Meneladani Yesus Kristus Sang Gembala Sejati Khotbah Minggu 25 April 2021

12 April 2021

Minggu Paskah IV
Stola Putih

Bacaan 1:  Kisah Para Rasul  4 : 5 – 12
Bacaan 2: 
1 Yohanes 3 : 16 – 24
Bacaan 3: 
Yohanes 10 : 11 – 18

Tema Liturgis:  Kebangkitan telah Terjadi dan Kami hanyalah Saksi-saksi-Nya.
Tema Khotbah: 
Meneladani Yesus Kristus Sang Gembala Sejati.

Penjelasan Teks Bacaan:
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Kisah Para Rasul 4 : 5 – 12
Khotbah Petrus menghasilkan dua respon yang bertolak belakang. Yang pertama, ada sekitar 2.000 orang Yahudi yang percaya kepada Yesus sehingga jemaat bertambah menjadi sekitar 5.000 orang laki-laki. Yang kedua, respon yang sebaliknya dari para pemimpin agama Yahudi yang menolak dengan penuh amarah (Ay. 1-2) dan berusaha untuk menghentikan pemberitaan tentang kebangkitan Yesus. Sebab itu mereka menangkap dan memenjarakan Petrus dan Yohanes.

Petrus dan Yohanes dihadapkan pada Sidang Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) yang sebelumnya telah menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus (Luk. 22:63-71). Petrus yang dulu pernah ketakutan dan menyangkal Yesus, kali ini ia tampil dengan penuh keberanian dan dengan kuasa Roh Kudus menjawab dua  pertanyaan dari Sanhedrin menyangkut sumber kuasa dan atas nama siapakah mereka bertindak.

Petrus memperhadapkan para pemimpin Yahudi kepada suatu fakta bahwa mereka tidak dapat menyangkal bahwa si lumpuh telah disembuhkan. Petrus menyatakan jika mereka mengakui kesembuhan si lumpuh seharusnya mereka juga mengakui bahwa si lumpuh sembuh oleh kuasa nama Yesus. Kemudian Petrus menjawab dua pertanyaan itu. Ia mengatakan bahwa dalam nama Yesuslah mukjizat terjadi. Sanhedrin tidak dapat menyangkal kesaksian Petrus. Kemudian Petrus menunjukkan dosa mereka karena telah membunuh Yesus. Dan Allah telah membangkitkan Dia, sebab itu Yesus Kristus hidup dan berkarya melalui Roh Kudus-Nya. Para Sanhedrin diumpamakan para tukang bangunan yang menolak dan membuang Yesus sebagai batu penjuru. Keyakinan Petrus dan Yohanes yang didasarkan pada tuntunan Roh Kudus (Ay. 8). Inilah yang menjadi dasar dari tindakan, perkataan dan keberanian mereka.

1 Yohanes 3 : 16 – 24
Yohanes menegaskan bahwa orang percaya semestinya tidak berbuat dosa. Tanda yang tampak dari anak-anak Allah adalah kasih yang mereka lakukan. Tetapi pada kenyataannya anak-anak Allah masih berbuat dosa. Misalnya tidak mengasihi saudara seiman dan sesamanya seperti Kristus yang mengasihi manusia.

Yohanes menjelaskan bahwa Allah mengenal kita daripada kita mengenal diri kita sendiri (Ay. 20). Oleh sebab itu kita harus menyerahkan segala sesuatunya bukan kepada penilaian hati kita melainkan kepada belas kasihan Allah. Inilah yang menjadi dasar keberanian kita menghadap dan memohon kepada Allah (Ay. 21) yaitu kasih karunia Allah. Yohanes menasehatkan agar kita harus menurut segala perintah dan ketetapan Allah serta melakukan-Nya (Ay. 22). Relasi atau hubungan kita dengan Allah adalah relasi yang dilandasi dan diwarnai dengan kasih (Ay. 23). Kasih adalah bukti nyata bahwa kita percaya kepada Yesus.

Yohanes juga mengatakan bahwa Allah telah mengarunikan Roh Kudus kepada umat-Nya (ay. 24). Roh Kudus yang Tuhan berikan adalah jaminan yang kuat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Di sini Yohanes memotivasi setiap orang yang percaya untuk membangun relasi yang akrab dengan Allah sehingga memiliki keberanian untuk menghadap dan memohon apa saja di dalam doa kepada Allah.

