Minggu Biasa – Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau
Bacaan 1: Yosua 24 : 1 – 2a, 14 – 18
Bacaan 2: Efesus 6 : 10 – 20
Bacaan 3: Yohanes 6 : 56 – 69
Tema Liturgis: Bersedia, Berkarya, dan Bersinergi Membangun GKJW sebagai Perwujudan Taat kepada Allah
Tema Khotbah: Kesediaan Diri untuk Terlibat Aktif Membangun Jemaat
Penjelasan Teks Bacaan
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yosua 24 : 1 – 2a, 14 – 18
Yosua 24 ini berisi tentang pembaharuan janji antara bangsa Israel dan Tuhan Allah. Sebagai pemimpin bangsa Israel yang menggantikan Musa, Yosua telah mengantarkan iring-iringan bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan dan masuk ke tanah kanaan. Sebelum bangsa Israel menempati wilayah mereka masing-masing, Yosua meneguhkan kembali iman dan keyakinan bangsa Israel agar mereka hanya menyembah kepada Tuhan Allah saja, agar mereka senantiasa setia dan beribadah hanya kepada Allah saja.
Narasi dalam Yosua 24 ini diawali dengan upaya Yosua mengumpulkan semua suku Israel di Sikhem. Secara khusus Yosua juga memanggil para tua-tua Israel, para kepala, para hakim, dan para pengatur pasukan berdiri di hadapan Allah. Kehadiran mereka semua ini hendak menunjukkan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang sungguh-sungguh di hadapan Tuhan Allah. Mereka menghayati bahwa Tuhan ada dan bersama mereka. Terlebih Tuhan Allah berkenan menyatakan kehendak–Nya kepada seluruh umat-Nya. Oleh karena itu tidak ada satu sukupun yang tertinggal, semuanya hadir.
Setelah itu Yosua memaparkan tentang sejarah karya penyelamatan Allah yang menyertai dan menuntun bangsa Israel dari Mesir hingga memasuki tanah Kanaan. Dimulai dengan perjanjian antara Allah dengan Abraham, nenek moyang Israel. Dilanjutkan kisah keluarnya bangsa Israel dari perbudakan di Mesir, peristiwa menyeberang laut Teberau, hingga perjalanan panjang bangsa Israel selama 40 tahun di padang gurun. Yosua menjelaskan bahwa Tuhan Allah senantiasa ada di pihak Israel. Bangsa Israel diberikan kemenangan pada saat berperang melawan bangsa-bangsa lain tanpa harus bersusah payah dan berjerih lelah mengalahkan mereka. Dan pada akhirnya mereka tiba di tanah Perjanjian, tanah Kanaan.
Sebelum bangsa Israel menempati wilayah mereka masing-masing, Yosua kembali mengingatkan bangsa Israel untuk senantiasa setia menyembah dan beribadah hanya kepada Tuhan Allah saja. Mengapa demikian? Sebab Yosua mengetahui bahwa bangsa Israel dikelilingi oleh bangsa-bangsa lain yang menyembah kepada illah lain atau baal. Bukan tidak mungkin bangsa Israel terpengaruh kemudian menyembah illah bangsa lain atau baal. Oleh karena itu Yosua mengingatkan Bangsa Isarel untuk tetap setia hanya kepada Tuhan Allah saja. Dan bangsa Israel berketetapan hati untuk memilih setia dan menyembah hanya kepada Tuhan Allah saja. Mereka sungguh-sungguh menghayati dan merasakan karya dan penyertaan Tuhan Allah yang nyata dalam hidup mereka. Komitmen bangsa Israel ini diungkapkan dengan penuh kesungguhan dan janji. Menandai perjanjian itu, Yosua menuliskannya dalam kitab hukum Allah dan mengambil batu besar lalu meletakkannya di bawah pohon besar sebagai tanda perjanjian antara Allah dan bangsa Israel.
