Bacaan : Nehemia 13 : 1 – 3, 23 – 31 | Pujian : KJ 24A :1,2
Nats: “Aku menyesali mereka, kukutuki mereka, dan beberapa orang di antara mereka kupukuli dan kucabut rambutnya dan kusuruh mereka bersumpah demi Allah, …” (Ay. 25)
Mengingat-ingat sederet kesalahan-kesalahan yang mungkin pernah kita lakukan di masa lalu mungkin bukanlah hal yang menyenangkan. Kebanyakan orang lebih senang melupakan yang lama dan membuka lembaran baru tanpa meneliti apakah benar pengakuan akan kerapuhan dan kesalahan di masa lalu sudah benar-benar digenggam (diakui) lalu kemudian benar-benar dilepaskan. Mengingat dan mengakui kesalahan-kesalahan baik diri sendiri maupun orang lain dalam rangka mengevaluasi diri dan kehidupan bersama nampaknya memang perlu untuk dilakukan supaya pada akhirnya ketika genggaman akan kerapuhan itu sudah ada di kepalan tangan kita sebagai bentuk mengaku, maka dengan mudah kita pun pasti akan masuk dalam proses untuk melepaskan.
Apa yang diungkapkan oleh Nehemia terkait dengan apa yang Ia lihat dan Ia rasakan. Dia melihat banyak perbuatan yang sudah tidak bisa ditorerir. Nampak adanya sebuah penyesalan dan sebuah pengakuan akan kesalahan yang menjadi hal yang biasa terjadi begitu saja kala itu. Dia menyerukan adanya ketidakselarasan dalam kedudukan Salomo sebagai Raja yang harusnya menjadi panutan akan tetapi malah terjatuh ke dalam dosa karena hawa nafsu. Apa yang dilakukan oleh Nehemia dalam perikop kita hari ini adalah bentuk kemarahan dan kekecewaannya. Dia menginginkan adanya pertumbuhan spiritual yang baik dalam hidup Bangsa Israel. Sebab meskipun sudah mendengar Taurat yang dibacakan oleh Musa namun hal itu ternyata tidak membuat mereka hidup dalam integritas. Nehemia nampak sedang mengakui dan menggenggam hal-hal buruk dalam seruan-seruannya untuk kemudian membawa orang-orang yang mendengar seruannya lepas dari kehidupan yang lama.
Maka marilah kita meyakini bahwa sekelam apapun masa lalu kita, ketika kita mau merenungkan seruan dan teguran akan kesalahan kita dan berbalik pada jalan yang benar, dengan melepaskan kehidupan kita yang lama maka Tuhan Yang Maha Kuasa dan sumber segala cinta dan kasih akan selalu menuntun kita menjadi pribadi yang semakin baik lagi. (ASN)
“Kesalahan adalah bagian dari kautuhan diri dan keberadaan manusia; akui, genggam dan lepaskan, maka Allah akan menyatakan kemurahanNya, seiring dengan tumbuhnya kerendahan hatimu”