Yohanes 10 : 11 – 18
Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang memelihara dan melindungi domba-domba gembalaan-Nya dengan rela mati demi keselamatan mereka (Ay. 11, 15). Kematian Tuhan Yesus untuk menyelamatkan manusia adalah atas kehendak Allah Bapa dan pengorbanan Tuhan Yesus (Ay. 17-18). Kasih Ilahi mendasari karya penyelamatan Tuhan Yesus.

Sikap ini jelas berbeda dengan sikap seorang upahan, yang bekerja hanya atas dasar upah sehingga waktu bahaya datang ia akan menyelamatkan dirinya sendiri bukan berkorban dan menjaga domba-dombanya itu (Ay. 12-13). Di Palestina adalah hal yang umum, seorang dibayar untuk tugas menggembalakan kawanan domba. Oleh karena dia bukan pemilik domba, maka saat binatang buas atau “serigala” datang, maka ia akan melarikan diri, menyelamatkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan nasib kawanan domba yang ia gembalakan.

Gambaran Yesus sebagai gembala yang sejati tampak dari diri Yesus yang rela mengorbankan diri-Nya demi mempertahankan hidup kawanan dombanya.  Gembala yang baik mengasihi, mempedulikan dan mengenal semua domba-Nya (ay. 14a). Itulah mengapa setiap domba mengenal Gembala mereka (Ay. 14b). Domba-domba itu dimengerti sebagai umat Israel. Namun oleh karena kasih karunia Allah, keselamatan Allah juga berlaku bagi bangsa-bangsa lain.

Benang Merah Tiga Bacaan
Kuasa Kebangkitan Kristus memberi semangat dan mengubahkan sikap hidup para murid. Demikian pula Roh Kudus yang telah dicurahkan kepada para murid memampukan mereka untuk bersaksi dan berani mewartakan Kristus di dalam hidup mereka. Yesus sendiri sebagai Sang Gembala Agung menjadi teladan bagi para murid untuk terus setia di dalam panggilan pelayanan mereka. Terlebih oleh kasih karunia Allah maka keselamatan Allah di dalam Kristus harus senantiasa diberitakan kepada segala bangsa.

Rancangan Khotbah:  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Ada sebuah cerita tentang seorang murid yang sedang belajar pada seorang guru yang adalah seniman. Si murid ini sangat mengagumi karya-karya seni yang dihasilkan oleh sang guru ini. Dalam hatinya, dia berpikir bagaimana caranya dia dapat melukis sebuah lukisan yang indah dan memiliki nilai seni yang tinggi. Kurang lebih setahun berjalan, tetapi si murid ini belum bisa melukis dengan hasil yang baik seperti gurunya. Mulailah ia berniat jahat pada gurunya, pikirnya,”Seandainya aku memiliki alat-alat lukis miliki guruku pastilah lukisanku akan bagus seperti lukisan guruku.” Singkat kata, si murid ini mencuri semua peralatan lukis sang guru, mulai dari pensil, cat warna, kanvas, kuas, dan peralatan lukis yang lain. Segera setelah dia mendapatkan semua alat lukis gurunya, dia mulai melukis di kanvas miliki gurunya itu. Setelah beberapa hari berlalu, selesailah lukisannya. Dia bermaksud menjual lukisannya itu, tetapi sebelumnya dia meminta pendapat dari temannya yang seorang seniman lukis. Teman tersebut kemudian mengatakan,”Lukisanmu ini tidak akan laku kalau dijual, lukisan yang kamu buat tidak memiliki nilai seni yang tinggi seperti punya guru kita. Kalaupun kamu jual, lukisanmu itu harganya murah.”

Perkataan temannya itu sungguh melukai hatinya, dia sudah berusaha semaksimal mungkin, bahkan sampai dia mencuri peralatan lukis Sang Guru untuk mendapatkan hasil yang baik, tetapi nyatanya bukan hasil yang baik tetapi malah penilaian yang kurang baik. Pada akhirnya dia menyadari kesalahannya, dia datang kepada gurunya mengakui kesalahannya dan mengembalikan peralatan gurunya. Dia meminta maaf atas segala perbuatannya yang jahat. Kemudian sang Guru menasehati murid-Nya ini dengan berkata,”Nak yang kamu butuhkan bukan alat dan perlengkapan lukisku, yang kamu butuhkan adalah memiliki semangat, kreatifitas, dan talenta seperti aku. Belajarlah terus dengan penuh semangat, kembangkan kreatifitasmu dan asah terus talentamu pasti suatu saat kamu akan berhasil seperti aku.”