Efesus 6 : 10 – 20
Surat kepada jemaat Efesus dituliskan oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara di Roma. Secara umum surat Efesus ini memiliki 2 tema dasar yaitu bagaimana umat ditebus Allah (pasal 1 – 3) dan bagaimana umat harus hidup sebagai umat tertebus (pasal 4 – 6). Secara khusus Efesus 6 : 10 – 20 berisikan tentang panggilan hidup umat Allah untuk tetap tahan dan berdiri teguh menghadapi rencana jahat iblis dan serangan “roh-roh jahat di udara”.
Hidup umat Kristen menurut Paulus ibarat menghadapi peperangan, dimana setiap umat percaya akan mengalami pergumulan, bukan hanya sekedar pergumulan biasa, tetapi pergumulan melawan kekuatan dari kuasa kegelapan yang berusaha untuk menghancurkan umat. Oleh karena itu Paulus mengumpamakan perjuangan umat melawan kuasa gelap waktu itu dengan gambaran seorang prajurit Romawi lengkap dengan segala atribut pada pakaiannya yang siap berperang. Umat diajak untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah untuk melawan tipu muslihat Iblis dan kuasa-kuasa roh jahat. Ada 6 jenis perlengkapan rohani yang disebutkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, yaitu :
- Ikat pinggang kebenaran (14)
- Baju Zirah keadilan (14)
- Kasut kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera (15)
- Perisai Iman (16)
- Ketopong keselamatan (17)
- Pedang Roh yaitu Firman Allah (17).
Gambaran tentang seorang prajurit Romawi lengkap dengan segala atributnya ini dimaksudkan agar umat Tuhan yang siap menghadapi segala pencobaan, tantangan, dan siap berperang melawan kuasa kegelapan dan tipu muslihat iblis. Setiap umat diingatkan agar mereka hidup dalam kebenaran, melakukan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Bersedia dan mau menjadi saksi Kristus yang rela untuk mewartakan dan memberikan kesaksian tentang Injil Kristus di tengah-tengah dunia. Umat diajak untuk berpegang teguh dalam iman kepada Kristus. Iman di dalam Kristus inilah yang membawa keselamatan di dalam hidup mereka. Dan yang terakhir umat harus menjadikan Firman Allah sebagai pedoman hidup mereka. Firman Allah adalah pedang untuk mengalahkan kuasa kegelapan. Firman Allah adalah penerang dalam langkah hidup yang penuh tantangan dan pergumulan. Dan pada akhirnya, Paulus mengingatkan umat untuk tekun berdoa setiap waktu. Sebab dengan doa umat akan dikuatkan dan dimampukan untuk terus mewartakan Injil Kristus.
Yohanes 6 : 56 – 69
Yohanes 6:56-69 terdiri dari 3 bagian yaitu:
- Yohanes 6 : 56 – 59
Bagian perikop ini adalah bagian dari penyataan diri Yesus tentang jati dirinya yang adalah Roti Hidup. Yesus mengungkapkan bahwa dengan memakan daging dan minum darah Kristus, maka seseorang akan menerima karya keselamatan Kristus, masuk dalam persekutuan bersama Allah. Kalimat ini dimaksudkan agar umat senantiasa membangun persekutuan dengan Kristus sendiri dan hidup di dalam kehendak Kristus saja sebab di dalam Kristus ada keselamatan dan ada hidup. - Yohanes 6 : 60 – 66
Bagian ayat ini menceritakan tentang orang-orang yang semula bersemangat untuk mendengar ajaran Yesus dan mau menjadi murid Yesus, kemudian mengundurkan diri, karena mereka tidak siap atau tidak dapat menerima “perkataan keras” dari Yesus. (Perkatan Yesus tentang jati Yesus sebagai Roti Hidup. Perlunya makan daging dan minum darah Yesus). Pada bagian ini khususnya pada ayat 65, Tuhan Yesus menegaskan kembali tentang makna sebuah panggilan. “Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” Artinya Tuhan Allah yang memanggil umat untuk percaya dan menjadi pengikut–Nya itu adalah anugerah. Bukan manusia yang memilih, tetapi Allah Bapalah yang memilih dan menentukan umat–Nya. Maka dapat dipahami jika banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak mengikut Tuhan Yesus kembali, karena mereka tidak siap mendengar ajaran yang keras dari Yesus. - Yohanes 6 : 67 – 69
