Minggu Biasa – Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau
Bacaan 1: 1 Raja – raja 19 : 4 – 8
Bacaan 2: Efesus 4 : 25 – 5 : 2
Bacaan 3: Yohanes 6 : 35, 41 – 51
Tema Liturgis: Bersedia, Berkarya, dan Bersinergi Membangun GKJW sebagai Perwujudan Taat kepada Allah
Tema Khotbah: Akulah Roti Hidup!
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
1 Raja – raja 19 : 4 – 8
Elia adalah seorang nabi di Kerajaan Israel Utara pada zaman pemerintahan raja Ahab, Ahazia, dan Yoram pada sekitar abad ke-9 SM. Elia dalam bahasa Ibrani: אליהו Eliyahu, bahasa Arab: إلياس Ilyās; bahasa Inggris: Elijah atau Elias. Elia berjuang agar bangsa Israel dan raja Ahab menyembah Tuhan, tidak kepada dewa Baal yang dibawa oleh ratu Izebel, isteri Ahab, ke Israel. Karena diancam hendak dibunuh oleh Izebel untuk membalas dendam kematian nabi-nabi Baal, Elia lari ke padang gurun dan akhirnya bersembunyi di sebuah gua di gunung Horeb. Di sana ia menjumpai TUHAN dalam angin sepoi-sepoi, setelah datangnya angin besar, gempa, dan api tanpa adanya TUHAN di sana.
Elia yang dikuasai kelelahan, keputusasaan, dan kesedihan, berdoa agar Allah membebaskannya dari beban pelayanan nubuat yang berat dan mengizinkannya memasuki perhentian sorgawi. Ada beberapa alasan mengapa Elia begitu patah semangat: ia merasa sudah gagal, ia mengharapkan pertobatan seluruh Israel dan bahkan mungkin juga Izebel, namun sekarang ia harus lari menyelamatkan nyawanya. Harapan, usaha keras, dan pergumulan seluruh hidupnya tampaknya berakhir dengan kegagalan (ayat 1-4). Ia merasa sendirian dalam pergumulan demi kebenaran Allah (ayat 10). Ditambah kelelahan jasmani setelah perjalanan yang panjang dan berat. Inilah tantangan yang dihadapi Elia saat sungguh-sungguh mewujudkan ketaatan kepada Allah dalam kesediaannya untuk berkarya dan bersinergi membangun bangsa Israel.
Efesus 4 : 25 – 5 : 2
Surat Efesus ini, ditulis oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara. Ketika Paulus menuliskan surat kepada jemaat Efesus, tentu saja dia mempunyai tujuan dan ada hal yang menjadi motivasi dia untuk menulis surat tersebut. Tujuan Paulus menulis surat kepada jemaat Efesus, didukung oleh keadaan masyarakat Efesus pada saat itu. Keadaan masyarakat Efesus pada saat itu adalah masih melakukan penyembahan terhadap Dewa Yunani. Surat ini berisikan nasihat, perintah, dan himbauan untuk hidup dalam Kristus. Dalam surat ini penulis menekankan Rencana Tuhan agar “Seluruh alam, baik yang di surga maupun yang di bumi, menjadi satu dengan Kristus sebagai kepala” (1:10). Surat ini merupakan juga seruan kepada umat Tuhan supaya mereka menghayati makna rencana agung dari Tuhan itu untuk mempersatukan seluruh umat manusia melalui Yesus Kristus.
Dalam rangka tersebut perlu bagi jemaat Efesus untuk menjadi penurut-penurut Allah (5:1) yang hidup dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus yang bersedia menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban harum bagi Allah (5:2). Penurut Allah adalah orang yang taat kepada Allah, dengan ciri-ciri berkata benar (4:25), mampu mengendalikan amarah (4:26), tidak kompromi dengan Iblis (4:27), bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik dengan tangannya sendiri (4:28) untuk membangun orang yang berkekurangan. Terlebih lagi tidak mendukakan Roh Kudus Allah (4:30), membuang yang jahat, penuh kasih mesra dan mudah mengampuni kesalahan orang lain (4:31).