Isi
Bapak, ibu dan saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Pada bacaan pertama saat ini, menceritakan kelanjutan dari kisah Pentakosta. Setelah menerima Roh Kudus para murid memiliki keberanian dan semangat dalam mewartakan Kebangkitan Kristus. Hal ini kita saksikan dalam cerita Petrus yang berkhotbah didepan orang-orang Yahudi di kota Yerusalem pada waktu itu. Setelah mendengarkan khotbah Petrus sekitar 3.000 orang laki-laki menjadi percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat mereka. Pun demikian dalam khotbah berikutnya ada sekitar 2.000 orang laki-laki yang menjadi percaya dan mengikut Tuhan Yesus. Hal ini adalah buah dari karya Roh Kudus, Petrus yang semula mengingkari dan menyangkal Yesus, lalu bertobat, kini setelah menerima Roh Kudus menjadi rasul yang pemberani.

Berhadapan dengan Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) yang telah menghukum mati Yesus, Petrus berani memberikan kesaksian, bahwa ia mampu menyembuhkan orang lumpuh karena kuasa Tuhan Yesus. Bahkan Petrus berani menghardik anggota Sanhedrin yang telah menghukum mati Yesus. Bagi Petrus, para anggota Sanhedrin tersebut seperti tukang bangunan yang telah membuang batu penjuru. Dengan perkataan lain orang-orang Yahudi telah menyia-nyiakan keselamatan yang Allah berikan kepada mereka melalui Yesus Kristus. Pada akhirnya keselamatan Allah tidak hanya untuk orang Yahudi saja tetapi juga diberikan kepada segala bangsa yang sungguh-sungguh percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat mereka.

Kesaksian Yohanes dalam suratnya (bacaan 2) juga menyebutkan bahwa Roh Kudus Allah yang dikaruniakan kepada umat Tuhan, memampukan mereka untuk hidup benar dan kudus. Roh Kudus akan menuntun, menolong dan menyadarkan seseorang akan perbuatan dosanya. Roh Kudus akan memperbaharui hidup mereka yang percaya sehingga mereka akan hidup di dalam kasih. Kasih menjadi tanda yang nyata bahwa seseorang dipimpin oleh Roh Kudus dalam hidupnya. Oleh Roh Kudus pula, umat yang percaya kepada Kristus selalu memiliki hubungan yang akrab dengan Allah dan memiliki keberanian untuk melakukan kehendak Allah dalam hidup mereka.

Tuhan Yesus pun menjadi teladan yang baik bagi para murid-Nya. Dia menyatakan jatidirinya sebagai Sang Gembala Sejati. Seorang Gembala yang rela mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan kawanan domba miliknya. Teladan Yesus sebagai Gembala yang sejati ini menggambarkan bagaimana Allah rela memberikan diri-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya.

Seorang Gembala mengenal domba-domba-Nya, demikian pula domba-domba itu juga mengenal Gembalanya. Hubungan saling mengenal ini menjadi gambaran bagaimana Allah mengenal baik umat-Nya, mengenal mereka yang setia dan percaya dengan sepenuh hati. Pun demikian sebagai domba, umat yang percaya juga mengenal suara Tuhan dalam hidup mereka. Menjadi umat yang patuh, umat yang berbakti dan umat yang senantiasa setia kepada Tuhan.

