Minggu Tri Tunggal Kudus – Bulan Kesaksian dan Pelayanan
Stola Putih
Bacaan 1: Yesaya 6 : 1 – 8
Bacaan 2: Roma 8 : 12 – 17
Bacaan 3: Yohanes 3 : 1 – 17
Tema Liturgis: Masa dan Waktu Tuhan Mendatangkan Kebaikan menjadi Saksi-Nya
Tema Khotbah: Berani Berjuang Hidup dalam Kasih Karunia di Tengah Penderitaan
Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)
Yesaya 6: 1 – 8
Kisah Yesaya yang berjumpa dengan Tuhan merupakan sebuah pengalaman iman yang spektakuler. Pernyataan Yesaya tersebut dapat dipahami bahwa (a) penglihatan Yesaya merupakan tradisi kenabian yang terjadi pada saat itu, dimana nabi memang ‘dipahami’ dapat melihat Allah. (b) Pengalaman Yesaya melihat Tuhan pastilah dipengaruhi oleh pra paham dan keyakinan dari orang-orang sezamannya. Sehingga perjumpaan Yesaya dengan Tuhan yang merupakan pengalaman spektakuler namun juga merupakan pengalaman yang bisa diterima menjadi sebuah pesan penting bagi pembacanya. Bahwa apa yang disampaikan Yesaya memiliki kewibawaan dan pengaruh penting bagi bangsanya, yaitu penegasan bahwa Yesaya adalah utusan Tuhan.
Tuhan yang dilihat oleh Yesaya digambarkan sebagai sosok Raja. Pemilihan gambaran Tuhan sebagai Raja membawa pesan atau makna bahwa Tuhan merupakan pribadi yang memiliki sebuah kekuasan yang melebihi dari manusia. Selain itu, Raja merupakan sosok pribadi yang ‘mulia’. Dua gambaran ini dipakai Yesaya dalam rangka menjelaskan Tuhan yang mengutusnya adalah pribadi yang memang memiliki kekuasaan yang jauh lebih hebat dari manusia yang sekaligus mulia.
Gambaran berikutnya yang dituliskan Yesaya, Tuhan adalah sosok yang Kudus (ayat 3). Kekudusan yang digambarkan Yesaya kemudian disejajarkan dengan keberadaan manusia yang berdosa/najis. Keberdosaan manusia di hadapan Tuhan menjadikan sebuah keadaan yang membahayakan, oleh karenanya manusia perlu pemurnian. Sehingga gambaran tersebut memiliki sebuah pesan bahwa manusia perlu pengampunan di hadapan Tuhan yang penuh kekudusan tersebut.
Roma 8: 12 – 17
Paulus memberikan pengajaran bagi jemaat di Roma dengan konsep kehidupan yang dipengaruhi dua hal yaitu hidup menurut daging dan hidup menurut Roh. Pertama, hidup menurut daging yaitu kehidupan yang digambarkan terikat pada bumi. Jika manusia hidup terikat dengan bumi dampaknya yaitu menghantar pada hidup yang mengadalkan hanya pada kekuatan dirinya sendiri tanpa memerlukan Tuhan, sehingga akhirnya membawa pada kematian/kebinasaan.
Kedua, hidup menurut Roh menggambarkan kehidupan yang terikat dengan bumi namun dipimpin oleh kekuatan yang memberi hidup atau Roh Yesus. Orang yang hidup menurut Roh dampaknya yaitu hidup menemukan kedamaian. Selain itu, dengan hidup menurut Roh seseorang akan mendapatkan status / privilege anak Allah.
Menyandang keistimewaan status anak Allah, membawa dua implikasi dalam hidup yaitu mendapatkan janji-janji Allah. Serta dengan status anak Allah kita dipanggil untuk berani menjalani kehidupan dalam penderitaan supaya pada akhirnya orang yang hidup dalam Roh akan dimuliakan bersama Kristus.
Yohanes 3: 1 – 17
Percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus memberikan penekanan bahwa:
- Konsep pemikiran orang Yahudi bahwa untuk mencapai Kerajaan Allah dengan jalan berusaha secara mandiri. Peranan usaha manusia mendapatkan tempat yang dominan dalam rangka mencapai kerajaan Allah itu. Sehingga seorang Yahudi berjuang melakukan peraturan, hukum dan perbuatan baik agar pada saatnya mendapatkan upah yang sepadan dengan ketaatan melakukan itu semua.
- Tuhan Yesus memberikan pencerahan bahwa upaya mencapai kerajaan Allah dengan jalan bukan sekedar berpusat pada usaha manusia. Namun lebih daripada itu, kerajaan Allah hanya bisa dicapai dengan kasih karunia Allah. Dengan demikian, konsep yang mengandalkan kemampuan manusia disempurnakan dengan kemampuan mengandalkan-Nya.
