Pemahaman Alkitab Juni 2019 (I)
Bacaan : Galatia 5:16-26
Kalender Liturgis : Minggu Paskah/UEM
Tema Liturgis : Roh Kudus: Rahasia Pengharapan Dibalik Panggilan yang Menerangi Hati.
Keterangan Teks
Galatia 5:16-26 menunjukkan bahwa perbuatan baik di dalam kekristenan sebenarnya lebih ke arah apa yang Allah lakukan bagi kita daripada apa yang kita lakukan bagi Allah. Theosentris (berpusat pada Allah), bukan anthroposentris (berpusat pada manusia).Hal ini diperjelas dengan beberapa kontras: antara keinginan daging dan keinginan Roh (5:16-17), antara Hukum Taurat dan pimpinan Roh (5:18), antara perbuatan daging dan buah Roh (5:19-23).
Ayat 19-21 memberikan beberapa gambaran yang bermanfaat untuk memahami dosa. Yang pertama, dosa bersifat kentara (ayat 19a). Hal inilah yang ingin ditekankan oleh Paulus bahwa: “tidak sulit menemukan berbagai kejahatan”.Keprihatinan Paulus bahwa: Apa yang sudah “terbiasa” seringkali dipandang “tidak apa-apa”. Apa yang “normal” seringkali dinilai sebagai apa yang “normatif”. Beberapa orang yang tidak melakukan “hal-hal yang biasa” semacam itu bahkan dapat dipandang sebagai orang aneh.General will mengalahkan kehendak Allah.
Kata “daging” (sarx) dapat berarti tubuh, kesementaraan, maupun natur yang dirusak oleh dosa. Dalam ayat 19a merujuk pada natur yang dirusak oleh dosa Sarx merujuk pada seluruh detil natur manusia, baik yang terlihat (tubuh) maupun yang tidak terlihat (hati dan pikiran). Baik Tuhan Yesus maupun para rasul mengajarkan bahwa natur manusia tidak netral. Natur kita sudah tercemar oleh dosa. Segala kejahatan berasal dari hati yang jahat (Mat 15:16-20). Seluruh bagian dalam diri kita – baik mulut, pikiran, tubuh, perasaan, dan kehendak – sudah dikuasai oleh dosa (Rm 3:10-18). Tidak melakukan apa-apa terhadap kecenderungan ini sama saja dengan membiarkan diri kita ditaklukan oleh kecenderungan tersebut. Perlu ditandaskan juga bahwa perbuatan-perbuatan seseorang merefleksikan keadaan rohani orang itu. Siapa saja yang sudah menjadi milik Kristus berarti ia sudah menyalibkan hawa nafsunya (ayat 24). Ia tidak akan menuruti keinginan daging (ayat 16).
Sebaliknya, orang yang belum menjadi milik Kristus akan melakukan perbuatan-perbuatan daging (ayat 21b). Ia akan melakukannya bukan hanya sekali atau dua kali, melainkan berkali-kali dan terus-menerus.
Mengapa Paulus memilih istilah “buah Roh”. Yang pertama adalah kata “buah” (karpos) dimaksudkan sebagai kontras terhadap “perbuatan” (buah Roh versus perbuatan daging). Kata “buah” menyiratkan ketergantungan pada pohon sebagai penopang (bdk. Yoh 15:4-5). Itulah yang ingin ditekankan Paulus di Galatia 5:22-23. Beberapa kali ia mengatakan “dipimpin oleh Roh” (ayat 18, 25), untuk membatasi ruang yang terlalu besar untuk usaha manusia.
Apakah hal ini berarti bahwa manusia tidak perlu berusaha sama sekali? Sama sekali tidak! Kita perlu “hidup oleh Roh” (ayat 16, 25). Di ayat 18 “memberi dirimu dipimpin oleh Roh” mungkin bisa memberi pencerahan yang bermanfaatFrasa ini menegaskan bahwa kita tetap mengemban tanggung-jawab, yaitu membiarkan diri hidup dipimpin oleh Roh.
Kedua tentang ungkapan “buah Roh” kata “buah”menyiratkan sebuah proses. Ayat 24-25 menyinggung tentang hal ini. Pada saat kita menjadi milik Kristus (pada saat pertobatan melalui karya Roh), kita sudah menyalibkan hawa nafsu dan keinginannya (ayat 24). Namun, pergumulan rohani tidak berhenti sampai di situ saja. Kita selanjutnya perlu dipimpin oleh Roh (ayat 25) sehingga hidup kita menghasilkan buah Roh. Jadi, ada sebuah proses yang perlu dijalani. Ada jarak tertentu yang perlu ditempuh.
