Bacaan : Matius 5 : 21 – 37 | Pujian : KJ. 163 : 1, 2
Nats: “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim …” (Ay. 25)
Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, Oktober 2019 yang lalu, kita mendengar, melihat dan mengetahui berita dan cerita tentang demo mahasiswa. Demo yang menuntut pembatalan Revisi UU KPK dan UU KUHP. Semestinya demo berjalan baik, tetapi pada kenyataannya terjadi tindakan anarkis. Mobil polisi atau motor polisi dirusak oleh massa, para demontran berani melawan aparat kepolisian. Yang terjadi adalah kekacauan, perusakan, dan kehancuran beberapa fasilitas umum. Pertanyaan yang kemudian berkembang, benarkah para mahasiswa yang melakukan aksi demo mereka murni menyuarakan kebenaran? Ataukah ada kepentingan-kepentingan lain dibalik demo mereka termasuk rencana untuk membatalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih? Oh… sungguh mahalnya kedamaian itu di negeri ini.
Bacaan Firman Tuhan pada saat ini adalah bagian pengajaran Tuhan Yesus yang terkenal dengan Khotbah di Bukit. Pada bagian perikop kita, Tuhan Yesus mengajarkan tentang pentingnya hidup berdamai di tengah-tengah kehidupan bersama dalam masyarakat. Nats kita menyebutkan,”Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.” (Ay. 25). Artinya Tuhan Yesus menghendaki agar dalam relasi hubungan kita dengan orang lain tercipta suasana damai dan rukun. Sekiranya terjadi perselisihan, beda pendapat, kesalahpahaman maka jangan menunda-nunda untuk meminta maaf dan kembali bersahabat dan berteman. Upaya untuk berdamai dilakukan dengan segera, agar tidak terjadi kepahitan dan perlawanan yang pada akhirnya menyusahkan diri sendiri.
Kita dipanggil Tuhan untuk menjadi pendamai, seorang yang senang berdamai dengan semua orang. Untuk itu, kita harus mampu mengasihi sesama kita, mengampuni orang yang bersalah pada kita. Jika Tuhan Yesus sendiri telah menjadi juru damai, kini saatnya bagi kita untuk menjadi juru damai dimanapun kita berada. Baik di keluarga, lingkungan pekerjaan, jemaat, dan dimanapun kita berada. (AR).
“Usahakanlah hidup damai dengan semua orang, niscaya engkau akan menemukan damai”