Salah Kamar Pancaran Air Hidup 24 April 2021

24 April 2021

Bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6 | Pujian : KJ. 407
Nats:
“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” (Ayat 1)

Istilah “salah kamar” lazim digunakan dan ditemui pada olahraga tenis meja, bulutangkis dan tenis lapangan. Apabila pemain lawan salah menempatkan bola pada ruang atau sisi yang ditentukan akibatnya pemain lawan akan kehilangan poin atau skor. Bukan saja di dunia olahraga hal ini juga bisa terjadi pada kehidupan orang percaya ketika menjalani hidupnya.

TUHAN adalah gembalaku merupakan pernyataan iman yang luar biasa dari Daud. Pernyatan iman ini lahir dari sebuah perjalanan panjang yang berliku-liku dan pengalaman hidup bersama Tuhan. Pengalaman pribadi yang berisi kebersamaan dengan Tuhan bukan pengalaman iman yang diperoleh dengan cara mudah tetapi di dapat melalui pengalaman hidup penuh pergumulan. Kendati Tuhan sebagai gembala adalah sebuah pengakuan umum bangsa Israel (2 Samuel 7:71; Mazmur 78:71–72), tetapi Daud tidak bermaksud menjelaskan keyakinan bangsa Israel itu. Daud ingin menyaksikan dan membagikan pengalaman pribadinya bersama Tuhan. Kebersamaannya dan kedekatannya bersama Tuhan menjadikan hidupnya tidak berkekurangan, bukan karena ia memiliki dan menerima segala sesuatu seperti kekayaan, karier, kesehatan, bebas dari kesengsaraan dan marabahaya, tetapi justru sebaliknya, kebersamaan dan kedekatannya dengan Tuhan terjadi pada saat ia mampu malampaui berbagai macam kesulitan dan rintangan hidup. Itulah yang ia maksudkan tidak berkekurangan.

 Daud mencintai Sang Pemberi Berkat yakni Tuhan Sang Gembala melebihi berkat – berkat yang diterimanya. Daud tidak salah kamar dalam menyaksikan imannya. Itulah sebenarnya tugas dan panggilan kita sebagai saksi-Nya yaitu lebih mencintai Tuhan Sang Gembala daripada sekedar mencintai berkat-berkat-Nya. Lalu, sudahkah kita menjadi saksi-Nya dan memenuhi panggilan kita sebagai orang percaya? Apakah yang kita saksikan kepada sesama ciptaan? Semoga kita tidak salah kamar yang menjadikan kedamaian, sukacita, ketentraman, dan kesetiaan kita ini tidak utuh, karena kita lebih mengedepankan berkat – berkat yang kita terima daripada hidup bersama dengan Sang Pemberi Berkat itu sendiri. (japri).

 Mari mencintai sang pemberi berkat lebih daripada berkat yang diberikanNya.

Renungan Harian

Renungan Harian Anak