Mantab Berjalan Dalam Jalan Tuhan Khotbah Minggu 23 Agustus 2020

9 August 2020

Minggu Biasa – Bulan Pembangunan GKJW
Stola Hijau

Bacaan 1         :  Keluaran 1 : 8 – 2 : 10
Bacaan 2         :  Roma 12 : 1 – 8
Bacaan 3         :  Matius 16 : 13 – 20

Tema Liturgis :  Hidup Menurut Jalan yang Ditunjukkan Tuhan
Tema Khotbah:  Mantab Berjalan
Dalam Jalan Tuhan

 Penjelasan Teks Bacaan :
(Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah)

Keluaran 1 : 8 – 2 : 10
Pada teks ini menggambarkan kekawatiran raja baru dinasti Firaun, yang tidak mengenal Yusuf. Kekawatiran raja tersebut berkenaan dengan keberadaan orang-orang Israel di Mesir yang jumlahnya semakin banyak, yang dikawatirkan akan mengalahkan jumlah pendududk Mesir. Kekawatiran yang berlebihan tersebut membuat Firaun membuat kebijakan yang menekan orang-orang Israel, dengan cara pengawasan yang super ketat kepada orang-orang Israel yang bekerja rodi (kerja-paksa). Firaun memerintahkan kepada bidan agar membunuh bayi laki-laki yang baru lahir yang ditolongnya, sedangkan bila lahir perempuan dibiarkan hidup. Kebijakan yang menekan bangsa Israel, rupanya berpengaruh terhadap kehidupan Keluarga Lewi, ini terlihat ketika Musa lahir, beberapa hari kemudian terpaksa mereka menghanyutkan Musa di sungai Nil, agar terhindar dari maut. Padahal anak laki-laki adalah simbol kelestarian kehidupan keluarga/bangsa. Tetapi kebijakan Firaun yang menekan bangsa Israel, rupanya beda dengan kebijakan Tuhan, walaupun ditekan oleh penguasa Mesir, ternyata Tuhan memeliharanya. Hal ini sebagai bukti bahwa jalan manusia berbeda dengan jalan Tuhan. Melalui orang-orang yang bijaksana seperti bidan Sifra dan Pua, Putri Firaun, dan orang sekitarnya jalan Tuhan adalah jalan yang menyelamatkan.

Roma 12 : 1 – 8
Isi surat Roma 12, berkait langsung dengan ajaran praktis kekristenaan, apa yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Roma untuk menasihati bagaimana seharusnya bersikap terhadap keadaan mereka sendiri. Ia (Paulus) menulis surat ini untuk menjelaskan pengertiannya tentang agama Kristen dan tuntutan-tuntutannya yang praktis untuk kehidupan orang-orang Kristen yang konsisten. Sehingga praktek ibadah menjadi persembahan yang benar, dan berkenan kepada Allah (ayat 1). Dan berusaha menghindari praktek hidup yang serupa dengan dunia, seperti pertengkaran, perpecahan, menyombongkan diri. Mereka dituntut untuk hidup benar di hadapan Allah artinya hidup yang benar-benar takluk kepada Allah. Mereka harus sadar keadaan yang berbeda-beda karunia, bukan jadi alasan untuk bertengkar. Ibarat seperti satu tubuh yang mempunyai banyak anggota, walaupun mereka mempunyai tugas yang berbeda, tetapi tetap dalam kesatuan(ay.4-8), karena itu mereka yang berbeda itu wajib tunduk dan mengandalkan Allah.

Matius 16 : 13 – 20
Pertanyaan Yesus kepada para murid-Nya, hendak menguji seberapa kualitas kesetiaan dan pemahaman iman mereka terhadap-Nya. Dan Ia tidak menghendaki “apa kata orang lain” tentang diri-Nya, tetapi pendapat pribadi, karena kepercayaan pada-Nya adalah menyangkut wilayah privat, yang berpengaruh pada kualitas iman dan kesetiaan. Petrus memberikan Jawaban yang otentik dan jelas, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah Yang hidup” (ay. 16), jawaban Petrus tersebut merupakan wujud “Pengakuan Iman”, yang berdasar pada penghayatan pengalaman spiritualnya yang hidup. Pengakuan Petrus tersebut, berdampak luar biasa, “… Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (ay. 18). Atas pengakuan tersebut berdampak pada pendirian jemaat, yang dikuasai oleh kuasa Allah, kuasa kehidupan, sehingga alam maut tidak menguasainya. Hal itu berarti betapa kuatnya kepercayaan yang sungguh-sungguh pada Yesus, melahirkan pengakuan iman yang kuat, yang membuahkan kesetiaan pada Yesus Sang Mesias.