Kondisi Masa KinidanPenerapan
Diskusikanlah hal-hal berikut ini:
- Keyakinan kita untuk menerapkan kebenaran Injil sering kali bergesekkan dengan ajaran dari luar Injil (agama non Kristen, kejawen, budaya tertentu, dll).
- Sebutkandanjelaskancontoh-contoh “kebiasaan” yang berlaku di masyarakat namun bertentangan dengan kebenaran Injil (atau “ dosa masal”)!
- Bagaimana sikap dan tindakan Saudara jika menemukan hal seperti itu?
- Apa komentar Suadara terhadap fenomena yang saat ini marak terjadi dalam kehidupan orang Kristen (khususnya GKJW), seperti; perkawinan dini (karenapergaulanbebas), meninggalkan iman Kristen (karena alas an ekonomi, pekerjaan/ karir atau takut tidak ada yang menikahi), termasuk perpindahan anggota gereja (dari GKJW ke gereja lain)?
- Jelaskan bagaimana keterkaitan buah Roh dengan persoalan-persoalan diatas?
Pemahaman Alkitab Juni 2019 (II)
Bacaan: Roma 2: 17-29
Tema Liturgis : Roh Kudus: Rahasia Pengharapan Dibalik Panggilan Yang Menerangi Hati.
Tema PA : Memiliki Jati Diri Sebagai Pengikut Kristus Adalah Karya Roh Allah
Pertanyaan Pengantar Diskusi:
- Apakah penting menunjukkan identitas sebagai orang Kristen? Mengapa? Bagaimana menunjukkannya?
- Dalam keseharian, adakah suatu pengajaran yang khas menunjukkan identitas sebagai orang Kristen? Apakah itu?
- Bagaimana bila yang melakukan pengajaran itu adalah orang beragama lain? Bagaimana pendapat saudara?
Hermeneutik/Penjelasan Teks:
Surat Roma ini ditulis oleh Paulus dengan dilatarbelakangi bahwa pada masa jemaat perdana, orang Kristen Yahudi dan orang Kristen bukan Yahudi berdebat tentang bagaimana dibenarkan oleh Allah dan menjadi selamat. Menurut orang Kristen Yahudi yang terpenting adalah hukum Taurat dan bersunat.
Taurat adalah pengajaran dari Allah. Pengajaran dari Allah ini diterapkan dalam dasa titah (10 perintah), kemudian diterapkan juga pada berbagai hukum dan aturan dari Tuhan terkhusus terkumpul dalam kitab Taurat (kelima kitab Musa). Bagi orang-orang Yahudi, Taurat merupakan keseluruhan norma-norma hukum religius dan umum yang dibukukan, serta pula petunjuk-petunjuk yang banyak sekali jumlahnya dan diajarkan melalui para imam dan nabi. Orang Yahudi percaya bahwa Taurat adalah dari Musa, meski sesungguhnya Taurat yang berarti pengajaran dari Allah ini diberitahukan kepada Musa. Kemudian Musa menyampaikannya kepada bangsa Israel. Hal ini terjadi sebelum memasuki tanah perjanjian. Maka memegang dan memelihara Taurat adalah syarat perjanjian. Melanggar Taurat berarti melanggar kehendak Tuhan. Maksudnya supaya umat Israel memegang teguh sabda Tuhan, yang pada masa itu disampaikan oleh Musa sebagai perantara Tuhan Allah dan manusia.
Setelah menjalani kehidupan di tanah perjanjian hingga kemudian bangsa Israel mengalami pembuangan di Babel sampai sesudah masa pembuangan, oleh orang-orang Yahudi Taurat semakin dipandang sebagai hukum yang sangat kuat. Taurat kemudian diakui sebagai hukum yang dimiliki oleh orang Yahudi yang dapat membawa kepada keselamatan.
Inilah yang membuat orang Kristen Yahudi beranggapan bahwa untuk dapat memperoleh keselamatan maka harus melakukan hukum Taurat secara ketat. Bila ada orang bukan Yahudi ingin memperoleh keselamatan maka harus menjadi “Yahudi” terlebih dahulu. Pandangan ini juga diberlakukan bagi orang-orang Kristen yang bukan Yahudi. Meski telah percaya pada Kristus namun dipandang belum sah bila belum menjadi “Yahudi”.