Apa yang menjadi isi dari bagian firman Tuhan pada saat ini hendaknya mengajarkan kepada kita tentang ketaatan kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Roh Kudus yang telah dicurahkan kepada pada murid juga dicurahkan kepada kita umat-Nya. Oleh Roh Kudus kita mendapatkan kekuatan, kemampuan, keberanian dan semangat untuk melayani dan menjadi saksi Kristus ditengah-tengah dunia. Untuk itu hidup kita haruslah selalu berpadanan atau meneladani Yesus Kristus Sang Gembala Sejati. Meneladani Kristus berarti kita mau mengarahkan hati dan hidup kita kepada Kristus. Karena itu dibutuhkan :

  1. Relasi hati yang kuat dengan Tuhan.
    Semakin kita mengenal Tuhan, kita semakin dimampukan mengerti akan kehendak-Nya. Bangunlah komunikasi yang baik dengan Tuhan melalui doa-doa pribadi, doa-doa bersama di dalam persekutuan. Milikilah kerinduan bersekutu dalam Tuhan baik melalui ibadah secara pribadi, bersama keluarga maupun bersama dengan jemaat yang lain. Relasi yang kuat dengan Tuhan akan menuntun kita pada kasih dan kebenaran. Kita semakin mengenal Tuhan Yesus, semakin mengenal suara-Nya yang memanggil kita.
  2. Kesediaan diri yang utuh untuk meneladani Kristus.
    Mengikut Kristus, kita lakukan dengan sepenuh hati, kesungguhan dan iman yang utuh. Sepenuh hati artinya ketika kita bersedia mengikut Yesus dan berjanji setia kepada-Nya, marilah kita juga percaya dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya di tangan Tuhan. Kita tidak hanya mengaku percaya saja, tetapi kita juga menyerahkan keberadaan hidup kita pada Tuhan. Yakinilah bahwa Tuhan Allah senantiasa menyertai, memelihara dan menolong kita. Sepenuh hati juga berarti kita melakukan ajaran dan firman Tuhan dengan benar dan sungguh-sungguh. Kesungguhan yang dimaksudkan adalah siap menanggung resiko sebagai pengikut Kristus, siap mengorbankan waktu, tenaga, hidup kita. Terakhir meneladani Kristus dengan iman yang utuh artinya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati kita. Hati dan hidup kita terarah pada Kristus Sang Gembala Sejati.

Penutup
Bapak, ibu dan saudara yang dikasihi Tuhan. Marilah kita selalu meneladani Yesus Kristus. Roh Kudus yang akan menolong, memampukan dan menyempurnakan kita. Yang kita lakukan adalah hiduplah sesuai Firman-Nya, berkaryalah untuk memuliakan nama Tuhan dan teruslah menjadi terang dimanapun kita berada. Dengan demikian kasih Kristus akan terus terpancar di dalam hidup kita. Amin. (AR).

 Nyanyian:  KJ. 415 : 1, 2  Gembala Baik Bersuling Nan Merdu

Rancangan Khotbah:  Basa Jawi

Pambuka
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani Gusti Yesus. Wonten cariyos ingkang nyariosaken setunggaling murid ingkang sinau seni lukis dhateng setunggaling seniman. Murid punika saestu kagum kaliyan karya seni kagungan seniman punika. Ing salebeting manahipun, piyambakipun gunem,”Kados pundi caranipun pak guru seni punika saged damel lukisan ingkang endah lan kagungan nilai seni ingkang inggil punika? Kirang langkung setunggal taun anggenipun murid punika sinau nglukis, nanging hasil lukisanipun boten saged sae lan endah kados gurunipun. Salebeting manahipun medhal niat jahat, pemanggihipun, “Saumpama aku duwe lan gawe piranti lukis kagungane guruku mesti lukisanku bakal apik kaya lukisane guruku”. Singkatipun, si murid kalawau mendheti piranti lukis gurunipun, wiwit saking potelot, cat warna, kanvas, kuas lan piranti lukis sanesipun. Sak sampunipun murid punika kagungan piranti lukis gurunipun, piyambakipun lajeng damel lukisan ing kanvas gurunipun sarta ngangge piranti gurunipun. Sak sampunipun pinten dinten, lukisanipun punika rampung. Murid punika nggadahi kekarepan badhe nyadhe lukisanipun, nanging sak dereng dipun sadhe piyambakipun nyuwun pendapat saking kanca rencangipun ingkang dados seniman lukis. Kancanipun punika lajeng matur, “Lukisanmu iki ora bakal laku yen mbok dol, lukisanmu sing mbok gawe iki ora ana nilai senine kaya kagungane guru. Yen misale di dol, regane ya murah.”

