Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2021
Masa Raya Undhuh-undhuh (I)
Bacaan PA I : Ulangan 11 : 1 – 7
Tema Liturgis : Mewartakan Karya dan Kasih Allah sebagai Ungkapan Syukur
Tema PA : Melihat Karya dan Kasih Allah dalam Sejarah Kehidupanku
Pendahuluan :
Sebagian orang mungkin ada yang tidak suka dengan mata pelajaran sejarah saat masih sekolah di tingkat SMP maupun SMA. Mereka beranggapan bahwa mata pelajaran sejarah itu membosankan, tidak menarik, membuat “ngantuk” oleh karena membahas hal atau peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau. Walaupun demikian ada juga sebagian orang yang suka dengan pelajaran sejarah. Terlepas dari suka atau tidak suka terhadap pelajaran sejarah, sebenarnya kehidupan kita sebagai umat Allah di dunia ini juga menulis atau mengukir sejarah kehidupan mulai dari lahir sampai dengan mati. Dalam perjalanan sejarah kehidupan kita itu, tentunya ada berbagai macam peristiwa dan dinamika kehidupan (suka-duka, tawa-tangis, semangat-putus asa dll) yang pernah kita alami. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jas Merah) sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Bung Karno.
Penjelasan Teks :
Ulangan 11:1-7 merupakan bagian dari Ulangan 7:1-11:32 yang secara umum berisi tentang anjuran untuk kesatuan dan ketaatan yang disampaikan oleh Musa kepada umat Israel ketika mereka berkemah di dataran Moab.
Ayat 1 diawali dengan perintah Musa “haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu”. Perintah ini sangat jelas untuk mengingatkan kembali kepada umat Israel akan “kewajiban utama” mereka terhadap TUHAN Allah. Secara konkret kewajiban utama itu diwujudkan dengan cara melakukan dengan setia berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya.
(Ayat 2-6). Setelah memberikan perintah itu, Musa mengingatkan kembali akan sejarah perjalanan hidup yang pernah dialami oleh umat Israel mulai dari Mesir sampai mereka tiba di dataran Moab. Pengalaman sejarah perjalanan hidup ini menjadi dasar yang tidak dapat mereka bantah untuk melaksanakan kewajiban mereka mengasihi TUHAN. Di sini Musa mengingatkan dan menyadarkan umat Israel akan karya, kuasa dan kasih Allah yang pernah mereka rasakan dalam kehidupannya. Hal ini disampaikan pada generasi yang ada pada saat itu bukan generasi berikutnya. Generasi yang bersama Musa ini adalah generasi yang telah mengalami dan menyaksikan secara langsung campur tangan Tuhan yang menolong mereka keluar dari Mesir dan menyertai mereka selama di padang gurun hingga akan masuk ke tanah Kanaan. Mereka telah makan Manna dan daging di padang gurun, melihat tiang api dan tiang awan, minum air dari batu, menang tanpa berperang, dan sebagainya. Generasi itu telah melihat dan mendengar serta mengalami secara langsung perbuatan-perbuatan besar Tuhan. Mereka tahu seperti apa kedahsyatan Tuhan dan penghukuman yang dilakukan-Nya terhadap bangsa-bangsa lain seperti Mesir dan kepada Datan dan Abiram. Tidak ada alasan atau kesempatan bagi Israel untuk berdalih tidak mengenal TUHAN Allah dan kuasa-Nya. Mata mereka sendiri, secara fisik dan segala keberadaan mereka sendiri, telah melihat dan mengalami kuasa dan kebesaran TUHAN (7).
Relevansi:
Kita memang tidak memiliki pengalaman langsung dengan TUHAN seperti umat Israel. Tetapi pemilihan, penyertaan, dan pemeliharaan TUHAN atas kehidupan kita hingga saat ini lebih dari bukti yang dibutuhkan untuk menunjukkan pengenalan kita atas diri dan karya-Nya. Bila demikian maka perintah yang sama dengan Israel juga berlaku atas kita. Kita harus mengasihi TUHAN dengan sungguh-sungguh dan taat perintah-Nya. TUHAN ingin hubungan kita dengan-Nya terjalin suatu hubungan yang intim dalam kasih sehingga pelaksanaan perintah-Nya akan terasa menyenangkan bagi setiap kita.
Pertanyaan untuk didiskusikan :
- Tuliskan perbuatan atau karya kasih Allah yang pernah saudara alami dan rasakan dalam sejarah kehidupan saudara sebagai umat TUHAN!