Benang Merah Tiga Bacaan :
Jalan Allah adalah jalan kehidupan, yang diwujudkan dalam kesetiaan yang sungguh-sungguh, walaupun banyak tantangan, Tuhan Allah tetap menyertai, karena itu kita tidak boleh bersandar pada pengertian manusia, tetapi bersandar keyakinan diri yang kuat dengan mempercayakan kehidupan ini kepada Tuhan.

 

RANCANGAN KHOTBAH :  Bahasa Indonesia
(Ini hanya sebuah rancangan, silahkan dikembangkan sesuai konteks Jemaat)

Pendahuluan
Hidup dalam ketaatan untuk berjalan dalan jalan Tuhan, adalah hal yang masih misteri, masih tersembunyi, seperti dinyatakan pada syair  Kidung Jemaat 416 : 1 “Tersembunyi ujung jalan hampir atau masih jauh. Ku dibimbing tagan Tuhan ke negri yang tak ku tahu. Bapa ajar aku ikut apa juga maksud-Mu. Tak bersangsi atau takut beriman tetap Teguh.” Isi syair lagu tersebut hendak mengajarkan kepada kita agar ketika berjalan dalam jalan Tuhan diperlukan komitmen diri untuk percaya dengan sungguh-sungguh seperti yang diungkapkan oleh Petrus, menaruhkan harapan pada kehendak Tuhan seperti yang dialami keluarga Lewi ketika di tanah perbudakan Mesir. Ketaatan pada Tuhan ini tampak dalam upaya memberikan hidup ini sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah. Untuk berjalan dalam jalan Tuhan yang penuh liku, dibutuhkan kesediaan diri untuk dibimbing Tangan Tuhan, serta keyakinan dan penyerahan diri bahwa Tuhan mempunyai kehendak yang indah dalam hidup kita.

Isi
Pada dasarnya orang percaya (orang Kristen), meyakini bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan ini, bahkan seringkali kita dengar ketika ada warga yang terkena musibah, dihibur dengan kata-kata, “yang sabar dan tabah ya itu semua sudah menjadi rencana Tuhan, dan yakinlah Tuhan mempunyai rencana yang indah.” Kesannya rohani sekali, padahal kalau kita rasakan kalimat yang diucapkan hanya klise belaka, namun demikian kita juga perlu menghargai maksud baik dari yang menyampaikan itu. Meskipun demikian alangkah lebih bijak kalau kita menjumpai saudara yang sedang kena musibah, kita menyampaikan ikut prihatin atas peristiwa yang menimpa saudara kita, seraya kita ikut mendoakan agar Tuhan memberikan kekuatan untuk menghadapi musibah ini.

Di sisi yang lain banyak kita saksikan pengakuan seseorang yang mengatakan, “Rencana Tuhan itu indah sekali terjadi dalam keluarga kami, karena kalau bukan rencana Tuhan, kami tidak akan mampu, kami bersyukur anak kami dapat diterima bekerja di perusahaan ini, anak kami usahanya berhasil.” Kita mengakui bahwa dalam hidup ini Tuhan ikut campur tangan dan berkehendak atas perjalanan hidup umat-Nya, karena itu jalan Tuhan memang harus kita lalui dengan keteguhan hati.

Seperti halnya dikisahkan dalam bacaan pertama (Kel. 1:8-2:10). Bangsa Israel berada di Mesir oleh karena di negri tempat mereka terjadi kelaparan (Kejadian 12:10-20).  Semakin hari jumlah mereka semakin banyak. Hal ini mengundang kekawatiran raja Firaun, yang ketakutan karena jumlah bangsa Israel yang terus bertambah banyak dan membahayakan keamanan Mesir. Pada akhirnya raja baru yang dikatakan tidak mengenal Yusuf anak Yakub yang pernah menjadi penguasa di Mesir, mengeluarkan kebijakan untuk menindas Israel, bahkan memerintahkan bidan-bidan untuk membunuh bayi laki-laki yang baru dilahirkan. Sementara itu di keluarga lewi lahirlah Musa, bayi laki-laki yang ada dalam bahaya pembunuhan. Keluarga Lewi merasa gelisah, kuatir akan keselamatan keluarganya. Ditengah-tengah situasi tidak nyaman yang mereka alami, mereka tetap melanjutkan hidup mereka. Tuhan ikut camput tangan dalam kepahitan hidup mereka, Tuhan mengirim Pua dan Sifa, bidan-bidan yang takut akan Tuhan (Kel. 1:15-17) yang tentunya berperan untuk menyelamatkan bayi Musa. Tuhan juga memberi hikmat kepada Putri Firaun untuk merawat Musa. Ya, ada jalan Tuhan, walaupun terkesan penuh ketegangan tetap bisa dilalui oleh orang-orang Israel dengan bersandar kepada Allah.