Setelah banyak orang mengundurkan diri, Yesus bertanya kepada Petrus, apakah dia dan para murid yang lain akan mengundurkan diri? Kemudian Petrus memberikan jawaban yang menunjukkan imannya yang teguh. Petrus mengakui Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, ia mengakui bahwa perkataan yang diucapkan oleh Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Artinya setiap ajaran Tuhan Yesus diyakini oleh Petrus dari Allah sendiri yang berkarya melalui Yesus. Pengakuan Petrus ini menjadi cerminan kehidupan para murid Yesus yang setia mengikuti Yesus. Mengikut Yesus haruslah dinyatakan melalui sebuah pengakuan yang jujur dan tulus. Pengakuan yang berasal dari dalam hati, yang mampu melihat dan merasakan kasih dan karya Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Tuhan Allah telah menyatakan karya dan kuasa–Nya kepada manusia. Baik melalui mujizat, pemeliharaan hidup, dan keselamatan yang berikan–Nya kepada manusia. Hal tersebut seharusnya membuat orang semakin percaya dengan karya dan kuasa Allah dalam hidup mereka. Namun pada kenyataannya tidak sedikit orang yang mengundurkan diri sebagai pengikut Kristus karena banyaknya tekanan, tantangan, cobaan yang harus mereka hadapi sebagai pengikut Yesus. Oleh karena itu dibutuhkan komitmen yang sungguh dan ketaatan yang mutlak kepada Allah. Sekalipun ada banyak persoalan hidup, rintangan, dan tantangan dari dalam dan luar diri namun hal itu tidak boleh menyurutkan iman percaya kepada Tuhan Yesus. Untuk mampu bertahan menghadapi setiap hal yang terjadi, maka setiap orang percaya harus mengenakan perlengkapan senjata Allah. Dengan perlengkapan senjata Allah inilah, orang akan siap berjuang dan bertahan dalam menghadapi serangan kuasa gelap yang selalu menyerang setiap orang percaya.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan, pada tahun 2021 ini, di GKJW dilaksanakan proses dauran penatua dan diaken. Pada sebagian besar jemaat dibentuk Panitia Dauran yang bertugas untuk melaksanakan proses dauran penatua dan diaken ini dengan baik. Sebelum panitia melaksanakan tugasnya, Majelis Jemaat akan membuat, menetapkan, dan memutuskan pada peraturan dan proses pemilihan penatua dan diaken sesuai dengan kebutuhan dan konteks masing-masing jemaat. (Pelayan dapat menjelaskan atau mensosialisasikan proses pemilihan penatua dan diaken di jemaatnya secara singkat).
Dari proses pemilihan penatua dan diaken ini setidaknya ada 3 macam karakter warga yang bisa diamati :
- Warga yang berambisi menjadi penatua dan diaken
Biasanya mereka adalah orang yang ingin dihormati, dihargai dan dipandang oleh orang lain. Mereka berpandangan dengan menjadi penatua dan diaken, dia akan mempunyai kedudukan dan pengaruh yang penting dalam jemaat. Dia dapat mengaktualisasikan dirinya dan dapat berelasi dengan banyak pihak. Warga demikian jika ingin menjadi penatua dan diaken harus waspada, jangan sampai ada roh kesombongan, roh memegahkan diri pada dirinya. Sebab jika itu yang terjadi maka dia akan jatuh, dia bukan melayani Tuhan tetapi lebih melayani diri sendiri dan ambisi-ambisi pribadinya. - Warga yang mengundurkan diri
Kebalikan dari warga yang berambisi menjadi penatua dan diaken, karakter kedua ini jumlahnya lebih banyak. Sebagian dari warga yang terpilih untuk menjadi penatua dan diaken mengundurkan diri pada saat terpilih dengan alasan yang bermacam-macam. Misalnya karena keluarga tidak mengijinkan, waktu lebih banyak untuk pekerjaan, merasa belum siap, merasa tidak pantas, merasa masih muda, merasa belum mampu menjadi teladan yang baik, dll. Sebagian warga yang mengundurkan diri juga merasa takut, kalau nanti dia akan “dirasani”, merasa kuatir tidak bisa membagi waktu antara keluarga, pekerjaan dan pelayanan.
