Roh Kudus Menuntun Kita Kepada Kebenaran Khotbah Minggu 23 Mei 2021 (Pentakosta)

10 May 2021

Pentakosta – Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Merah

Bacaan 1: Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21          
Bacaan 2:
Roma 8 : 22 – 27
Bacaan 3:
Yohanes 15 : 26 – 27; 16 : 4b – 15

Tema Liturgis:   Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi-Nya”
Tema Khotbah: 
Roh Kudus Menuntun Kita kepada Kebenaran

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 2 : 1 – 21
Ucapan selamat apa yang tepat diucapkan kepada sesama orang percaya pada Hari Pentakosta? Selamat atas kuasa yang dari Atas yang sudah dicurahkan kepada Anda! Hari Pentakosta merupakan hari dimulainya penggenapan janji Kristus kepada para murid-Nya sesaat sebelum kenaikan-Nya. Janji itu adalah bahwa mereka akan menerima kuasa untuk melaksanakan misi yang mereka emban dari-Nya.

Penggenapan itu mulai dengan turunnya Roh Kudus ke atas para murid sehingga mereka mengalami kuasa-Nya. Pertama, mereka mendapatkan karunia berkata-kata di dalam berbagai bahasa asing. Saat itu, hari raya Pentakosta menurut tradisi PL. Semua orang Yahudi, baik yang di Palestina maupun yang dari luar Palestina, berkumpul merayakannya di Yerusalem. Orang-orang Yahudi non Palestina masing-masing memiliki bahasa menurut daerah tempat tinggal mereka. Orang-orang Yahudi inilah yang menjadi saksi para rasul bisa berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka masing-masing (ayat 6-11). Memang beberapa orang yang mendengarkan hal itu, mencemooh para rasul sebagai sedang mabuk sehingga mengoceh tidak karuan (ayat 13). Sangat mungkin para pencemooh ini berasal dari Palestina sehingga tidak mengerti bahasa-bahasa non Palestina. Kedua, para murid mendapatkan keberanian untuk berkata-kata di depan publik. Sebenarnya mereka berkumpul di satu tempat saja di sebuah rumah (ayat 1). Namun saat Roh Kudus mengurapi mereka, mereka ke luar dan berbicara di tengah-tengah kerumunan orang Yahudi yang sedang beribadah di sekitar bait Allah.

Bagaimana kita merayakan Pentakosta? Pertama, dengan menaikkan syukur atas kuasa Roh yang menaungi gereja dan orang percaya untuk memberitakan Injil dengan berani. Kedua, dengan memperlengkapi dan mengutus orang percaya untuk pergi ke seluruh dunia membawa berita Injil itu. Mari mulai dari diri kita sendiri. Mungkin Tuhan sedang menggerakkan hati kita untuk menyerahkan diri memenuhi panggilan-Nya. Jangan tunda apalagi tolak panggilan-Nya.

(Dikutip dari  https://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=44&chapter= 2&verse=1)

Roma 8 : 22 – 27
Paulus baru saja menunjukkan bahwa hidup tanpa kasih karunia Kristus adalah kekalahan, kesedihan, dan perbudakan kepada dosa. Kini dalam Roma 8:1-39,  Paulus memberitahukan kita bahwa kehidupan rohani, kebebasan dari hukuman, kemenangan atas dosa, dan persekutuan dengan Allah dapat terjadi melalui persatuan dengan Kristus oleh Roh Kudus yang mendiami kita. Dengan menerima dan mengikuti pimpinan Roh, kita dibebaskan dari kuasa dosa dan dituntun kepada pemuliaan terakhir dalam Kristus. Inilah kehidupan Kristen yang normal di bawah persediaan sepenuhnya dari Injil.Yohanes 15: 26-27; 16: 4b-15.

(disadur dari https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Rm&chapter=8)

Yohanes 15 : 26 – 27; 16 : 4b – 15
Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.

Mereka tidak akan menghadapi perlawanan itu sendiri, karena Roh Kebenaran akan bersaksi tentang Tuhan Yesus. Segala kesusahan yang akan mereka alami diimbangi dengan kehadiran dan karya Roh Kebenaran. Dia akan bersaksi tentang Tuhan Yesus.

Sama seperti Tuhan Yesus diutus oleh Allah Bapa, demikian juga Roh Kebenaran diutus oleh Tuhan Yesus. Namun juga dapat dikatakan bahwa Roh Kebenaran keluar dari Bapa. Dia dari Tuhan Yesus, dan Dia dari Allah Bapa. Pengamatan ini sesuai dengan ajaran Injil Yohanes mengenai hubungan yang begitu erat antara Tuhan Yesus dan Allah Bapa.

