Bacaan: Yeremia 3 : 6 – 14 ǀ Pujian : KJ. 353 : 1, 4
Nats: “Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka selama-lamanya. Hanya akuilah kesalahanmu … ” (Ayat 12b-13a).
Pernahkah kita menjumpai ada orang yang melanggar rambu lalu lintas tetapi bersikap galak kepada aparat kepolisian yang mencoba menindaknya? Seringkali orang yang demikian justru memusuhi polisi lalu lintas. Dari situ kita bisa melihat kecenderungan manusia yang sulit mengakui kesalahannya. Mengakui kesalahan dan dosa memang tidak mudah. Seringkali kita lupa bahwa tak satu pun yang kita lakukan itu tersembunyi di hadapan Tuhan. Bahkan Tuhan tahu apa yang ada dalam pikiran dan perasaan kita. Mengakui kesalahan dan dosa memang perlu kerendahan hati sekaligus keberanian. Dimanakah posisi kita saat ini? Kita termasuk yang suka menyembunyikan kesalahan atau rendah hati berani mengakui kesalahan kita?
Bacaan kita menerangkan betapa Tuhan itu mengasihi orang berdosa. Yeremia menyaksikan bahwa Tuhan itu murah hati. Secara logika manusia, pihak yang telah dikhianati, pihak yang diduakan akan marah, namun sebaliknya yang dilakukan oleh Tuhan. Tuhan justru meminta orang yang bersalah untuk kembali dan mengakui kesalahannya. Ada satu kata kunci yang ditekankan di sini, yakni sebuah pengakuan. Israel dan Yehuda telah melawan Tuhan dengan menyembah kepada batu dan kayu. Bahasa yang dipakai Yeremia adalah sundal. Israel dan Yehuda sudah menduakan Tuhan. Suatu perbuatan kotor yang menyakitkan hati Tuhan, namun Tuhan justru memberikan undangan pertobatan kepada mereka. Sungguh Dia adalah Tuhan yang murah hati, hanya satu permintaan-Nya, yakni rendah hati dan berani mengakui kesalahan dan dosa yang sudah diperbuat.
Bulan ini kita sedang menghayati Bulan Ekumene, dengan sebuah tema “Hidup Bersama dalam Kepedulian”, mari bersama kita terapkan semangat pengakuan dosa. Rendah hati dan berani mengakui sebuah kesalahan diri sendiri, dengan tidak mencari-cari kesalahan orang lain atau sibuk mencari kambing hitam. Justru dalam kebersamaan kita saling mengingatkan menuju hidup kudus di hadapan Tuhan. Dalam kebersamaan, kita saling mendukung dan menopang supaya bersama-sama hidup dalam kejujuran. Yang jujur harus mempertahankan hidup bersih di hadapan Tuhan. Yang bersalah berani mengakui kesalahannya, karena Tuhan kita adalah murah hati, yang menghendaki kita mengakui kesalahan dan dosa kita di hadapan-Nya. Amin. [Life].
“Orang yang suka menyembunyikan kesalahannya adalah orang yang munafik.”