Bagi orang Kristen Yahudi menjadi “Yahudi” dapat dilakukan oleh suku bangsa lain yakni dengan cara Sunat. Sunat sudah menjadi kebiasaan masyarakat Israel. Sunat merupakan sebuah upacara penanda kedewasaan seseorang dan dilakukan pada waktu anak laki-laki menginjak usia pubertas. Jadi sunat bukan hanya terkait dengan masalah kesehatan saja.
Oleh bangsa Israel sunat bukan hanya penanda orang sudah dewasa saja tetapi sebagai penanda identitas bahwa ia adalah golongan Yahudi. Hal ini penting karena sunat sejak semula dipahami sebagai tanda perjanjian Allah kepada umatNya. Ikatan janji itu disahkan oleh Allah dalam upacara sunat (Lih.Kis 7:8) sehingga dilakukan secara turun temurun bahwa yang disunat adalah bagian dari umat milik Allah (bnd.Kej.17:23-27, Yos 5:2-10). Dengan kata lain, orang Yahudi itu sunat berarti orang Yahudi adalah umat milik Allah. Maka dari itu, orang Yahudi sangat menjunjung tinggi hukum Taurat dengan sangat ketat dan juga sunat. Namun terkadang ada ketidak-seimbangan antara bersunat dan melakukan Taurat: ada yang telah bersunat namun tidak melakukan ajaran Taurat karena merasa pasti dibenarkan dan mendapat keselamatan. Dan memandang orang yang tak bersunat tidak dapat diterima sebagai bagian dari umat Allah meski melakukan Taurat sebab mereka tidak menjadi “Yahudi” terlebih dahulu.Pada sisi yang lain ada pula yang dengan sangat keras melakukan hukum Taurat melebihi segalanya.
Sedangkan menurut Paulus yang adalah seorang Yahudi dan memiliki pemahaman tentang Taurat dengan sangat baik serta banyak tinggal di antara orang-orang Kristen bukan Yahudi, menekankan bahwa:
BIS Roma 2:29 Sebaliknya, seorangYahudi yang sejati adalah orang yang hatinya berjiwa Yahudi; dan sunat yang sejati adalah sunat di hati yang dikerjakan oleh Roh Allah, bukan yang dicatat di dalam buku. Orang semacam itu menerima pujian dari Allah, bukan dari manusia.
(Rom 2:29 versi Bahasa Indonesia Sehari-hari)
Dengan kata lain, Paulus hendak mengatakan bahwa penanda perjanjian antara Allah dan umatNya melalui sunat itu sesungguhnya bukan hanya jasmaninya saja. Lebih dari itu yang disunat mestilah hatinya dan itu hanya bisa terjadi bila Roh Allah yang melakukannya. Maka sah saja bila orang bukan Yahudi menjadi Kristen, percaya kepada Kristus – menjadi bagian umat Allah dan memperoleh janji keselamatan, tanpa harus disunat secara jasmani (menjadi “Yahudi”).
Roh Allah ini merupakan daya dan gaya kehadiran Allah dalam kehidupan. Kehadiran Roh Allah, bagi Paulus adalah hal yang sangat penting, karena melalui Roh tersebut manusia dibebaskan dari ikatan hukum Taurat. Roh Allah tidak berada di bawah hukum Taurat, sebab ini adalah Roh yang berasal dari Allah yang memberikan pengajaran akan kehidupan (yang pada masa lalu pengajaran itu juga diberikan melalui Taurat), maka Roh ini lebih besar dari pada hukum Taurat. Roh Allah adalah roh yang memberi kelegaan (kemerdekaan), menggerakkan, menghidupkan dan memampukan umat Allah menyatakan jati dirinya atau identitas sesungguhnya sebagai pengikut Kristus (menjadi Kristen).[1]
Pertanyaan Reflektif:
- Apakah yang dimaksud dengan sunat hati menurut pemahaman saudara?
- Apakah saudara merasakan Roh Allah bekerja dalam hidup saudara, menolong saudara ‘bersunat hati’?
- Bagaimanakah Roh Allah menolong saudara hidup sebagai pengikut Kristus di Indonesia?
[1]Wahono, Wismoady, Di Sini Kutemukan, Jakarta, BPK GM, 2000, h.440.