(disadur dari https://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Rm&chapter=8)

Benang Merah Tiga Bacaan:
Pesan dalam Injil Yohanes jelas, yaitu para murid akan menerima penyertaan dari Roh Kudus setelah Yesus naik ke sorga. Sedangkan Kisah Para Rasul menulis tentang dipenuhinya janji itu dengan turunnya Roh Kudus. Dengan turunnya Roh Kudus era baru dimulai, yaitu tak berlaku lagi tugas  yang ekslusif dalam pemberitaan Injil pada pundak para murid Yesus, tetapi kepada setiap orang.

 

Rancangan Khotbah:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

  1. Grup WA Keluarga Besar Pak Dadap sudah berjalan sekitar 5 tahun. Jumlah anggota grup WA ini ada lebih dari 50 orang, mulai kakek-nenek sampai dengan cicit. Selama 5 tahun berjalan isi WA di grup itu cukup bisa diterima dengan baik oleh setiap anggota. Hal-hal yang dimasukkan ke dalam WA itu seperti lazimnya grup-grup WA keluarga lainnya: informasi tentang keadaan keluarga masing-masing, video-video lucu, dan tulisan-tulisan inspiratif. Anggota grup yang paling sering -hampir setiap hari- memasukkan tulisan-tulisan dan video yang berisi motivasi atau tulisan-tulisan inspiratif adalah Pak Drembo, cucu tertua Pak Dadap. Inti dari tulisan dan video inspiratif yang dikirim itu adalah tentang ajakan antara lain untuk hidup sabar, sederhana, murah hati, tak mudah marah, bijak. Bahkan sesekali Pak Drembo mengirimkan ke dalam grup renungan-renungan hasil refleksinya.
  2. Namun ternyata, satu-satunya anggota yang keluar dari grup WA itu adalah Pak Drembo. Keluarnya Pak Drembo menjadi anggota grup WA mendatangkan keprihatinan semua anggota grup. Selain itu tidak ada yang menyangka bahwa Pak Drembo akan keluar mengingat derasnya kiriman kata-kalimat bijak dan inspiratif ke dalam grup WA Pak Dadap. Dugaan keluarnya Pak Drembo mudah ditebak oleh semua anggota grup. Dua Hari sebelum keluar memang di dalam grup itu Pak Drembo menulis kata-kata yang tidak sopan, lalu diingatkan oleh salah satu saudaranya. Itu saja!
  3. Saya menduga perilaku seperti Pak Drembo cukup banyak di jemaat juga di keluarga-keluarga kita. Oleh karena itu senyampang kita memperingati hari Pentakosta ada baiknya kita menjadikan kasus Pak Drembo sebagai bahan untuk berefleksi.
  4. Hari Pentakosta itu momentum yang dipersiapkannya oleh Tuhan untuk memulai era baru dalam kehidupan persekutuan. Beberapa hal penting dapat disampaikan berikut ini:
    • Pemerataan panggilan memberitakan Injil. Ketika para murid masih bersama-sama dengan Yesus, mereka dengan mudah bisa sendhen pada Yesus ketika sedang menghadapi kesulitan. Namun ketika Yesus telah naik ke sorga, para murid harus menghadapi sendiri berbagai tantangan dan hambatan; ibarat seorang saksi di pengadilan. Ia harus mampu menjawab sendiri setiap pertanyaan dan siap menghadapi risikonya. Sedangkan pada hari Pentakosta, tugas panggilan memberitakan Inijil Yesus Kristus itu ditumpahkan pula kepada setiap orang. Dan sejak itu injil tersebar ke berbagai tempat. Perhatikan ayat ini, “…Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di Negeri asal kita…”. Tersirat dari ungkapan ini ialah diterobosnya sekat-sekat/ tembok pemisah oleh karya nyata Roh Kudus, sehingga Injil tak lagi ekslusif di lingkungan Yahudi; juga tak lagi tertumpu pada pundak para rasul, melainkan siapa pun yang mendengarkan dan mengikuti terpanggil untuk memberitakan kepada sesama.
    • Kehidupan iman yang terus bertumbuh, tak mandeg apa lagi mundur. Injil Yohanes yang telah kita baca menulis bahwa Roh akan menuntun kita pada kebenaran yang utuh (ay.13). Kalau diibaratkan (mungkin contoh ini tidak pas, Anda bisa mengganti dengan yang lebih pas) hidup kita ibarat segenggam kapas yang kemudian mengapung di air; semakin kapas itu rela hati menerima kehadiran air, maka kapas itu akan tenggelam di dalam air. Ketika kapas itu diangkat maka seluruh bagian dari kapas itu tak lagi bebas dari air. Sama halnya dengan kesediaan kita menerima karya Roh Kudus, isi hati dan pikiran kita akan dipenuhi oleh Roh itu sehingga yang muncul dalam hidup kita hanyalah kebenaran; memang tidak seketika. Contoh yang amat jelas dalam hal ini ialah Petrus dan Stefanus. Petrus yang pernah menciut nyalinya ketika menerima ancaman bahaya (ingat ketika ia ditanya oleh para perempuan menjelang Yesus disalib) tumbuh -berproses- menjadi Petrus yang siap menghadapi segala risiko. Demikan pula halnya Stefanus. Penderitaan luar biasa dialaminya karena dilempari batu, tetapi dari dalam dirinya mengalir kejernihan hati dan pikiran, “Tuhan, jangan tanggungkan dosa ini kepada mereka.”
    • Hidup di dalam dan dengan anugerah. Yesus telah mengambil alih puncak penderitaan kita, yaitu hukuman dosa. Yang tersisa dalam hidup kita adalah rasa syukur, ini saja! Seluruh kehidupan tak lagi diisi oleh kehausan untuk mencari dan mengejar berkat, tetapi hidup optimal atas potensinya sehingga tak lagi putus asa ketika tak mendapatkan atau mengeluh ketika dikecewakan.
    • Roh itu bekerja di dalam, bukan di luar. Yang tampak pada diri kita oleh orang lain adalah tubuh, sedangkan pikiran dan hati itu di dalam, tak tampak oleh mata. Orang yang selalu membuka diri terhadap karya Roh Kudus PASTI terolah pikiran dan hatinya sehingga semakin matang dan dewasa dari waktu ke waktu.
  5. Kembali ke Pak Drembo. Pertanyaan kritisnya adalah pada diri Pak Drembo apakah kita temukan, misalnya: tanda-tanda pertumbuhan imannya? Silakan dijawab. Lalu, bagaimana dengan diri kita sendiri? Amin. (smdjn)

