Membangun Sikap dan Perilaku yang Taat Kepada Allah Khotbah Minggu 29 Agustus 2021

16 August 2021

Minggu Biasa – Penutupan Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1: Ulangan 4 : 1 – 2, 6 – 9
Bacaan 2:
Yakobus 1 : 17 – 27
Bacaan 3: Markus 7 : 1 – 8, 14 – 15, 21 – 23

Tema Liturgis: Bersedia, Berkarya, dan Bersinergi Membangun GKJW sebagai Perwujudan Taat kepada Allah”
Tema Khotbah: Membangun Sikap dan Perilaku yang Taat kepada Allah.

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Ulangan 4 : 1 – 2, 6 – 9
Di bagian ini nabi Musa menasehati bangsa Israel agar mereka menaati hukum-hukum perintah Allah yang diajarkannya kepada mereka. Ketaatan mereka kepada hukum-hukum perintah Allah itu akan membangun kehidupan mereka. Dengan begitu:

  • Mereka akan hidup dan tinggal diam dengan damai di tanah perjanjian,
  • Mereka akan memperoleh kebijaksanaan,
  • Mereka akan hidup dalam keadilan,
  • Mereka akan menjadi bangsa yang besar, bukan jumlahnya tetapi besar dalam spiritualitas dan kwalitas hidupnya,
  • Allah akan selalu dekat dan menolong mereka setiap kali mereka berseru minta tolong kepadaNya.

Yakobus 1 : 17 – 27
Yakobus memberitahukan kepada para pembaca suratnya bahwa hukum-hukum Allah itu sempurna dan berkuasa menyelamatkan manusia. Karena itu, mereka diingatkannya supaya melakukan hukum-hukum Allah itu secara nyata, murni, dan keseluruhan, bukan hanya suka mendengarkan atau mengatakannya saja. Intinya adalah membuang segala sikap dan perilaku yang kotor dan jahat. Contohnya: beribadah dengan mengekang diri dan memperhatikan serta menolong anak-anak yatim piatu dan janda-janda yang hidup susah. Kesukaan melakukan hukum-hukum Allah akan mendatangkan kebahagiaan dalam kehidupan.

Markus 7 : 1 – 8, 14 – 15, 21 – 23
Orang-orang Farisi dan ahli Taurat menganggap murid-murid Yesus najis karena mereka makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Mencuci tangan sebelum makan adalah adat istiadat nenek moyang orang Yahudi. Bahkan mereka juga wajib mencuci tangan sepulang dari pasar, karena di pasar mereka masuk ke dalam kerumunan berbagai macam orang, termasuk orang-orang yang dianggap najis karena bukan Yahudi atau orang-orang berdosa. Adat istiadat itu diberlakukan bukan sekedar sebagai tradisi, melainkan diberlakukan sebagai hukum agama. Sehingga, siapa yang tidak menaatinya atau melanggarnya dianggap najis, sama dengan melanggar hukum agama.

Sebaliknya Yesus menganggap mereka sebagai orang-orang munafik, karena mereka mentaati adat istiadat leluhur mereka, tetapi mereka mengabaikan perintah Allah. Mereka rajin sekali beribadah dan memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka, tetapi mereka tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Contohnya menghormati ayah dan ibu. Tuhan menghendaki sikap dan perilaku utama menaati perintah-perintah Allah.

Kemudian Yesus mengajarkan kepada banyak orang bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh tidak dapat menajiskan/ mencemari/ mengotori hidup seseorang. Yang menajiskan adalah justru yang keluar dari dalam tubuh seseorang. Yang menajiskan hidup seseorang adalah segala pikiran jahat, berbagai-bagai hawa nafsu, niat mencuri dan membunuh, keserakahan, iri hati, kesombongan, kejengkelan, kecerobohan. Semuanya itu berasal dari dalam hati seseorang.

Benang Merah Tiga Bacaan:
Ketiga bacaan di atas berbicara tentang pentingnya sikap dan perilaku menaati perintah Allah.