Yohanes 6 : 35, 41 – 51
Roti adalah makanan pokok bagi orang Israel. Roti memberikan rasa kenyang dan memberi kekuatan bagi manusia. Lalu apa arti perkataan-Nya ketika Tuhan Yesus mengatakan dalam Yohanes 6:35, Kata Yesus kepada mereka: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Akulah roti hidup (bahasa Inggris: I am the bread of life). Adalah ungkapan Yesus yang pertama dari 7 pernyataan/ frasa AKULAH “I AM”, Yunani : “εγω ειμι – EGÔ EIMI”, Ibrani : אֲנִי־הוּא – “ANI HU”), frasa yang dipahami kaum Yahudi sebagai penamaan-diri yang bersifat keilahian. Pernyataan lain adalah: “terang dunia” (Yohanes 8:12), “pintu” (Yohanes 10:9), “gembala baik” (Yohanes 10:11,14), “kebangkitan dan hidup” (Yohanes 11:25), “jalan, kebenaran, hidup” (Yohanes 14:6) dan “pokok anggur yang benar” (Yohanes 15:1,5).
Dalam pengajaran ini, Tuhan Yesus juga menegaskan, bahwa tujuan-Nya datang ke dunia ini bukan untuk memberikan makanan yang hanya dapat mengenyangkan tubuh jasmani yang bersifat sementara, melainkan makanan yang memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal. Dengan mentransformasikan diri-Nya menjadi roti hidup, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai pusat dan Pemilik kehidupan universal. Sebab siapa pun yang memakan daging-Nya dan meminum darah-Nya, pasti mendapatkan hidup kekal, bahkan dibangkitkan pada akhir zaman (Yohanes 6:54).
Pernyataan ini sekaligus bermakna, bahwa menolak roti hidup berarti binasa. Kesimpulannya, dalam klaim, “AKULAH roti hidup”, Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas bahwa asal usul-Nya adalah surga, dan bahwa Dia sajalah yang memenuhi keseluruhan kerinduan rohani para pendengar-Nya. Dengan kata lain, setiap pendengar-Nya yang percaya dan menerima-Nya sebagai Roti Hidup, mereka telah bersinergi dengan Allah dalam kehidupan di dunia ini maupun dalam kekekalan.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Perlu energi positif untuk tetap mampu bertahan dalam membangun komunitas, baik pada jaman Elia, jaman Rasul Paulus, maupun jaman Yesus dan sampai saat ini, yakni ketaatan pada Allah. Kesulitan yang dialami Elia, tantangan jemaat Efesus, bahkan keyakinan akan Yesus sebagai Roti Hidup yang sulit dipahami oleh orang-orang Israel waktu itu, tidak akan menjadi sebuah perwujudan dalam membangun komunitas, jika tanpa kesediaan, kerja keras dan ketaatan kepada Allah.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Apakah yang kita cari dalam hidup ini? Sumber kehidupan atau sarana kehidupan? Pertanyaan ini perlu kita renungkan dan jawab di dalam hati kita masing-masing. Karena realitasnya begitu banyak manusia mengarahkan seluruh perhatiannya, pikirannya, kekuatannya, dan hatinya demi mencari sarana hidup. Adalah benar bahwa masalah sarana hidup bukanlah perkara yang gampang. Demi mempertahankan sarana hidup banyak orang yang berkorban dan mengorbankan orang lain. Demi sarana hidup banyak orang yang berusaha bekerja siang dan malam untuk mencari bahkan menyerahkan seluruh hati, pikiran, tenaga, dan waktunya untuk melakukan sesuatu. Demi sarana hidup, sering terjadi manusia menjadi objek dari sesuatu bukan subjek dari sesuatu, akibatnya manusia menjadi kehilangan kemanusiaannya. Salah satu sarana hidup yang kita maksudkan adalah persoalan makanan atau roti, sebab tidak ada yang paling dibutuhkan oleh manusia selain makanan/ roti yang menjadi lambang sesuatu yang memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, Tuhan Yesus memberi pelajaran, “Akulah Roti Hidup!”
Isi
“Akulah Roti Hidup! Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35). Demikianlah penegasan Yesus mengenai diri-Nya dan apa yang akan dialami oleh setiap orang yang datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Berhadapan dengan penegasan Yesus bahwa diri-Nya adalah roti hidup, apa tanggapan kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus? Tanggapan kita atas pernyataan Yesus ditentukan oleh jawaban kita atas pertanyaan refleksi ini: “Apakah kita lapar akan roti hidup?” Jawaban atas pertanyaan “apakah kita lapar akan roti hidup” menentukan kualitas relasi kita dengan Yesus, Sang Roti Hidup. Apabila kita lapar akan roti hidup, kita tentu akan datang kepada-Nya dan percaya kepada-Nya. Sebaliknya, jika kita tidak merasa lapar akan roti hidup, sudah pasti kita tidak datang kepada-Nya, tidak percaya kepada-Nya, menolak, dan menentang-Nya sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Israel, khususnya para pemimpin mereka.