- Konsep Kasih Allah itu nyata dalam bentuk Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia. Dimana pada hakekatnya Allah itu Mahatinggi, ketika dalam kisah Taurat Musa, Allah ditinggikan. Maka dalam Injil Yohanes pun ingin ditegaskan Allah yang Mahatinggi tersebut berkenan menjadi hina di kayu salib untuk menyatakan kasih-Nya yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Dengan demikian dapat dipahami bahwa keselamatan – kerajaan Allah bukan sekedar usaha manusia namun merupakan inisiatif dari Allah sendiri.
Benang Merah Tiga Bacaan:
Allah adalah pribadi yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas, mulia dan kudus. Melihat manusia yang jatuh dalam kehidupan yang terikat dengan kedagingan, Allah melalui Tuhan Yesus Kristus hadir dengan kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia. Dengan karya Roh Kudus, Allah memanggil manusia untuk berjuang menjalani kehidupan dengan berani sekalipun harus menderita. Karena pada hakekatnya orang yang hidup dan percaya pada Tritunggal Kristus akan mendapatkan privilege yaitu menerima janji Allah dan keselamatan.
Rancangan Khotbah: Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)
Pendahuluan
Dalam sebuah drama Korea (Drakor) yang berjudul Crash Landing On You dikisahkan seorang wanita kaya bernama Yoon Se-ri dari Korea Selatan sedang mengalami kecelakaan paralayang dan jatuh di wilayah Korea Utara. Ketika mengalami insiden tersebut, seorang tentara Korea Utara bernama Ri Jeong Hyuk / Kapten Ri menyelamatkannya. Berkat kejadian itu, Yoon Se-ri dari Korea Selatan dan Kapten Ri dari Korea Utara jatuh cinta dan hal ini merupakan sebuah larangan. Ketika Kapten Ri sebagai tentara Korea Utara menyelamatkan orang dari Korea Selatan, akan mendatangkan hukuman. Terlebih dari itu, ayah dari Kapten Ri yang bernama Ri Choong Ryeol adalah Direktur Jenderal yang tegas dan ditakuti para perwira. Atas kesalahan Kapten Ri, justru ayahnya Sang Jenderal itu menyelamatkan anaknya. Ri Choong Ryeol menanggung kesalahan anaknya dan rela berkorban meski kedudukan dan jabatannya yang tinggi dan terhormat.
Dari kisah dalam drama Korea CLOY itu menunjukkan bahwa sebuah kesalahan berakibat mendatangkan hukuman. Siapapun dengan kedudukan apapun ketika bersalah, maka hukumanlah yang harus dihadapi. Seseorang bisa terlepas dari hukuman dan mendapatkan keselamatan ketika ada yang berkorban untuk menyelamatkan. Atas hasil usaha sendiri, hukuman itu akan tetap terjadi. Namun ketika ada penolong yang mampu memberikan penyelamatan, maka hal tersebut akan merubah kehidupan seseorang yang terhukum.
Isi
Dalam percakapan Tuhan Yesus dengan Nikodemus yang merupakan pemimpin agama Yahudi, pemahaman orang Yahudi untuk mencapai keselamatan adalah dengan jalan berusaha melalui dirinya sendiri. Peranan usaha manusia mendapatkan tempat yang dominan dalam rangka mencapai kerajaan Allah itu. Sehingga seorang Yahudi berjuang melakukan peraturan, hukum dan perbuatan baik agar pada saatnya mendapatkan upah yang sepadan dengan ketaatan melakukan itu semua. Dengan demikian terbebas dari hukuman yang membinasakan.
Konsep yang diajarkan Tuhan Yesus bahwa upaya mencapai kerajaan Allah yaitu dengan jalan bukan sekedar melalui usaha manusia. Namun lebih daripada itu, kerajaan Allah hanya bisa dicapai dengan kasih karunia Allah. Dengan demikian, konsep yang mengandalkan kemampuan manusia disempurnakan dengan kemampuan mengandalkan-Nya. Manusia dipanggil Tuhan untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Kita tidak akan mampu berjuang sendiri, manusia bergantung pada Tuhan. Ya! Manusia butuh Tuhan. Dalam Yesaya manusia yang berdosa itu bisa dikuduskan oleh karena Tuhan yang menguduskannya (Yesaya 6:7).