 

Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Ada banyak tradisi yang dimiliki suku bangsa yang dikehendaki untuk dipatuhi oleh semua masyarakat. Supaya orang mematuhinya, sering tradisi itu ditambahi dengan intimidasi. Misalnya tradisi Jawa yang melarang orang hamil duduk di pintu. Jika dilanggar, bayi yang akan lahir itu nanti mulutnya akan jadi selebar pintu. Kalau mulutnya saja selebar pintu, lalu seberapa besar bayinya? Larangan itu tentu baik, sebab pintu itu memang jalan orang keluar masuk; sementara pintu pasti jalan yang cukup sempit. Contoh lain misalnya: anak kecil dilarang keluar rumah pada waktu petang menjelang malam. Jika dilanggar, anak itu akan digondhol gendruwo (hantu). Petang menjelang malam adalah waktu bagi anak-anak dan semua orang untuk mandi dan kemudian makan.

Isi
Orang-orang Yahudi menghendaki tradisinya dipatuhi oleh semua orang Yahudi. Salah satu tradisi itu adalah mencuci tangan sebelum makan dan sepulang dari pasar. Tradisi itu pada dasarnya adalah baik untuk dilakukan demi kebersihan dan kesehatan badan. Namun orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menghendaki supaya tradisi itu sangat dipatuhi. Untuk itu, tradisi itu ditambahi ketetapan bahwa barangsiapa melanggarnya dianggap najis secara agamis. Najis maksudnya adalah hidup seseorang kotor lahir batinnya, sehingga tidak layak di hadapan Tuhan. Jadi, tradisi itu dikokohkan dan ditetapkan sebagai hukum agama supaya orang takut melanggarnya.

Tuhan Yesus menghendaki ketaatan manusia utamanya kepada perintah-perintah Allah. Perintah-perintah Allah adalah ketetapan yang harus ditaati untuk membangun mental dan spiritualitas, membangun sikap, dan perilaku yang mulia. Sedangkan tradisi adalah ajaran yang dibiasakan untuk dilakukan demi kebaikan, terutama secara lahiriah. Tradisi bisa menjadi sarana dan alat perintah Allah. Karena itu, perintah Allah tidak boleh disisihkan dan diabaikan demi mematuhi suatu tradisi. Sebaliknya, mematuhi tradisi harusnya adalah untuk mentaati perintah-perintah Allah. Tradisi perlu dipegang dan dipatuhi untuk membangun mental dan spiritualitas, untuk membentuk sikap dan perilaku mulia yang sesuai dengan perintah dan kehendak Allah.

Ketaatan kepada perintah Allah akan menjadikan manusia hidup dan tenteram, memperoleh kebijaksanaan, mengalami keadilan dan meningkatkan kualitas kehidupan. Allah selalu dekat dan siap menolong setiap orang yang menaati perintah-perintahNya (lih. Bacaan 1). Bahkan Yakobus menegaskan – dalam bacaan 2 (Yak. 1:17-27) – bahwa ketaatan kepada Allah akan mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Sebab, hukum perintah Allah itu sempurna. Sehingga, dia juga mengingatkan dan mendorong semua orang percaya untuk menaati atau melakukan perintah-perintah Allah, bukan hanya suka mendengarkan firman Tuhan, melainkan menjadi pelaku firman.

Menaati perintah-perintah Allah tidak cukup dilakukan secara lahiriah atau dalam wujud perkataan dan perbuatan yang kelihatan baik dan benar. Ketaatan itu harus lahir batin, mulai dari dalam hati sampai mewujud ke dalam perkataan dan perbuatan yang baik dan benar. Perkataan dan perbuatan yang baik belum tentu berasal dari hati dan pikiran yang baik dan bersih. Jika demikian, perkataan dan perbuatan yang buruk hampir pasti berasal dari hati dan pikiran yang kotor. Perkataan dan perbuatan yang nampak baik sedangkan hati dan pikirannya kotor adalah sebuah kemunafikan. Tuhan Yesus mengecam kemunafikan (Mrk. 7:6). Hati dan pikiran yang serik (kotor) akan melahirkan kemunafikan. Hati dan pikiran yang bersih dan murni akan melahirkan kejujuran dan perbuatan yang mulia, melahirkan ketaatan yang sesungguhnya. Karena itu, yang sangat penting adalah membangun dan membentuk hati dan pikiran yang bersih dan niat yang murni.

