Bacaan : Markus 9 : 2 – 9 | Pujian : KJ. 357 : 1 – 3
Nats: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia” (Ay. 7b)
Pada suatu siang, seorang pemilik perusahaan konstruksi sedang berbicara dengan anak buahnya. Seorang manager berdiri tidak jauh di sebelahnya. Kata pemilik perusahaan itu, ”Kamu itu harus latihan tidak berbicara, kalau perlu siapkan lakban. Kita itu harus lebih banyak mendengar, jangan banyak bicara yang malah akan menghambat dan menyusahkan orang lain. Sekali berbicara sebisa mungkin yang berbobot dan berefek.” Wow. Si anak buah hanya mengangguk-anggukkan kepala saja di sebelah bosnya tersebut.
Dari cerita di atas, sebenarnya siapa yang seharusnya sedikit bicara dan yang banyak mendengar? Bisa saja si bos, atau memang anak buah yang demikian. Namun, terlepas daripada itu, seni mendengar adalah sikap yang harus kita miliki dalam hidup ini. Karena dengan mudah mendengar, setiap orang akan menjadi lebih bijaksana. Terlebih dalam berkata-kata dan bertindak karena apa yang akan dikatakan dan dilakukan adalah sebuah kebenaran yang sudah terlebih dahulu didengarkan dengan baik.
Demikian dalam peristiwa kita hari ini. Di ayat 7b, Tuhan Allah berkata, ”Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia”. Seolah-olah kata dengarkanlah menjadi penegasan supaya para murid memperhatikan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus, sehingga perkataan yang akan mereka bagikan kepada orang lain adalah kebenaran akan Kristus. Apalagi, penegasan di ayat 7b ditambah dengan ayat 9, Yesus meminta para murid untuk tidak bercerita kepada orang lain tentang apa yang sudah mereka lihat di atas gunung.
Dari pengalaman ini, kita diajak untuk sedikit berkata, namun banyak mendengar firman Tuhan. Dimana dan kapan saja kita sedang melakukan aktivitas, Yesus menginginkan supaya kita bisa menyampaikan kebenaran. Terlebih perkataan kita adalah sebuah doa, maka kita diajak untuk menyampaikan perkataan yang mendatangkan berkat kepada setiap orang. Untuk mampu memperkataan perkataan yang benar dan mendatangkan berkat itu, marilah kita belajar untuk lebih sering mendengarkan Firman Tuhan dan menjadi pelaku Firman yang sungguh-sungguh menyaksikan kebenaran Firman-Nya. (FNS)
“Orang bijak dinilai dari apa yang dikatakannya, maka banyaklah mendengar.”