Nyanyian: KJ. 230 : 1, 2, 3  Kami Berdoa, Ya Roh Kudus

Rancangan Khotbah: Basa Jawi

  1. Grup WA Keluarga Pak Dadap sampun mlampah antawis 5 tahun. Wonten 50 anggota ing grup WA punika, wiwit eyang kakung lan putri ngantos para buyut. Salaminipun 5 tahun grup WA keluarga punika mlampah kanthi sae. Kados limrahipun grup-grup WA keluarga sanesipun, ing grup WA punika ugi kaisi bab antawisipun: informasi keluarga, video-video lucu, lan artikel-artikel inspiratif. Anggota grup ingkang paling asring -meh saben dinten- ngleberaken dadosa video punapa artikel-artikel inspiratif inggih punika Pak Drembo, wayah mbajeng Pak Dadap. Inti kintunanipun ngengetakan bab: gesang prasaja, loma, boten gampil nesu, lan wicaksana. Malah ing kala mangsa Pak Drembo ugi ngintun renunganipun piyambak minangka refleksinipun. Kita gatosaken ayat punika, “…Kapriye dene kita dhewe-dhewe padha krungu anggone caturan nganggo basa kita dhewe , yaiku basa kang kita anggo ana ing nagara asal kita…” Ayat punika ngemu pangertosan: singgetan sampun dipun bobol awit tumedhaking Roh Suci. Pawartos kabingahan boten namung katujokaken kangge bangsa Yahudi kemawon, nanging kangge sinten kemawon. Mekaten ugi tanggel-jawab martosaken Injil boten malih namung ing pundhakipun para murid, nanging ugi ing pundhakpun saben tiyang pitados!
  2. Nanging ngeramaken! Salami 5 tahun namung Pak Drembo ingkang lajeng medal saking grup punika. Medalipun Pak Drembo saking grup WA punika nuwuhaken kaprihatosan saben anggota grup. Kejawi punika boten wonten ingkang nginten bilih Pak Drembo badhe medal, awit mokal menawi ngengeti artikel lan video-video inspiratif ingkang meh saben dinten piyambakipun kintun ing grup WA. Nanging sedaya sampun batos bilih medalipun Pak Drembo amargi isi WA kalih dinten kepengker. Kalih dinten kepengker pancen Pak Drembo nyerat mawi tembung ingkang boten sopan, lajeng dipun engetaken dening bulikipun. Namung punika jalaranipun: dipun engetaken!
  3. Sinten mangertos yen perilaku kados Pak Drembo -ingkang namun kaajak langkung sopan kemawon lajeng nesu lan medal saking grup WA- ugi kathah ing pasamuwan malah ugi ing brayat kita. Mila mumpung kita sami mengeti riyadin Pentakosta prayogi kita dadosaken pengalamanipun Pak Drembo dados bahan kita nggegilut pangandikanipun Gusti ing dinten punika.
  4. Dinten Pentakosta punika wekdal mirunggan ingkang kacawisaken dening Gusti kangge miwiti jaman enggal tumrap patunggilan. Wonten sawetawis bab ingkang wigatos ingkang perlu kita gataosaken, inggih punika:
    • Warata timbalan ngundangaken Injil. Nalika para sakabat taksih sareng Gusti Yesus taksih gampil sendhen Gusti Yesus nalika ngadhepi godha-rencana. Nanging nalika Gusti sampun sumengka dhateng swarga, para sakabat kedah mrantasi piyambak; kadosdene seksi ing pangadilan: saged mangsuli pitakenan lan kedah wantun nanggel risikonipun. Ing dinten Pentakosta timbalan martosaken Injil nyebar, boten namung tanggeljawabaipun para sakabat, nanging sedaya tiyang pitados ingkang nampi Gusti Yesus.
    • Iman ingkang boten mandeg. Injil Yohanes ingkang sampun kita waca nyerat bilih Roh Suci badhe nenuntun kita dhateng kayekten ingkang utuh (ay.13). Kadosdene sagenggem kapuk ingkang ngambang ing toya. Nalika kapuk punika purun teles, kapuk punika badhe klelep. Nalika kapuk punika pun pendhet, sedaya pranganipun sampun teles (Conto Punika mbokbilih Kirang trep; mangga Panjenengan pados ingkang langkung pas). Sami kaliyan kita, nalika kita nampi kanthi legawa pakaryaning Roh Suci, gesang kita badhe kalimputan Roh Suci, isining manah namung ngudi kasaenan. Pancen boten sakdeg-saknyet. Conto ingkang cetha saged pun pirsani ing gesangipun Petrus lan Stefanus. Petrus ingkang nate nyelaki Gusti Yesus lajeng -berproses- dados Petrus ingkang wantun lan siap ngadhepi risiko punapa kemawon. Mekaten ugi Stefanus. Piyambakipun ngalami sakit ingkang boten kantenan nalika dipun sawati sela; nanging ing kawontenan mekaten, ingkang kalair saking tutukipun sanes drengki utawi kutuk, nanging kasucen, “Dhuh Gusti, dosa punika sampun Paduka tempahaken dhateng tiyang-tiyang punika. ”
    • Gesang ing salebeting nugraha. Gusti Yesus sampun nanggel kasangsaran kita ingkang paling awrat, paukumaning dosa. Mila ing gesang kita samangke mesthipun namung wonten nugraha. Isining gesang boten malih ngupaya berkah, nanging gesang temen lan tanggon.
    • Roh Suci makarya ing manah. Ingkang ketingal dening tiyang sanes punika badan kita, sanes isining manah. Nanging tiyang ingkang kulina mbikak manahipun kagem pakaryanipun Sang Roh Suci punapa ingkang katingal inggih minangka wujud ingkang asalipun saking lebet. Limrahipun tiyang ingkang mekaten badhe cetha lampahing gesangipun, inggih punika mindhak dinten mindhak mateng lan dewasa.
  5. Samangke wangsul dhateng Pak Drembo. Perlu kita gegilut pitakenan punika. Punapa ingkang sampun dipun tindakaken dening Pak Drembo saged kita panggihaken tetenger bilih gesangipun katuntun dening Roh Suci? Mangga, katuran paring wangsulan. Lajeng, kadospundi dhiri kita pribadi? Amin. (smdjn).

Pamuji: KPJ.  187 : 1, 2, 3   Ana Sabawa Gumrubyung

Renungan Harian

Renungan Harian Anak