Bacaan : Ayub 18 : 1 – 21 | Pujian : KJ 408
Nats : “Bagaimanapun juga terang orang fasik tentu padam, dan nyala apinya tidak tetap bersinar.” [ayat 5]
Ketika sepeda motor saya rusak beberapa waktu lalu, saya berniat untuk memperbaikinya sendiri. Saya memang tidak paham soal mesin, tapi saya pikir ini bisa dipelajari pelan-pelan. Tidak ada salahnya mencoba. Lalu saya mulai mencari perkakas dan sibuk sendiri mengutak-atik. Bisa ditebak hasil. Baru membuka kap selebor saja saya sudah kesulitan. Tak lama, saya menyerah. Cuma keringat dan baju belepotan yang saya dapatkan. “Sudahlah, ke bengkel aja! Serahkan saja pada ahlinya!” pikir saya sambil tertawa dalam hati.
Sering kali kita memang merespon sebuah masalah dalam kehidupan dengan cara yang salah. Kita mengandalkan pemahaman dan kekuatan sendiri untuk mengatasinya. Inilah yang juga terjadi pada Bildad, sahabat Ayub. Bildad memberikan respon yang salah atas permasalahan yang sedang dihadapi Ayub. Dia memandang apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu sebagai sebuah hukuman dari Tuhan. Dan dengan pemahamannya sendiri, dia berusaha menasihati Ayub. Alih-alih meringankan beban atau sekedar memberikan penghiburan, perkataan Bildad ini justru menghakimi dan membuat Ayub kecewa.
Dalam menghadapi sebuah permasalahan, kita patut menyadari bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan Tuhan dan segalanya terjadi hanya dengan seizin Tuhan. Dalam hal ini Tuhanlah yang menjadi ahlinya, bukan kita manusia. Belajar dari kisah Ayub dan Bildad, jika saudara kita tertimpa masalah atau musibah, hendaknya kita saling menguatkan satu sama lain dengan sama-sama berserah pada Tuhan. Berserah kepada kehendakNya adalah jalan terbaik. Berserah bukan pasrah, namun menempatkan segala usaha yang kita lakukan dalam kerangka rencana Tuhan. Permasalahan yang Tuhan ijinkan hadir adalah bagian dari rencanaNya. Jika kita mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, rencana Tuhan jauh dari kita, yang artinya damai sejahteraNya tidak ada pada kita. Percayalah bahwa Tuhan yang telah menjanjikan penyertaan, terlebih besar dari segala masalah dalam hidup kita. [TWP]
“…suka-duka dipakaiNya untuk kebaikanku”