Warga yang demikian perlu dimotivasi, diberikan semangat, kekuatan, dan kepercayaan. Dia perlu diyakinkan bahwa Tuhan Allah yang memilih melalui proses pemilihan penatua dan diaken, pasti akan menolong, menguatkan dan menyertai dalam pelayanannya. - Warga yang siap sedia dengan tulus dipilih menjadi penatua dan diaken.
Mereka adalah pribadi-pribadi yang menghayati sebuah panggilan Tuhan adalah sebuah anugerah dan berkat. Mereka percaya bahwa Tuhan sudah memberi yang terbaik dalam hidup mereka baik itu keluarga, pekerjaan, kesehatan, kecukupan, maka hal yang terbaik yang dapat dia lakukan adalah bersedia melayani Tuhan sebagai seorang penatua atau diaken dengan tulus. Pribadi yang demikian adalah pribadi yang siap dan berani menghadapi resiko dalam pelayanannya. Dia memiliki komitmen yang sungguh untuk setia melayani Tuhan Yesus, dan menghayati panggilan Tuhan dalam hidupnya dengan mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan melalui pelayanan di gereja dan masyarakat.
Isi
Bapak, ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, cerita pada bacaan ketiga (Yoh. 6:56-69) mengisahkan tentang orang-orang yang semula bersemangat untuk mendengar ajaran Yesus dan mau menjadi murid Yesus, kemudian mengundurkan diri. Mereka mengundurkan diri karena mereka tidak siap menerima “perkataan keras” dari Yesus. Yaitu perkatan tentang jati diri Yesus sebagai Roti Hidup dan perlunya makan daging dan minum darah Yesus. Mereka yang mengundurkan diri ini bukanlah keduabelas murid inti, tetapi orang banyak pada waktu itu yang mengikut Yesus dalam berbagai kesempatan. Tuhan Yesus sendiri tidak mengkuatirkan tentang banyak orang yang mengundurkan diri setelah mendengarkan perkataan–Nya. Tuhan Yesus sendiri menghendaki murid yang sejati. Oleh karena itu, Dia menegaskan kembali tentang makna sebuah panggilan. “Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (Ay. 65) Artinya bagi Tuhan Yesus, seseorang menjadi percaya dan mengikut–Nya itu adalah anugerah. Bukan manusia yang memilih, tetapi Allah Bapalah yang memilih dan menentukannya. Maka dapat dipahami jika banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak mengikut Tuhan Yesus kembali, karena mereka tidak siap mendengar ajaran yang keras dari Yesus.
Setelah banyak orang mengundurkan diri, Tuhan Yesus menguji keduabelas murid-Nya, apakah mereka juga akan mengundurkan diri (67). Petrus memberikan jawaban yang menegaskan imannya yang teguh. Petrus mengakui Yesus adalah Yang Kudus dari Allah, ia mengakui bahwa perkataan yang diucapkan oleh Yesus adalah perkataan hidup yang kekal. Setiap ajaran Tuhan Yesus diyakini oleh Petrus dan para murid berasal Allah sendiri. Pengakuan Petrus ini menjadi cerminan kehidupan para murid Yesus yang setia mengikuti Yesus. Mengikut Yesus haruslah dinyatakan melalui sebuah pengakuan yang jujur dan tulus. Pengakuan yang berasal dari dalam hati, yang mampu melihat dan merasakan kasih dan karya Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus mengetahui bahwa pengakuan Petrus bukan berasal dari dirinya sendiri melainkan karena kehendak Allah dalam dirinya.