Pada bacaan kedua Roma 12:1-8, merupakan nasehat Paulus kepada jemaat Roma. Bagaimana jemaat Roma yang sudah menerima Injil Kristus harus hidup, mereka harus setia dan konsisten pada pengajaran Tuhan, mereka tidak boleh serupa dengan dunia yang kotor, egois, sering mementingkan diri, perlu menghindari kesombongan (bdk. Ayat 2-3). Mereka perlu memupuk kesadaran bersama sebagai Tubuh Kristus, yang satu, yang saling menghargai satu dengan yang lainnya, sehingga nama Tuhan di muliakan. Jalan Tuhan harus mereka lalui dengan sikap hidup yang benar-benar taat pada pengajaran Kristus yang telah diterima. Karunia yang diterima hendaknya dipakai untuk membangun jemaat. Apa yang mereka perbuat haruslah dilakukan dengan hati yang iklas, yang menjadi ibadah sejati dan berkenan kepada Allah. Jemaat Roma dimampukan untuk berjalan dalam jalan Tuhan, yaitu hidup sebagai ibadah yang sejati, sehingga menjadi persembahan yang benar dan berkenan kepada Allah. Bagaimana dengan kita? Ya perjalanan iman kita mau tidak mau harus melalui jalan Tuhan.

Pengakuan pribadi Petrus (pada bacaan ketiga: Matius 16:16) yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah Yang Hidup, menggambarkan pengakuan yang total lahir batin, jiwa raga, jasmani dan rohani, yang holistik. Pengakuan yang demikian merupakan bentuk kekonsistenan iman pada Tuhan Yesus, sehingga sebagai murid Tuhan, Petrus siap menerima resiko apa saja yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. Petrus siap berjalan di tengah dunia ini sebagai murid Tuhan yang konsisten, tabu bila mundur dari komitmennya, setia sampai akhir hayat. Walaupun Petrus dikemudian hari setelah pengakuan itu ia pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Ia  jatuh karena takut menaggung resiko, tetapi akhirnya ia bertobat, bangkit dan bersedia melayani Tuhan. Petrus melalui jalan Tuhan itu dengan penuh kasih, kesungguhan dan keteguhan hati.

Penutup
Bapak ibu yang dikasihi Tuhan, setiap orang mendambakan kebahagian, keselamatan, serta ketentraman dalam kehidupan ini. Demikian juga kita sebagai orang Kristen, tentu mendambakan semuanya dapat tercapai sehingga mendapatkan kebahagiaan, karena itu kita berupaya untuk hidup mengikuti jalan Tuhan.

Dengan mencermati apa yang dialami oleh orang Israel yang mengalami penindasan di tanah perbudakan di Mesir, demikian juga jemaat Roma, yang diminta untuk setia mengikuti pengajaran Kristus secara konsisten, dengan menampilkan ibadah yang sejati sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Allah, serta meneladani pengakuan iman Petrus yang luar biasa kuatnya, semuanya itu mereka lakukan karena mereka percaya bahwa jalan Tuhan, adalah jalan yang indah. Meskipun jalan Tuhan harus melalui banyak pergumulan, serta onak dan duri, pada akhirnya mereka menuai keindahan dan kebahagiaan hidup dalam Tuhan. Karena itu mari kita mantabkan langkah kita dalam berjalan di jalan Tuhan. Amin. (YK).