- Hal-hal apa saja yang menyebabkan seseorang tidak bisa melihat perbuatan atau karya Allah dalam sejarah hidupnya?
- Dalam momentum hari raya undhuh-undhuh ini, komitmen apa yang akan saudara lakukan setelah melihat karya dan kasih Allah dalam sejarah kehidupan saudara di lingkungan keluarga, gereja dan masyarakat? (AS).
Pemahaman Alkitab (PA) Mei 2021
Masa Raya Undhuh-Undhuh (II)
Bacaan PA II : Galatia 5 : 16 – 26
Tema Liturgis : Mewartakan Karya dan Kasih Allah sebagai Ungkapan Syukur
Tema PA : Hidup itu Pilihan
Pendahuluan:
Dibandingkan dengan surat-surat rasul Paulus yang lainnya, nada surat Galatia mempunyai ciri khas tersendiri. Kadang bernada halus atau lembut, bukti bahwa Paulus sangat akrab dan mencintai jemaat (4:11, 12-15, 19-20). Akan tetapi, di lain pihak Paulus mencaci mereka sebagai “orang bodoh” (3:1,3), menegur mereka yang cepat berbalik dari Tuhan (1:6; 4:9). Di awal surat tidak ada ucapan syukur dan pujian atas jemaat seperti surat yang lain. Surat Galatia mengarah kepada situasi jemaat yang sedang kacau karena adanya “pengacau dalam jemaat” (5:10). Mereka hendak memaksakan sunat dan Taurat Musa (5:2-12; 4:21; 6:12). Jelaslah bahwa pengacau tersebut adalah golongan Yahudi yang masuk Kristen (1:6-7).
Latar belakang timbulnya kekacauan jemaat oleh karena umat Kristen semula (semua Yahudi) dibingungkan oleh sikap mana yang harus diambil terhadap Hukum Taurat dan adat istiadat Yahudi (yang semua berasal dari Allah). Kebingungan ini menumbuhkan dua pendirian : Sebagian percaya kepada Yesus Kristus tetapi tetap mewajibkan Taurat dan adat, sebagian lainnya juga percaya kepada Yesus Kristus, taurat dan adat Yahudi bukan lagi syarat keselamatan. Pendapat yang kedua inilah yang menjadi pokok pemikiran rasul Paulus.
Penjelasan Teks:
Galatia 5:16-26 merupakan bagian dari perikop pasal 5:1-6:10 yang secara umum berisi tentang jawaban dan argumentasi rasul Paulus terhadap orang-orang yang mengacaukan kehidupan jemaat Galatia.
- Pada ayat 16-18 rasul Paulus menyampaikan argumentasinya dengan logika berpikir yang demikian: Hidup oleh roh1 adalah hidup yang tidak menuruti keinginan daging, sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan roh begitu pula keinginan roh berlawanan dengan keinginan daging. Kedua hal inilah yang menyebabkan seseorang tidak mampu melakukan apa yang dikehendakinya karena roh dan daging saling bertentangan. Hidup oleh roh berarti hidup bebas dari hukum Taurat. Bagi rasul Paulus, Roh Kuduslah yang mampu membebaskan umat Allah menuju kehidupan baru.
- Ayat 19 – 21
Setelah menyampaikan pokok pemikiran teologisnya, pada ayat 19-23 ini rasul Paulus memberikan contoh konkret antara perbuatan daging dan buah roh. Perbuatan daging2 adalah suatu hasrat, hawa nafsu, serta keinginan-keinginan duniawi yang sifatnya merusak. Perbuatan daging membawa umat pada tiga dosa yaitu:- Dosa Seksual, meliputi perzinahan merupakan hubungan seksual dengan orang yang sudah punikah. Percabulan adalah hubungan seksual dengan orang yang belum punikah. Kecemaran meliputi segala jenis penyimpangan seksual. Hawa nafsu menunjuk kepada segala bentuk dosa dari gaya hidup semacam ini.
- Dosa Religius, meliputi penyembahan berhala yaitu menyembah kepada dewa-dewi. Dalam sejarahnya, sebagian orang-orang Yahudi pernah menyembah berhala. Begitu pula dengan orang-orang Yunani, Romawi dan Galatia menyembah banyak dewa-dewi yang berbeda3. Selain penyembahan berhala, dosa religious ini juga ada melalui sihir. Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi sihir sama dengan kata Inggris “pharmacy” dan pada dasarnya menunjuk kepada campuran minuman obat bius dan mantera yang biasanya dipakai untuk tujuan magis. Tetapi dalam perkembangannya dimaksudkan pada keseluruhan jasa seorang tukang sihir.