Bapak, ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, hal yang sama juga ditunjukkan oleh bangsa Israel, pada saat Yosua bertanya kepada mereka, “Kepada siapakah mereka beribadah?”. Yosua kembali mengingatkan bangsa Israel untuk senantiasa setia menyembah dan beribadah hanya kepada Tuhan Allah saja. Mengapa demikian? Sebab Dia mengetahui bahwa bangsa Israel tinggal dikelilingi oleh bangsa-bangsa lain yang menyembah kepada ilah lain atau baal. Bukan tidak mungkin bangsa Israel terpengaruh kemudian menyembah ilah bangsa lain atau baal. Bangsa Israel kemudian menyatakan janjinya untuk memilih setia dan menyembah hanya kepada Tuhan Allah saja. Mereka sungguh-sungguh menghayati dan merasakan karya dan penyertaan Tuhan Allah yang nyata dalam hidup mereka. Janji setia bangsa Israel ini ditandai Yosua dengan menuliskannya dalam kitab hukum Allah dan mengambil batu besar lalu meletakkannya di bawah pohon besar.
Bapak, ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, untuk bisa berpegang teguh dengan janji setia kita kepada Tuhan dan senantiasa menyembah hanya kepada Tuhan Allah saja, Rasul Paulus memberikan nasehat kepada kita melalui suratnya kepada jemaat di Efesus, agar kita mengenakan “perlengkapan senjata Allah” di dalam hidup kita. Kita diingatkan agar hidup dalam kebenaran dan melakukan keadilan dalam kehidupan sehari-hari. Bersedia dan mau menjadi saksi Kristus yang rela untuk mewartakan dan memberikan kesaksian Injil Kristus di tengah-tengah dunia. Setiap kita diajak untuk berpegang teguh dalam iman kepada Kristus yang membawa keselamatan di dalam hidup kita. Terlebih lagi kita menjadikan Firman Allah sebagai pedoman hidup, “pedang” untuk mengalahkan kuasa kegelapan. Firman Allah adalah penerang dalam langkah hidup kita yang penuh tantangan dan pergumulan. Dan pada akhirnya, Paulus mengingatkan kita untuk tekun berdoa setiap waktu. Sebab dengan doa, kita akan dikuatkan dan dimampukan untuk terus mewartakan Injil Kristus.
Penutup
Jemaat yang dikasihi Tuhan, bulan Agustus adalah bulan pembangunan GKJW. Di bulan pembangunan ini marilah kita bersedia untuk ikut serta melayani Tuhan dan membangun jemaat kita. Jangan pernah takut, kuatir atau bahkan mengundurkan diri dari pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita. Milikilah keyakinan bahwa kita pasti bisa menjalankan setiap tugas pelayanan yang dipercayakan kepada kita dengan baik karena pertolongan dan kekuatan dari Tuhan Allah. Jadilah seperti Petrus yang menyatakan keyakinan bahwa Tuhan Yesus adalah kebenaran dan hidup. Dan milikilah kesetiaan sebagaimana bangsa Israel pada masa Yosua yang senantiasa setia beribadah dan menyembah hanya kepada Allah saja.
Kesediaan diri untuk terlibat aktif dalam membangun jemaat adalah respon kita atas anugerah dan berkat yang Tuhan berikan kepada kita. Sekali lagi jangan pernah mengundurkan diri, seberat apapun pergumulan, tantangan, cobaan dalam hidup kita, Tuhan pasti menguatkan dan menyertai kita. Pun demikian marilah kita mau ikut serta melayani Tuhan. Saat kita dipilih menjadi penatua, diaken, pamong, pengurus kelompok/ wilayah/ komisi dll, terimalah dengan sukacita. Itu adalah berkat bukan beban. Di hari pembangunan GKJW saat ini, Tuhan memanggil dan memilih kita untuk berkarya bagi kemuliaan Tuhan melalui GKJW. Kesediaan diri kita untuk terlibat dalam karya Allah melalui GKJW, akan semakin menyadarkan betapa besar penyertaan, pertolongan, dan kasih Allah dalam hidup kita. Amin. (AR).