Penutup
Demikianlah kita semua baik sebagai pelayan dan warga jemaat GKJW harus terus membangun diri dan gereja kita untuk mewujudkan ketaatan yang sesungguhnya. Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja dan kita anggota tubuhNya tentu tidak menghendaki adanya dan apalagi banyaknya pelayan dan warga yang munafik. Karena itu, kita semua harus membangun dan membentuk spiritualitas yang mantap, mental yang kuat, hati dan pikiran yang bersih serta niat yang murni. Kita harus melakukan pembangunan ini kepada anak-anak kita, pemuda-pemudi kita, keluarga kita, dan bahkan kepada warga lanjut usia. (Ketahuilah bahwa Majelis Agung GKJW mempunyai rumah retreat “Kori Menga” di Pujon-Batu yang menawarkan kepada semua warga GKJW program “Retreat HUT Keluarga” pada setiap bulan! Keluarga yang berminat, silahkan mendaftar!) Dengan ketaatan lahir batin kepada perintah-perintah Allah, kita sendiri-sendiri dan sebagai gereja (GKJW) membangun kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang maju.

Bulan Pembangunan GKJW hari ini ditutup. Namun, ini tidak berarti pembangunan GKJW sudah berakhir dan selesai. Pembangunan GKJW harus terus dilaksanakan. Sebab, Bulan Pembangunan ditetapkan untuk mendorong GKJW selalu dan terus membangun diri dan seluruh warganya, serta memberikan wawasan bagaimana melakukan pembangunan itu. Dengan pembangunan terus-meneruslah kita semakin dimungkinkan untuk mewujudkan GKJW yang mandiri dan menjadi berkat. Amin. (st).

 

Pujian: KJ. 356 Tinggallah dalam Yesus


Rancangan Khotbah: Basa Jawi

Pambuka
Wonten kathah adat ingkang dipun gadhahi dening suku bangsa ingkang dipun kersakaken katindakaken dening sedaya masyarakatipun. Supados tiyang sami manut dhateng adat punika, asring adat punika lajeng dipun tambahi kanthi bab ingkang ngajrih-ajrihi. Upaminipun, adat Jawi ingkang boten marengaken tiyang mbobot lenggah wonten ing kori (lawang). Menawi dipun terak, bayi ingkang badhe lair mangke tutukipun badhe dados amba salawang. Biyuh…, menawi tutukipun kemawon ambane salawang, lajeng sepinten agenging bayinipun? Adat punika mesthinipun sae, sabab lawang punika pancen margi ingkang ciyut kangge tiyang medal lan mlebet, temah menawi tiyang mbobot lenggah ing ngriku saged kesampar tiyang liwat. Conto sanesipun: lare alit boten pareng wonten njawining griya ing wanci surup. Menawi dipun terak, lare punika badhe digondhol gendruwo. Wanci surup pancen wancinipun kangge anak-anak lan sedaya tiyang sami adus lan lajeng nedha.

Isi
Tiyang-tiyang Yahudi ugi ngersakaken adat pakulinanipun dipun lampahi dening sedaya tiyang Yahudi. Salah satunggaling adat pakulinan punika wijik saderengipun nedha lan wangsul saking peken. Adat pakulinan punika tamtu sae katindakaken murih karesikan lan kasarasaning dhiri. Nanging tiyang-tiyang Farisi lan para ahli Toret ngersakaken adat pakulinan punika kanthi temen-temen dipun lampahi dening sedaya tiyang Yahudi. Ingkang punika, adat punika dipun tambahi pranatan bilih sok sintena ingkang nerak adat punika kaanggep najis sacara agami. Najis tegesipun gesangipun tetiyang punika reged lair batinipun, temah boten sembada lan boten pantes sowan ing ngarsanipun Allah. Dados, adat pakulinan punika dipun antepaken lan katetepaken minangka pranataning agami supados sadaya tiyang sami ajrih nerak adat pakulinan punika.

Gusti Yesus ngersakaken pambangunturuting manungsa mliginipun dhateng titah utawi printahipun Allah. Sadaya titahipun Allah punika pranatan ingkang kedah dipun anut lan dipun lampahi kangge mbangun mental lan karohanen, mbangun watak lan patrap utawi tingkah laku ingkang luhur. Dene adat punika piwulang ingkang kadadosaken pakulinan ingkang dipun lampahi kangge kasaenan, mliginipun ing tata lair. Adat pakulinan saged dados sarana tumrap titahipun Allah. Pramila saking punika, titahipun Allah boten pareng dipun sepelekaken lan dipun kiwakaken saperlu netepi satunggaling adat pakulinan. Swalikipun, netepi adat pakulinan punika kedahipun kangge netepi lan nindakaken titahipun Allah. Adat perlu dipun tetepi lan dipun lampahi kangge mbangun mental lan karohanen, kangge mranata watak lan pratingkah luhur ingkang cundhuk kaliyan printah lan karsanipun Allah.