Oleh karena manusia membutuhkan Tuhan, Allah dengan kasih-Nya berinisiatif mengasihi manusia. Kasih Allah tersebut dinyatakan dalam bentuk Allah mengutus anak-Nya ke dalam dunia. Dimana pada hakekatnya Allah itu Mahatinggi, ketika dalam kisah Taurat Musa, Allah ditinggikan. Maka dalam Injil Yohanes pun ingin ditegaskan Allah yang Mahatinggi tersebut berkenan menjadi hina di kayu salib untuk menyatakan kasih-Nya yaitu menyelamatkan manusia dari dosa. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Dengan demikian dapat dipahami bahwa keselamatan – kerajaan Allah bukan sekedar usaha manusia namun merupakan inisiatif dari Allah sendiri.
Jika telah diselamatkan dan dikasihi Allah atas inisiatif Allah, bagaimana kita menjalani kehidupan? Apakah kita hidup seenaknya, hidup menurut daging? Hidup menyukai kegelapan dan melakukan perbuatan-perbuatan jahat? Tidak! Manusia dipanggil untuk hidup dalam terang. Hidup dalam Roh, yaitu kehidupan yang dipimpin oleh kekuatan yang memberi hidup atau Roh Yesus. Dengan hidup menurut Roh kita dipanggil mengarahkan hidup pada situasi yang penuh dengan kedamaian. Selain itu bersama Tuhan juga berarti hidup yang bersedia untuk dipanggil menjadi berani menjalani kehidupan dalam penderitaan supaya pada akhirnya orang yang hidup dalam Roh akan dimuliakan bersama Kristus.
Penutup
Kita sebagai manusia, perlu menyadari bahwa kita layak mendapatkan hukuman atas dosa dan kenajisan yang telah kita perbuat. Namun kita juga perlu menyadari bahwa Allah Bapa Sang Mahakasih adalah Tuhan yang tidak rela kita sebagai anak-anak-Nya mengalami hukuman. Sama seperti Jendral Ri Choong Ryeol yang tidak ingin anaknya Kapten Ri harus dihukum atas kesalahannya. Allah Bapa dengan kasih-Nya mengutus anak-Nya yaitu Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Bahkan melalui karya Roh Kudus, Ia memanggil umat yang dikasihi-Nya untuk hidup dalam Roh. Agar manusia tidak terjebak pada kehidupan yang terikat dengan daging, namun hidup yang mampu menderita bersama-Nya agar pada saatnya kita dimuliakan bersama Kristus. (MM).
Nyanyian: KJ. 246 Ya Allah yang Mahatinggi
—
Rancangan Khotbah: Basa Jawi
Pambuka
Ing salah sawijining drama Korea (drakor) kanthi irah-irahan Crash Landing On You dipun cariyosaken wonten prawan naminipun Yoon Se-ri saking nagari Korea Selatan saweg nemahi kacilakan paralayang dawah ing tlatah Korea Utara. Nalika ngalami dawah, lajeng wonten tentara saking Korea Utara naminipun Ri Jeong Hyuk / Kapten Ri ingkang nylametaken. Amargi saking pitulungan punika lajeng Yoon Se-ri lan Kapten Ri nggadahi manah tresna. Lan kahananan tresna tinresnan antawis tiyang Korea Utara lan Korea Selatan punika mboten dipunparengaken dening pamarintah lan saged andadosaken paukuman. Langkung-langkung ramanipun Kapten Ri punika jumeneng Direktur Jenderal ingkang sampun kasuwur kawibawanipun lan kategasanipun. Awit tumindakipun ingkang nglanggar kalawau sejatosipun Kapten Ri kedah nemahi paukuman. Ananging tiyang sepuhipun kersa nanggel punapa ingkang dados kesalahan putranipun. Ramanipun sumedya kecalan kedudukan lan jabatan ingkang inggil lan terhormat kangge nebus paukuman putranipun.
Saking cariyos drama korea CLOY punika kita saged mangertos bilih tumindhak ingkang klentu tamtu andadosaken paukuman. Sok sintena ingkang kagungan pangkat lan drajat menawi nggadahi kesalahan tamtu kedah nampi paukuman. Tiyang ingkang kaganjar paukuman saged nampi kaslametan mewawi wonten tiyang ingkang kersa nanggel paukuman punika. Menawi badhe mbudidaya piyambak awit paukuman ingkang dipuntampi, tamtu namung muspra. Ananging menawi wonten tiyang ingkang paring pitulungan lan paring kaslametan, tamtu andadosaken tiyang ingkang kaganjar paukuman saged uwal.