Pujian: KJ. 363 : 1, 2 Bagi Yesus Ku Serahkan
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Bapak, ibu lan para sederek ingkang kinasih, ing taun 2021 punika, GKJW ngawontenaken proses dauran kangge milih pinituwa lan diakening pasamuwan. Kangge nindakaken dauran punika, Majelising Pasamuwan nyawisaken panitia dauran ingkang tugasipun nata lan ngrigenaken dauran pinituwa lan diaken kanthi sae. Saderengipun panitia dauran makarya, Majelising pasamuwan damel aturan lan pranataning dauran miturut kabetahanipun pasamuan-pasamuan. (Pelados saged maringi penjelasan utawi sosialisasi proses dauran ing pasamuwanipun sacara singkat).
Saking proses dauran pinituwa lan diaken punika wonten 3 watak saking warga ingkang saged kita tingali:
- Warga ingkang gadhah ambisi (kepengin sanget) dados pinituwa lan diaken
Biasanipun tiyang ingkang ambisi punika piyambakipun kepengin dipun hormati, dipun ajeni, dan dipun pandheng dening tiyang sanes. Ing pemanggihipun dados pinituwa lan diaken punika, piyambakipun badhe gadhah pengaruh ingkang ageng lan penting ing pasamuwan. Piyambakipun saged dipun tingali lan saged mangun relasi kaliyan tiyang kathah. Awit saking punika, warga ingkang gadhahi ambisi kepengin dados pinituwa lan diaken kedah waspada, sampun ngantos gumunggung. Karana bilih piyambakipun gumunggung, sanes Gusti Allah ingkang dipun ladosi nanging dirinipun piyambak ingkang kepengin misuwur lan kepenginan-kepenginanipun ingkang dipun turuti. - Warga ingkang mundur
Kosokwangsulipun saking warga ingkang ambisi dados pinituwo lan diaken, watak ingkang kaping kalih punika langkung katah cacahipun. Kathah warga ingkang milih mundur nalika piyambakipun mlebet nominasi dados pinituwa lan diaken kanthi alesan ingkang mawarni-warni. Contonipun: brayatipun boten maringi ijin, taksih repot nyambut damel, rumaos boten siap awit taksih enem, rumaos boten pantes, rumaos dereng saged dados tuladha ingkang sae kangge warga sanes lsp. Makaten ugi wonten warga ingkang mundur karana rumaos ajrih. Ajrih badhe dipun rasani warga, rumaos kuwatos boten saged mbagi wekdal kangge brayat, pendamelan lan peladosan.
Kanggene warga ingkang kados mekaten kalawau kedah dipun motivasi, dipun paring semangat, dipun kiyataken supados piyambakipun mboten mundur/ nglokro. Piyambakipun kedah dipun yakinaken bilih Gusti Allah sampun miji piyambakipun lumantar proses dauran punika, tamtu Gusti Allah ugi paring pitulungan, kakiyatan, dan tansah nganthi piyambakipun salebeting peladosan. - Warga ingkang sumadya kanthi tulus dados pinituwa lan diaken
Warga ingkang sumadya punika inggih warga ingkang saged ngraosaken timbalanipun Gusti Allah minangka berkahipun Gusti Allah. Warga punika pitados bilih Gusti Allah sampun nresnani lan maringi berkah ingkang sae dhateng gesangipun, sae punika arupi brayat, pendamelan, kasehatan, kacekapan. Pramila perkawis sae ingkang saged dipun tindakaken inggih punika sumadya lelados dhateng Gusti minangka dados pinituwa lan diaken kanthi temen. Warga ingkang mekaten kalawau wantun ngadepi sedaya resiko ing satengah-tengahing peladosan. Piyambakipun janji dhateng Gusti Allah tansah setya tuhu nladosi Gusti Yesus. Piyambakipun nggadahi pemanggih sumadya ngestoaken timbalanipun Gusti Allah punika sami kaliyan ngaturaken pisungsung gesang sawetahipun dhumateng Gusti Allah.