Nyanyian :  KJ. 400   Kudaki Jalan Mulia


RANCANGAN KHOTBAH : BASA JAWI

Pambuka
Gesang kanthi setya tuhu manut marginipun Gusti punika satunggaling wewados, kados  syairipun  KJ. 416:1 “Tersembunyi ujung jalan hampir atau masih jauh. Ku dibimbing tagan Tuhan ke negri yang tak ku tahu. Bapa ajar aku ikut apa juga maksud-Mu. Tak bersangsi atau takut beriman tetap Teguh.”  Isinipun syair punika, memulang dhateng kita supados anggen kita lumampah ing marginipun Gusti, kalandesan kasetyan lan masrahaken gesang kanthi saestu dhumateng Gusti. Kados pangaken pitados ingkang dipun lairaken dening Rasul Petrus, nalika ngakeni bilih Gusti Yesus punika Sang Mesih Putranipun Allah ingkang gesang. Mekaten trah Lewi ingkang minitadosaken gesangipun dhumateng Gusti Allah nalika gesang wonten ing tanah pangawulan ing Mesir, ing pundi Musa kawiyosaken. Mekaten ugi dhateng pasamuwan ingkang ngudi lumampah ing marginipun Gusti, kedah masrahaken jiwa raganipun minangka pisungsung ingkang aji, kagem kamulyaning Gusti. Napak tilas, lumampah ing marginipun Gusti punika pancen mbetahaken keiklasan, sanadyan marginipun rumpil kedah dipun lampahi kanthi pitados bilih Gusti Allah kersa nuntun lan nganthi gesangipun para pitados awit Gusti kagungan karsa ingkang elok tumrap para kagunganipun.

Isi
Sampun samesthinipun menawi pasamuwanipun Gusti punika pitados bilih Gusti kagungan rancangan ingkang elok tumrap umat-Ipun, malah nalika wonten sedherek ingkang saweg nampi pepalang, utawi musibah, wonten ingkang maringi panglipur kanthi dhawuh : “Sing sabar lan tabah ya,… kabeh mau wus dadi rancangan lan kersane Gusti, sampeyan kudu pracaya yen Gusti kagungan rancangan kang elok, sabar ya?”. Ketawisipun wujud ukara panglipur punika elok lan rohani, kamangka menawi kita raosaken ukara punika namung klise, ananging kita perlu paring pakurmatan dhateng tiyang ingkang paring panglipur dhateng sadherek ingkang saweg nandhang kaprihatosan; saiba langkung prayogi menawi kita matur : “Kawula nderek prihatos punapa ingkang panjenengan alami lan nderek dedonga Gusti  maringi kakiyatan lan katabahan dhateng panjenengan”.

Ing gesang padintenan, asring ugi kita pinanggih kaliyan sadherek Kristen ingkang matur: “Rancanganipun Gusti ingkang kelampahan ing brayat kawula punika  pancen elok, menawi sanes rancanganipun Gusti, kula mboten sanggup, saestu kawula ngaturaken panuwun syukur awit anak kawula katampi nyambut damel wonten ing perusahaan, usahanipun nggih lancar sukses, saestu kawula ngaturaken saos syukur.” Adhedhasar pangaken punika, kita pitados bilih Gusti Allah kersa nunggil lan nganthi dhateng gesangipun para umat. Pramila minangka tiyang pitados kedah lumampah ing marginipun Gusti kanthi tumemen, lan pitados bilih Gusti maringi kasantosan.

Kados dene ingkang kacariosaken ing  Pangentasan 1:8-2:10. Sinten ingkang ngrancang bangsa Israel saged wonten ing Mesir? Ing tanah pangawulan, salah satunggaling sebab saged dumugi ing Mesir karana nenek moyangipun nate ngungsi nalikanipun ing tanah prasetyan ngalami pailan. (Purwaning Dumadi 12: 10-20). Nalikanipun wonten ing Mesir bangsa Israel bebranahan, mila cacahipun saya kathah. Bab punika ingkang ndadosaken raja Pringon, ingkang mboten wanuh kaliyan Yusuf putra Yakub ingkang nate dados pangwaos ing Mesir, rumaos sumelang,  ajrih, awit cacahipun bangsa Israel ing Mesir saya mindhak kathah. Miturut Pringon bangsa Israel ing tembe saged ngganggu kaamanan bangsa Mesir. Pramila prabu Pringon dawuh dhateng para bidhan supados mejahi bayi jaler Israel ingkang nembe lair, kejawi saking punika ugi nglurahi/dipun awasi sarta nindhes tiyang Israel kanthi pandamelan peksan. (Pangetasan 1:11). Swasana panindhesan dipun raosaken dening bangsa Israel ing Mesir, kalebet ugi trah lewi ingkang rumaos ajrih, sumelang bab kawilujenganipun brayat karana gadhah bayi Musa. Tamtu kemawon swasana mboten aman ingkang dipun alami dening Israel perangan marginipun Gusti, mila mboten saged dipun selaki, kedah dipun adhepi kanthi pasrah sumarah dhumateng Gusti Allah.