Pambangunturut dhumateng titahipun Allah badhe murugaken manungsa gesang lan ayem tentrem, pikantuk kawicaksanan, ngalami kaadilan lan nambahi ajining gesang. Gusti Allah tansah cecaketan lan siaga mitulungi tiyang ingkang manut dhateng titahipun (kapirsanana waosan 1). Malah Yakobus nandhesaken ing waosan 2 (Yak. 1:17-27)- bilih pambangunturut dhumateng Allah badhe ndhatengaken karahayon lan kabingahaning gesang. Sabab, pepaken titahipun Allah punika sampurna. Pramila Yakobus ugi ngengetaken lan mbereg utawi ngatag sedaya tiyang pitados supados manut lan nindakaken titah-titahipun Allah, boten namung remen mirengaken sabdanipun Gusti, nanging sami nindakaken sabdanipun.

Netepi titah-titahipun Allah punika boten cekap namung kanthi tumindak sacara lair ingkang awujud pitembungan lan pandamel ingkang katingal sae lan leres. Pambangunturut punika kedah lair trus ing batin, wiwit saking lebeting kalbu ngantos maujud wonten ing pitembungan lan pandamel ingkang sae lan leres. Pangucap lan pandamel ingkang sae dereng tamtu tuwuh saking manah lan penggalih ingkang sae lan resik. Menawi mekaten, pangucap lan pandamel ingkang awon meh mesthi tuwuh saking manah lan pikiran ingkang reged. Pitembungan lan pandamel ingkang ketingal sae dene manah lan penggalihipun reged punika kasebat lamis. Gusti Yesus nenetah (mengecam) patrap lamis (Mrk. 7:6). Manah lan penggalih ingkang serik lan awon badhe nuwuhaken patrap lamis. Manah lan penggalih ingkang resik lan murni badhe nuwuhaken kajujuran lan pandamel ingkang utama, nuwuhaken pambanguturut ingkang sayektos. Awit saking punika, ingkang saestu wigatos inggih punika mbangun lan mranata manah lan penggalih ingkang resik lan niyat ingkang murni.

Panutup
Lah mekaten kita sedaya -dadosa palados utawi warga pasamuwan GKJW- kedah terus mbangun dhiri lan greja kita kangge mujudaken pambangunturut ingkang sayektos. Gusti Yesus Sang Sesirahing Greja lan kita sedaya gegelitaning sariranipun tamtu boten ngersakaken wontenipun lan malih kathahipun palados lan warga ingkang lamis. Pramila saking punika, kita sedaya kedah mbangun lan mranata karohanen ingkang mantep, mental ingkang bakuh, manah lan pikiran ingkang resik sarta niyat ingkang murni. Kita kedah nindakaken pambangunan punika dhateng anak-anak kita, para mudha-mudhi kita, kulawarga kita lan nadyan dhateng para warga sepuh. (Mugi kawuningan bilih Majelis Agung GKJW kagungan rumah retreat “Kori Menga” ing Pujon-Batu ingkang nawakaken dhateng sedaya warga pasamuwan program “Retreat HUT Keluarga” saben sasi! Kulawarga ingkang ngersakaken, katuran ndaftar!) Kanthi pambangunturut lair trusing batin dhateng titah-titahipun Allah, kita satunggal mbaka satunggal lan sesarengan minangka greja (GKJW) saged mbangun pigesanganing masyarakat, bangsa lan negari ingkang saestu maju.

Bulan Pembangunan GKJW dinten punika pancen dipun pungkasi. Nanging, punika boten ateges bilih pambangunaning GKJW sampun rampung. Boten. Pambangunaning GKJW kedah terus tansah dipun tindakaken. Sabab, Bulan Pembangunan punika katetepaken kangge mbereg/ ngatag greja kita GKJW tansah lan terus mbangun dhiri dalah sedaya warganipun, sarta ngupadi wawasan kados pundi nindakaken pambangunan punika. Nggih kanthi pambangunan ingkang kanthi tanpa kendhat mekaten kita badhe saya saged mujudaken GKJW ingkang mandiri lan dados berkah. Amin. (st)

 

Pamuji: KPJ. 202 : 1 – 3 Rahayu kang Utama Lakune

Renungan Harian

Renungan Harian Anak