateges taksih wonten sasaran kangge mutahaken rah. Ananging Gusti Yesus Kristus minangka subyek lan obyek, ingkang sampun mutahaken Sariranipun piyambak kangge gesang kita. Saiba punika boten mirah, napa malih mirahan, rahipun Gusti Yesus, juru wilujeng kita.

Ing salebetipun cariyos Elia lan randa Sarfat, kita kaatag menawi kita remen andum berkah, boten kedah nengga sarwi cekap lan sampurna, ananging sikep remen aweweh punika saged kawiwitan sacara prasaja, malah-malah kacingkrangan. Asring tiyang punika nggadhahi pamanggih kedah sugih bandha rumiyin lajeng tiyang saged andum berkah. Sampun ngantos punika namung pamanggih klentu kita, ingkang sejatinipun sanes andum berkahipun ingkang dados prekawis utami, nanging sugihipun rumiyin.

Cariyos randha miskin ing waosan Injil dinten punika, ugi ngengetaken kita bilih sikep remen andum, kalebet ngaturaken pisungsung boten ateges kawiwitan saking bab ingkang sekeca, kasil, sukses, rejeki nomplok, kathah simpenan, ananging bab andum berkah punika saged kawiwitan saking bab ingkan prasaja, sanajan ta taksih wonten ing salebetipun kawontenan ingkang cingkrang paribasanipun.

Asring tiyang punika lingsem/ isin menawi badhe ngabekti karana bab ingkang teknis, kados ta boten nggadhah pisungsung, rasukan ingkang sampun pucet werninipun, boten gadhah sandal utawi sepatu ingkang pantes, lsp. Gusti sejatinipun boten kenging kita bujuki sarana bab-bab ingkang sejatinipun punika namung rekayasa lan sewates pupur kemawon. Gusti mirsani manah kita, supados kita boten ajrih sowan dhateng Gusti, ananging kanthi manah ingkang mardika srana punapa ingkang kita gadhahi, awit kadosa pundi, sedaya punika wujuding peparingipun Gusti ingkang wetah ing sajroning gesang kita. Boten perlu kita ngedoh saking Gusti, menawi ta bab prakara lair punika dereng saged kadunungan ing kita.

Panutup
Ibu Theresia, salah satunggiling biarawati ingkang sinuwur, ingkang leladi ing tlatah Kalkuta, India nate dhawuh: Ora kabeh manungsa bisa nglakoni bab-bab kang gedhe, ananging awake dhewe bisa nglakoni perkara kang prasaja kadhasaran rasa tresna kang gedhe.” Menawi kita dereng saged aweweh srana prakara kang gedhe, kita saged aweweh senajan ta prakara prasaja, ananging kadhasaran tresna kang gedhe. Punika boten ateges kita aweweh sak geleme. Menawi Gusti sampun maringaken perkara kang pantes ing salebeting gesang kita, sampun sakmesthinipun anggen kita ngaturaken ugi kadhasaran kapantesan lan ugi tetep kadhasaran tresna lan bekti kita marang Gusti Allah.

Pramila, sumangga semangat sikep toleransi lan remen aweweh srana semangat ilmu kanthong bolong punika dados semangatipun greja, semangat sangkul-sinangkul ing bot repot, sae ing gesangipun pasamuwan, mekaten ugi ing sajroning gesang kanthi sedaya tantanganipun kanthi tujuan ngrimati lan nglestantunaken gesang sarana sikep tepa slira lan remen aweweh. Gusti mberkahi. Amin. (pong).

 

Pamuji: KPJ. 339 Iba Denya Mbingahaken

 

 

Renungan Harian

Renungan Harian Anak