- Dosa Temperamen/Watak, meliputi perseteruan yang merupakan sesuatu yang tersembunyi hingga memunculkan perselisihan bahkan mengarahkan pada sesuatu yang operatif (dalam hal ini menunjuk kepada perbedaan pendapat karena lebih mementingkan diri sendiri), dan percideraan serta roh pemecah atau semangat berkelompok yang salah (iri hati dapat dikaitkan dengan pokok sebelumnya sebagai hal yang dapat membantu terjadinya perpecahan atau sangat mungkin juga berkaitan dengan pokok yang berikutnya) sampai pembunuhan, puncak dari berbagai antagonisme yang secara salah dihargai. Di dalam kelompok keempat dapat disebutkan kemabukan dan pesta pora. Sebagai konsekuensinya, orang-orang yang melakukan hal-hal ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah, yakni; pemerintahan Allah atas manusia baik dalam kehidupan masa kini maupun dalam kehidupan yang akan datang.
- Ayat 22 – 26
Setelah menguraikan tentang perbuatan daging, rasul Paulus menjelaskan buah roh. Menarik untuk diperhatikan bahwa di sini rasul Paulus tidak menggunakan kata perbuatan roh, dipimpin oleh Roh (ayat 18, 25) dan juga bukan “mengikuti Roh” melainkan menggunakan kata buah Roh. Kata “buah (καρπὸς/karpos)” menyiratkan ketergantungan pada pohon sebagai penopangnya (bnd. Yoh 15:4-5) dan hal inilah yang ingin ditekankan rasul Paulus. Berbeda dengan sebuah “perbuatan” yang dapat langsung dilakukan atau dihasilkan secara langsung. Kata “buah” juga menyiratkan sebuah proses yang harus dilalui. Proses ini tampak pada ayat 24 – 25 pada saat kita menjadi milik Kristus, kita sudah menyalibkan hawa nafsu dan keinginannya. Namun, pergumulan rohani tidak berhenti sampai di situ saja. Kita selanjutnya perlu dipimpin oleh Roh (ayat 25) sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh. Jadi, ada sebuah proses yang perlu dijalani oleh setiap orang. Seseorang yang dipimpin oleh Roh akan menunjukkan semua rasa dalam satu buah itu. Hidup yang dikuasai oleh Roh akan diwarnai dengan semua hal berikut ini: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri. Selain itu, orang yang hidupnya dikuasai oleh Roh tidak akan gila hormat (ayat 26). Istilah gila hormat diterjemahkan dari kata “κενόδοξοι /kenodoxoi” yang lebih tepatnya diterjemahkan sombong, sehingga bisa berbunyi “dan janganlah kita sombong, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki”.
Pertanyaan untuk didiskusikan :
- Ada sebagian orang Kristen yang tidak mau bertumbuh dalam kehidupannya. Sebagian lagi mengharapkan perubahan hidup yang cepat dan mudah. Mereka malas bergumul melawan kuasa dosa. Mereka berharap adanya “mujizat transformasi” yang tidak memerlukan pergumulan rohani yang serius. Bagaimana pendapat saudara terkait pemahaman tersebut?.
- Menurut saudara, faktor apa saja yang menjadi penghambat bagi setiap orang untuk menghasilkan “buah roh” dalam kehidupannya?
- Bagaimana caranya agar kita selalu mampu mengucap syukur kendati kita harus mengalami pergumulan dan persoalan dalam hidup ini? (AS).
1 Kata “roh” (πνεῦμα/pneuma) bukanlah sifat moral manusia tetapi menunjuk pada Roh Kudus.
2 Kata “daging” (sarx) dalam tulisan rasul Paulus mempunyai arti yang beraneka ragam. Sarx dapat berarti tubuh, kesementaraan, maupun natur yang dirusak oleh dosa. Penggunaan sarx di Galatia 5:19a merujuk pada arti yang terakhir (natur yang dirusak oleh dosa). Perlu diperhatikan walaupun kata yang digunakan secara hurufiah berarti “daging”, tetapi sarx tidak boleh dibatasi pada hal-hal yang berhubungan dengan tubuh (jasmani) saja. Sarx merujuk pada seluruh detail natur manusia baik yang terlihat (tubuh) maupun yang tidak terlihat (hati dan pikiran).
3 Alkitab Edisi Studi, hlm 1914.