Orang Israel selalu beranggapan bahwa manna di padang gurun sebagai roti dari Allah (Mzm. 78:24; Kel 16:15). Ada sebuah keyakinan bahwa ketika Mesias datang, dia akan memberikan manna dari surga. Ini adalah karya agung Musa. Sekarang, para pemimpin Israel menuntut Yesus untuk memberikan manna dari surga sebagai bukti atas klaimnya sebagai Mesias. Yesus menanggapi dengan memberitahukan mereka bahwa bukan Musa yang memberikan manna, tetapi Allah. Dan manna yang diberikan kepada Musa dan orang Israel bukanlah roti yang benar dari surga, melainkan hanya sebuah simbol dari roti yang akan datang. Yesus kemudian membuat klaim yang hanya Allah dapat lakukan: “Akulah Roti Hidup!” (Yoh. 6:35).
Roti yang Yesus berikan tidak lain adalah hidup Allah sendiri. Inilah Roti yang sesungguhnya yang dapat memuaskan rasa lapar dalam hati dan jiwa kita. Manna dari surga hanyalah gambaran awal dari roti Perjamuan Tuhan yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya pada saat pengorbanan-Nya. Manna di padang gurun memberi hidup kepada orang-orang Israel dalam perjalanan mereka menuju Tanah Terjanji. Namun Manna itu tidak dapat memberikan hidup kekal bagi orang-orang Israel. Sebaliknya, Yesus memberikan kita roti surgawi yang menghasilkan hidup Ilahi dalam diri kita.
Yesus adalah Roti Hidup sejati yang memberikan hidup kepada kita sekarang dan selamanya. Roti yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya memberi hidup kepada kita bukan hanya dalam perjalanan kita menuju taman surgawi, tetapi memberikan kita hidup Ilahi Allah yang berlimpah. Ketika kita menerima dari meja Tuhan, kita mempersatukan diri kita sendiri dengan Yesus Kristus. Bapa Gereja Ignasius dari Antiokia menyebut roti itu satu-satunya roti yang memberikan obat kekekalan, penangkal kematian, dan makanan yang membuat kita hidup selamanya dalam Yesus Kristus. Makanan Ilahi ini menyembuhkan baik tubuh maupun jiwa dan menguatkan kita dalam perjalanan menuju tanah air surgawi.1
Menerima dan memakan Roti Hidup itu adalah sebuah proses yang membutuhkan kemauan (kesediaan) untuk bersinergi dengan Allah. Rasul Paulus memberikan gambaran bagaimana jemaat Efesus berproses untuk bersinergi bersama Allah membangun komunitasnya, yakni dengan berkata benar (4:25), mampu mengendalikan amarah (4:26), tidak kompromi dengan Iblis (4:27), bekerja keras dan melakukan pekerjaan baik dengan tangannya sendiri (4:28) untuk membantu orang yang berkekurangan. Terlebih lagi tidak mendukakan Roh Kudus Allah (4:30), membuang yang jahat, penuh kasih mesra, dan mudah mengampuni kesalahan orang lain (4:31).
Sekalipun dalam membangun komunitas itu banyak tantangan yang harus dihadapi, bahkan bisa membuat kita patah semangat, sebagaimana yang dialami Nabi Elia di tengah-tengah bangsa Israel. Elia begitu patah semangat karena ia merasa sudah gagal: ia mengharapkan pertobatan seluruh Israel dan bahkan mungkin juga Izebel, namun sekarang ia harus lari menyelamatkan nyawanya. Harapan, usaha keras, dan pergumulan seluruh hidupnya tampaknya berakhir dengan kegagalan (ayat 1-4). Ia merasa sendirian dalam pergumulan demi kebenaran Allah (ayat 10). Ditambah kelelahan jasmani setelah perjalanan yang panjang dan berat. Namun Tuhan tetap memberikan kekuatan dan pengharapan kepada Elia, walaupun hanya berupa roti bakar dan sebuah kendi berisi air (ayat 6).