Isi
Ing cariyos piwulangipun Gusti Yesus marang Nikodemus ingkang jumeneng panggedhe tiyang Yahudi, pemanggihipun Nikodemus supados tiyang saged nampi kaslametaning swarga kedah mbudidaya piyambak sacara pribadi. Peranan pambudidayaning manungsa miturut pemanggihipun tiyang Yahudi punika dominan. Saengga tiyang Yahudi kedah ngupaya nindakaken peraturan, angger-angger lan tumindhak sae supados ing tembe dinten nampi woh ingkang cundhuk kaliyan kasetyan nindhakaken sadaya perkawis ingkang sae. Sarta lumantar tumindhak sae lajeng saged uwal saking paukuman ingkang ndadosaken kasedan.
Gusti Yesus paring piwucal bilih supados nampi lan mlebet kratoning Allah, manungsa mboten namung mbudidaya sarana kakiyataning piyambak. Ananging manungsa saged nampi kratoning Allah amargi namung sarana katresnanIpun, saengga konsep ingkang ngendelaken kakiyataning manungsa piyambak dipunsampurnakaken dening Gusti Yesus lumantar pamanggih bilih manungsa kedah ngendelaken kakiyataning Gusti Allah. Manungsa dipuntimbali Gusti Allah supados gesang ngendelaken Gusti Allah ing sadengah gesangipun. Manungsa mboten saged tumindhak lan ngupaya piyambakan. Manungsa gumantung kaliyan Gusti Allah. Nggih, manungsa mbetahaken pitulunganipun Gusti Allah! Ing Yesaya kaserat bilih manungsa ingkang kebak dosa saged kaapura lan kasirnaaken saking dosa namung karana Gusti Allah piyambak ingkang mbirat dosa (Yesaya 6:7).
Amargi manungsa mbetahaken Gusti, Allah ingkang Mahawlas nggadahi inisiatip nresnani manungsa. Katresnaning Gusti Allah punika kababaraken lumantar Gusti Allah ngutus Putranipun manjalma dados manungsa. Sejatosipun Gusti Allah punika jumeneng Kang Mahaluhur, ing kitab Toret Musa, Gusti Allah kaluhuraken. Pramila ing Injil Yokanan ugi dipun ambali malih bilih Gusti Kang Mahaluhur kersa dados manungsa lan kasalib nglampahi seda kangge nylametaken manungsa saking dosa. Awit dene Gusti Allah anggone ngasihi marang jagad iku nganthi masrahake Kang Putra ontang-anting, supaya saben wong kang pracaya marang Panjenengane aja nganti nemu karusakan, nanging nduwenana urip langgeng (Yok 3:16). Punika saged dipunmangertosi bilih kaslametan namung saking Gusti Allah kemawon mboten saking pambudidayaning manungsa.
Menawi kita sampun nampi katresan lan kaslametan ingkang saking Gusti. Lajeng kados pundi kita nindhakaken pigesangan? Punapa kita gesang sakpikajeng kita, gesang miturut kadagingan? Gesang remen ing pepeteng lan nindakaken prekawis ingkang mboten sae? Tamtu Mboten! Manungsa dipuntimbali dening Gusti supados remen gesang ing pepadhang. Gesang miturut Roh, inggih punika gesang ingkang dipuntuntun dening kakiyating Gusti Yesus. Lumantar gesang miturut Roh, manungsa dipuntimbali dening Gusti supados gesang ing katentreman. Ugi menawi kita gesang miturut Roh, manungsa dipuntimbali supados cumadang nindakaken gesang ing kasangsaran kaliyan Gusti supados ing tembe ugi dipunmulyakaken sesarengan kaliyan Gusti.
Panutup
Kita minangka manungsa perlu nggadahi kesadaran bilih kita sejatosipun kaganjar paukuman awit dosa lan kenajisan ingkang sampun kita lampahi. Nanging kita ugi perlu nggadahi kesadaran bilih Sang Rama ingkang Mahawlas punika mboten badhe negakaken bilih kita nglampahi paukuman. Kados dene cariyos drama Korea Jendral Ri Choong Ryeol ingkang mboten tega putranipun badhe dipunganjar paukuman awit tumindhakipun. Mekaten ugi Gusti Allah awit katresnanipun ngutus Putranipun Yesus Kristus kangge nebus dosaning manungsa. Langkung-langkung lumantar Sang Roh Suci, Gusti Allah nimbali umat kagunganipun supados gesang ing Roh, supados manungsa ngraosaken katentreman lan kakiyatan anggenipun nindakaken pigesangan. Sarta pungkasanipun kita ugi dipunmulyakaken menawi kita setya tuhu gesang berjuang ing sadengah kahanan lan kasangsaran. Gusti ngiyataken lan mberkahi. Amin. (MM).
Pamuji: KPJ. 140 Sihe Allah Gung Sanyata