Bacaan : Lukas 9 : 43b – 48 | Pujian : KJ. 467 : 1, 2
Nats: “Maka timbulah pertengkaran pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka” (Ay. 46)
“Dunia ini panggung sandiwara, Ceritanya mudah berubah, Kisah Mahabrata Atau tragedi dari Yunani; Setiap kita dapat satu peranan;Yang harus kita mainkan; Ada peran wajar ; Ada peran berpura-pura; Mengapa kita bersandiwara?”
Itulah penggalan lagu yang cukup melegenda, yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar. Syair tersebut hendak mengungkapkan bahwa di dalam kehidupan masyarakat nyata, sering terjadi kepalsuan hidup, seperti dalam panggung sandiwara, banyak yang akting (acting), yang ditampilkan bukan dirinya sendiri, hanya pura-pura, walau pun dikatakan ada yang perannya wajar, tetapi yang sering adalah yang berpura-pura.
Bagaimana dengan kehidupan murid-murid Tuhan Yesus? Apakah juga ada yang bersandiwara? Ya, mereka pun terjebak dalam permainan mereka sendiri, hal ini nampak ketika di antara mereka bertengkar, berebut untuk mendapatkan tempat yang terbesar, tempat yang terhormat di hadapan Tuhan Yesus.
Apakah artinya? Artinya mereka berebut “kekuasaan, kepentingan”. Keadaan tersebut tentu memprihatinkan Tuhan Yesus, karena itu dengan diplomatis Ia memberikan pelajaran kepada para murid, dengan cara mengambil anak kecil dan menempatkannya disampingNya (ay.47), supaya mereka dengan sigap menyambutnya, tetapi para murid kurang meresponnya. Mengapa? Karena mereka sudah terjebak ingin jadi penguasa, atau pembesar yang pada saat itu cenderung minta dihormati, dilayani, padahal sebagai murid Yesus, mereka seharusnya menyediakan diri untuk melayani. Jadi selama bersama Yesus mereka telah bermain sandiwara, dan perannya berpura-pura melayani, tetapi syukurlah dengan penuh kasih Tuhan Yesus menyadarkan mereka, dengan memberikan tantangan, barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Mu, ia menyambut Aku!
Marilah kita menjadi pengikut Tuhan yang sungguh. Jangan bersandiwara. Tuhan menghendaki kita melakukan apa yang berkenan padaNya dengan sepenuh hati bukan berpura-pura. Amin. (YK)
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat, dan lakukanlah yang baik.