Penutup
Membangun GKJW sebagai perwujudan ketaatan kepada Allah bukanlah hal yang mudah, sebagaimana membangun komunitas pada jaman Yesus yang membutuhkan kehadiran Yesus sebagai Roti Hidup, membangun komunitas pada jaman Rasul Paulus di jemaat Efesus membutuhkan praktik-praktik hidup yang baik, dan membangun komunitas pada jaman Nabi Elia membutuhkan kehadiran Allah sendiri. Maka perlu kita sadari bersama bahwa kesediaan untuk terus berkarya dan bersinergi sesama warga jemaat, akan menambah energi positif yang kita miliki untuk terus membangun GKJW ke arah yang Tuhan kehendaki sebagai perwujudan ketaatan kepada-Nya. (tes).
Pujian: KJ. 412 : 1, 3 Tuntun Aku, Tuhan Allah
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Wonten pitakenan, punapa ingkang dipunpadosi tiyang gesang punika? Sumbering gesang punapa sarananing gesang? Pitakenan punika prelu kita galih lan wangsuli wonten manah kita piyambak-piyambak. Amargi kasunyatanipun, kathah tiyang ingkang ngupadi sedaya kawigatosan, pamikir, dayanipun, lan manahipun kangge nggayuh sarananing gesang. Pancen leres, prekawis sarananing gesang punika sanes prekawis ingkang gampang. Kangge ngupadi sarananing gesang, kathah tiyang ingkang mentala dhateng tiyang sanes. Kathah tiyang nyambut damel wiwit enjing, siang, ngantos dalu kangge ngrengkuh punapa ingkang dipunpingini wau. Kangge ngupadi sarananing gesang, asring dados kelampahan manungsa namung dados obyek pepinginan lan boten dados subyekipun, pramila manungsa kicalan peri kamanungsanipun. Salah satunggaling bab sarananing gesang wau inggih punika bab tetedan utawi roti, amargi boten wonten bab ingkang ngungkuli ingkang dipun betahaken manungsa, kajawi bab tetedan/ roti, ingkang dados pralambang kabetahan gesanging manungsa. Pramila Gusti Yesus paring piwucal, “Ya Aku iki Roti Panguripan!”
Isi
“Aku iki roti panguripan; sing sapa marani Aku, iku ora bakal luwe maneh, sarta sing sapa pracaya marang Aku, iku ora bakal ngelak maneh” (Yokanan 6:35). Mekaten dhawuhipun Gusti Yesus mratelakaken sinten sejatosipun Panjenenganipun lan kadospundi ingkang badhe kelampahan menawi manungsa sowan lan pitados dhateng Gusti Yesus. Selajengipun kados pundi kita ingkang ngaken tiyang pitados paring tanggapan dhumateng dawuh pangandikanipun Gusti Yesus punika? Punapa kita saestu luwe dhumateng roti panguripan punika? Wangsulan kita punika nedahaken kadospundi kita gondelan gesang ing Gusti Yesus. Menawi kita saestu luwe dhumateng Roti Panguripan punika, kita tamtu badhe sowan lan pitados dhateng Gusti Yesus. Kosokwangsulipun, menawi kita boten nate ngraosaken luwe dhumateng Roti Panguripan punika, tamtu kita boten badhe purun sowan lan pitados dhumateng Gusti Yesus, kadosdene tiyang Israel, utaminipun para Pradatanipun.
Bangsa Israel asring nggadah pamanggih bilih manna ing pasamunan minangka roti saking Gusti Allah (Mzm. 78:24; Pangentasan 16:15). Wonten kapitadosan bilih rikala Mesias rawuh, badhe maringi manna saking swarga. Punika nedahaken pakaryan agung Musa. Lha wonten waosan Injil punika, pradataning bangsa Israel nyuwun dhumateng Gusti Yesus supados maringi manna saking Swarga minangka bukti bilih Gusti Yesus punika Sang Mesias. Gusti Yesus mratelakaken bilih sanes Musa ingkang paring manna punika, nanging Gusti Allah piyambak ingkang maringi. Mekaten ugi manna ingkang dipun paringaken dhateng Musa lan bangsa Israel rumiyin sanes roti ingkang saestu saking swarga, ananging namung simbol saking roti ingkang badhe rawuh mangke. Gusti Yesus selajengipun mratelakaken namung Gusti Allah kemawon ingkang saged paring dawuh, “Aku iki roti panguripan!” (Yok. 6:35).