Pitembungan kanca kalawau dadosaken piyambakipun semplah, piyambakipun sampun ngupaya kanthi temen-temen, dipun rencangi mendhet piranti lukis gurunipun supados hasilipun sae, nyatanipun sanes hasil ingkang sae ingkang dipun tampi nanging malah dipun nilai awon. Ing pungkasanipun, murid kalawau sadar bilih piyambakipun sampun lepat. Piyambakipun ngakeni kalepatipun dhateng gurunipun sarta mangsulaken sedaya piranti lukis ingkang dipun pendhet. Piyambakipun nyuwun pangapura dhateng sang guru awit sampun tumindak awon. Ing ngriku Sang Guru ngendikan, “Nak, sing mbok butuhke kuwi dudu piranti lukisku iki, sing mbok butuhna kuwi semangat, kreatifitas lan talenta kaya aku. Kowe kudu gelem sinau sing temenan, duwe semangat, gelem ngembangna kreatifitasmu lan kowe kudu ngasah talenta lukismu, pasti besok kowe bakal kasil kaya aku.”

Isi
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani Gusti Yesus. Waosan kita ingkang sepisan nyariosaken kelanjengan cariyos Pentakosta. Sak sampunipun nampi Roh Suci, para sakabat gadahi semangat lan wantun martosaken wungunipun Gusti Yesus. Bab punika saged dipun pirsani ing cariyos Petrus ingkang khotbah sangajengengipun tiyang-tiyang Yahudi ing kutha Yerusalem. Sarampungipun mirengaken khotbahipun Petrus, wonten 3.000 tiyang jaler ingkang pitados dhateng Gusti Yesus minangka Juruwilujengipun. Mekaten ing khotbah selajengipun wonten 2.000 tiyang jaler ingkang pitados lan nderek Gusti Yesus. Sedaya punika awit saking pakaryaning Sang Roh Suci, Petrus ingkang waunipun nyangkal Gusti Yesus, sapunika mratobat lan nampi Sang Roh Suci dados rasuling Gusti Yesus ingkang kendel.

Ngadepi Sanhedrin ingkang sampun ngukum pati Gusti Yesus, Petrus wantun ngaturi kesaksian, bilih piyampakipun saged nyarasaken tiyang lumpuh karana kuwaosipun Gusti Yesus. Langkung malih Petrus wantun paring pepenget dhateng anggota Sanhedrin, bilih Sanhedrin punika saumpami tukang bangunan ingkang sampun bucal watu penjuru. Ingkang tegesipun tiyang-tiyang Yahudi punika sampun nyiya-nyiya kawilujengan saking Gusti Allah lumantar Gusti Yesus Kristus. Ing pungkasanipun kawilujenganing Gusti Allah punika boten naming kangge tiyang Yahudi kemawon ananging ugi dipun paringaken dhumeteng sedaya bangsa ingkang pitados lan nampi Gusti Yesus Kristus minangka Juruwilujengipun.

Kasaksian Yohanes ing seratipun nyebataken bilih Sang Roh Suci ingkang dipun paringaken dhateng para umat dadosaken para umat saged nindakaken gesang ingkang bener lan suci. Sang Roh Suci tansah nuntun, nulung lan maringi kasadaran dhateng umat tumrap sedaya tumindak dosanipun. Sang Roh Suci tansah nuntun ing gesang enggal dhateng sedaya tiyang ingkang pitados saengga para tiyang pitados punika tansah gesang ing katresnan. Tresna dados tandha ingkang nyata bilih tiyang punika dipun pimpin dening Sang Roh Suci salebeting gesangipun. Lumantar Sang Roh Suci ugi, para umat kagunganipun Gusti Yesus gadhah hubungan ingkang akrab kaliyan Gusti Allah lan ugi wantun nindakaken pakaryaning Gusti Allah ing gesangipun.

Gusti Yesus dados tuladha ingkang sae kangge para sakabatipun. Panjenenganipun kasebat Juru Pangon ingkang Sejati.  Juru Pangon ingkang purun ngorbanaken sariranipun kangge kawilujengan mendha-mendhanipun. Patuladhan Gusti Yesus minangka Juru Pangon ingkang sejati punika dados gegambaran kados pundi anggenipun Gusti Allah kersa masrahaken Sariranipun kangge kawilujengan umatipun.