Isi
Bapak, ibu lan para sederek ingkang kinasih, cariyos ing waosan katiga (Yok. 6:56-69) nyariosaken bab tiyang-tiyang Yahudi ingkang waunipun semangat mirengaken piwucalipun Gusti Yesus sarta kepengin dados sakabatipun Gusti Yesus sami mundur. Tiyang-tiyang punika sami mundur karana boten siap nampi “pangandikanipun Gusti Yesus ingkang awrat”. Inggih punika pengandikanipun Gusti Yesus bab jati dirinipun Gusti Yesus minangka Roti Panguripan lan piwucalipun Gusti Yesus bab nedha daging lan ngunjuk rahipun Gusti Yesus. Tiyang-tiyang Yahudi ingkang mundur punika sanes 12 sakabatipun Gusti Yesus, nanging tiyang ing wekdal punika sami ngetut lan mirengaken piwucalpun Gusti Yesus ing maneka kasempatan.
Gusti Yesus piyambak boten rumaos kuwatos nalika tiyang kathah sami mundur saksampunipun mirengaken pangandikanipun. Gusti Yesus ngersakaken sakabat ingkang sejati. Karana punika, Gusti Yesus ngendikan, “Ora ana wong kang bisa marani Aku kajaba Manawa wus kaparingan wewenang saka Sang Rama.” (Ay. 65). Artosipun kagem Gusti Yesus, tiyang seged pitados lan dados panderekipun punika karana sih rahmatipun Gusti. Sanes manungsa ingkang miji ananging Gusti Allah Sang Rama piyambak ingkang miji piyambakipun. Karana punika saged dipun pahami bilih wonten para sakabatipun Gusti ingkang mundur lan boten dados panderekipun karana tiyang-tiyang punika boten siap dan boten purun nampi piwucalipun Gusti Yesus ingkang awrat.
Selajengipun Gusti Yesus nyoba dhateng 12 sakabatipun punapa ugi mundur? (ay. 67). Saking ngriku Petrus ngaturaken wangsulan bilih piyambakipun tetep setya nderek Gusti. Petrus ngakeni Gusti Yesus punika Sang Suci kagunganing Allah. Piyambakipun ugi ngakeni bilih pangandikanipun Gusti Yesus punika pangandikan gesang langgeng. Sedaya piwucalipun Gusti Yesus dipun yakini pinangkanipun saking Gusti Allah. Pengaken punika kaucap kanthi jujur lan tulus, pengaken ingkang pinangkanipun saking lebeting manah ingkang saged ningali lan ngraosaken sedaya katresnan lan pakaryaning Gusti Allah salebeting gesang sadinten-dinten. Gusti Yesus pirsa bilih pangaken Petrus punika sanes saking dirinipun piyambak, nanging saking karsanipun Gusti Allah dhateng piyambakipun.
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti, perkawis ingkang sami ugi dipun ketingalaken dening bangsa Israel nalika Yusak atur pitaken, “Sapa kang arep kok bekteni?” (ay. 15). Yosua ngemutaken malih bangsa Israel supados namung nyembah lan bekti dhumateng Gusti Allah kemawon. Kenging punapa? Karana Yusak mangertos bilih bangsa Israel sasampunipun lumebet ing tanah Kanaan, bangsa Israel dipun kupengi bangsa-bangsa sanes ingkang nyembah dhateng Baal utawi ilah sanesipun. Saged ugi bangsa Israel terpengaruh lajeng nyembah lan bekti dhateng Baal bangsa sanes. Saking ngriki bangsa Isarel atur prajanji dhumateng Gusti Allah badhe setya lan nyembah namung dhateng Gusti Allah kemawon. Bangsa Israel saged ngraosaken bilih pakarya lan panganthipun Gusti Allah nyata ing salebeting gesangipun. Kangge ngantepi janji punika, Yusak lajeng nyerat janji punika ing kitab hukumipun Gusti Allah lajeng mendet sela ageng lan mapanaken sela punika ing mandapipun wit ageng.