Salajengipun kita nekseni bilih Musa lajeng dipun kintiraken ing lepen Nil, tujunipun angsal kawigatosan lan nampi pitulungan saking  Gusti Allah lumantar putri Pringon. Bangsa Israel mboten nginten ing ewetipun swasana, nyatanipun wonten pitulunganipun Gusti. Lumantar bidhan Sifa lan Pua (Pang. 1:15-17),  Gusti mitulungi gesangipun Musa ugi. Nggih punika marginipun Gusti, sanadyan rumpil lan ewet, menawi sumendhe dhumateng Gusti, wusanaipun nampeni kawilujengan.

Wonten ing waosan kapindo, ing Roma 12:1-8, kagambaraken kadospundi pasamuwan ing Roma ingkang sampun nampeni Injilipun Gusti, kedah gesang kanthi setya tuhu lan ngugemi piwulangipun Gusti. Pasamuwan mboten angsal nyami rupi kados donya, donya ingkang worsuh, ngegungaken diri, sombong lan sapanungalanipun ingkang aben ajeng kaliyan piwulangipun Gusti, kedah dipun tebihi. (ayat 2-3). Pasamuwan perlu sadhar diri bilih pasamuwan punika gegelitanipun Sang Kristus, ingkang nampeni karunia ingkang benten-benten, punika sedaya kangge mbangun pasamuwan, kedah dipun lampahi kanthi iklas, lan samudayanipun kagem kamulyanipun Gusti. Pramila pasamuwan kedah nandukaken gesangipun minangka pangibadah ingkang satuhu, ingkang dados pisungsunging gesang lan ndadosaken keparengipun Allah. (ayat 1). Pramila pasamuwan Roma, kedah sabar lan manteb anggenipun lumampah ing marginipun Gusti. Kados pundi panjenengan lan kula minangka pasamuwanipun Gusti? Lumampahipun gesang kapitadosan kita saestunipun pancen kedah lumampah ing marginipun Gusti!

Wonten ing Waosan ingkang kaping tiga, Matius 16:13-20. Martosaken bab pangaken pitadosipun Petrus ingkang atur wangsulan pitakenanipun Gusti Yesus. Petrus ngakeni kanthi cetha bilih Gusti Yesus punika Sang Mesih Putanipun Allah ingkang gesang ( Matius 16:16). Pangaken pitadosipun Petrus dipun aturaken kanthi tata lair lan batos, jiwa-raga, tata jasmani lan rohani. Pangaken ingkang mekaten nedahaken sikap Iman ingkang konsisten (ajeg). Minangka sakabatipun Gusti (pasamuwan), kita sampun nglairaken janji setya dhateng Gusti, ateges kita siap nampeni resiko, anggenipun manut miturut dhawuhipun Gusti, setya tuhu ing marginipun Gusti.

Petrus sampun siap lumampah ing marginipun Gusti, sanadyan kathah resikonipun. Sanadyan Petrus ing tengahing lampahipun nate selak ngantos kaping tiga, krana raos amanipun keganggu, ning piyambakipun lajeng mratobat, lan tangi sumedya ngetohaken gesangipun kangge martosaken kabar kabingahan. Pancen lumampah ing margining Gusti punika kathah pepalangipun, mila perlu kasantosaning iman.

Panutup
Bapak, ibu, sadherek ingkang dipun tresnani Gusti, saben-saben tiyang kalebet panjenengan lan kula, ing gesang punika sami kepingin nggayuh lan nampeni karahayon lan katentremaning Gesang. Mila kita sami ngupaya kados pundi gegayuhan punika saged kawujudaken. Kamangka kula lan panjenengan sampun miji Gusti Yesus minangka margining karahayon. Kita ngakeni bilih lumampah ing marginipun Gusti punika mbetahaken kapitadosan ingkang kiyat ngadhepi pepalang, kados ingkang dipun alami dening bangsa Israel nalikanipun ing Mesir, ugi pasamuwanipun Gusti ing Roma, sarta Rasul Petrus. Samangke kados pundi pasamuwan, menawi kita sampun kekeh miji marginipun Gusti ing gesang kita, sumangga kita lampahi kanthi saestu. Kita antebaken anggen kita lumampah ing marginipun Gusti. Gusti nganthi lan mberkahi kita. Amin. (YK)

Pamuji  : KPJ. 178-a : 1 – 3   Pasrah Sumarah mring Gusti

Renungan Harian

Renungan Harian Anak