Roti ingkang Gusti Yesus paringaken boten sanes inggih punika gesangipun piyambak. Punika roti kang sejati ingkang saged maregi raos luwe ing manah lan jiwa kita. Manna saking swarga namung gambaran pambuka saking roti pambujananing Gusti ingkang Gusti Yesus paringaken dhateng para sekabatipun rikala badhe nglampahi sangsara lan seda sinalib. Manna ing pasamunan maringi gesang dhateng bangsa Israel ingkang mlampah dumugi Papan Prajanji. Kosokwangsulipun, Gusti Yesus maringi kita roti swarga ingkang dadosaken kita kadunungan gesang ilahi ing diri kita piyambak.
Gusti Yesus minangka Roti Panguripan sejati ingkang maringi gesang dhateng kita samangke lan salaminipun. Roti ingkang Gusti Yesus paringaken dhateng para sekabat, maringi gesang dhateng kita, boten namung ing salampahing gesang kita ing donya tumuju Kraton Swarga, nanging ugi maringi kita gesang Ilahi ingkang lumuber. Nalika kita nampi roti saking mejanipun Gusti, kita nyatunggil kaliyan Gusti Yesus Kristus. Rama Greja wiwitan, Rama Ignasius saking Antiokhia nyebataken roti punika boten wonten malih, inggih namung roti punika ingkang maringi gesang langgeng, jamune katiwasan, lan tetedan kang dadosaken gesang langgeng ing Gusti Yesus Kristus. Tetedan Ilahi punika nyarasaken jiwa lan raga, ugi ngiyataken kita salebeting lumampah dumugi kraton Swarga langgeng.
Nampi lan nedha Roti Panguripan punika sejatosipun lampahing gesang tiyang pitados kang mbetahaken pikajeng (kesediaan) kangge selaras (bersinergi) kaliyan Gusti Allah. Rasul Paulus maringi gambaran kados pundi pasamuwan Efesus nggadahi pikajeng kangge selaras kaliyan Gusti Allah mbangun patunggilan, inggih punika pangucap kang nyata (4:25), ngemudi nepsu (4:26), boten kompromi kaliyan Iblis (4:27), sengkut makarya lan remen pandamel kang becik (4:28) kangge mbiyantu tiyang sekeng. Langkung malih boten damel sekele Sang Rohing Allah (4:30), mbuwang rasa serik, brangasan, gampang nepsu, tukar padu lan panyatur ala, ugi kebak ing sih katresnan lan lubering pangapura tumrap liyan (4:31).
Senadyan mbangun patunggilan punika kathah tantangan kang kedah dipunadepi, ngantos saged damel kita semplah utawi nglokro, kadosdene ingkang dipunlampahi Nabi Elia ing satengahing Bangsa Israel. Elia saestu nglokro amargi rumaos muspra: pangajeng-ajengipun sedaya bangsa Israel sami mratobat kalebet Ratu Izebel, nanging kasunyatanipun Nabi Elia kedah mlajeng nilar kraton awit badhe dipunpejahi dening Ratu Izebel. Pangajeng-ajeng, panggulowentah kang tumemen, lan lampahing gesangipun kados-kadosa badhe katiwasan muspra (ayat 1-4). Nabi Elia rumaos piyambakan kangge margi kautamaning Gusti Allah (ayat 10). Langkung malih raganipun sayah awit saking mlampah tebih lan awrat. Nanging Gusti Allah boten negakaken, tansah maringi kekiyatan lan pangajeng-ajeng dhateng Elia, senadyan namung arupi roti bakar lan kendil isi toya (ayat 6).
Panutup
Mbangun GKJW minangka pangejawantah wanuh dhumateng Gusti Allah sanes prekawis enteng kadosdene mbangun patunggilan tiyang pitados jaman Gusti Yesus (Prajanjian Anyar) ingkang mbetahaken rawuhipun Gusti Yesus minangka Roti Panguripan. Mekaten ugi mbangun patunggilan jaman Rasul Paulus ing pasamuwan Efesus mbetahaken praktek-praktek gesang ingkang sae. Lan mbangun patunggilan jaman Nabi Elia mbetahaken rawuhipun Gusti Allah piyambak. Pramila prelu kita sadari sesarengan bilih pikajeng kangge terus makarya lan selaras warganing pasamuwan ing GKJW, dadosaken mindhaking kekiyatan kita kangge terus mbangun GKJW tumuju punapa ingkang dipunkersakaken Gusti Allah minangka wujuding wanuh dhumateng ngarsanipun. (tes).
Pamuji: KPJ. 147 : 1, 6 Yesus Roti Panguripan
1 https://karyakepausanindonesia.org/2020/04/27/akulah-roti-hidup/