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani dening Gusti, supados kita saged setya ing janji dhumateng Gusti Allah lan namung sembah bekti dhumateng Allah, Rasul Paulus maringi nasehat kangge kita lumantar seratipun dhateng pasamuan Efesus. Rasul Paulus ngersakaken supados kita ngagem “praboting prange Gusti Allah” salebeting gesang kita. Paulus ngengetaken kita supados gesang salebeting kabeneran lan tumindak adil salebeting gesang sadinten-dinten. Kita kedah sumadya lan cumadhang dados saksinipun Gusti Yesus ingkang sumadya martosaken kabar Injil ing satengahing donya. Kita kedah nggadah iman ingkang teguh dhateng Gusti ingkang dados sarana kawilujenganing gesang kita. Langkung-langkung kita dados Sabdaning Allah minangka dasaring gesang kita, minangka “pedang” kangge ngadepi kuwaos pepeteng. Sabdaning Allah punika pepadhang kangge lampah gesang kita ingkang kebak ing tantangan lan pacoben. Pungkasanipun Rasul Paulus ngengetaken dhateng kita supados seken dedonga saben wektu. Kanthi dedonga, kita kaparingan kakiyatan lan kasagedan kangge martosaken Injil Kristus.
Panutup
Pasamuwan ingkang dipun tresnani Gusti Yesus, wulan Agustus punika dipun wastani wulan pembangunan GKJW. Karana punika ing wulan pembangunan GKJW punika, kita kaajak makarya lelados Gusti lan puruna mbangun pasamuwan. Sampun ngantos rumaos ajrih, kuatos punapa malih mundur saking peladosan ingkang sampun kita tampi saking Gusti. Swawi kita sami pitados bilih kita saged nindakaken sedaya ayahan tugas peladosan kita kanthi sae karana pitulungan lan kakiyatan saking Gusti Allah. Sumangga kita nuladha Petrus ingkang wantun ngakeni bilih Gusti Yesus punika margining kabeneran lan gesang. Mangga kita sami nggayuh kasetyan kados bangsa Israel nalika jamanipun Yusak, ingkang tansah setya tuhu ngabekti lan nyembah dhumateng Gusti Allah kemawon.
Cumadhanging kita aktif mbangun pasamuwan punika wujud tanggepan kita tumrap sedaya sih rahmat lan berkah-berkahipun Gusti Allah dhateng kita. Sepindah malih sampun ngantos kita mundur, senajan kita nyanggi momotan, tantangan, pacoben salebeting gesang, kita pitados bilih Gusti Allah paring kakiyatan lan nganthi gesang kita. Mangga kita purun lelados dhumateng Gusti, nalika kita kapilih dados pinituwa, diaken, pamong, pengurus kelompok/ wilayah/ komisi, lsp. Mangga kita tampi kanthi bingah awit punika wujud berkah saking Gusti sanes momotan. Salebeting wulan pembangunan GKJW punika, Gusti Allah mimbali lan miji kita kangge makarya kagem kamulyaning Gusti lumantar GKJW. Cumadhanging kita makarya kagem Gusti lumantar GKJW, dados sarana kangge kita sami sadar lan saged ngraosaken agenging panganthi, pitulungan, lan katresnanipun Gusti Allah salebeting gesang kita. Amin. (AR).
Pamuji: KPJ. 346A : 1, 2 Ndedonga Lan Makarya