Juru Pangon punika tepang kaliyan mendha-mendhanipun, mekaten ugi mendha-mendha punika ugi tepang kaliyan Juru Pangonipun.  Hubungan ingkang kados mekaten punika dados gambaran kados pundi anggenipun Gusti Allah punika tepang kanthi sae umat kagunganipun. Gusti Allah tepang kaliyan para umat ingkang setya lan pracaya kanthi gumolonging manah. Mekaten minangka mendha, para tiyang pitados ugi mengertos suantenipun Gusti Allah ing gesangipun. Salebeting gesang tansah manut, ngabekti lan setya dhumateng Gusti Allah.

Punapa ingkang dados isi Sabdaning Gusti wekdal punika, paring piwucal dhateng kita bab kasetyan dhumateng Gusti Allah lan karsaNipun. Sang Roh Suci ingkang sampun kawutahaken dhateng para sakabat ugi kawutahaken dhateng kita para umatipun Gusti.  Lumantar Sang Roh Suci, kita pinaringan kakiyatan, kasagedan, kendel lan semangat kangge lelados lan dados saksi Kristus ing satengah-tengahing donya punika. Karana punika gesang kita kedah nuladha Gusti Yesus Juru Pangon ingkang Sejati. Nuladhani Gusti Yesus Kristus ateges kita purun ngarahaken manah lan gesang kita dhumateng Sang Kristus. Karana punika kita mbetahaken :

  1. Manah ingkang rumaket kiyat dhateng Gusti.
    Sansaya kita tepang Gusti, kita sansaya mangertos punapa ingkang dados karsaNipun. Karana punika kita kedah mbangun komunikasi ingkang sae kaliyan Gusti Allah lumantar pandonga pribadi, pandonga sesarengan ing pasamuan.  Swawi kita nggadhahi raos kangen mangun patunggilan ing Gusti, sae lumantar pangabekti kita sacara pribadi, pangabekti sesarengan brayat kita ugi pangabekti sesarengan warganing pasamuwan. Hubungan ingkang raket kaliyan Gusti badhe nuntun kita nindakaken katresnan lan kayekten. Sansaya kita wanuh kaliyan Gusti Yesus, sansaya kita mengertos suantenipun Gusti ingkang nimbali kita.
  2. Sumadya kanthi Tulus Nuladha Sang Kristus.
    Nalika kita nderek Sang Kristus, punika kedah kita tindakaken kanthi tulus,  temen-temen lan iman ingkang utuh.  Kanthi tulus tegesipun nalika kita sampun sumadya nderek lan janji dados panderekipun Gusti Yesus, manga kita ugi pitados lan masrahaken gesang kita sawetahipun wonten ing Astanipun Gusti. Kita boten namung ngaken pitados kemawon, ananging kita ugi masrahaken gesang kita dhumateng Gusti. Kita yakin bilih Gusti Allah tansah nganthi, ngrimati lan nulungi kita. Temen-temen tegesipun kita purun nindakaken piwucal lan Sabdanipun Gusti kanthi bener lan temen-temen. Kita siap nanggel resiko minangka panderekipun Gusti Yesus, siap ngorbanaken wekdal, tenaga ugi gesang kita kagem Gusti. Ingkang pungkasan nuladha Gusti kanthi iman ingkang utuh, tegesipun kita boten badhe mangu-mangu, ragu-ragu, kuatir salebeting manah kita. Manah lan gesang kita tansah tumuju dhateng Sang Kristus Juru Pangon ingkang Sejati.

Panutup
Bapak, ibu lan para sederek ingkang dipun tresnani Gusti. Mangga kita tansah nuladha Gusti Yesus Kristus. Roh Suci badhe paring pitulungan, kasagedan lan nyampurnaaken kita. Ingkang kedah kita lampahi inggih punika mangun gesang miturut Sabdanipun, makarya kagem kamulyan asmanipun lan tansah dados pepadhanging jagad ing pundi kawontenan kita. Sarana tumindak ingkang mekaten punika, tamtu katresnaning Sang Kristus tansah sumunar madhangi gesang kita. Amin (AR).

Pamuji : KPJ. 112 : 1, 2  Gusti Yesus Pangen Kula

Renungan Harian

Renungan Harian Anak